Langsung ke konten utama

Postingan

Kucing Hitam di Tepi Jalan

Motorku meluncur cepat di daerah Sambi yang diselimuti pagi cuaca cerah nan berangin. Beberapa hentakan saja sebentar lagi akan melewati Waduk Cengklik yang jalannya di dominasi oleh motor dan mobil. Mereka semua bersliweran dengan cukup kencang di sekitarku. Pagi ini benar-benar ramai.  Kala berkendara mataku mencoba untuk selalu menyerap semua rupa di sepanjang jalan. Pandanganku tertuju ke sebuah benda berwarna hitam yang berada beberapa meter di depan jalurku. Kok seperti kucing ya?  Ah masak kucing! Palingan kantong kresek! Batinku. Semakin mendekat rupa benda itu semakin terlihat! Ya Alloh beneran kucing! Dengan sedikit hentakan aku menghindari hewan malang tersebut.  Pikiranku ngeblank dan loading sejenak sambil meneruskan laju motorku. Setelah agak jauh beberapa detik kemudian aku tersadar.  Itu ada kucing hitam tergeletak di bahu tengah jalan! Sepertinya ia telah tertabrak oleh entah siapa. Dan dogolnya si penabrak sepertinya tak perduli.  Aku segera pu...
Postingan terbaru

Koper

Seorang gelandangan menemukan koper, dia membuka dengan paksa dan terkejut dengan apa yang ia temukan. Seminggu kemudian ditemukan jasad gelandangan mati membusuk dengan darah membuncah ke segala arah. Dua penyidik kapolres dan satu wartawan memeriksa TKP dengan harapan menemukan petunjuk.  Namun tidak ada petunjuk besar yang tertinggal. Hanya ada darah yang mengering. Dan sebuah bidang persegi di depan mayat yang bersih tak ada darah setetespun. Ketiga orang itu berpandangan heran.  Rapat investigasi dilakukan. Ketiga orang itu bergumul dengan fakta dan informasi yang carut marut. Foto-foto lokasi kejadian dan data-data berada di berkas polisi. Kedua petugas tersebut sudah bersikeras menutup kasus tersebut dan menganggapnya kecelakaan, namun wartawan itu menyangkalnya dan memaksa mereka berdua untuk meneruskan kasus tersebut ke tingkat atas. Kedua polisi itu tertawa, mereka bilang buat apa meneruskan kasus jika tidak ada uangnya. Sebuah ironi. Sang wartawan kembali ke kantorn...

Rombongan Sholat Ied

Entah sejak kapan aku mulai bisa memaklumi sebuah perubahan. Hal ini makin kuat aku rasakan saat berjalan sendirian menuju lapangan untuk sholat Idul Fitri. Untuk pertama kalinya, aku berangkat ke lokasi sholat seorang diri. Apakah itu sesuatu yang spesial? Tidak terlalu, namun patut untuk dijadikan refleksi diri.  Di sepanjang ingatanku, ritual pergi ke lapangan untuk sholat Ied selalu ada teman, yakni kedua saudaraku, mas dan adik.  Bapakku penganut Islam kejawen abangan (jangan tanya detailnya, soalnya aku juga tak terlalu paham) yang beribadah dengan caranya sendiri, otomatis tak ikut gabung rombongan kami.  Ibukku juga hampir sama, bedanya lebih rajin sholat dan beribadah. Hanya saja beliau juga tak pernah ikut sholat Ied. Alasannya sederhana, ibukku menyiapkan berbagai hal seperti camilan dan persiapan perayaan di rumah, otomatis tak ikut gabung rombongan kami. Tersisa kakakku dan adikku. Mereka selalu menjadi rekan menuju ke lapangan untuk sholat Ied. Hidup berjala...

Mamak dan Bapak di Pagi Hari Sebelum Lebaran

Mamak sudah berdandan. Beliau mau ke pasar untuk membeli bahan makanan untuk lebaran. Sekonyong-konyong datang ibu-ibu dari desa seberang. Ia datang buat menagih hutang dari anak sang mamak semata wayang. Tidak ada uang. Hanya ada rasa gamang. Matanya nanar menatap ke depan. Benar-benar lebaran yang tidak mengenakkan.  Bapak tidak berdandan. Beliau mengepel lantai rumah penuh kotoran. Kepalanya pening memikirkan hutang anak semata wayang. Ia membersihkan lantai rumah demi mamak yang banyak pikiran. Matanya nanar menatap lantai dipan. Benar-benar lebaran yang tidak mengenakkan.  Aku sedang berdandan. Mamak dan bapak aku ajak berbincang. Lalu kuberi mereka uang. Di mata mamak terdendap banyak pikiran. Di mulut bapak tertahan beberapa tangisan.  Kukatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Biar semua ditanggung anak semata wayang yang penuh hutang, aku,  dan kakak pertama yang juga tak terlalu sayang. Mataku nanar menatap udara hampa yang gersang. Sial, benar-benar leb...

Kepik Emas

Hari ini aku mendatangi sebuah lapangan. lapangan ini lapangan yang bersejarah di masa kecilku. Tiba-tiba banyak sekali memori di masa lalu melesat ke dalam diri dengan segala cerita dan rupa.  Lapangan ini tempat pelajaran olahragaku waktu SD diselenggarakan. Mapel olahraga selalu hari Sabtu pagi. Aku bersama puluhan bocil SD lainnya datang ke sini berjalan kaki sejauh kurang lebih 1KM. Di sepanjang perjalanan biasanya kami bernyanyi, kadang berbicara tak tentu arah, atau berteriak sana sini. Yah namanya juga bocil SD.  Jalanan desa dulu belum seramai sekarang. Di pinggir jalan masih banyak semak-semak dan tanaman liar. Aku sering berburu 'kepik emas' saat berangkat ke lapangan. Kepik itu aku tangkap lalu aku letakkan di telapak tangan. Saat kepik itu berjalan rasanya geli. Biasanya ia mencari tempat yang lebih tinggi. Nah saat kepik itu di tangan, aku memastikan kalau jariku mengarah ke atas. Si kepik akan berjalan ke puncak jari telunjukku lalu sepersekian detik kemudian......

Sang Juara Kelas

Pagi ini aku mengantarkan bokap pergi ke kelurahan untuk mengambil bantuan beras. Sebenarnya aku malas karena harus memotong jatah waktuku untuk hal yang tidak aku rencanakan. Pagi itu aku sebenarnya berencana mengerjakan text template di Capcut. Namun karena mamah sudah bersabda, ya sudah segera beta memancal punya sepeda roda dua.  Kelurahan terlihat agak lengang. Tak terlalu ramai seperti yang aku khawatirkan. Ya, aku tadi sempat mengajukan syarat ke bapak yang berbunyi 'nek misal neng kono rame lan kesuwen mengko tak tinggal yo? Soale aku kudu kerja.' Yes,  kerja. Kerja full time dari jam 9 pagi. Aku berangkat ke lokasi ini jam 8 pagi. Dan jatah buat ngerjain template freelance Capcut udah aku skip. Mana belum kejar target lagi. Keluh.  Bapak turun dari motor, clingak clinguk random,  lalu tiba-tiba datang bapak-bapak lain dari belakang kami. Mereka berdua tiba-tiba bersenda gurau sambil saling merangkul. Ah kedua orang tua itu pasti dulu teman yang akrab di masa...

Masa Kecilku dan Dragon Ball

Sejak kelas 1 SD aku ditinggal merantau orang tua ke Bogor. Mereka mencari uang untuk biaya sekolah anak-anaknya dengan berjualan sayur dan hanya pulang setahun sekali saat idul fitri. Jadi masa kecilku bisa dibilang cukup tak terlalu ceria jika dibandingkan dengan anak-anak kecil pada umumnya. Aku berdua bersama nenek.  Nah,  jadi di era masa itu ada dua hal yang selalu aku tunggu saat kecil. Pertama, orang tuaku yang selalu balik ke kampung saat lebaran. Kedua, serial Dragon Ball yang tayang setiap hari minggu pagi di Indosiar.  Poin ortu yang balik ke rumah udah jelas ya, namanya bocil ya butuh ketemu ibu dan bapak. Nah yang poin kedua itu tuh yang agak laen.  Minggu pagi adalah hari terbaik buat anak yang hidup di era 90an. Puluhan serial kartun bersaing ketat untuk mendapatkan pemirsanya. Dari puluhan judul hanya satu film kartun yang membuatku begitu sangat 'excited' menjalani hidup, yakni Dragon Ball.  Dragon Ball bagiku adalah tempat untuk melupakan kese...