Selasa, 02 Oktober 2012

syndrom usia 27


mas, umurmu saiki piro sih  (mas,  umurmu sekarang berapa sih?)”
tiba-tiba aja celotehan ‘sensitif’ itu terlontar begitu saja. Banyak orang penasaran dengan angka yang menaungiku sekarang. Okey, aku jawab dengan penuh percaya diri. Usiaku sekarang 23 tahun,  Dan  Hari ini 21 hari lagi menuju usia ke 24 tahun. Siapa bilang aku bisa melupakan hari ultahku, pengennya sih lupa, trus mendadak ada pesta ultah kejutan entah dari siapa dan dimana gitu. Namun, yah, seperti itulah. Beberapa hari yang lalu aku dan mas adit (seorang mahasiwa tua yang belum lulus, belum nikah, dan belum merasa sukses^^a) ngobrolin “syndrom usia 27”. Kalian pernah denger ‘penyakit tersebut’?

Aku menemui kata “syndrom usia 27” di sebuah manga jepang berjudul “Undead”. Komik bertema ‘horror comedy’ ini berkisah tentang mayat yang hidup kembali di karenakan masih mempunyai urusan yang belum selesai. Inoue Kazurou merangkai kumpulan  kisah dramatis  (bahasa gaulnya Omnibus manga) dibalut scene-scene humor ini menjadi satu buah manga yang super duper keren.  Okey kembali ke topik  “syndrom usia 27”, ada salah satu chapter dari manga  tersebut yang mengangkat setting rockband di negara  jepang.  Janis  Joplin. Jim Morrison, Jimi Hendrix sampai Kurt Cobain  mereka semua mati dengan sangat dramatis si usia 27. Dan kalian tahu  di manga“undead”, ada vokalis dari rockband  yang  sangat terobsesi untuk mati di usia 27.

“syndrom usia 27” adalah fase yang bisa di alami siapapun, dalam dunia musik angka 27 adalah angka mistik dimana banyak kemungkinan bernaung di situ. Selain kematian para rockstar, angka 27 menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang. Perjuangan dan kerja keras kalian akan terbayar di angka ini. Selain tolak ukur kesuksesan, di kebudayaan melayu (khususnya Indonesia) manusia di usia 27 dituntut untuk bisa dewasa dalam berpikir.bagi para pria, anka tersebut angka yang sangat pas untuk menikah, dan bagi para wanita yang masih lajang, di usia tersebut mereka biasanya akan di cap ‘perawan tua’ (yap, salah satu asumsi publik yang belum berubah bagi sebagian orang di berbagai tempat). Selain angka umur yang penuh mitos,kejelasan status, tolak ukur kesuksesan, ada segudang permasalahan lain yang turut serta di usia 27.

Sekedar kalian tahu, Dalam rentang kehidupan manusia, EliZabeth B Hurlock (1980) membagi usia perkembangan secara kronologis ke dalam tahapan-tahapan sebagai berikut:
1.     Prenatal: konsepsi sampai kelahiran.
2.     Babyhood: kelahiran sampai akhir minggu kedua.
3.     Infancy: akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4.     Early childhood: 2 tahun sampai sekitar 6 tahun.
5.     Late childhood: 6 tahun sampai sekitar 10 tahun.
6.     Puberty/ preadolescence: 10  sampai 13 tahun (untuk perempuan) atau 12 tahun sampai 14 tahun (untuk laki-laki)
7.     Adolescence: 13 tahun atau 14 tahun sampai 18 tahun.
8.     Early Adulthood: 18 tahun sampai 40 tahun.
9.     Middle Adulthood: 40 tahun sampai 60 tahun.
10. Aging: > 60 tahun.

Usia 27 termasuk pada tahap Early adulthood, atau masa awal pendewasaan. Banyak konflik dan pergolakan batin di tahap Early Adulthood.  Pencarian identitas, pengakuan dan pengharapan dari masyarakat, konflik jenjang karir,lika-liku kisah cinta, hingga proses bertemu dengan Tuhan, sering dialami ditahap ini.

“syndrom usia 27, 28, 30, dan seterusnya” bagi masyarakat umum hanyalah pembenaran untuk bisa mengalkulasi semuanya dengan angka. Rincian gaji para pegawai negeri, jam kerja para tukang, jatah makan kaum dhuafa, hingga dana pensiun para birokrat-birokrat di luar sana bisa dijadikan acuan bahwa Mereka tidak terlalu perduli dengan   “syndrom usia 27”. Mereka hidup hanya untuk sekedar hidup. Mereka menikah, punya anak, menyekolahkan anak, kemudian anak mereka akan memasuki fase Early adulthood, terkena  “syndrom usia 27”, terjebak rutinitas, lalu menikah, dan seterusnya, seterusnya,

Hey,  Janis  Joplin. Jim Morrison, Jimi Hendrix sampai Kurt Cobain  mereka semua mati dengan sangat dramatis si usia 27. Namun mereka meninggalkan budaya, faham, ‘agama’, bahkan inspirasi bagi seluruh makhluk di dunia ini. Kita tidak harus mati di usia 27, namun kita sepertinya harus meramaikan penyakit “syndrom usia 27”, setidaknya agar semangat para ‘rock star’ tersebut menular dan membuat kita bersungguh-sungguh untuk mengerjakan apapun( Dan buat kalian yang sudah melewati usia 27, tambahkan saja 4 tahun).


oh iya, tambahan dikit, Jean-Michel Basquiat  yang seorang ‘pop urban Icon’ juga mati di usia 27 karena overdosis heroin di New York. 

Mujix
sedang terkena "syndrom Melody JKT48"
sama "kecanduan makan es krim coklat Walls"
Solo, 02 Oktober 2012  

1 komentar: