Sabtu, 22 Oktober 2016

Tiga Jam Laknat

Membosankan. Itu kata kedua yang muncul di kepalaku pagi ini. Kata pertama hanya sebuah pengingat kalau aku harus mewarnai komik Si Amed untuk edisi besok, btw udah sampai episode 80. Banyak sekali.

Jangan abaikan postingan ini!!! Ada sebuah fakta baru yang mencengangkan!!! dibutuhkan waktu hampir 3 jam untuk mewarnai dan mengedit komik Si Amed!!!!

Bagaimana? Caption-nya udah kayak postingan yang viral di FB belum!? Yah, Info yang sangat menarik bukan?! Atau malah membosankan!?

Begitulah. Apabila kamu memandang dari posisi seorang fans yang peduli dan cinta mati sama Si Amed, fakta tersebut sangat menyenangkan. Semacam 'wah gitu ya?' momen.

Lain ceritanya kalau kamu melihat fakta tersebut dari sudut pandang sang kreator. Informasi semacam itu tidak terlalu penting. Apaan!? Toh ketika komik gratisan itu kelar, masih ada kerjaan komik lain yang harus digambar.

Kurasa itu sebuah contoh sederhana yang tepat untuk menggambarkan kehidupanku pagi ini. Yah, anggap saja aku sedang sedikit bosan dengan semua hal di kehidupanku.

Kenapa membosankan? Tidak akan aku beritahu, namun jika kalian menanyakan kabar, akan kujawab 'semuanya baik-baik saja'!

Tiga jam untuk mewarnai komik Si Amed, mungkin hanya butuh waktu tak lebih dari 30 detik untuk membacanya. Kalau dipikir-pikir menyebalkan sekali.

Makanya gak usah dipikir. Digambar dan dibaca aja. Mikir isi ATM yang limit aja udah mengeluh pusing, ini lagi mikirin fun fact tentang Si Amed.

Baiklah, balik ke topik soal 'membosankan'. Harus aku akui, terjebak di sebuah pekerjaan memang terkadang membosankan, apalagi jika pekerjaan itu memakan banyak waktu serta tenaga (dan juga perasaan cintah. Ea). Nah yang jadi pertanyaan 'kenapa harus tiga jam'? Bukankah bisa hanya 30 menit saja kalau aku mau?

Dan ternyata aku tidak mau. Mungkin ini adalah latar belakang yang menjadi rahasia dibalik proses pengerjaan komik Si Amed. Sebuah alasan yang mungkin sedikit sentimentil. Udah siap?

Aku sedang membuat karya besar! Itu adalah pondasi awal yang aku pijak setiap membuat sesuatu.

Komik Si Amed reguler yang tayang setiap minggu buatku bagai 'Master Roshi' yang sedang membimbing Goku dan Krilin di komik Dragon Ball-nya Akira Toriyama.

Jika Master Roshi menyuruh Goku dan Krilin mengantar susu setiap pagi, maka komik reguler Si Amed menyuruhku membuat komik rutin setiap minggunya.

Serupa namun tak sama.

Proses mewarnai komik Si Amed agak memakan waktu lama dikarenakan gambarnya yang ruwet.

Tiba-tiba ada Raisa nyeletuk, 'Kenapa harus ruwet, Kak Mujix yang unyu?'

Kenapa? Soalnya aku sedang berusaha membangun dunia komik yang kompleks. Aku terinspirasi komik-komik Eropa yang sangat pandai merekam 'kehidupan' di tiap panelnya.

Mereka menggambar jalan.
Mereka menggambar rumah.
Mereka menggambar jalanan yang macet gara-gara para manusia kebelet pengen membangun rumah.

Namun sayang mereka tidak menggambar siapa jodohku kelak di masa depan. Eleuuuh... Elehuuuh.

Nah, aku juga ingin seperti mereka.
Di komik reguler minggu lalu, aku menggambar kebun binatang. Berulang kali mentok cari referensi gambar Tapir hanya untuk sebuah komik tentang kerukunan umat beragama.

Tapir! Aku menggambar TAPIR, sodara-sodara!! Komikus lain udah naik level membuat comic motion dan diunggah mingguan, aku masih diribetkan dengan hal yang bernama 'menggambar Tapir'!!!

Aku skip sejenak urusan si Tapir. Nah, kenapa aku harus repot-repot seperti itu? Dan tentu saja jawabanku masih sama seperti kalimat di atas.

Karena aku sedang membuat karya besar.

Dan aku enggak rela kalau Si Amed harus hidup di dunia tanpa kehidupan. Seperti itu. Dan level ini harus aku naikkan agar dunia 'Si Maniak Bakso Bakar' itu makin tertata rapi.

Kurasa itu harga yang harus aku bayar. Untuk membuat komik yang kelak menjadi 'karya besar' aku harus bertarung dengan tiga jam laknat itu. Bwahahaha.

Tiga jam laknat!? Kejam sekali aku saat membuat istilah. Yah, gak selebai itu sih. Enggak semua waktu tiga jam itu menyebalkan. Ada berbagai 'celah kecil' yang sebenarnya moment berharga serta menyenangkan.

Celah kecil itu sudah aku ketahui sejak lama. Lama sekali, terlalu lama sendiri, hingga berbagai celah itu datang dan membuatku bertahan di setiap proses berkarya.

Mungkin berbagai celah itu terlihat sepele di mata orang lain. Namun percayalah, segala hal besar di dunia ini tercipta dari hal-hal yang sepele.

Musik. Mendengarkan musik adalah aktivitas yang mengubah segalanya. Andaikata menemukan daftar lagu yang tepat, niscaya tidak ada kata bad mood ataupun artblock.

Playlistku akhir-akhir ini adalah Bruno Mars berjudul 'When I was Your Man' dan Orkes Melayu New Scorpio berjudul 'Aku dikiro Preman'.  Perpaduan yang awesome sekali. Hokya.

Pendapat pribadi sih, namun bagiku, musik adalah media penjaga mood yang paling ampuh. Yah ambil sebuah pekerjaan, buka folder music, ikuti jeritan hatimu yang tengah kehausan, lalu play. Terus kerjain.

Bosen satu lagu, segera ganti lagu yang lain. Gitu terus ampe dunia bisa bersatu dalam damai dan tidak ada penderitaan.

Dan tiga jam laknat itu yang mulanya sangat membosankan bisa berubah menjadi sangat menyenangkan. Itu baru satu celah kecil yang bernama 'musik'. Masih ada celah-celah lain yang sebenarnya asik untuk aku ceritakan kepada kalian. Namun kurasa lebih baik di lain kesempatan.

Banyak kesempatan yang muncul saat aku terjebak di komik reguler Si Amed bersama tiga jam laknat tersebut. Bisa saja aku bosan dengan semua hal tersebut dan memutuskan untuk berhenti sama sekali.

Ya, semacam menutup tab close saat kamu browsing internet atau meng-klik tombol stop saat kamu memutar film donlotan.

Namun aku tidak melakukannya. Sepertinya ada sesuatu nun jauh di sana memberitahu kalau semuanya akan baik-baik saja. Toh, andaikata berakhir burukpun sebenarnya tidak apa-apa. Anggap saja semacam 'menelan pil pahit kekalahan'.

Baru terjebak di sebuah aktivitas membuat komik selama tiga jam saja sudah 'sok drama' membuat postingan sepanjang ini, bagaimana rasanya jika terjebak di sebuah kehidupan selama 28 tahun!!??

Apalagi jika kehidupan selama 28 tahun itu berjalan tidak terlalu sesuai dengan master plan yang sudah dirancang.

Kesal? Tentu saja.
Sedih? Pastinya.
Bosan? Absolutly yes!

Apakah aku ingin berhenti semacam memencet tombol shut down saat komputer error? Tidak!

Karena aku sedang membuat karya besar. Hidupku mungkin mirip komik Reguler Si Amed yang tayang setiap minggu. Hanya saja, Master Roshi-nya adalah diriku sendiri.

Mungkin kata 'membosankan' yang muncul saat bangun tidur pagi ini semacam pertanda kalau hidupku sedang sangat artblock gara-gara  bad mood yang berkepanjangan.

Aku harus menemukan 'celah kecil' tersebut atau aku akan berada di tempat ini selamanya. Nah, sekarang pertanyaan yang paling penting.

Apakah 'celah kecil' itu sudah ketemu?

Mungkin sudah. Atau mungkin belum. Sepertinya aku masih bingun menemukan 'lagu yang pas' di folder kehidupanku.

Kurasa aku membutuhkan waktu beberapa saat untuk menjawab pertanyaan ini. Sampai kapan?

Tidak akan aku beritahu, namun jika kalian menanyakan kabar, akan kujawab 'semuanya baik-baik saja'!

Mujix
Sedang ulang tahun dan sedang mencuri waktu untuk menulis curhatan berjudul 'tiga jam laknat' di wedangan Jln.Slamet Riyadi.
Solo, 22 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar