Kamis, 16 November 2017

Lupa

Aku sudah lupa rasanya berbahagia. Entah kenapa hal-hal yang sangat akrab denganku saat ini hanya suasana bosan, keadaan lelah, situasi gamang dan terkadang atmosfer kemalasan. Mungkin aku sedang mengalamai situasi diorientasi hidup lagi. Untuk kesekian kalinya. Jika berkaca dari kejadian yang sudah-sudah, solusi dari permasalah seperti ini sebenarnya sangat sederhana.

Aku harus mengambil liburan! Benar-benar liburan dan keluar sejenak dari rutinitas. Enaknya ngapain ya?

Mujix
Lelaki yang perutnya mual gara-gara susu kotak rasa coklat dari warung sebelah.
Bogor, 14 November 2017

Selasa, 07 November 2017

Dompetku hilang di dalam rumah. Aku bingung. Isinya uang receh dan surat-surat. Dompet bagiku adalah separuh nyawa. Semua tempat aku cari, semua tempat aku bongkar. Namun tak kunjung ketemu. Apakah aku panik? Tidak, karena aku panikpun sang dompet juga tidak mungkin bakal nongol. Apakah aku pusing? Lumayan, soalnya mencari KTP dan ATM di tanah perantauan itu sangat menyebalkan.

Aku sudah mengitari semua bagian di seisi kontrakan sampai khatam. Enggak ketemu!!! Meh!

Langsung aku merebahkan diri di kasur. Males nyarinya. Toh dicari juga gak bakal ketemu. Aku memutuskan untuk diam. Mencoba hening dan menganalisa kemana gerangan sang dompet.

Apabila ditilik dari pergerakanku, hanya ada tiga tempat yang memungkinkan menjadi persembunyiannya. Kamar Tidur dan Meja gambar. 

Kamar tidur adik yang berantakan itu membuatku malas untuk mencarinya. Terlalu banyak barang teronggok. Aku hanya mencari sekedarnya. Dan tentu saja nihil.

Opsi kedua adalah Meja Gambar. Tempat ini sangat sederhana. Hanya ada meja. Beberapa buku, dan meja miring tambahan. Dan ditempat inipun sudah aku obrak-abrik namun masih saja sang dompet tak kunjung ketemu.

Ahh tengik.
Aku masih saja berbaring sambil menyiapkan batin untuk kemungkinan terburuk. Melalui hari-hari tanpa dompet ber-KTP dan ATM. Yah mungkin beberapa hari ke depan aku bakal pulang kampung untuk mengurus KTP dan ATM. Di tanah perantauan tanpa dua kartu sakti itu aku hanya menjadi pecundang.

Kalau ada operasi dan tidak ada KTP adalah mimpi buruk. Kalau butuh uang dan tidak ada ATM adalah bencana alam.
Badanku mungkin memang rebahan kasur, tapi pikiranku melompat tak mau tertidur.

Sabtu, 04 November 2017

Presiden dan Pendidikan di Daerah Tertinggal

Saat itu sedang ada sosialisasi program pemerintah di kantor Kabupaten Boyolali. Aku yang iseng nylonong masuk ke kantor untuk riset mengenai arti maskot kabupaten dikejutkan oleh suara cempreng bapak-bapak paruh baya. Suara cempeng nan khas itu ternyata suara Pak Jokowi. Beliau sedang mengadakan blusukan ke kantor kabupaten dalam rangka memantau kinerja pejabat pemerintah.

"Sini-sini..." Panggil Pak Jokowi sambil melambaikan tangannya padaku.

Mak dheg! Aku kaget!
Dengan muka pucat dan agak sedikit panik aku bergegas menuju tempat beliau berdiri. Beberapa Paspanpres menghampiriku, satu orang memeriksa isi tas dipinggungku sambil berbicara melalui earphonne-nya. Benar-benar pengamanan kelas satu untuk orang nomer satu di Indonesia.

Pemeriksaan singkat itu telah usai. Langkah demi langkah kulalui untuk menjawab panggilan pak Presiden.
Dengan wajah sumringah beliau menjabat tanganku dengan erat seraya berkata banyak hal.

"Saya tahu kamu lhooo! Karyamu bagus penuh dengan nilai-nilai moral yang patut dicontoh oleh masyarakat Indonesia!" Ucapnya sambil menepuk punggungku. Sementara disamping Pak Jokowi ada Pak Jusuf Kalla yang tersenyum teduh sambil mengacungkan jempolnya kepadaku.

Sebuah pencapaian baru telah tercapai. Aku tidak menyangkan kalau momen ini akan segera tiba. Aku berkali-kali menundukkan kepala sambil mengucapkan terimakasih. Dadaku terasa penuh dengan perasaan hangat yang sepertinya mengaktifkan tombol air mata di kepala. Ya tiba-tiba aku menangis sesenggukan. Mungkin ini yang dinamakan tangis kebahagiaan. Sebuah tangis dimana seseorang telah mengakui keberhasilanmu.

Setelah bersalaman tanda perpisahan, kedua orang hebat itu beranjak meninggalkan aku. Sedetik kemudian aku mengingat bahwa di tas punggungku terdapat buku komik 'Proposal Untuk Presiden'. Langsung aku berteriak panik.

"Pak! Tunggu! Saya ingin menyerahkan sesuatu!"

Dengan tergopoh-gopoh sambil berlari ke arah Pak Presiden, aku mengeluarkan dua buku komik tersebut.

"Maaf Pak, mungkin karya saya tidak terlalu bagus. Namun di komik ini saya menyampaikan aspirasi dan keprihatinanku mengenai sarana dan prasarana pendididikan di daerah tertinggal!" Ucapku dengan wajah berkeringat dan sedikit panik.

"Mohon diterima, Pak!"
Pintaku dengan sangat.

"Hahahaha, bagus sekali! Saya sangat menyukai komik! Apalagi komik buatan anak negeri sendiri" Pak Jokowi tertawa dengan khasnya sambil menerima buku komik tersebut.

Beliau langsung mengucapkan terimakasih dan bergegas pergi meninggalkan lokasi. Aku diam menikmati momen paling bersejarah di dalam hidup. Saat itu matipun aku rela. Apalagi jika mengingat perjuanganku dalam menjadi seorang komikus. Semua usahaku selama ini telah terbayarkan.

"Kok kamu gak minta foto bareng dengan Pak Presiden bersama karyamu sih?" Tanya seorang teman penggiat komik yang memandang peristiwa tersebut dari kejauhan.

Aku menjelaskan, bahwa aku tidak sampai hati untuk meminta hal tersebut. Kurasa bukan permintaan yang pantas untuk aku pinta dari seorang nomer satu di negeri ini. Karya sudah diapresiasi saja sudah merupakan kehormatan bagi seorang seniman.

Yah mungkin foto saat karyaku dipegang orang hebat adalah pencitraan yang ampuh untuk diunggah di medsos.  Aku yakin akan banjir komentar, like, dan tentu saja menaikkan kebanggaanku sebai seorang komikus.

Namun apa daya, hatiku tidak sampai. Ya sudahlah. Daripada berfoto, aku lebih berharap beliau merespon konflik yang aku uraikan di komik 'Proposal Untuk Presiden'. Semoga saja setelah komik ini di tangan beliau, permasalahan mengenai sarana dan prasarana pendidikan di daerah tertinggal menjadi sedikit berkurang.

Bukankah melihat anak-anak Indonesia memperoleh pendidikan yang layak adalah sebuah langkah tepat menuju Indonesia Hebat?

Mujix
Yah, postingan ini ditulis dari mimpi semalam pada pukul 03.00 WIB.
Mimpi yang aneh namun kurasa penting untuk didokumentasikan.
Bogor, 04 November 2017

Kamis, 26 Oktober 2017

Ponsel Pintar

Sejak aku memakai ponsel pintar, intensitas membaca buku berkurang. Asupan nutrisi pemikiranku hanya diisi berita politik, kegaduhan di sana-sini, dan artikel-artikel viral lainnya. Salah satu manfaat yang aku setujui saat membaca di ponsel pintar mungkin adalah kemampuan membacaku yang semakin cepat, walau terpotong-potong.

Polanya sederhana, baca judul artikel, baca kalimat pertama, lalu acuhkan dan scrolling sampai kalimat terakhir di paragraf terakhir. Hal ini mengingatkanku dengan ujian Bahasa Indonesia saat bersekolah dulu tentang inti suatu paragraf.

Sisanya, membaca artikel melalui gawai menurutku sangat melelahkan. Salah satu cara dalam mengembalikan 'kewarasan'-ku dalam berliterasi adalah membaca buku fisik.

Membaca buku berwujud fisik sangat menyenangkan. Aku dapat berdialog secara 'imajiner' dengan para karakter yang berada di buku maupun dengan pengarangnya tanpa serangan gangguan.

Gangguan apa? Ya semacam pemberitahuan dari berbagai aplikasi yang aku pasang di ponsel tersebut, lah. Sering fokusku teralihkan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Misalnya aku sedang membaca artikel 'Bagaimana Move On dari Mbak Mantan padahal Aslinya Cuman Gebetan' di 'sebuah situs yang kalau kesebut namanya takut dikira promosi terselubung'.

Baru membaca poin kedua  lalu tiba-tiba muncul deh logo pesan singkat di Whatsapp , belum sempat membaca pesan di Whatsapp selesai, muncul pemberitahuan lagi dari Instagram. Instagram scrolling.

Scroling.

Scroling terus.

Scroling terus sampai jenggotan.

Scroling terhenti karena nemu foto mbak gebetan, langsung menuju akun mbak gebetan untuk menguntit cerita terbarunya. Hah!? Doi udah nikah dan punya baby. Galau. Lalu males buka gawai.

Nah. Lalu bagaimana dengan nasib artikel 'Bagaimana Move On dari Mbak Mantan padahal Aslinya Cuman Gebetan' di sebuah 'situs yang kalau kesebut namanya takut dikira promosi terselubung'?

Hilang!! ditelan galau gara-gara nemu foto baby di Instagramnya mbak gebetan. See!?

Terkadang aku suka bingung saat ada yang dengan mudahnya membagikan kiriman provokatif penuh ujaran kebencian.

Sudah sumbernya tidak jelas nilai manfaatnyapun kurasa kurang patut untuk diperbincangkan.

Poin positif dari membaca buku fisik, terutama buku yang lahir dari tangan-tangan maestro, adalah isinya. Apabila diandaikan, buku yang berkualitas bagus itu seperti makanan mewah di restoran yang berkelas. Bahan-bahannya jelas dan bisa ditelusuri nutrisinya. Koki dan pengarangnyapun tidak bersembunyi di balik topeng, dan bisa kita telisik rekam jejaknya (Walaupun tidak semua penulis dan buku fisik seperti itu sih).

Penulis anonim di medsos dan penulis bergelar di dunia nyata mempunyai satu persamaan yang sama, mereka semua sedang memperjuangkan sesuatu.

Entah materi.
Entah itu ideologi.
Atau mungkin sekedar mencari sensasi.

Ya, ya, aku juga butuh uang dan pengakuan. Menjadi komikus kritis soal politik sepertinya keren. Atau menjadi netizen yang paham sekali soal agama sepertinya juga yahud. Namun aku harus tahu diri. Ilmuku belum nyampe untuk hal-hal seperti itu.

Nggagas piye carane golek pangan soko passion wae mumet ndase, ameh nggagas sesuatu sing ilmuku dewe wae ora nyandak.

Ya sudahlah, untuk kali ini, aku hanya ingin menjadi Winnie The Pooh saja deh.

Menjadi beruang madu berotak kecil yang selalu bersahaja sambil menikmati kehidupan bersama Christopher Robin, Piglet, Eeyore, Owl, Roo, Kanga, Rabbit dan seluruh penghuni Hutan Seratus Ekar (ekar itu apaan sih bro!?).

Di buku 'Winnie The Pooh' dan 'The House at Corner Pooh', tokoh beruang penggemar madu ini mengakui bahwa dirinya memang tidak terlalu pintar dan berotak kecil.

Mengetahui kenyataan tersebut, Winnie The Pooh tidak menyesal dan mencoba menjadi beruang yang baik untuk lingkungannya.

Bodoh namun memiliki sikap yang rendah hati dan bersahaja sebenarnya cukup untuk membuat dunia di sekitar kita bahagia.

Dan membaca dinamika dunia di buku Winnie The Pooh itu seperti berkaca di beranda media sosial. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan gawai dan membaca artikel on line. Toh tak bisa dipungkiri lagi bahwasanya sejagat ilmu tersebar di sudut lini masa. Yup. Pinter-pinternya yang megang ponsel pintar saja sih. Jangan sampai idiom 'masak udah pegang ponsel pintar, yang punya ponsel pintar masih goblok' menempel di jidat kalian (dan aku tentu saja) saat mengirimkan sesuatu melalui gawai.

Suka atau tidak suka, buku cerita bergambar ini sangat aku rekomendasikan buat  yang ingin 'memelihara' kewarasan dan  menengok kembali menakjubkannya dunia anak-anak. Yah pokoknya gitu deh.

Mujix
Sesosok komikus yang sering dikatain makin kurus gara-gara punya badan yang kerempeng.
Bogor, 3 November 2017.