Jumat, 21 September 2018

Kita adalah sepasang kekasih yang belum dipertemukan.

Kita adalah sepasang kekasih yang belum dipertemukan.

Aku mencintaimu, namun kamu tidak tahu. Kamu menyayangiku, namun aku tidak tahu.

Jika aku tidak menemukanmu, kamu pasti akan menemukanmu. Entah cepat atau lambat.

Kita adalah sepasang kekasih yang belum dipertemukan.

Mujix
Sedang mencarimu
Simo, 25 September 2018

Selasa, 18 September 2018

Manusia Primitif

Beberapa saat yang lalu aku ke Garmedia. Saat sedang numpang baca grat... maksudku sedang mencari buku yang ingin dibeli, tiba-tiba datanglah seorang pria rapi membawa 'tablet elektronik' ( kalau aku tulis 'tablet' doang nanti dikira mas-mas yang mau ngobat).

"Halo, Kak, saya dari koran Kampus mau bla... bla... bla..." yang intinya Mas-mas itu minta nomer hape dan email, yang nanti bakal diganjar koran gratis selama satu bulan. Tapi dalam bentuk PDF. Atau E-newspaper. Atau CDR. Entahlah, aku lupa. Yang pasti bukan dalam bentuk seperangkat alat sholat dibayar tunai.

Namun, dasar aku sedang sok syantik,  saat beliaunya baru ngomong "Boleh tahu nomer hape..." langsung aku samber dengan kata-kata penolakan yang sangat 'to the point'.

"Maaf, Mas, aku gak bisa!" Aku berkata sambil melambaikan tangan ala peserta uji nyali 'Dunia Lain' yang melihat penampakan mantan. Dia bengong.

"Terimakasih ya, Mas" ucapku lagi sambil meneruskan aktivitasku memilih buku yang ingin aku baca gratis, sinopsisnya. Hihihi

Mas-mas sales koran itu lalu ngeloyor pergi begitu saja. Dilihat gelagatnya, sepertinya ia jarang mengalami penolakan saat meminta alamat email atau nomer hape. Mungkin di tempat ini, banyak pelanggan yang dengan mudahnya memberikan alamat email dan nomer hape. Namun maaf, orang yang anda hampiri kali ini adalah orang yang cukup berhati-hati sekali menyebarkan data pribadi.

Nomer hape, alamat email, tanggal lahir, ataupun status hubungan adalah hal yang sangat sensitif untuk diobral di banyak tempat. Gak mungkin dong kalau aku mengeluh soal betapa pilunya seorang komikus yang jomblo di usia matang. Uhuk-uhuk. *kode

Kembali ke topik pembahasan. Aku memperhatikan dengan seksama saat mas-mas itu menghilang di balik lemari tumpukan buku. Ada beberapa hal yang aku cermati dari peristiwa tersebut.

Hal pertama, sebagai manusia yang  terpelajar dan berpendidikan tinggi (ecieh,  es satu aja belagu luh), penolakanku tadi sangat tidak artistik. Baik dari segi ucapan maupun tindakan.

Aku merasa sangat 'primitif' sekali saat itu. Aku tidak membicarakan penampilan atau wajahku yang berantakan. Maksudku, bukankah ada cara-cara yang lebih 'elegan' lagi saat suatu penolakan itu harus diucapkan?

Tiba-tiba saja saat semuanya terlambat, kalimat penolakan yang menurutku 'elegan' itu berduyun-duyun datang ke pikiran. Kira-kira bunyinya seperti ini:

"Waah, tawarannya sangat menarik sekali, Mas! Emang ya koran versi digital itu sangat praktis dan ramah lingkungan. Lagipula, pasti sangat menyenangkan jika bisa memiliki koran versi ini!"

Terus datang lagi kalimat berikutnya.

"Tapi maaf, Mas, saya belum bisa untuk berlangganan atau memberikan informasi pribadi. Selain saya belum punya tablet, saya juga jarang membaca koran."

Lalu, lalu, lalu.

"Terimakasih atas penawarannya, mungkin jika ada kesempatan saya akan berlangganan langsung ke agen korannya, apakah ada nomer yang bisa saya hubungi!?"

Dan begitulah seharusnya sebuah penolakan yang keren dan berestika. Dan begitulah cara memanusiakan manusia.

Ada sedikit rasa getir di dada. Ternyata untuk berubah dari 'manusia' menjadi 'orang besar' itu sangat susah.

Dan hal kedua aku cermati lagi setelah peristiwa itu adalah, perginya mas-mas tersebut tanpa mengucapkan 'minta maaf' dan 'terima kasih'.

Minta maaf, karena mengganggu aktivitasku. Terimakasih, karena aku  sudah meluangkan 'sedikit perhatian' untuk mendengarkan penawarannya.

Rasa sedikit getir itu tiba-tiba lenyap, Ternyata kami berdua sama-sama manusia yang masih primitif. Namun setidaknya aku masih sempat untuk mengucapkan 'terimakasih'.

Berkaca dari peristiwa sederhana tersebut, akhirnya pertanyaan semacam 'kenapa mantan koruptor masih diperbolehkan mendaftar sebagai wakil rakyat' atau 'kenapa Mie Goreng yang harusnya digoreng, ternyata malah direbus' terjawab sudah.

Terimakasih sudah membaca tulisanku. Maaf mengotori linimasamu dengan wajah tampanku. *langsung kesurupan massal

Mujix
Seorang komikus ' semi primitif' yang  karyanya pernah ditolak penerbit karena 'humornya kurang kekinian' dan masih menggunakan pensil, spidol, dan kertas HVS A4 80 Gram, padahal punya pen tablet
Bogor, 18 September 2018

Minggu, 16 September 2018

Bibit Jagung

Kisah sederhana ini tiba-tiba terbersit dalam pikiran saat di lini masa bersliweran drama mengenai BIBIT UNGGUL.

***

Aku mempunyai kisah tentang bibit, entah bibit itu unggul atau tidak. Saat aku sekolah di SMP dulu ada pelajaran biologi. Salah satu tugasnya ialah membuat bibit jagung. Atau lebih spesifiknya mengubah biji jagung menjadi bibit jagung yang siap tanam. Biji menuju bibit.

Beberapa benda yang harus dipersiapkan untuk mengerjakan tugas tersebut. Benda-benda itu ialah gelas minuman mineral plastik, kapas, dan tentu saja biji jagung.

Di hari pertama, biji jagung itu aku letakkan di atas kapas, kapas yang basah. Kapas itu digunakan sebagai pengganti tanah. Lalu biji jagung yang sudah diletakkan di atas kapas itu dipindahkan ke gelas minuman mineral plastik. Biar praktis dan memudahkan saat menulis data penelitian.

Sejak hari itu petualanganku dalam 'menumbuhkan' biji jagung dimulai. Berbagai hal aku lakukan untuk menyukseskan misi tersebut. Misalnya, segera memberikan air jika kapas tempat biji jagung teronggok itu terlihat kering. Atau setiap pagi aku membawanya untuk berjemur di emperan rumah agar biji jagung itu mendapat sinar matahari. Sempat terpikir juga menambahkan kotoran ayam agar sang biji jagung medapatkan 'asupan' pupuk kandang. Namun aku batalkan karena alasan estetika. Baunya itu bro, belum lagi warna air yang keruh. Pokoknya, say 'No' to pupuk kandang.

Hari demi hari berlalu, biji jagung yang aku rawat 'seperti anak sendiri' itu akhirnya bertunas kecil. Sangat kecil. Walau kecil, Aku bahagia. Rasanya mungkin mirip seperti saat bokek, terus tiba-tiba menemukan uang 50 ribu di saku celana saat mencuci.

Misiku akhirnya hampir berhasil. Saat itu aku terlena dengan perasaan bahagia. Entah karena apa, tiba-tiba saja aku berpikir seperti ini:

"Karena sudah tumbuh tunas kecil, kayaknya tidak apa-apa deh jika biji jagung itu aku tinggalkan sejenak untuk mengurus hal-hal lain."

Hal-hal lain itu tidak aku perlu jelaskan di tulisan ini, namun yang pasti sejak saat itu aku hanya mengganti airnya jika aku ingat.

Terkadang aku lupa untuk menjemurnya di sinar matahari pagi. Puncaknya adalah saat banyak tugas dari pelajaran lain yang datang menghantam.

Hingga suatu datang suatu malam. Besok pagi adalah hari dimana tugas biologi itu, aku baru teringat bibit jagung tersebut.
Entah beberapa hari aku lupa untuk mengurus bibit tersebut. Namun saat aku temukan, bibit itu tergeletak dengan sangat mengenaskan.

Tunas yang kubanggakan itu sudah hilang, sepertinya membusuk. Kapas yang biasanya lembab itu kering. Celaka! Bibit jagungku mati! Bagaimana nasib nilai ujian biologiku besok!!?

Dari peristiwa ini aku diajari alam semesta untuk berfilsafat lebih awal di usia sangat muda.

Bibit jagung jika tidak diberi air dan tidak diberi sinar matahari, maka bibit tersebut akan mati.

Bukan hanya bibit jagung. Bibit apapun. Seunggul apapun.

Siapa yang bisa disalahkan dari 'matinya bibit jagung' tersebut? Airnya? Mataharinya? Kapasnya? Gelas plastiknya? Atau akunya?

Benar!! Kurasa kalian sudah tahu jawabannya! Yang bisa disalahkan dari 'matinya bibit jagung' tersebut ialah GELAS PLASTIKNYA!!

Mujix
Sepertinya setiap manusia memang punya masanya dimana ia memiliki sikap yang buruk. Maklumi, maafkan, dan mari kita sama-sama belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Bogor, 16 September 2018

Jumat, 07 September 2018

Wawancara

Kamis kemarin aku pergi ke daerah Jakarta Selatan untuk interview pekerjaan di sebuah perusahaan, yang ternyata agensi iklan.

Tempat ini adalah markas dari tim kreatif kampaye salah satu calon presiden di pemilu periode yang lalu. Hal tersebutlah yang membuatku 'iseng' untuk mengirim sebuah lamaran pekerjaan. Beneran iseng. Seiseng para pendekar dari agensi iklan tersebut dalam membuat poster 'pencarian bakat' mereka.

Tunggu sebentar, iseng bagaimana sih? Jadi gini, seminggu yang lalu aku melihat poster lowongan pekerjaan bersliweran di lini masa. Aku berharap bisa bergabung dengan tim kreatif ini. Tentu saja sebagai pekerja lepas. Dan tengilnya, di poster tersebut tidak dicantumkan perihal mengenai sifat dari pekerjaan tersebut. Begitulah, dalam hitungan menit portofolioku Si Amed sukses berpindah tangan melalui email.

Sepertinya portofolio Si Amed terlalu dahsyat bagi mereka, hingga salah satu stafnya menelepon agar aku datang kamis ini untuk wawancara. Aku happy. Akhirnya aku bisa merasakan sebuah ritual sakral yang bernama 'job interview'.

Hari kamis siang, jam setengah satu aku berangkat ke Jakarta. Perjalanan ini aku tempuh dengan KRL dan ojek daring. Aku sampai di sebuah rumah rindang dengan berbagai macam standing figure di terasnya, tentu saja setelah dua jam terombang-ambing di jalanan Jakarta yang panas, pengap, dan penuh dengan raut wajah cemberut.

Akhirnya sampailah di lokasi. Tempat tersebut secara fisik sangat menyenangkan. Rumah yang rindang dengan banyak pohon di depan dan dua gazebo di samping bangunan. Gazebo itu ternyata digunakan untuk sholat bagi pegawai yang beragama islam. Suasananya juga tidak terlalu bising, karena terletak agak jauh dari jalan raya.

Perjumpaanku pertama dengan penghuni bangunan tersebut diawali kemunculan Mbak Bunga (nama sengaja disamarkan agar kalian tidak stalking IG-nya, biar aku saja) yang sempat sedikit aku kepo di Instagram. Hahaha.

Mbak Bunga mempersilahkan aku masuk ke sebuah ruangan yang berisi beberapa orang. Mereka sepertinya orang-orang penting di perusahaan tersebut. Ruangan itu memiliki dinding yang dihiasi berbagai macam poster berbingkai. Ada juga lemari kecil berisi buku-buku berbahasa inggris tepat di samping pintu.

Aku masuk ke ruangan tersebut dengan penuh sopan santun, pokoknya segala polah tingkahku saat itu mirip dengan adegan di sinetron yang menggambarkan 'orang jawa' saat datang ke Jakarta. Begitu klise.

Kalimat pertama yang mereka tamparkan ke diriku yang berkeringat basah itu adalah:

"Gile, rapi amat loe, Mas!?"
Aksiku memakai kemeja batik di sebuah interview pertama kerjaku ini berhasil menarik perhatian mereka.

Ada hal yang menarik dari peristiwa kecil tersebut. Awalnya saat berangkat dari Bogor, aku hanya memakai kaos oblong dengan gambar Si Amed. Niat semulanya jelas, pamer IP karakter sekalian mencitrakan diri sebagai pribadi muda  kreatif nan casual.

Sampai di Stasiun Cawang aku melihat para pegawai kantoran yang berlalu lalang. Mereka semua memakai kemeja rapi dan berseragam resmi. Tiba-tiba aku teringat pepatah jawa yang dulu didengungkan para orang tua. Pepatah itu berbunyi:

"Ajining diri gumantung ana ing lathi, ajining raga gumantung ana ing busana."

Yang jika diartikan secara bebas di dalam bahasa indonesia, kepribadian yang murni ada dalam ucapan/kata, penampilan mencerminkan kepribadian.

Sepersekian menit kemudian aku mendobeli kaos tersebut dengan kemeja batik berwarna hijau. Ah, persetan pribadi muda  kreatif nan casual. Aku akan mencoba menghargai orang-orang yang aku temui hari ini.

Dan sudah bisa diduga, penghuni 'markas dari tim kreatif kampaye salah satu calon presiden di pemilu periode yang lalu' itu memang tidak bisa disamakan dengan kantor-kantor resmi pada umumnya.

Aku tidak kecewa. Tidak ada yang ditertawakan, aku ikut tertawa bersama-sama mereka soal kemeja yang 'rapi amat' ini.

Setelah saling berkenalan akhirnya sesi wawancara dimulai dengan santai. Banyak hal yang ditanyakan, banyak hal yang diperbincangkan. Hingga akhirnya mengerucut ke sebuah pertanyaan final, mau enggak aku kerja di sini?

Mereka mencari pegawai tetap.
Aku ngarepnya mereka mencari pegawai lepas. 

Jadi aku menjawabnya, Tidak.

Alasannya. Misiku pergi ke barat (baca: Bogor), sebenarnya bukan untuk bekerja. Namun menemani kedua ortuku. Toh pekerjaanku bisa dibawa kemana-mana. Lalu aku pulang membawa banyak oleh-oleh berupa pemikiran baru. Pemahaman yang dianyari.

Beberapa hari berlalu setelah itu.
Perasaanku campur aduk. Apakah salah jika aku melepaskan kesempatan emas itu demi hal-hal sentimentil?

Mujix
Lelaki yang belagu! Lelaki yang belum bisa membawa dirinya dengan baik
Bogor, 25 September 2018.