Kamis, 07 Desember 2017

Budak Ide

Aku adalah budak ide. Suka atau tidak suka, di kepalaku terlalu banyak hal yang ingin aku gambar. Sejak pertama kali aku membuat komik, entah sudah berapa kali aku terpuruk di lubang-lubang dalam.

Dulu pernah komik buatanku disangka milik orang lain dan dicibir teman karena katanya gambarku terlalu bagus untuk ukuran anak SMP. Galau!? Ya iyalah. Kalian tahukan bagaimana kejiwaan seorang bocah SMP yang masih labil.

Ditolak penerbit rasanya juga getir.
Beberapa orang bahkan enggan menggambar lagi saat mengetahui kenyataan bahwa komiknya benar-benar diabaikan saja oleh penerbit.

Rasanya seperti ingin makan nasi goreng namun sayang dirimu berada di kutub utara. Orang-orang yang 'lemah' akan terus menunggu penjual nasi goreng buka cabang di kutub utara.

Komentar-komentar seperti ini adalah salah satu alasan yang membuat gairahku membara dalam berkarya. Salah satu alasan yang membuatku betah berlama-lama di meja gambar. Terimakasih sudah mengapresiasi. Terimakasih.

Mujix
Sudah cukup tentang dirimu.
Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan. Hidupku harus terus berjalan.
Bogor, 07 Desember 2017.

Sabtu, 18 November 2017

Si Anu

Aku sedang menggambar siang itu. Ibuku berteriak dari luar. Beliau berkata kalau Si Anu benar-benar iri kepadaku. Menurut Si Anu, hidupku sangat sempurna.

Si anu bilang memiliki pekerjaan sesuai passion dan bisa dikerjakan di rumah itu sangat menakjubkan, apalagi dengan waktu bebas nan tak terbatas untuk melakukan apapun yang aku sukai.

Nggambar, karya hasil jadi dikirim via internet, kalo udah beres, langsung deh ditransfer via Bank. Menurutnya, rutinitas itu benar-benar berbanding terbalik dengan dirinya yang pemilik rental komputer kecil di daerah kampus.

Ya, dia memang berprofesi seperti pegawai yang kita kenal pada umumnya. Berangkat pukul 8 dan pulang pukul 4. Jika sedang ramai Si Anu bakal bertahan sampai malam untuk mengejar setoran.

Aku sudah tahu siapa Si Anu yang dibicarakan oleh ibuku. Si Anu tersebut adalah sesosok pribadi yang ramah, memiliki seorang istri setia, memiliki banyak teman di kampungnya, dan tentu saja sudah memiliki rumah sederhana.

Saat ibuku berkata bahwa  Si Anu benar-benar iri kepadaku, yang menurut Si Anu bahwa hidupku sangat sempurna, aku hanya bisa tertawa di dalam hati.

"Bwahahahahaaaa g*blok! Mungkin ini yang dimaksud 'rumput tetangga lebih hijau'!" Batinku.

Aku kembali melanjutkan aktivitas menggambar sambil menepis rasa iri karena belum memiliki pencapaian seperti Si Anu. Kenapa rasa iri harus ditepis? Karena membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain itu seperti memasang jepitan jemuran di kedua puting susu. Sakit dan perbuatan goblok. Kayak gak ada kerjaan yang lain saja, Bosku.

Mujix
Sedang mulai menggambar karya idealis bernama 'Lemon Tea'. Btw hati udah baikan belum?
Mujix, 18 November 2017

Kamis, 16 November 2017

Lupa

Aku sudah lupa rasanya berbahagia. Entah kenapa hal-hal yang sangat akrab denganku saat ini hanya suasana bosan, keadaan lelah, situasi gamang dan terkadang atmosfer kemalasan. Mungkin aku sedang mengalamai situasi diorientasi hidup lagi. Untuk kesekian kalinya. Jika berkaca dari kejadian yang sudah-sudah, solusi dari permasalah seperti ini sebenarnya sangat sederhana.

Aku harus mengambil liburan! Benar-benar liburan dan keluar sejenak dari rutinitas. Enaknya ngapain ya?

Mujix
Lelaki yang perutnya mual gara-gara susu kotak rasa coklat dari warung sebelah.
Bogor, 14 November 2017

Selasa, 07 November 2017

Dompetku hilang di dalam rumah. Aku bingung. Isinya uang receh dan surat-surat. Dompet bagiku adalah separuh nyawa. Semua tempat aku cari, semua tempat aku bongkar. Namun tak kunjung ketemu. Apakah aku panik? Tidak, karena aku panikpun sang dompet juga tidak mungkin bakal nongol. Apakah aku pusing? Lumayan, soalnya mencari KTP dan ATM di tanah perantauan itu sangat menyebalkan.

Aku sudah mengitari semua bagian di seisi kontrakan sampai khatam. Enggak ketemu!!! Meh!

Langsung aku merebahkan diri di kasur. Males nyarinya. Toh dicari juga gak bakal ketemu. Aku memutuskan untuk diam. Mencoba hening dan menganalisa kemana gerangan sang dompet.

Apabila ditilik dari pergerakanku, hanya ada tiga tempat yang memungkinkan menjadi persembunyiannya. Kamar Tidur dan Meja gambar. 

Kamar tidur adik yang berantakan itu membuatku malas untuk mencarinya. Terlalu banyak barang teronggok. Aku hanya mencari sekedarnya. Dan tentu saja nihil.

Opsi kedua adalah Meja Gambar. Tempat ini sangat sederhana. Hanya ada meja. Beberapa buku, dan meja miring tambahan. Dan ditempat inipun sudah aku obrak-abrik namun masih saja sang dompet tak kunjung ketemu.

Ahh tengik.
Aku masih saja berbaring sambil menyiapkan batin untuk kemungkinan terburuk. Melalui hari-hari tanpa dompet ber-KTP dan ATM. Yah mungkin beberapa hari ke depan aku bakal pulang kampung untuk mengurus KTP dan ATM. Di tanah perantauan tanpa dua kartu sakti itu aku hanya menjadi pecundang.

Kalau ada operasi dan tidak ada KTP adalah mimpi buruk. Kalau butuh uang dan tidak ada ATM adalah bencana alam.
Badanku mungkin memang rebahan kasur, tapi pikiranku melompat tak mau tertidur.