Jumat, 20 Juli 2018

100 hal yang membuat Mujix bahagia

100 hal yang membuat Mujix bahagia. Nomor tidak menunjukkan peringkat.

1. Makan es krim coklat
2. Nonton film terbaru yang ditunggu
3. Mendengarkan musik yang bersemangat
4. Jalan-jalan ke tempat baru
5. Main basket
6. Membaca komik baru
7. Berkencan
8. Mengulum coklat
9. Pergi ke Toko Buku Gramedia
10. Mencicipi sarimi rebus + telor setengah matang
11. Kelelahan setelah jogging
12. Berburu buku bagus di Gladak
13. Main game yang menarik
14. Berkumpul dengan teman-teman
15. Minum teh panas di pagi hari
16. Pekerjaan yang selesai dan gajian
15. Melamun
16. Semua hal yang berkaitan dengan Dragon Ball
17. Tidur malam lebih awal
18. Bangun pagi lebih awal
19. Beribadah dengan khusyuk
20. Meditasi
21. Bermimpi indah
22.

Mujix
Bakal diupdate sampai angka 100
Sabar ya.
Simo, 20 Juli 2018

Kamis, 12 Juli 2018

Jatuh

Di suatu hari di Stasiun Pasar Senen. Siang itu aku terburu-buru karena memang mengejar kereta. Ketika tiba di depan pos pemeriksaan, tanganku merogoh kantong mencari tiket. Saat itulah ponsel pintarku terjatuh dari saku jaket.

"PRAAAAK!!!"

Suaranya cukup nyaring karena jatuh dari jarak yang agak tinggi. Beberapa orang kaget dan menoleh ke arahku. Aku mengambil ponsel pintar tersebut dengan muka datar, menatap seksama untuk sekedar memastikan keadaan.

Ahh, sedikit ada retakan. Aku diam, lalu kumasukkan begitu saja ke dalam kantong dan berjalan dengan santai menuju petugas pemeriksa tiket.

Sekelebat aku melihat wajah berkenyit  beberapa orang yang tahu kejadian terjatuhnya ponsel tersebut. Sepertinya mereka heran mengapa aku bisa bersikap se-woles-itu, tanpa ekspresi dan melanjutkan aktivitas seperti tidak ada kejadian apapun. Mungkin. Atau wajah mereka berkenyit karena melihatku yang tampan? Gak Mungkin.

Ya, ponselku baru saja jatuh. Namun ya sudahlah. Toh sudah jatuh. Andaikata dengan 'mengumpat'  bisa membuat ponsel itu 'terbang' dan gak jadi jatuh, maka aku akan mengumpat puluhan kali.

Namun ya begitulah. Ponsel jatuh dan lantai stasiun kala itu bagai cinta sepasang manusia yang sudah terikat oleh suratan takdir.

Kalau dipikir lagi, masih mending ponsel jatuh jika dibandingkan saat perasaanku 'jatuh' ketika patah hati, atau saat harga diriku 'jatuh' ketika didamprat dan dipermalukan klien gara-gara kerjaan gak sesuai ekspektasi. Dua-duanya sangat perih, man.

Ponsel jatuh? Tinggal beli lagi. Gak punya uang? Kerja. Kalau gak ada kerjaan? Kamu serius? Itu 'gak ada kerjaan' atau memang 'males kerja'?

Nah kalau perasaan atau harga diri yang jatuh? You need something better more than your money.

Di dalam hidup, 'jatuh' adalah sebuah keniscayaan. Yakin! Aku gak ngapusi!
Namun tetap tenang dalam berpikir dan bersikap saat 'jatuh' adalah sebuah pilihan. Susah? Jelas. Kalau mau gampang jadi netizen tukang nyinyir saja.

Yang pasti saat itu aku terlihat cool dan manly, ayak cogan-cogan di drakor yang kalian tonton, atau di webtoon. Padahal aslinya di dalam hati:

"Ah sial. Tau gitu, ponsel pintarnya aku kasih pelindung dulu deh. Hmmm."

Batinku saat melihat retakan di ponsel. Jadi poin penting yang ingin aku sampaikan adalah: Sikap elegan, wajah tampan, bisa menipu, namun isi perasaan siapa yang tahu. Be carefull ya gengs.

Mujix
Akhirnya bisa merasakan 'rush hour'-nya KRL jurusan Bogor-Jakarta. Salut buat para penumpang yang setiap hari mengalami hal tersebut. Kalian orang-orang kuat, gaes!
Simo, 13 Juli 2018

Sabtu, 07 Juli 2018

Ayo!!! Bangun!!!

Disclaimer: beberapa adegan di postingan ini agak menjijikan. Jika kamu tidak terlalu kuat dengan kalimat kotor dan adegan yang 'mengganggu', silahkan acuhkan postingan ini.

Stalking mantanmu, wae!
Jika kamu beruntung, kamu bakal menemukan foto mantanmu, sang suami, dan foto baby-nya sedang menjalani kehidupan yang bahagia.

Ah. Kurasa foto itu juga 'mengganggu' jika kamu belum 'berpindah hati' dari dirinya. Uch sakit. Tapi tidak berdarah.

***

Selamat datang di Stasiun Jatinegara.
Selamat datang di Jakarta.

Saat ini aku sedang berada di kereta ekonomi Gaya Baru Malam Selatan. Yang harga tiketnya sangat murah meriah untuk seorang komikus yang habis mendapat transferan gaji.

Keadaan gerbong nomer 7 yang aku tumpangi hari ini sangat ramai. Di dominasi penumpang-penumpang dari  Jawa Timur, tepatnya daerah Jombang, yang hampir di setiap bangku penumpang bawa pasti ada anak-anak.

Jika ditilik dari ilmu sosial, arus balik merupakan waktu yang tepat untuk merantau dan membawa sanak saudara untuk berpindah ke kota. Hal tersebut mungkin merupakan 'mimpi buruk' bagi warga ibukota, namun di satu sisi  hal tersebut mungkin adalah awal dari 'mimpi indah' bagi warga non ibukota yang datang ke Jakarta.

Lalu jika dilihat dari sudut pandang ilmu filsafat, atau ilmu semiotika, atau ilmu matimatika logika, ilmu othak-athik-mathuk, banyaknya penumpang yang membawa anak malam ini merupakan cara Alam Semesta memberi 'kode keras' kepadaku untuk segera menikah. Iya, MENIKAH. Uwuu.

"Ayo!!! Bangun!!!"
Lamunanku soal pernikahan dibangunkan oleh sebuah teriakan.

"Bangun!!! Ayo bangun!! Kita turun di Stasiun Jatinegara!!!" Seorang bapak berteriak keras membangunkan anak-anaknya yang tengah tidur di kereta.

Aku melirik mereka. Sebuah keluarga yang cukup meriah teronggok dengan acak di kursi seberang jalan. Sang kepala keluarganya masih berteriak norak membahana.

Mataku menangkap pemandangan sebuah keluarga yang ramai dengan anak-anak yang bergegas bangun dan merapikan barangnya. Ada dua anak di keluarga tersebut. Si Anak perempuan bergerak random merapikan charger hape yang simpang siur. Sementara Si anak lelaki berbaju abu-abu mengangkat dan memakai tas rangsel yang sangat besar.

Jangan tanya isinya apa. Aku tidak tahu.  Sing nggenah dudu duit. Namun yang pasti, sepertinya ia kelebihan beban. Badannya limbung dan kaki anak tersebut  tiba-tiba menginjak kakiku. Beberapa detik kemudian ia terhuyung-huyung dan jatuh terduduk di tas bawaanku.

Darahku berdesir merinding. Sangat beruntung tasku yang berisi laptop sudah di punggung. Jika tidak, kurasa aku akan menyebutkan nama-nama binatang , dengan nada tinggi, dan tentu saja tidak mendapatkan hadiah sepeda.

Sang istri dari lelaki yang berteriak norak itu memandangku dan hanya tertawa.
Semacam memberi kode 'Harap, maklum ya, namanya juga anak-anak.".

Aku tak tersenyum. Hanya melirik wanita paruh baya dengan tatapan sinis, yang merupakan 'kode' jika diartikan dalam bahasa verbal 'Hei, bukankah harusnya anakmu, atau setidaknya kamu minta maaf kepadaku!?'.

Seperti jodoh yang tak bersanding, seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan, aksi saling kode kami tidak menemui titik temu. Suami istri yang wagu, begitu pikirku.

Si anak itu lalu berdiri tanpa merasa bersalah sedikitpun. Tanpa minta maaf. Pergi begitu saja yang kemudian bergegas ke tengah gerbong. Suami istri yang wagu, anaknya juga. begitu pikirku.

Sesaat menjelang kereta berhenti di Stasiun Jatinegara, sang suami yang berteriak norak tadi tiba-tiba batuk.

"Uhuuuk!!! Uhuuuuk!!!"
Bapak itu berdehem dan batuk dengan suara keras.

"Hoeeek!!! Cuuuhhh!!!"
Oh sial, sang suami yang berteriak norak tadi dengan tololnya meludah, dan membuang dahak di lantai gerbong kereta. Beberapa kali.

Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah jendela dan menghindari adegan menjijikan tersebut. Suami istri yang wagu, anaknya juga, tapi sang suami tersebut lebih tidak waras lagi.

Untuk sesaat aku teringat tagar #2019GantiPresiden. Entah kenapa memori di kepalaku malah memunculkan ingatan tersebut. Suka tidak suka, para elite politik di atas sana ternyata telah berhasil membentuk pemahaman baru di masyarakat. Memunculkan ide baru di pemikiranku.

#2019GantiPresiden. Ya Tuhan, untuk detik ini, di depan bapak-bapak batuk yang sedang menumpahkan sesuatu dari mulutnya tersebut, yang perlu diganti bukan presidennya, Bung!

Untuk detik ini yang perlu di ganti adalah etika dan sopan santun rakyatnya terlebih dahulu. Sikap 'se-enak udel gue' harusnya diganti dengan pola pikir mana 'hal yang pantas dilakukan' dan mana yang 'hal tidak pantas dilakukan' di tempat umum. Itu yang namanya Revolusi Mental.

"Tapikan..."
"Tapikan..."
"Jika ganti presiden sekarang maka..."
Terdengar omongan lirih dan nyinyir suara netizen yang maha benar mencoba memaksakan pendapatnya.

Diam!!! Aku sedang membicarakan hasil cipta umat manusia yang bernama 'sopan santun'. Jika kau bersikeras mengenai ganti presiden, tunggu satu tahun lagi!

Kembali ke persoalan Si Bapak, daripada berteriak heboh dan membuat penumpang lain terganggu, bukankah bisa membangunkan anak-anakmu dengan elusan di kepala atau goyangan lembut di pundak sambil bilang "Nak sudah hampir sampai di stasiun, ayo turun!".

Apa sih susahnya bilang "Maaf, Mas. Anak-anak saya telah menginjak kakimu dan menduduki barang bawaanmu! Baik-baik saja, kan? ".

Untuk soal dahak. Kalo kamu malas membawa plastik, Telan saja lagi, Goblok!

Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang mengingatkan. Semuanya acuh tak acuh. 

Aku menghela nafas panjang. Di mana bumi diinjak, di sana langit dijunjung. Untuk saat ini aku akan menjadi kawan kalian. Aku akan mencoba untuk tidak peduli dan acuh tak acuh.

Selamat datang di Stasiun Jatinegara. Selamat datang di Jakarta.

Mujix
Lelaki yang berniat acuh namun tidak bisa dan membuat postingan tentang kegelisahannya saat berkendara menaiki kereta ekonomi.Jika bisa membuat keadaan menjadi lebih baik, Sampaikanlah walau satu kalimat!!
Jatinegara, 5 Juli 2018

Ya, ndak tahu!

Suatu siang yang panas di kantor kecamatan.

"Bu, Jika KTP belum jadi, dan tidak ada KTP sementara, lalu buat bukti agar naik kereta saya harus pakai apa, Bu?"

"Ya, ndak tahu! Saya kan belum pernah naik kereta!"
Jawab Ibu petugas kecamatan dengan nada agak judes.

Aku tertegun. Tiba-tiba aku merasa sedih saat teringat jatah royaltiku dipotong beberapa puluh persen untuk pajak negara. Perjalanan membuat KTP baru masih sangat panjang!

Mujix
Bogor, 7 Juli 2018
Sesosok komikus yang sedang diajak bercanda sama Tuhan. Cuman sayang candaannya kali ini agak keterlaluan.