Senin, 27 Maret 2017

Akbar dan Agam

Oh. Sibuk tuh rasanya kayak gini ya.

Gak sempat nge-blog, gak sempat up date komik Si Amed, gak sempat bikin karya buat Instagram. 
Gak sempet mikirin kamu. 'Kamu' siapa? 
Sebenarnya bisa nyuri waktu sih, cuman sayangnya aku bego soal mengembalikan atsmosphere. 
Apapun itu. Ini adalah 'kesibukan' yang aku cita-citakan sejak dulu. 
Bukankah heroik sekali, menahan berbagai keinginan demi sebuah impian?
Satu hal yang kupelajari dari berbagai kesibukan kali ini adalah, Berikan yang terbaik! 
Apapun yang sedang kau lakukan saat ini.

Mujix
Targetku adalah
menyelesaikan komik ini
dalam satu bulan. Dan ini
sudah memasuki minggu ke dua.
Progres 10%. Keluh
Simo, 27 Maret 2017

Jumat, 17 Maret 2017

Sukses itu Takdir atau Bakat?

“Ji! Sukses itu takdir atau bakat?”
Pesan WA yang sangat random itu tiba-tiba muncul di hapeku. Aku melirik sejenak, ‘ealah, ngopo maneh bocah iki’ batinku. Siang ini adalah siang dimana aku sedang penuh kegalauan karena terjebak di kontrakan. Padahal aku sudah mengemasi semua barang di tas rangsel, sudah mandi, sudah berpakaian rapi jali, sudah bisa membedakan antara mana skala prioritas atau mana yang hanya keinginan sesaat. Begitulah, keadaan yang sangat canggung ini bisa juga dibilang ‘terjebak’.  Karena harusnya saat ini aku harus pulang ke rumah di Simo. Harusnya. Namun gara-gara ‘hujan bodoh yang tak mau tahu kapan ia mau turun’ akhirnya siang itu aku hanya termenung bingung untuk melakukan apa. Di saat sedang random seperti itulah chat yang sangat filosofis itu muncul.

WA itu berasal dari seorang Feri We, sobat itemku yang hingga saat ini galau terus menerus dan berkelanjutan. Galaunya udah kayak sariawan di bibir yang enggak sembuh-sembuh gara-gara lupa memberi nutrisi vitamin C. Vitamin Cinta. Aku harap kegalauan seorang Feri We adalah drama yang ia sengaja agar teman-teman di sekitarnya memiliki alasan untuk selalu merasa baik-baik saja, rak yo ngono to Fer?
Aku sedang tidak bisa berpikir jernih. Aku jawab saja sekenanya.

Walau mendung masih menggantung hujan perlahan mulai reda. Warna abu-abu mendominasi siang hari ini. Semuanya bertekstur kusam dan menenggelamkan para manusia pemuja asa ke samudra kesedihan. Dengan memantapkan niat aku segera bergegas pulang. Air rintik-rintik turun tanpa ragu membasahi pakaianku. Jalan-jalan yang becek mulai membasahi sepatu. Aku memandang jalanan itu dengan tatapan nanar sambil berpikir apakah aku bisa bertahan di kehidupan yang rumit ini?

Kehidupan yang rumit hingga ia menyisipkan sebuah pertanyaan tentang ‘Sukses’, ‘Takdir’, dan ‘Bakat’ di kepala Feri We. Mau tak mau, perjalanku menuju rumah aku isi dengan hepotesa dan berbagai hal yang pelik untuk menjawab pertanyaan tersebut.


BERSAMBUNG

Cara Review Film dengan Sederhana

Aku sedang suka sekali me-review film. Apapun, yang pasti film tersebut sudah kelar aku tonton. Emangnya ada film yang enggak kelar aku tonton? Ada dan sangat banyak. Contoh film yang belum selesai (dan entah akan aku selesaikan atau enggak) adalah film 'Girls on The Train' dan 'Conjuring 2'. Ah. Mungkin genre-nya yang tidak cocok dengan asupan seleraku kali ya. Berikut adalah teknisku dalam review, karena harus aku sampaikan lewat Twitter. Secara umum terbagi menjadi 5 Tweet.

1. Rate! di tweet ini aku hanya sekedar melapor kalau film tersebut sudah selesai aku tonton. Kemudian aku kasih nilai 1 sampai 10. Film dengan nilai tertinggi di dalam reviewku adalah 'Fantastic Beast and Where to find Them'. Bagiku film ini sangat bagus. Aku menikmatinya dari awal sampai akhir. Berikut contoh tweet ku saat memberi rating. Aapapun yang aku tulis acuhkan saja, pendapat pribadi soalnya. 


2. Bagusnya! Nah untuk tweet kedua, biasanya aku bakal menuliskan hal-hal yang menurutku menjadi poin penting dari film tersebut. Entah ceritanya, entah gambarnya, entah pemainnya yang cakep kayak yang nulis blog ini. Apapun itu. Akhir-akhir ini aku masih sedikit terkagum-kagum dengan jalan ceritanya film animasi 'Sing'. Sangat realistis dan menyenangkan. Sepertinya harus menonton sekali lagi. 


3. Jeleknya! Hal yang buruk-buruk dan menyebalkan harus nongol di tweet ini. Bisa dibilang 'kelemahan' adalah 'kekuatan' yang belum muncul. Dan di berbagai film, aku sering sekali menjumpai hal-hal yang buruk. Entah itu dari alur cerita maupun gambar yang terkesan 'MEH' banget! Salah satunya adalah film 'The Lego Batman Movie'. Walau animasinya ajib, bagiku visualnya terlalu ruwet, bagai dompet akhir bulan namun ada undangan untuk kondangan. 

4. Quotes! Tempat ngumpulnya kata-kata bijak dan motivasi. Tapi enggak juga ding, tidak semua film ada kata-kata indah yang nempel di dalam hati taua otak. Contohnya film 'The passengers'. Hingga detik ini aku benar-benar lupa, apakah di film ini ada kata-kata penuh inspirasi yang bisa mencerdaskan pembacanya. Kayaknya sih enggak ada. Jadi jangan salahkan aku jika kata-kata absurd dan random ini yang nempel di hati. 

Sebenarnya masih banyak cara sih untuk meresensi film. Silahkan Googling aja. Banyak kok. Aku hanya memberikan alternatif yang bisa diterapkan di dunia yang serba cepat ini. Kayaknya perlu ditambahin satu tweet lagi, enaknya apa ya? Sinopsis? Sepertinya menarik.

Begitulah. Aku mengisi waktu kosongku dengan menonton film. Sebagian langsung pergi ke bioskop, sebagian lainnya streaming via internet. Aku memprioritaskan ke bioskop hanya untuk film-film bergenre luar angkasa atau fantasi. Yah kadang animasi juga, tapi kadang nyesel karena ceritanya biasa-biasa saja. Misalnya saja beberapa bulan yang lalu, aku bela-belain nonton 'The Secret Life of Pets' di bioskop.

 Dan pulang dari bioskop cuman dapat capek doang. Makanya, sebelum nonton pikir-pikir dulu. Selain film aku juga sedang gila-gilanya membaca komik baru. Banyak banget. Beberapa judul yang menurutku layak ditunggu adalah 'Rikudo', 'Black Clover' dan 'Dragon Ball Super'. 

Selain membaca komik baru, aku juga membuat komik baru. Aku baru saja mendapatkan pekerjaan komikus Freelance dari sebuah penerbit di Bandung. Pagi ini baru saja dikirim naskahnya. Coba tebak apa genrenya? DETEKTIF, coy!! Semacam Conan tapi dengan kasus yang lebih sederhana gitu. Aku akan sering menceritakan kepada kalian tentang bagaimana proses kreatifnya di blog ini. Proggres saat ini masih sampai di pemahaman naskah yang berjumlah 100 halaman. Yuk. Sampai jumpa di postingan selanjurnya (nek aku ora males ap det yo lur).

Mujix
Yakinlah pada dirimu sendiri.
Jika kamu tidak yakin pada dirimu sendiri,
yakinlah pada Tuhan dan semestamu.
Biarkan mereka yang membimbingmu.
Jangan terlalu sombong, wahai para makhluk fana.
Simo, 17 Maret 2017.


Kamis, 23 Februari 2017

Tersesat

Sudah satu minggu lebih. Dan keadaanku belum begitu banyak berubah. Beberapa kali aku harus menghela napas sambil mengacak-acak rambutku yang makin panjang. ‘Berat sekali’, begitu pikirku. Situasi yang harus aku ubah saat ini sangat berat sekali untuk dikalahkan.

Keadaan ruang kerjaku pagi ini cukup kotor dan berantakan. Debu dan tumpukan tanah sisa rumah rayap masih berserakan dimana-mana. Jika mengubah situasi yang berat memang sulit, mungkin lebih baik aku membersihkan ruang kerja yang kotor ini agar lebih nyaman dipandang dan ditinggali, atau setidaknya untuk dipakai buat bekerja.

Begitulah. Aku segera bergegas  mencari sapu dan pengki.
Sapu bisa aku temukan dengan mudah di samping kulkas, biasanya tergantung bersama payung berwarna putih. Payung legendaris dimana pernah menjadi tempat tinggal binatang Lipan yang segede Gaban. Ah, jadi ingat situasi horror saat aku membunuh Lipan tersebut dengan sepatu sebelah ber-merk Converse.

Nah untuk pengki, aku agaknya sedikit kesulitan mencari benda tersebut. Hilir mudik, kesana kemari, dan pengki itu masih ngumpet dimana. Aku tidak menyangka mencari pengki bisa serumit ini. Ternyata bukan hanya mencari ‘tujuan hidup’ saja yang bisa bikin gila. Pengki juga bisa membuat kepalaku edan separuh. Ini nyariin pengki atau berburu jodoh!?

Ah. Tidak ada gunanya mondar-mandir. Aku berhenti di depan pintu. Diam sambil menenangkan diri. Mata dan otakku akhirnya ‘berdamai’ sejenak untuk memfokuskan mencari benda bernama pengki. Aku harus sedikit kalem. agar bisa memperhatikan dan melihat semuanya lebih pelan.

Dan benar saja. Pengki itu makbedunduk nongol begitu saja. Bukan hanya satu!! Ada dua pengki!!!  Satu yang berwarna hijau berada di teras rumah. Dan pengki satunya tergeletak dengan pasrah di samping pintu dekat jendela. Dua-duanya tidak terlihat gara-gara aku yang sedang tersesat di pikiranku sendiri.
Entah siapa yang salah. Umpatan demi umpatan keluar dari mulutku sembari mengambil pengki di teras rumah. Enggak Pengki, Enggak Tujuan Hidup, Enggak Jodoh, kenapa hobi banget nge-buat orang tersesat sih!!??

Aku sedang tersesat. Nyasar. Lost. Keblasuk.

Tersesat! Ketika aku mengetik kata ‘Tersesat’ di Google, yang muncul adalah tersesat lagunya Rhoma Irama. Ini apaan lagi!? Padahal aku berharap yang muncul adalah definisi kata ‘tersesat’ berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kan ‘keren’ tuh bila catatan ini ada istilah rumit beserta artinya dari sumber yang terpercaya. Sekarangkan sedang musim orang-orang kalo ngomong pake istilah rumit dan sulit. Biar kelihatan berpendidikan dan memiliki status sosial yang tinggi. Terus nyalon deh jadi Gubernur atau wakil rakyat. Namun aku sedikit ragu, Gubernur atau wakil rakyat jenis apa yang akan tercipta jika berangkat dari kepalsuan demi citra diri sendiri?

Namun ya sudahlah, Bang Rhoma Irama juga keren kok. Asal gak nongol di acara debat politik aja. Bukan apa-apa. Aku mengagumi beliau sebagai Musisi dangdut yang legendaris. Kalau sebagai seorang politikus, ah... Ya sudahlah.

“Manusia, banyak manusia tersesat
Banyak yang tersesat
Tak tahu apakah tujuan hidupnya
Di dalam dunia”.

Begitulah. Hidupku kali ini terwakili oleh penggal pertama lagu tersesat karya Bang Rhoma Irama.  Beneran.  Aku bingung harus pergi kemana. Sebelum melanjutkan ceritanya, aku ingin bertanya kepada kalian. Kapan pertama kali kalian tersesat dan tidak tahu arah pulang?

Waktu kecil aku pernah tersesat di sebuah kampung di Kota Bogor. Saat itu aku masih sekolah kelas 4 SD. Masih kecil, keriting, dan imut. Sekarang masih keriting juga sih, kribo malah. Kalo imutnya udah enggak. Kayaknya ke-imut-anku udah ilang gara-gara dibarter sama ‘kejamnya kenyataan hidup’. Nah, saat pertema kali liburan ke Bogor, aku hobi banget nge-layap kemana-mana.

Nge-layap paling awesome adalah ke Mall Jambu Dua buat beli komik Dragon Ball pake duit hasil nyolong punya orang tua. Agh. Masa kecil yang tengil.

Ngelayap itu emacam menemukan dunia baru untuk dijelajahi. Gang demi gang aku masuki, beberapa sangat sempit dan membentuk labirin yang membangkitkan berbagai imajinasi. Jalanan beton berwarna kusam yang menurun tak kuasa menahan gejolakku untuk mengenal tempat dan lingkungan baru. Sangat menyenangkan. Hingga akhirnya aku merasa cukup dan segera menyudahi petualangan.

Aku berbalik dan berjalan menuju arah pulang. Beberapa menit berlalu. Rumahku tidak kunjung ketemu. Aneh. Aku kembali berjalan mengulang rute sebelumnya. Tidak menemukan jalan keluar. Aku bingung. Gang yang aku lewati itu harusnya berakhir di sebuah jalan besar, di mana semestinya ada kontrakan rumah orang tua dipinggirnya.

Namun entah mengapa, berkali-kali aku coba gang itu selalu berakhir di sebuah pemakaman besar yang penuh nisan dan Pohon Kamboja.

Ini gimana!?? Aku mulai panik dan mondar-mandir dengan wajah sedih hampir menangis di gang yang sama. Seorang ibu-ibu paruh baya sepertinya kasihan melihatku bersedih. Dan dia bertanya kepadaku dengan bahasa Sunda mengenai apa yang terjadi. Saat itu aku berharap sudah membawa smartphone agar bisa membuka Google Translate, karena bahasa Sunda bagiku saat itu adalah bahasa asing yang belum bisa aku pahami.

Dan berbekal bahasa Jawa ngoko dan bahasa Indonesia seadanya aku bertanya dan menjelaskan permasalahanku saat itu kepada orang-orang disana. Salah satu dari gerombolan ibu-ibu ternyata mengetahui siapa jati diriku sebenarnya. Akhirnya aku dipertemukan lagi dengan rumahku yang di Bogor. Dari peristiwa itu aku belajar satu hal. Jika aku tersesat, cara termudah untuk menemukan jalan adalah bertanya.
Ya. Bertanya.

Bertanya bagi sebagian banyak orang adalah suatu aktivitas yang sulit. Coba ingat-ingat lagi saat sekolah atau kuliah. Pasti ada adegan semacam ini di kehidupan kalian.

“Nah, Anak-anak sekian kuliah hari ini. Ada yang kurang jelas dan ingin ditanyakan?”

Langsung satu kelas kompak pasang muka bengong dan sok sibuk sambil menghindari tatapan  pengajar. . Aku yakin tuh enggak ada yang masuk di otak tuh ilmu.  Kalo kata bang Raditya Dika, Mereka bakal pasang aksi ‘Pura-Pura Mati’. Kalo kataku sih mending ‘Pura-pura Mati’ daripada ‘Pura-pura Mencintai’.

Sepertinya memang benar kata pepatah ‘Malu bertanya sesat dijalan’. Walau sekarang pepatah itu sedikit terbantahkan oleh kehadiran Mas ‘Google Map’ dan Mbak ‘Google Streetview’. Iya sedikit doang. Untuk urusan nyari orang mah yang paling enak nanya sama orang. Bukan sama ‘benda’ buatan orang. Gituh, jaman emang udah canggih coy! Tapi bukan berarti jaman harus kehilangan sisi kemanusiaannya. Elu mau nikah sama gadget!? Enggak kan!? makanye dengerin lanjutan cerita aye.

Belum lama ini aku juga pernah tersesat.  Belum lama berarti masa dimana aku sudah dewasa dan memegang smartphone agar bisa membuka Google Translate.

Nah saat itu aku ingin pergi ke rumah Mas Fatur di daerah Tipes. Buat yang belum tahu, Mas Fatur adalah seniorku saat indekost di Jebres saat kuliah dulu. Beberapa kali beliau membantu masa-masa sulitku dengan meminjamkan komputernya untuk mengerjakan tugas kampus. Kali ini aku ingin pergi ke rumahnya sekalian silaturohmi dan membawakan buku pesanan istrinya, Mbak Dian. Langsung deh aku pergi meluncur ke rumahnya menggunakan sepeda motor.

Sebenarnya lokasi rumah beliau cukup gampang untuk dicari. Namun karena ada perubahan alur jalan di beberapa titik di kota Solo, maka sukseslah aku harus muter ke sana kemari agar bisa berkendara namun tidak melanggar peraturan, secara saat itu aku belum memiliki SIM. Dan begitulah, adegan hilir mudik, kesana kemari, seperti pencarian pengki itu terulang lagi.

Namun bedanya aku tidak mengamalkan sikap ‘tenang’ dan ‘fokus’. Semuanya serba terburu-buru dan ceroboh. Masuk gang! Keluar Gang! Masuk Jalan kecil! Ketemu jalan buntu! Muter lagi! Dan eng-ing-eng, aku bertemu dengan monumen Bung Karno di perbatasan Solo Baru. Karena sifat ceroboh dan rasa percaya diri yang terlalu tinggi aku nyasar di tempat yang bukan aku tuju. Padahal Solo Baru dan Tipes itu jaraknya sangat jauh. Hal itu disebabkan oleh egoku yang terlalu besar untuk tidak bertanya dan terlalu mempercayai intuisi.

Ya, Intuisi. Sebenarnya tidak ada salahnya mempercayai intuisi. Kecuali intuisi yang kamu percayai sedang lemah dan berkarat.Emang bisa intuisi itu lemah dan berkarat? Bisa banget! Sama seperti skill menggambar dan mencintai, intuisi juga harus sering dilatih agar peka dalam membaca pertanda dari semesta. Sama seperti skill menggambar dan mencintai.

Iya, menggambar dan mencintai. Mencintai. Catet.

Kalo cuman tersesat sampai di Solo Baru mah keciiiil! Aku sudah beberapa kali lewat sini. Selama lewat jalan utama aku pasti bakal sampai lagi di Kota Solo. Segera saja aku putar balik dan memacu motorku dengan binal. Aku yakin kalau perjalananku Bisa sampai ke ke rumah Mas Fatur dengan berbekal ingatan sepanjang jalan yang pernah aku lewati.

Dan tentu saja setelah berkendara beberapa saat aku akhirnya bisa bersua dengan beliau yang sekarang sudah beranak tiga. Yang beranak bukan Mas Fatur. Tapi istrinya. Baca dengan teliti dan dengan hati. Harus kalian perhatikan baik-baik, soalnya anak jaman sekarang suka baca caption doang terus motong kalimat seenaknya. Gantian diperkarakan di muka hukum, langsung bilang kalau tindakan itu ‘kriminalisasi’ atas  hak kebebasan berekspresi umat manusia. 
Elu kira hidup cuman elu doang, tong!  

Aku sedang tersesat. Aku sadar betul. Situasi yang harus aku ubah saat ini sangat berat sekali untuk dikalahkan. Kebingungan yang sama seperti saat aku gagal fokus mencari Pengki. Keputusasaan seperti saat aku tersesat di Bogor, dan menunggu pertolongan seseorang. Dan sebenarnya masih ada sedikit keyakinan untuk kembali ke tujuan yang benar, sama saat seperti aku tersesat di Solo Baru. 

Dari beberapa kejadian tersesat di masa lalu, sebenarnya aku agak yakin mempunyai solusi untuk permasalahanku akhir-akhir ini.

Bertanya kepada seseorang atau pergi menuruti intuisi.

Namun beberapa minggu ini aku tidak melaksanakan dua solusi tersebut. 
Karena bertanya kepada seseorang itu membuatku tampak lemah.
Pergi menuruti intuisi yang tumpul adalah tindakan yang sia-sia.
Maka aku lebih memilih untuk diam, berdiri dan berhenti sambil tenggelam dalam keraguan di pikiranku sendiri. Maaf.  

Mujix
Just reading and doing nothing.
Simo, 23 Februari 2017.