Jumat, 16 Februari 2018

Mager

Mager itu ada tiga jenis, jenis yang pertama adalah 'Mager Curut', 'Mager Kambing', 'Mager Orang Gila'.

Mager Curut adalah sebuah situasi dimana moodmu memburuk saat berkarya namun masih bisa diatasi. Misalnya lapar, haus, atau ngantuk. Solusinya jelas.

Mager Kambing sebuah situasi dimana moodmu memburuk saat berkarya dan masih bisa diatasi namun syarat dan ketentuan berlaku. Misalnya bosen, minimnya inspirasi, perasaan yang penat. Solusinya tergantung dari kebiasaan kreator. Ada yang mendengarkan musik, main game, nelpon pacar dan lain sebagainya.

Mager Orang Gila sebuah situasi dimana moodmu memburuk saat berkarya dan sulit untuk diatasi. Solusi untuk mager yang ini cukup ekstrem.

Senin, 12 Februari 2018

Penderitaan

Azab karena membeli isi pensil mekanik murahan, menyebabkan seorang komikus berjuang keras menghapus pensil di sketsa komiknya. Tak hanya itu, saat penghapus karetnya habis, ia terpaksa memakai penghapus seadanya. Alih-alih membuat kertas menjadi makin bersih, penghapus tak bernama itu malah membuat kertas gambarnya makin kotor.

Penderitaan komikus itu ditambah dengan banyaknya karakter yang harus digambar di tiap halaman. Jika biasanya hanya ada satu atau dua tokoh utama, untuk projek kali ini tokoh utamanya ada enam! Ada enam, saudara-saudara!! Tambah satu karakter lagi, mereka kalau dikumpulin bisa dipake buat manggil dewa naga Shen Lon.

Belum lagi masalah pengurangan jatah halaman yang membuat alur cerita jadi payah. Solusinya ya memasukkan banyak panel dalam satu halaman. Atau memperbanyak narasi yang membuat komik terlalu penuh. Dua-duanya sama-sama menyebalkan.

Projek komik kali ini seperti jatuh cinta dengan orang yang salah, melelahkan. Dan kau tahu apa yang lebih mengejutkan lagi!? Komik ini belum selesai.

Dan seperti sikap orang-orang yang jatuh cinta (terlepas ia tahu entah benar atau salah) dengan orang yang salah, mereka enggan berhenti dan akan terus mencintai. Hingga habis waktu. Hingga jawabannya ketemu. Hingga jadi komik karya terbaru.

Apakah boleh merasa lelah? Boleh. Jika lelah berjalanlah pelan. Apakah boleh menyerah? Tentu saja. Hidup kau suka-suka kaulah.

Namun untuk seorang komikus yang sedang berjuang keras menghapus sketsa pensil itu, berjalan pelan lebih baik daripada berhenti.

Selamat Hari Komik dan Animasi Nasional, bagi yang merayakan.

Mujix
I love you, you love me.
We are happy family.
Ciyee kakak adikkan, ciyeee.
Bogor, 12 Februari 2018

Rabu, 07 Februari 2018

Rentenir

Siang ini aku menggambar di ruang tamu. Mamak, bapak dan tamunya sedang bergosip di luar. Aku sengaja tidak menyalakan musik agar bisa fokus ke komik yang tengah aku kerjakan. Dari meja gambar ini aku bisa mendengar apapun yang sedang mereka bicarakan di luar.

Mereka (yang didominasi oleh bapakku) ngobrol soal kandang burung murai. Mereka membicarakan soal sang tamu yang ingin pergi ke Solo. Mereka membicarakan mengenai uang. Ngalor ngidul hingga sampai ke tema soal penawaran dana segar dari rentenir.

Mamakku berkisah, pada suatu hari seorang rentenir datang. Rentenir itu menawarkan uang pinjaman beberapa juta. Mamakku menolaknya dengan tegas. Mamakku dicecar dengan berbagai hinaan yang mengatakan kalau warungnya yang menjual sayur adalah warung sampah. Kemarahan meluap, mamakku lalu bilang walau ini warung sampah, warung ini sudah membuat anak-anaknya menjadi sarjana.

Aku mendengar kisah itu sambil tersenyum haru. Aku jadi teringat perjuangan yang berdarah-darah dulu demi mengejar gelar sarjana tidak sia-sia.  Tidak memiliki komputer, motor alias sarana transportasi, dan keadaan keuangan yang random, kurasa cukup untuk menggambarkan seberapa 'berdarah' masa-masa itu. Oh iya, jangan lupakan kisah cintaku yang tidak terlalu lancar nan penguras emosi.

Rentenir itu akhirnya pergi dengan sangat dongkol dan malu disemprot mamakku. Mamakku hebat.

Mujix
Berjalan di jalan pedang. Hampir tergelincir.
Bogor, 7 Februari 2018

Sabtu, 06 Januari 2018

Kisah 2 temanku

Aku punya komik berjudul 'Proposal Untuk Presiden'. Dan di suatu ketika, komik itu bertemu dua kawanku.

Kawanku pertama bernama Sam, seorang mahasiswa Australia yang tengah loka karya di kampungku. Ketika ia mengetahui bahwa aku seorang komikus dan mempunyai karya, dengan serta merta ia segera menyodorkan uang Rp.100.000 sambil berkata 'Aku membeli komikmu!'.

Dan ketika aku akan menyerahkan uang Rp. 65.000 sebagai kembalian, ia malah tertawa dan berkata 'Simpan saja kembaliannya buat kamu, belikan sesuatu yang bisa kau gunakan untuk menggambar.'

Kawanku yang kedua bernama, sebut saja 'bunga', walaupun ia seorang laki-laki. Dia adalah seorang kawan lama di saat belajar di SMK kejuruan seni rupa. Ketika ia mengetahui bahwa aku seorang komikus dan mempunyai karya, dengan serta merta ia segera berkata 'Wah, kamu bikin komik baru!? Minta satu buat sample dong!"

"Ohh boleh! Satu buku harganya Rp.35.000! Nanti aku kasih bonus kartun unyu versi wajahmu!"

Ia kemudian tertawa sambil berkata, 'Alaaaah masa sama teman gitu!? Gratiss dooong!!'.

Dan aku terdiam sejenak, kemudian dengan cara sehalus mungkin sambil cengengesan, aku mencoba menolak permintaannya dengan alasan bahwa ini karya yang lahir dari kerja keras dan setidaknya. Barter? Bolehlah! Gratis? Tidak.

Seketika itu aku akhirnya paham alasan mengapa negara Australia memiliki tingkat kemakmuran yang lebih tinggi jika dibandingkan negara Indonesia. Namun aku percaya kok, tidak semua orang Indonesia seperti Mas Bunga. Iya kan? Iya dong! *salim.

***

Okey. Harusnya postingan ini dengan kalimat nyinyir dan sok bijak di paragraf tersebut. Namun ada hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian tentang pentingnya mengedukasi mengenai profesi. Adalah 'kesalahan besar' jika membandingkan kedua temanku itu lalu menggeneralisir etika sebuah negara berdasarkan opini semata.

Para sahabatku yang baik hatinya (kalau sedang banyak uang). Sikap mental gratisan dari temanku yang bernama bunga tersebut akan terus awet dan menjamur jika tidak ada perlawanan. Caranya? Salah satunya adalah edukasi profesi.

Bagaimana caranya? Teorinya cukup sederhana (namun agak sedikit rumit dalam prakteknya, hei bukankah sejak dahulu begitulah sifat ilmu!?).

Kenalkan profesi yang kalian tekuni ke masyarakat.Beberapa tahun yang lalu jika ditanyai mengenai profesi, aku bakal ngomong bahwa aku seorang tukang gambar. Tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Belum berani  (dan belum merasa pantas) menyandang predikat 'komikus'. Orang yang layak dilabeli komikus itu harusnya mempunyai karya fenomenal. Setidaknya seperti itu pendapatku beberapa tahun yang lalu.

Beberapa tahun belakangan aku mencoba lebih terbuka. Definisi komikus kubuat agak sederhana. Komikus adalah orang yang membuat komik. Titik. Berdasarkan pemahaman itulah aku mulai 'mengedukasi' orang-orang yang 'kepo' tentang pekerjaan membuat komik. Titik paling awal tentu saja keluarga.

Jadi, jika suatu saat ada yang bertanya mengenai apa profesimu, jelaskanlah dengan sabar. Jawab satu persatu dan buat sang penanya mengerti. Kan ribet dan capek?

Mujix
Ambil nafas panjang dan segera
menggambar lagi.
Bogor, 6 Januari 2018.