Rabu, 09 Januari 2019

Hari Saat Kamu Tidak Ada


Saat tidak ada kamu, matahari masih datang menyapaku.

Saat tidak ada kamu, semua terus berjalan termasuk aku dan waktu

Saat tidak ada kamu, banyak wanita bilang hatiku sekeras batu

Saat tidak ada kamu, rasa cinta baru kadang datang namun malu

Saat tidak ada kamu, aku akan terus berjalan tanpa ragu

Mujix
Bogor, 9 Januari 2019

Selasa, 08 Januari 2019

Aku di ladang saat adzan berkumandang

Adzan berkumandang
Aku masih di ladang
Lembayung senja tak nampak
Terhalang kenangan akan anak

Ia kutinggal di tanah seberang
Demi sebongkah emas berwarna terang
Agar bisa kujual untuk sekolah
Agar bisa kujual untuk bersedekah

Adzan berkumandang
Hari sebentar lagi selesai
Aku akan segera pulang kandang
Untuk sekedar berdoa dan bersantai

Mendoakan aku
Mendoakan kamu
Mendoakan anakku

Hingga adzan kembali bermula
Kita masih belum bisa bersua

Mujix
Energiku terbatas.
Bogor, 8 Januari 2018

Sabtu, 05 Januari 2019

Ojo Gumunan

'Ojo gumunan', nasihat dari Sang Pencipta Jagad kepada komikus kribo yang lebai gara-gara diinbox tokoh idolanya.

Mugo-mugo lancar lan iso dadi dalan sing rodo padang.

Yo gumun lah, goro-goro komen thok ngerti-ngerti nginbox kon ngirim contoh gambar. Tapi wis kebacut heboh sih. Wuakakakak.

Hmmm, Ijek nunggu balesan. Beliau ngirim nomer WA tapi koyone salah ongko. Ra metu neng aplikasi. Asem. Dag dig dug ser.

Uwaaah, crito neng neng twitter kui penak tenan. Untung followerku sithik. Ora ono bom notifikasi. *ijek gumun

Ngoceh sak kesel'e (utowo hape mati) bar kui dihapus kabeh!

Wis ah. Wis ah. Yen ucul yo wis. Urung jodhone. Naksir urung karoan tresno. Tresno wae kadang urung karoan rabi. Wis ah. Wis.

Sudah mencoba terkoneksi via Whatsapp. Menunda untuk koar-koar atau printscreen barang bukti di medsos.

Mujix
Ijek deg-degan.
Bogor, 5 Januari 2018

Jumat, 04 Januari 2019

Tuhan itu...

Siang itu aku sedang menggambar. Mamak berada di kamar sedang sibuk mencoba menelfon adiknya. Adiknya mamakku, alias tanteku sedang ditimpa sedikit kemalangan. Anaknya sakit dan belum sembuh sejak hampir satu tahun yang lalu.

Bolak-balik mamakku mencoba menelfon namun tidak ada jawaban. Tidak ada suara apapun dan hening. Tiba-tiba saja suasana senyap siang itu dirusak oleh celetukan mamakku.

"Lha, si anu itu njaluk mari kok karo Yesus. Kudune ki karo Alloh!"

Aku yang sedang menggambar tiba-tiba keselek mendengar pernyataan kontroversial beliau.

"Hah!? Opone!? Piye-piye?!" Ucapku sambil membalikkan badan untuk memastikan pernyataan.

"Yho kui mau, kapan kae jarene si anu ki pendak wengi ki ndonga ben anak'e mari, nek nduwe penjalukan kui yo nyuwun karo Alloh. Dudu Yesus." Tukasnya lagi.

Mamakku memang lulusan SD. Jadi ada beberapa hal fundamental yang kadang perlu dimaklumi. Namun kali ini kayaknya beliau agak keterlaluan 'bercandanya'.

"Mak, asline aku prekewuh ngajari wong tuwo, tapi nek sing iki aku crito sithik soal Tuhan, yo!" Ujarku.

"Maksud'e?" Mamakku bingung.

Aku mengambil nafas panjang. Di kepalaku sedang menyederhanakan beberapa ilmu filsafat dan teologi yang selama ini aku pelajari agar bisa 'sedikit' meluruskan pemikiran mamakku.