Sabtu, 06 Januari 2018

Kisah 2 temanku

Aku punya komik berjudul 'Proposal Untuk Presiden'. Dan di suatu ketika, komik itu bertemu dua kawanku.

Kawanku pertama bernama Sam, seorang mahasiswa Australia yang tengah loka karya di kampungku. Ketika ia mengetahui bahwa aku seorang komikus dan mempunyai karya, dengan serta merta ia segera menyodorkan uang Rp.100.000 sambil berkata 'Aku membeli komikmu!'.

Dan ketika aku akan menyerahkan uang Rp. 65.000 sebagai kembalian, ia malah tertawa dan berkata 'Simpan saja kembaliannya buat kamu, belikan sesuatu yang bisa kau gunakan untuk menggambar.'

Kawanku yang kedua bernama, sebut saja 'bunga', walaupun ia seorang laki-laki. Dia adalah seorang kawan lama di saat belajar di SMK kejuruan seni rupa. Ketika ia mengetahui bahwa aku seorang komikus dan mempunyai karya, dengan serta merta ia segera berkata 'Wah, kamu bikin komik baru!? Minta satu buat sample dong!"

"Ohh boleh! Satu buku harganya Rp.35.000! Nanti aku kasih bonus kartun unyu versi wajahmu!"

Ia kemudian tertawa sambil berkata, 'Alaaaah masa sama teman gitu!? Gratiss dooong!!'.

Dan aku terdiam sejenak, kemudian dengan cara sehalus mungkin sambil cengengesan, aku mencoba menolak permintaannya dengan alasan bahwa ini karya yang lahir dari kerja keras dan setidaknya. Barter? Bolehlah! Gratis? Tidak.

Seketika itu aku akhirnya paham alasan mengapa negara Australia memiliki tingkat kemakmuran yang lebih tinggi jika dibandingkan negara Indonesia. Namun aku percaya kok, tidak semua orang Indonesia seperti Mas Bunga. Iya kan? Iya dong! *salim.

***

Okey. Harusnya postingan ini dengan kalimat nyinyir dan sok bijak di paragraf tersebut. Namun ada hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian tentang pentingnya mengedukasi mengenai profesi. Adalah 'kesalahan besar' jika membandingkan kedua temanku itu lalu menggeneralisir etika sebuah negara berdasarkan opini semata.

Para sahabatku yang baik hatinya (kalau sedang banyak uang). Sikap mental gratisan dari temanku yang bernama bunga tersebut akan terus awet dan menjamur jika tidak ada perlawanan. Caranya? Salah satunya adalah edukasi profesi.

Bagaimana caranya? Teorinya cukup sederhana (namun agak sedikit rumit dalam prakteknya, hei bukankah sejak dahulu begitulah sifat ilmu!?).

Kenalkan profesi yang kalian tekuni ke masyarakat.Beberapa tahun yang lalu jika ditanyai mengenai profesi, aku bakal ngomong bahwa aku seorang tukang gambar. Tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Belum berani  (dan belum merasa pantas) menyandang predikat 'komikus'. Orang yang layak dilabeli komikus itu harusnya mempunyai karya fenomenal. Setidaknya seperti itu pendapatku beberapa tahun yang lalu.

Mujix
Ambil nafas panjang dan segera
menggambar lagi.
Bogor, 6 Januari 2018.

Minggu, 31 Desember 2017

Si Anu

Tahun ini benar-benar tahun yang sibuk. Aku menghabiskan hidupku di meja kerja untuk membuat komik. Dan kisah ini sebenarnya terjadi di beberapa pekan yang lalu, Jadi aku sedang menggambar siang itu. Ibuku berteriak dari luar. Beliau berkata kalau Si Anu benar-benar iri kepadaku. Menurut Si Anu, hidupku sangat sempurna.

Si anu bilang, kalau aku memiliki pekerjaan sesuai passion dan bisa dikerjakan di rumah (atau di manapun) itu sangat menakjubkan, apalagi dengan waktu bebas nan tak terbatas untuk melakukan apapun yang aku sukai.

Nggambar, karya hasil jadi dikirim via internet, kalo udah beres, langsung deh ditransfer via Bank. Menurutnya, rutinitas itu benar-benar berbanding terbalik dengan dirinya yang pegawai di rental komputer kecil di daerah kampus.

Ya, dia memang berprofesi seperti pegawai yang kita kenal pada umumnya. Berangkat pukul 8 dan pulang pukul 4. Jika sedang ramai Si Anu bakal bertahan sampai malam untuk mengejar setoran.

Aku sudah tahu siapa Si Anu yang dibicarakan oleh ibuku. Si Anu tersebut adalah sesosok pribadi yang ramah, memiliki seorang istri setia, memiliki banyak teman di kampungnya, dan tentu saja sudah memiliki rumah sederhana.

Saat ibuku berkata bahwa  Si Anu benar-benar iri kepadaku, yang menurut Si Anu bahwa hidupku sangat sempurna, aku hanya bisa tertawa di dalam hati.

"Bwahahahahaaaa! Mungkin ini yang dimaksud 'rumput tetangga lebih hijau'!" Batinku.

Aku kembali melanjutkan aktivitas menggambar sambil menepis rasa iri karena belum memiliki pencapaian seperti Si Anu. Kenapa rasa iri harus ditepis?

Karena membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain itu seperti memasang jepitan jemuran di kedua telinga. Sakit dan perbuatan tidak berfaedah. Kayak gak ada kerjaan yang lain saja, Bosku. Selamat hari terakhir di tahun 2017.Tahun ini benar-benar tahun yang sibuk.

Mujix
Sedang berada di keramaian manusia
yang tengah merayakan pergantian masa.
Tanpa kamu. Tentu saja.
Solo, 31 Desember 2017

Sabtu, 23 Desember 2017

Nikotopia dan Osamu Tezuka

"Wah, kamu komikus? Tau Osamu Tezuka dong!?"

Tanya seorang pemuda berkacamata dengan antusias saat bertemu denganku.

***

"Euh. Osamu siapa!?"
Aku menjawab terbata-bata dengan berpikir keras mencari siapa sebenarnya 'Osamu Tezuka'. Kebingungan? Tentu saja. Saat itu adalah masa kuliah di mana aku sibuk berbangga diri dan malas belajar gara-gara dilabeli 'komikus' oleh teman-teman sekampus. Pokoknya semacam mahasiswa songong sok seniman yang sering nongol di pameran lukisan gitulah.

Saat itu aku seketika mati kutu, bengong dan hanya bisa mendengarkan celoteh pemuda yang kuanggap 'orang awam' tersebut. Tiba-tiba saja pemuda itu bercerita penuh semangat mengenai komik favoritnya Candy-Candy, Sepatu kaca dan segudang sejarah komik Jepang, serta alasan mengapa 'Osamu Tezuka' bisa mendapat gelar 'dewa manga'.

Pemuda itu 'menamparku' dengan sangat santun. Suka tidak suka, akhirnya harus diakui kalau pengetahuanku tentang komik masih sangat payah. Pertemuanku dengan pemuda itu masih sedikit menyisakan 'dendam'. Dendam sebuah obrolan berkualitas nan asyik antara dua orang memiliki pengetahuan yang sebanding walau berbeda jenis.

Pemuda berkacamata itu bagai utusan dari Alam Semesta yang menyuruhku agar tidak malas belajar.  Sejak saat aku mulai banyak melahap buku teori soal komik dan berselancar di dunia maya untuk mencari jodoh, eh referensi.

Pertemuan berikutnya pasti akan sangat seru karena aku sudah memutuskan untuk belajar lagi mengenai seluk beluk dunia komik. Tidak ada lagi pose mati kutu dan bengong!

Waktu berjalan lurus. Aku sudah lulus kuliah. Lambat laun akhirnya aku sedikit tahu siapa Osamu Tezuka. Beliau adalah salah satu pionir dalam teknik dan genre-genre manga yang berkembang hingga saat ini.

Karyanya yang paling populer mungkin Astro Boy (atau Atom Boy), namun bagiku, Buddha adalah nomer satu. Btw Osamu Tezuka juga salah satu 'dewa' bagi Fujio Fujio, nama samaran duo mangaka yang kelak bakal menciptakan Doraemon dan Osomatsu San.

Dan apakah kalian ingat seberapa dahsyat komik Astro Boy dibuat ulang oleh Naoki Urasawa menjadi Pluto!? It's too awesome to be true! Beberapa fans fanatik mendedikasikan hidupnya untuk membaca semua karya Osamu Tezuka, gimana enggak, sepanjang kariernya, Tezuka telah menghasilkan lebih dari 700 manga dalam sekitar 170.000 halaman!!

Banyak! Banyak sekali sebenarnya hal yang ingin aku perbincangkan dengan pemuda berkacamata tersebut. Jika kami  sudah lelah dan jenuh membicarakan Osamu Tezuka, kurasa bisalah mendiskusikan (atau adu pamer) karya masing-masing.

Bukankah membicarakan karya pribadi dengan sesama pencipta karya seni adalah ladangnya sumber inspirasi!?

Pemuda berkacamata itu sepertinya bekerja di Jakarta. Pertemuan kami entah kenapa belum terwujud lagi. Lambat laun aku sedikit melupakan 'dendam' itu dan terbuai lagi dengan rutinitas hidup. Minggu demi minggu. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Tahu-tahu dendam itu hilang begitu saja.

Pagi ini aku kaget dikejutkan berita di medsos jika pemuda berkacamata itu telah pergi untuk selamanya. Sudah menjadi kodrat manusia saat seseorang meninggal, maka ia akan mencari 'sesuatu' yang memiliki hubungan secara personal. Dendam itu bersemi kembali. Tumbuh subur dalam hitungan menit dengan wajah berduka dan menyeruak begitu saja melalui catatan ini.

***
"Wah, kamu komikus? Tau Osamu Tezuka dong!?"

Terimakasih Mas Nikotopia sudah mengenalkanku Osamu Tezuka.  Suatu saat jika kita bertemu di sana pasti akan kujawab dengan antusias.

"Tahuuu dong!!! Doi keren banget ya! Apalagi karyanya yang berjudul Buddha, is the best laaaah!!!"

Selamat jalan. Damai Semesta selalu menyertaimu.

Mujix
Yang sedang terhempas dan terjaga dari lingkar sepi pada titik sepi.
Simo, 23 Desember 2017

Kamis, 07 Desember 2017

Budak Ide

Aku adalah budak ide. Suka atau tidak suka, di kepalaku terlalu banyak hal yang ingin aku gambar. Sejak pertama kali aku membuat komik, entah sudah berapa kali aku terpuruk di lubang-lubang dalam.

Dulu pernah komik buatanku disangka milik orang lain dan dicibir teman karena katanya gambarku terlalu bagus untuk ukuran anak SMP. Galau!? Ya iyalah. Kalian tahukan bagaimana kejiwaan seorang bocah SMP yang masih labil.

Ditolak penerbit rasanya juga getir.
Beberapa orang bahkan enggan menggambar lagi saat mengetahui kenyataan bahwa komiknya benar-benar diabaikan saja oleh penerbit.

Rasanya seperti ingin makan nasi goreng namun sayang dirimu berada di kutub utara. Orang-orang yang 'lemah' akan terus menunggu penjual nasi goreng buka cabang di kutub utara.

Komentar-komentar seperti ini adalah salah satu alasan yang membuat gairahku membara dalam berkarya. Salah satu alasan yang membuatku betah berlama-lama di meja gambar. Terimakasih sudah mengapresiasi. Terimakasih.

Mujix
Sudah cukup tentang dirimu.
Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan. Hidupku harus terus berjalan.
Bogor, 07 Desember 2017.