Sabtu, 27 Agustus 2011

sekelumit cerita tentang sepatu AIRWALK


Sepatu hitam berpola merah dengan dominasi warna hitam itu terlihat masih layak untuk dipergunakan, setidaknya masih pantas untuk sekedar dipakai beraktivitas. Aku bertemu sepatu itu sekitar dua tahun yang lalu, setelah berputar-putar seantero jagad sepatu di kota solo akhirnya perjalananku berakhir di sebuah toko tas berjudul “ISTANA TAS”. Iya, aku bertemu SEPATU itu di TOKO TAS, masih untung aku tidak menemukannya di apotik atau kebun binatang.


Aku tidak munafik, ketika menjumpai sepatu itu aku sempat galau diantara dua pilihan. Apakah aku harus memilih sepatu AIRWALK berwarna hitam di campur hitam, atau memilih sepatu warrior merek CONVERSE yang juga berwarna hitam (tretek dung cess!!).


Akhirnya setelah bermunajat dengan sangat khusuk aku memutuskan untuk membeli si AIR WALK, aku sempet berharap ketika memakai sepatu itu aku bisa terbang dilangit dan berjalan di udara seperti burung. Akan tetapi Tak ada perubahan yang signifikan kala aku memakai sepatu itu. aku tidak bisa terbang dilangit, tidak bisa ngambang diawang-awang, bahkan aku juga baru mengerti kalau burung ternyata tidak berjalan di udara, mereka melayang gara-gara mengepakkan sayap, bukan BERJALAN pakai KAKI mereka. Gak lucu lu jix, Tretek dung cess!!!




Beberapa hari ini aku baru sadar, sepatu AIRWALK-ku tersayang terlihat lemah letih dan lesu. Wajahnya terlihat pucat, tampak tua dan lelah. Keringat mengucur deras, namun kau tetap tabah *si mujix nyontek liriknya om Ebiet G Ade.



ini dia sepatu AIRWALK kesayangan saya :)


Kurasa lagu tersebut cukup untuk menggambarkan betapa mengerikan perjuangan sepatu itu. Andaikata di dunia persepatuan mungkin cowok berambut kribo itu adalah momok yang sangat ditakuti, semacam Adolf Hitler-nya kaum AIRWALK (kalian jangan bayangin mukaku di pasangin kumisnya Hitler ya, gak lucu banget aja ada cowok kribo berkumis Charlie Chaplin). Berbagai kota, lokasi, tempat telah aku datangi bersama dia, aku berjalan ke banyak wilayah dan kebanyakan aku menempuhnya dengan cara berjalan kaki (suatu saat andaikata dia bereingkarnasi dan terlahir kembali sebagai wanita, aku mau menikahi si mantan sepatu AIRWALK itu).



luka-luka di bagian sol :(


Sebenernya pengen naik si awan kintoun, tapi gara-gara tu benda cuman ada didalam komik, jadi terpaksa deh naik angkutan umum atau sepeda motor. Pasti asik ya terbang ke langit, minim polusi, bisa liat cewek cakep dari atas, tidak ada kemacetan yang membuat penghuni kota makin emosional, Dan kurasa bisa mengurangi efek rumah kaca dan percepatan Global Warming. Sekedar info kota Jakarta di ramal macet total pada tahun 2013, apabila infrastruktur, tata kota dan sarana jalan tidak di benahi maka kiamat kecil siap mengguncang Jakarta dan sekitarnya. Gak lucu jix, tretek dung cess!!!




Aktivitasku berjalan kaki kadangkala terlihat aneh dimata orang-orang yang merasa mereka ‘normal’. Setelah pasar global mulai bergerilya, serbuan berbagai media massa (terutama televisi), membanjirnya iklan komersial dalam berbagai format, telah terbentuk aturan ataupun norma-norma baru didalam masyarakat.


Mereka semua mengkultuskan diri sebagai pribadi yang ‘wajar’ dan sesuai dengan arus mainstream di masyarakat dunia. Tidak ada yang salah dengan kebiasaan mereka , dan tentu saja tidak berhubungan secara langsung dengan kebiasaanku berjalan kaki (yang juga tidak salah tentunya). hanya saja beberapa sahabat sempat mengeluhkan persepsi kawan-kawannya dalam melihat mereka. Pendapat umum seperti ‘masa jaman sekarang masih jalan kaki?’, ‘cowok tuh harus memiliki sepeda motor agar bisa mencari istri’, ‘mau gaul, pake kendaraan pribadi dong’ atau yang paling parah ‘pribadi yang hebat itu adalah sosok manusia yang selalu up date info HP terbaru, nongkrong dipinggir jalan membicarakan cinta, modif sepeda motor, Facebook, teman kencan, dan sex semata’.



Pernyataan-pernyataan tersebut aku rasa tidak muncul secara tiba-tiba di lingkungan masyarakat. Dibutuhkan pemicu atau letupan kecil melalui media massa kemudian di pertegas dengan pencucian mindset masyarakat secara konsisten dan berulang-ulang. Sinetron, iklan sepeda motor, pernyataan para publik figur, kecerobohan para programmer televisi, minimnya ruang diskusi yang terbuka,dangkalnya pemahaman mengenai budaya kultur dan masih banyak lagi poin-poin janggal yang membuat semua itu kian menjamur. Gak lucu jix, tretek dung cess!!!



Oke, kembali ke topik sepatu AIRWALK. Kalian masih baca kan? Kalo udah capek boleh kok tidur-tiduran dulu, asal jangan tidur-tiduran jalan raya aja. Harga sepatu itu lumayan mahal, nominalnya sekitar Rp.250.000, untuk benda item yang bakalan sering aku injek, kena tai anjing, bikin gerah dikaki, buat nimpuk maling atau banci (pernyataan terakhir alhamdulilah belum pernah terjadi hingga penulis mengetik postingan ini, lagian ngapain nimpuk banci pake sepatu AIRWALK, batu bata aja banyak) benda itu akhirnya resmi aku beli.

Walau tak semahal si CONVERSE, aku masih saja menganggap harga tersebut terlalu tinggi. Kurasa kebiasaan dari kecil pake sepatu murahan mempengaruhi psikologisku dalam memandang kredibilitas seorang sepatu (anu? Sejak kapan sepatu pakai kata ganti ORANG? Tretek dung cess!!).

sejak jaman dahulu kala mujix mengenal sepatu, kalo gak nemu di selokan, diwariskan dengan paksa dari kakak, ngembat punya bapak, biasanya paling pol beli di tukang loak seharga Rp.15.000. sepatu berwarna kuning seharga Rp.15.000 itu biasanya hancur dalam kurun waktu 2 bulan. Aku masih ingat cara wafat sepatu kuning itu sangatlah tidak terhormat. Sepatu itu hancur gara-gara kesangkut ruji sepeda angin. Ya sepatu berwarna kuning kotoran itu meregang nyawa dengan sukses gara-gara KESANGKUT RUJI SEPEDA ANGIN!!! Apa-apaan ini cara mati sebuah sepatu yang sangat absurd. Tretek dung cess lagi!!!



Sepatu sebelum si AIRWALK lebih mendingan, dan aku suka. Sepasang sepatu berasal dari bogor, oleh-oleh todongan dari menjebak ortu dengan paksa. Spesies masih warrior, walau bukan bermerek CONVERSE setidaknya benda itu masih berwujud sepatu, bukan berwujud rantang, panci, ember atau berwujud seperangkat alat sholat. Cukup lama kurasa, hampir dua tahun aku memakai sepatu itu. Kalau tidak salah harga sepatu kala itu Rp.60.000, dan awet hingga dua tahun. Setelah mengalami mati suri beberapa hari, operasi jahitan dengan silicon di bagian punggung kaki, dan ausnya bagian telapak kaki akhirnya sepatu itu resmi aku pensiunkan. Bagian bawah kaki hampir jebol bagian depan dan tumit, aku inget dulu ketika Rem sepeda anginku sedang rusak, aku sering menggunakan sepatu itu sebagai REM ALTERNATIF.





Alhasil setelah mengerem dengan REM ALTERNATIF itu selama 3 bulan, alhamdulilah kakiku menjadi lebih ganteng, jadi lebih percaya diri di masyarakat luas, dan saat itu aku sadar, ternyata ada bakat terpendam didalam diriku. Selain menyimpan potensi sebagai tukang becak, Aku baru sadar kakiku sangat berbakat jadi REM ALTERNATIF, sepertinya perlu dibududayakan kegiatan itu. Agar benih-benih REM ALTERNATIF bisa bangkit dan mengharumkan nama bangsa Indonesia. Aku percaya akan datang masa itu… hidup REM pake KAKI …. tretek dung cess!!!



Temanya masih sepatu, Sebenarnya pengen sih ngobrolin tentang ketampananku atau cuap-cuap mengenai Dedek Nikita willy, namun terpaksa kutunda dahulu. soalnya aku masih punya beberapa cerita jayus mengenai sepatu. Dengerin ya, ya, ya, asiiik* langsung loncat-loncat sambil push up 5000 kali.



Sepatu terakhir yang akan aku ceritakan ini sangat special, super duper ngeri, sangar, seksual, dan sangat hanguri-uri budoyo jawi. Cerita ini terjadi ketika aku masih SD, iya masa dimana aku masih keriting, labil, doyan ketawa sendirian, ingus masih meler membentuk angka sebelas, masih hobi nonton Dragonball, doraemon dan sejenisnya. Kala itu aku dibawakan oleh-oleh sepasang sepatu lagi sama ortu dari bogor. Iya adegan yang sama dengan paragraph sebelumnya, hanya saja aku tidak mencuci otak pemahaman ortuku mengenai oleh-oleh, tidak menjebak mereka apalagi menodong dengan paksa. Aku lupa apa mereknya, yang pasti sepatu itu bukan bermerek NOKIA, SAMSUNG, atau FIRDAUS OIL. Sepatu itu berwarna item, berbahan kulit sintesis, dengan alas permukaan kaki seperti sepatu boots ala tentara, dan dilengkapi dua buah lubang kecil sebagai ventilasi keluar masuknya udara segar. Namun yang paling membuat mujix kecil terbengong-bengong takjub adalah lampu-lampu kecil berwarna merah disekeliling solnya, ajiiiiib, kereeeeen, mantaaab, maknyuuuus, *sambil ngiler kemana-mana.

“ Andaikata memakai sepatu seper duper keren itu, aku pasti bakal jadi siswa kelas tertampan dikalas” pikirku saat itu.


Dan benar saja mendadak aku menjadi selebritis dadakan hari itu, kalo biasanya aku cuman gak pake kaus dalem, hari itu aku pake dobel. Kali aja ada yang mau minta kaus dalem bekas ARTIS KRIBO BERSEPATU BERCAHAYA. Yeah, aku ganteng. Walau rambutku keriting, labil, doyan ketawa sendirian, ingus masih meler membentuk angka sebelas, masih hobi nonton Dragonball, doraemon dan sejenisnya, AKU GANTENG, begitu persepsi semu yang aku klaim dengan paksa. Hanya saja kadangkala kenyataan tidak selamanya indah.setidaknya Setelah peritiwa itu terjadi… tretek dung cess!!



Saat itu suasana petang, menjelang pertunjukan wayang syukuran di daerah kampungku (biasanya di sebut dengan MERTI DESA/BERSIH DESA). Seperti biasa sebagai anak kecil yang doyan nglayap akhirnya aku memutuskan untuk cabut ke acara pertunjukan tersebut. Memakai SEPATU BERCAHAYA akan kutaklukkan malam ini, akan kucoba kutundukkan pongahnya dunia perwayangan dengan sepatu ini. Semuanya berjalan lancar, anak-anak, kakak-kakak, dedek-dedek mumumumu, ibu-ibu, bapak-bapak, menoleh kearah mujix kecil. Benar saja jalan tempat aku berjalan mulai terlihat bersinar, ceilah I’m the famous kid in this night. kereeeen.



Kala itu malam telah beranjak makin larut, mujix kecil masih dimanjakan oleh kebanggaan semu dengan SEPATU BERCAHAYA-nya. Pertemuan yang telah ditakdirkan Tuhan itu mengantarkan mujix bertemu dengan teman SD kakak kelasnya di sekolah. Mereka bergerombol, aku lupa siapa saja namanya. Namun aku masih ingat obrolan labil dan sangat persuasif kala itu. Oke kita simak obrolan tersebut:


Mereka: “lhoo?? Kamu pake sepatu bercahaya merah pada malam hari?!! Bahaya lhoooo


Mujix kecil: “apa!! Apa!!! Apa!!! Bahaya kenapa” (terkaget-kaget)


Mereka: “kata bu guru, cahaya merah yang berkelap-kelip itu bisa mengundang ULAR!! Hiiii…” (mereka bergidik seolah-olah ngeri)


Mujix kecil: “ULAAR!!! Kya!!!!!” (mujix kecil langsung ngibrit berlari pulang sambil ketakutan)


Benar-benar percakapan yang tidak penting, tidak bisa di pertanggung jawabkan mengenai rujukan mereka memberikan pernyataan bahwa “CAHAYA MERAH bisa mengundang ULAR”. Semenjak saat itu sepatu yang special, super duper ngeri, sangar, seksual, dan sangat hanguri-uri budoyo jawi itu aku museumkan dengan bangga di kolong tempat tidur. Tretek dung cess!!



Obrolan mengenai sepatu kali ini ternyata cukup panjang, jadi kepikiran pengen bikin layar lebarnya. Pasti tolol banget ya hehehe… yup dari sepasang sepatu yang kadang tidak kita perdulikan keberadaanya ternyata tersimpan banyak cerita menarik. Ada sejarah tak tertuliskan dari kejadian sehari-hari, hal-hal sepele seperti sepatu tentu tidak semenarik permasalahan Gayus Tambunan, tidak sepelik Perceraian Anang Hermansyah dengan Krisdayanti, namun apabila kita mau malihat sesuatu hal dengan lebih focus dan mendetail akan ada banyak pelajaran tentang hidup yang bisa kita pelajari.



Kalian telah membaca sedikit cerita mengenai sepatuku, bagaimana dengan cerita tentang sepatu kalian?



Mujix
sedang merasa terharu jika
mengingat ending di film TOY STORY 3
Kereeen banget T__T
Solo, 27 Agustus 2011

Jumat, 19 Agustus 2011

Namanya Pak Wagiman

Sedikit kebingungan aku dan bhayus memasuki sebuah gang kecil di balik Gapuro gajah Makam Haji. Sebuah sore yang damai, walau banyak masalah belum terselesaikan aku tidak perduli. Ada yang berbeda ketika kami sampai di depan rumah beliau, ada pagar bambu dengan kain perca tertempel berantakan. Kurasa benda itu mencegah agar ayam tidak bisa memasuki pelataran rumah tersebut.

“kulonuwun” Bhayus memecah keheningan sore itu,

“monggo” sahut sesosok bapak tua sambil bergegas membukakan pagar bambu . kami memasuki pelataran rumah itu dengan sungkan, Bapak tua itu hanya bertelanjang dada, kulitnya makin hitam kurasa.


“nggih ngeteniki mas, yen sonten kulo nyante kalih moco Jawa Pos ”
sambut bapak tua dengan gembira.


Aku menatap bapak tua itu dengan lekat-lekat, rambutnya sudah semakin memutih, hanya matanya saja yang makin terlihat memerah. Ingatanku menerawang ke masa tiga tahun lalu. Saat dimana aku masih beridealis ria dengan video dan film, waktu dimana aku masih disepelekan gara-gara persoalan materi.

“namanya Pak Wagiman” adalah judul sebuah film dokumenter yang aku buat bersama bhayus, sebuah video dokumentasi mengenai keseharian seorang banpol lalu lintas di daerah Makam Haji. Latar belakang pembuatan film tersebut kala itu adalah kompetisi PEKSIMIDA 2008 yang akan diadakan di kota Semarang.


“coba Mujix bikin video buat di lombakan di semarang, siapa tahu menang”
ujar dosenku yang bernama Citra. Tentu saja tantangan itu aku sanggupi, setelah berbincang dengan banyak teman, akhirnya aku memilih bhayus untuk menjadi partnerku dalam produksi kala itu.


“aku nyet ora pinter, gak iso editing, gak mudeng teori, tapi aku semangat yen di jak gawe karya” papar Bhayus dengan sangat berapi-api. Ceilah, kurasa itu kata-kata terkeren yang pernah aku dengar dari dia. Sebuah hendikem sony dan uang iuran secukupnya akhirnya kami resmi menjadi tim produksi film “Namanya Pak Wagiman”.
Kami memproduksi video itu selama 3 hari, tentu saja setelah berargumen labil tentang konsep film dan skenario.


“dalam film dokumenter ini aku ingin ngomongin tentang semangat seorang banpol yang tidak menghiraukan kelainan fisiknya untuk membantu sesama” kataku kala menjelaskan pesan moran sederhana dari film ini.


Subyek dari video ini memang sesosok banpol yang memiliki kelainan fisik. Pak Wagiman menceritakan tentang masa mudanya, masa ketika dia mengalami kecelakaan di tempat pemotongan kayu. dia kehilangan pergelangan tangan kiri dan beberapa jari di tangan kanannya. Kejadian tragis itu tentu saja membuatnya mengalami tekanan batin dan mental.


“kulo nggih putus asa mas, nanging nggih pripun malih, kulo kudu eling kabeh niku titipane gusti allah” pak wagiman berkata lirih. Akhirnya pak Wagiman memutuskan untuk menerima semuanya dengan lapang dada. Hidup terus berjalan kawan, begitu pikirku.


Pak Wagiman kemudian bekerja apa saja, mengesampingkan keterbatasan itu. Bekerja keras, berusaha dengan sebaik-baiknya, dan tentu saja bersyukur terhadap apapun.


“rumiyin tho mas, dalan niku kathah sing kecelakaan, polisi yo wagu. Gak pernah diawasi, wong macete jam 7 mosok jam 8 lagi teko” ujarnya dengan tatapan haru sambil mengisap rokok kreteknya.


Pak Wagiman merasa prihatin dan memantabkan niatnya untuk menjaga pertigaan palang Makam Haji. Tempat pertigaan itu memang sangat ramai, puncaknya adalah pagi hari saat para siswa dan pekerja berangkat ke sekolah atau pabrik. Kami akhirnya wawancara dan mengambil stok shot di rumahnya. Pak Wagiman bercerita banyak hal, kami mencoba memancing ke berbagai topik. Akhirnya dengan bantuan Noves (teman seangkatanku di jurusan televisi) video itu kelar.


Oh iya, sekedar tambahan film itu menjadi juara ke tiga tingkat Jawa Tengah.


Sore ini adalah tiga tahun setelah produksi tersebut. Selasa kemarin kami memutuskan untuk ke rumah pak Wagiman untuk sekedar mengucapkan terimakasih. Kesibukan masing-masing sepertinya membuat kami lupa, bahwa masih ada sedikit hutang yang harus kami selesaikan. Plastik putih berisi sirup, dua plastik gula pasir, sekaleng biskuit, dan sedus teh kami berikan kepada beliau sore ini.


Pak Wagiman menyambutnya dengan suka cita, mungkin memang tidak seberapa. Namun setidaknya pak wagiman telah mengajarkan kepada kami tentang mensyukuri hidup dan terus bersemangat. Beliau juga secara tidak langsung sudah menjadi bagian dalam masa muda kami yang menggelora, masa idealis yang tidak mungkin dapat di ulangi kembali.


Kalian tanya kok postingan kali ini tidak lucu? Maaf blogku bukan blognya pelawak. Ini blognya orang ganteng. Terserah aku dong soal lucu atau tidak :D
Salam luycuuuuu :)

Mujix
masih gila baca dan gila cinta
ayo belajar menata waktu
Solo, 19 Agustus 2011

Selasa, 09 Agustus 2011

mimpi tadi pagi

Masa lalu adalah kisah imajinasi semu yang tak dapat kita ulangi lagi. Semuanya berubah, mengalir saja mengikuti ritme dan selaras seiring takdir yang terus berjalan. Sial, bahkan untuk menulis tentang hari kemarin saja aku masih harus berdiam sejenak untuk menenangkan diri. Beberapa hari ini aku terdampar lagi di tempat itu, sebuah tempat dimana kita dapat bertemu walau hanya tersipu dan terdiam membisu. Aku ingat keramaian, riuh rendah dari berbagai nyawa manusia mengisi semua celah di sekitarmu.sebuah adegan kompleks tanpa ada manusia yang menghiraukan kita, Kurasa Tak ada yang berubah, kau masih saja tersenyum memandangku dari ujung taman itu, hanya tersenyum saja itu sudah cukup.


Aku berlari menyongsongmu, mengabaikan sinar mentari esok yang kadangkala sering kali aku banggakan padamu.


Aku tidak memikirkan gadis berpayung pelangi pagi itu, tidak memikirkan wanita manapun, dan tentu saja tidak mengharapkan perempuan manapun selain kamu. Kita kemudian bertemu di tengah kebun bunga di kota bogor. Semua berubah, mengalir saja mengikuti ritme.



Kita terperangkap dalam banyak ketentuan, kita terjebak di banyak catatan namun Aku tidak perduli. Saat ini hanya kisah hidupku yang aku pikirkan. Kau ingat kisah tentang sebuah syair cinta yang aku janjikan dua tahun lalu? Sebuah syair tentang suka cita karena aku mengenalmu? Masih ingat bukan? Aku Ingat saat Kita berjalan menembus malam dengan berbagai rasa berkecamuk, menyembunyikan kepengecutan masing-masing. Malam sepi tanpa suara itu menyertai langkah kita, kurasa sungai bintang penuh pesona itu juga hanya terdiam melihat kita mendongengkan banyak hal.



Jejak-jejak tapak kaki itu kurasa masih terlihat andaikata kita bisa menengok masa lalu untuk sejenak. Perjalanan itu berakhir di sebuah rumah berlantai kayu berwarna biru di sebuah kota di jawa barat, sebuah bangunan sederhana terletak di suatu pagi yang bersuasana laut itu membuatku ingat ada kisah mengenai kita. Kursi tua disamping pintu masik itu tidak banyak berubah, masih reot seperti saat kita bertemu, lantai sederhana dari kayu, kamu dan tentu saja kerudung merah mudamu.


Kita duduk berdua menatap laut, aku bercerita tentang kisah hidupku yang lain, berkisah tentang pagi ini, bersenandung mengenai hari esok. Segera saja aku mengeluarkan setumpuk buku tentang masa kini, kuserahkan padamu.

Aku tidak berharap banyak, cukup kau simpan saja di ujung lemari buku di dalam kamarmu. Hari ini kamu terlalu banyak diam, tak bersuara, hanya memandangku seperti masa yang lalu. Aku harus segera bergegas, kurasa hidupku masih terus berjalan. Aku segera meninggalkanmu kembali, aku berlari menembus malam dengan berbagai rasa berkecamuk, aku harus segera sampai di pagi yang sama seperti pagi ini.


Sekilas pagi dimana aku bisa menuliskan tentang kisah cinta kita, Sebuah pagi dimana aku bisa menyeduh teh hangat dan mengingatmu seperti pagi ini. Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti….


Sampai jumpa, perempuan bersayapkan mentari…


Mujix
Sebongkah materi ciptaan Tuhan yang tengah
berhenti kelalahan
diujung persimpangan jalan.
Solo, 09 Agustus 2011

Sabtu, 06 Agustus 2011

perjalanan menuju pulang

Pilek adalah penyakit yang menyebalkan setelah sariawan. Kalian tahu pilek? Itu tuh penyakit aneh bin ajaib dikarenakan perubahan suhu mendadak didalam tubuh. Ciri-cirinya adalah badan panas dingin (panas apa dingin?) gak karuan, dari idung keluar air mirip air jam-jam lengket yang multifungsi sebagai lem atau pelumas kendaraan (jangan mau dikibulin ya) . nah penyakit aneh itu gak terlalu jauh ama demam. Pokoknya pilek dan demam adalah pasangan homo serasi (aku bilang homo karena mereka berada di satu badan yang sama). Tanpa pergi ke psikolog maupun montir manusia aku tahu apa penyebab penyakit pilekku itu. Salah, tebakan kalian salah!! aku tidak lari-larian telanjang pada tengah malam kok, apa? Apa? Mandi es kembang tengah malam? Ngapain!!! Jangan samakan saya dengan Caca Handika, aku tidak sejadul itu. Jawaban yang benar aku beberapa hari ini baru balik dari boyolali, iya kota kecil yang tekenal akan susunya (ah, susu lagi? Kurasa postingan ini akan menuju arah yang lebih mesum daripada sekedar susu). aku berada di desa itu selama tiga hari dua malam. Iya, aku kecapekan secara psikis kurasa, makanya aku minggat ke kampung halaman. Rumahku berada di sebuah wilayah utara kabupaten boyolali, beralamat komplit di dukuh karang. Kecamatan simo, kabupaten boyolali, iya kota yang terkenal akan susunya. Bisa gak sih kalian tidak berfikir tentang susu walau sejenak? Bah... lanjut boi...



Tiga hari yang lalu di padepokan sebenarnya aku sudah terlalu pusing untuk mikir apa kegiatan berikutnya. Setelah event komik komisi yang maha alay minggu kemarin aku sudah bertekad untuk menjadi manusia ganteng, ups, bertekad untuk pergi berlibur ke pantai. Iya pantai, kalian tahu pantai? Apa gak tahu? Laut tahu? Eeeh gak tahu juga? Tahu hewan protozoa gak? Tahu alhmadulilah deh, kalian gak selabil yang aku kira ternyata. Sebelum menginap di padepokan aku sempat barter komik komisi dengan om Andre Tanama, dia kayaknya sih maestro grafis gitu. Aku kurang tahu masalah dunia penggrafisan, kalau mau nanya masalah dunia penggrafisan tanya saja sama pakdhe tugitu. Karya om andre tanama keren juga lho, ada sesosok karakter asik yang bernama “Gwen Silent”, sebuah karakter cewek pendiem yang memiliki seribu makna. Figur itu cukup berkarakter penuh simbolik semiotik andaikata kita mau melihat karya-karya om Andre Tanama lebih cerdas (serius, tanganku dari baris ke enam tadi ingin mengganti kata TANAMA menjadi PANAMA ). Ah jadi inget wajah absurd om andre, mas atok, lek sukidi, dan arumania saat mereka melakukan pose salam lucu. Benar-benar GAK LUCU, HARAM, menyeramkan.....^^a

ini dia pose-pose yang aku sarankan harus di haramkan oleh MUI. sangat mengkhawatirkan merubah mindset masyarakat indonesia.



salam lucu ini diperagakan oleh arumania dan sony




salam lucu ini diperagakan oleh arumania dan AC.Andre Tanama




masyarakat yang mulai terjangkiti virus salam lucu, semoga ada tindak lanjut dari PEMKOT kota Surakarta mengenai penyakit kejiwaan yang menular ini.





salam lucu ini diperagakan oleh jeky dan angga



salam lucu diperagakan oleh dedengkot mas fachmy kacamata studio




pose sebenarnya dari salam lucu. art.by. mas ryan

Pagi itu aku sempat bingung memutuskan satu hal, apakah aku harus kembali ke kost atau aku segera cabut ke simo naik bis kota. Setelah mimpi ekspresionisme malam itu aku memang memiliki dorongan yang kuat untuk segera pulang ke kampung. Apa? kalian tanya apa itu mimpi ekspresionisme? Bukan!! Bukan!! Bukan mimpi basah, aku tidak akan kebingungan kalau hanya mimpi basah, mimpi ekspresionisme itu semacam mimpi aneh penuh simbol dan memiliki arti yang absurd. Mimpi itu terjadi biasanya kalau ada sesuatu dengan kalian. Kejadian entah bapak sakit, akan menerima musibah, mendapatkan rezeki nomplok, ataupun sekedar perasaan kangen dari seorang nenek. Dan kurasa aku mengalami pernyataan terakhir. Kebingungan itu akhirnya aku serahkan pada Tuhan. Di ujung jalan SMK Bimando aku berasumsi, jika datang bis ATMO dari barat aku akan balik ke kost dan mengerjakan semua PR-ku, namun jika yang datang dari arah timur, maka aku akan segera cabut ke kampung apapun resikonya.



...dan bis ternyata muncul dari arah timur. Oke aku akan pulang menuju ke rumah, kutinggalkan dengan paksa semua masalah, urusan, kesenangan, dan apapun di kota yang kurasa mulai menyebalkan ini. Bis ATMO yang ditumpangi cowok berambut keriting itu mulai berjalan pelan ke barat...



Perjalanan ini cukup aneh, aku sudah sangat lama tidak pergi ke kampung menaiki angkutan umum. Biasanya aku kesana dengan kawanku yang bernama anang sholikin (dan nama SHOLIKIN yang soleh itu telah di ubah dengan paksa menjadi SILIKON sebuah kata yang membuatku berpikir tentang “banci” dan “payudara buatan”), aku suka berkendara sambil curhat colongan dengan dia. Tidak, kami tidak jadian, aku masih suka cewek tenang aja bung , seperti biasa curhat tentang galau, galau, dan keadaan perekonomian indonesia sekarang ini dalam era informatika yang kian disamarkan dengan berbagai isu global.


Wkwkwkkw yang terakhir bohong kok, tentu saja masih dengan topik cinta yaitu GALAU. Bukan silikon namanya kalau tema obrolannya gak jauh-jauh dari galau, galau, galau, dan kawin. ATMO adalah bis sedang berwarna putih biru yang sering aku tunggu. Kali ini aku menuju kartosuro untuk di oper menuju bus desa jurusan simo ataupun karang gede. Salah satu hal yahng kubenci ketika aku melewati kartosura adalah terciumnya aroma busuk bin gokil yang berasal dari kandang babi. Bah, baunya sangat tidak berperikebabian, sumpah masih aman aroma ketiakku daripada bau babi (kadangkala kalau kalian beruntung akan tercium aroma melati dan cocopandan dari ketiakku ini).keadaaan di sekitar terminal itu berbau yang rasanya sungguh ehm.. euhh..... ahh.....ngoik...... oh...ngoik... yes... (mendadak pingsan dan berubah jadi babi)



Setelah dari daerah Bangak aku baru bisa menikmati perjalanan, hal yang paling kusuka ketika berada di bis adalah sudut kursi di dekat jendela. Dulu aku sempat bertengkar labil dengan nenek-nenek gara-gara memperebutkan sebuah kursi bertebaran cahaya surga dengan posisi strategis di pinggir jendela di sebuah bis antar kota antar propinsi. Dan aku menang, yeah kurasa saat itu adalah momen terkeren dalam hidupku, sayup-sayup aku mendengar lagunya Queen yang “WE ARE THE CHAMPION”, dan si nenek memandang tak ikhlas kepada mujix kecil. Iya itu pengalaman saat kecil dulu. Gak bangga dong mengalahkan nenek-nenek dengan badan bontot gini^^. Didaerah bangak dan winong memang terkenal akan persawahannya, jika kalian beruntung dari bis yang berjudul BUDHI JAYA atau BUDHI RAHAYU akan terlihat dua gunung keren dari arah barat. Gunung merapi dan merbabu terlihat sangat eksotis. Kurasa perjalanan itu menghabiskan waktu selama tiga jam, alhasil selama tiga jam tersebut aktivitasku sangat monoton. Bengong labil gak jelas mau ngapain, melamunkan nikita willy, pesbukan, atau paling mentok adalah smsan sama fans-fansku (dan kebanyakan penggemarku adalah cowok-cowok kekar berotot yang gak jelas apa spesiesnya). Satu lagi, asiknya duduk di kursi pinggir jendela adalah tempat itu menjadi berkumpulnya semua inspirasi keren. Aku tidak menyangkal kalau banyak karya komikku terispirasi dan mengalami proses secara ajaib di kala aku duduk di kursi itu. So kalau kalian suatu saat naik bis cobalah duduk di pinggir jendela, biarkan saja pikiran kalian melayang entah kemana. Biarkan berjalan sampai tujuan, and everything in your trip can be good idea...



Sesampainya dipasar simo aku hampir berubah menjadi Dude Herlino, tau Dude Herlino gak? Kalau gak tahu coba deh disearch di google. Yup perjalanan tanpa kawan itu cukup untuk membuatku menjadi cowok super serius, seserius Dude Herlino.



Ini dia foto Dude Herlino,saya downloadkan dengan perasaan riang untuk anda semua :D

Pasar Simo adalah kotanya desaku (kalian paham soal “kota” didalam suatu “desa”? pokoknya menjadi sentral aktivitas dan tempat tergaul di desa pentur), sebuah pasar tradisional yang mendadak banyak dibangun minimarket, toko-toko ala Alfamart dan kawan-kawannya. Kurasa pasar konvesional itu 10 tahun mendatang akan berubah menjadi pusat transakasi yang seba cepat dan praktis. Pasar tradisionalnya? Gak penting, akan datang suatu masa dimana para birokrat hanya mementingkan diri sendiri. Tempat-tempat klasik penuh keramahan, interaksi antar konsumen dan penjual yang dinamis akan dipinggirkan dengan berbagai aturan PERDA atau apapun itu. Kalian tahu maksudku kan?



Bus DWI PUTRO adalah bus antar desa berwarna biru aneh yang aktif hanya sampai jam 4 sore. Jangan coba-coba pergi ke kampungku menggunakan bis itu jika kalian sampai disana jam 5 sore, kalian harus berjalan sejauh 7 km untuk mencapai desa karang, tempat dimana mujix bersarang dan berkembang. Tarif kendaraan tersebut 2000 rupiah, full musik, dan full AC (angin cepoi-cepoi). Aku bilang full musik karena apabila kalian menaiki bis tersebut kalian akan bergoyang layaknya biduan orkes melayu om sera dikarenakan jalannya yang hancur. Akses wilayah buruk itu hanya bisa di tempuh dengan motor yang waras, motor setengah memedi seperti SI JOJO sudah menjadi langganan macet di jalan menanjak sekitar desa karang. Hanya saja hari itu aku tidak menaiki SI JOJO, aku tiba di sumber pukul 13.00. sumber adalah pemandian kecil di ujung kampungku dengan banyak hutan disekitarnya. Tarzan? Kagak ada tarzan maupun gajah di sumber. Aku melalui tempat itu dengan penuh antusias (sama antusiasnya ketika syahrul gunawan menunggu dicipok agnes monika di sinetron pernikahan dini). Kadangkala aku berhenti sejenak memejamkan mata, mendengarkan dengan tenang gemerisik daun dan pepohonan ditiup angin, merasakan angin sepoi desa, membiarkan diriku tenggelam dalam harmoni alam yang damai. saat itu Aku benar-benar hidup kawan...



Setelah berjalan beberapa menit dari sumber aku sampai di perkampungan desa karang, masih lengang, di desa ini memiliki julukan desa perantauan. Latar belakang masyarakat yang kurang terpelajar membuat para penduduk desa ini mencintai yang namanya urbanisasi. Tidak dapat dipungkiri memang aktivitas ekonomi yang minim membuat mereka lebih memilih pergi ke kota besar dan membanting tulang disana. Aku dan keluargaku juga menjadi salah satu bagian dari mereka, orang tua dan adikku pergi melancong ke bogor, kakakku mengadu nasib dikota solo, dan si mujix, cowok kribo berhati galau itu mengadu nasib menjadi artis ibukota dan diperebutkan oleh para selebritis untuk menjadi peliharaan mereka. Hahaha bercanda... mujix masih tetap berkutat dengan komik, kerjaan, kuliah, dan galau dikota solo. Sesekali aku menyapa orang-orang desa, mereka ternyata masih mengenaliku, perubahan kegantenganku yang terlalu signifikan ini tidak mempengaruhi daya ingat mereka tentang seorang mujix. Dari kejauhan aku melihat bak berwarna abu-abu, yeah di belakang bak aneh itu terdapat rumah tercintaku, aku mempercepat jalanku. Melewati dan menyapa tetangga kemudian segera menghambur ke teras rumah joglo kecilku. Setelah menempuh perjalanan yang berat, dibingungkan oleh takdir di perempatan BIMANDO, penuh intrik, dihadang badai bau babi, bergoyang ngebor dengan bis DWI PUTRO, berjalan setengah kilo menembus setapak di sumber, akhirnya aku sampai di rumah...



And finally..... Sebuah perjalanan penuh arti jika kita mau mamandang semuanya lebih dekat. Aku telah sampai dirumah, nenekku datang dengan penuh haru. Ya, nenekku tinggal sedirian di rumah megah tersebut. Kurasa kedatanganku kali ini menjadi kebahagiaan kecil untuk beliau, semoga selalu sehat nek. Jangan lupa gigi palsunya jangan sampai copot lagi... hehehehe:)



Mujix,
Si cowok labil yang rambutnya makin
gondrong gak jelas entah akan menjadi
sarang hewan apa
Solo, 06 Agustus 2011