Selasa, 31 Mei 2016

Awal Senja Di Hari Selasa

Gantar sedang menangis di luar rumah. Sudah menjadi kebiasaan di setiap harinya, dia kalau terbangun harus ada mamanya. Dan siang ini, mamanya sedang pergi ke Sambi untuk mengecek warung.

Kakakku, yang sekaligus ayahnya, bersama nenek berlomba-lomba untuk meredakan tangisannya. Namun tidak ada hasilnya sama sekali. Gantar terus menerus menangis dan meraung. Begitulah. Menangis dan meraung adalah cara untuk merespon sesuatu yang tidak sesuai keinginan saat manusia masih  menjadi balita.

Saat ini aku berada di kamar tidur. Berniat untuk tidur siang dan mengacuhkan semua permasalahan di sekitarku. Aki tak begitu perduli dengan Gantar yang menangis, toh diapun tak begitu suka aku ajak saat bangun tidur. Semua manusia sepertinya sangat mudah sensi saat tidur.

Tidur menjadi aktivitas favoritku akhir-akhir ini, apalagi semenjak aku demam beberapa hari yang lalu. Tidur menjadi sarana penyembuhan fisik yang menyenangkan.

Bulan Mei tinggal beberapa jam lagi akan berakhir. Hari-hari di bulan Mei ini banyak aku habiskan untuk menggambar dan menjual komik 'Proposal Untuk Presiden'. Beberapa kardus komik kiriman dari penerbit sudah sebagian isinya aku jual. Promosiku kali ini menggunakan bonus karikatur. Cukup lumayan juga hasil penjualannya, tapi masih belum cukup dipakai untuk nikah. Bwahaha

Aku tidak terlalu terburu-buru soal menikah. Selain belum ada mbak pacar yang merong-rong komitmen, aspek lain seperti mental, finansial, dan spiritual belum ter- build up sempurna. Pekerjaan rumahku ternyata masih banyak.

Pekerjaan rumah yang masih banyak itu sepertinya bakal lama terselesaikan. Energi kehidupanku sudah hampir habis. Aku harus menemukan/ mencari, sesuatu/seseorang yang membuatku hidup kembali.

Saat ini aku berkelana di dunia dengan energi sisa-sisa dan mengandalkan instingku sebagai senjata. Entah akan bertahan seberapa lama aku juga tidak begitu tahu. Benar-benar dunia orang dewasa yang menyebalkan. Apakah aku akan menyerah? Enggak. Aku akan berjalan tegak seperti biasa. Mengerjakan apapun yang bisa aku kerjakan. Dan terus maju ke depan menuju wilayah yang penuh titik buta.

Di saat seperti ini aku benar-benar iri dengan Gantar. Andaisaja harga diriku tidak terlalu tinggi untuk menangis dan meraung, mungkin hidupku tak segamang ini.

Mujix
Yeeey, semua deadline sudah kelar.
Dan sekarang bingung mau ngapain.
Bentar-bentar, Agustus depan mau ke Pop Con di Jakarta lagi!? Horee...
Simo, 31 Mei 2016

Terjebak

Lagi-lagi terjebak di Kota Solo untuk waktu yang cukup lama. Cukup lamanya emang seberapa lama sih? Tiga hari. Tiga hari berkeliaran dan membuat kerjaan berantakan. Harus menyalahkan siapa? Salahkan saja ketidakbecusanku dalam mematuhi list agenda. List agenda yang mana? Ah sudahlah.

Ada waktu dimana semua kegiatan sesuai list, dan itu menyenangkan. Namun ada pula dimana semua kegiatan tidak sesuai list, dan itu menyebalkan. Sepertinya harus lebih tegas lagi mengatur jadwal dan mengambil keputusan.

Mujix
Komik Lucky Luke ternyata bagus
Banget, aku harus mengoleksi beberapa deh kayaknya.
Kerten, Mei 2016

Kamis, 19 Mei 2016

Gerimis

Gerimis malam ini sudah berhenti sama sekali. Dia pergi meninggalkan kilauan mengkilat di jalanan beraspal. Berpuluh-puluh kilauan yang tercipta dari cumbuan lampu merkuri bersama bekas air hujan. Mereka semua mengacuhkan aku yang sedang berdiri kebingungan karena ketidaktahuan akan apapun.

Hujan sudah reda, badai telah berlalu. Namun kenapa air yang mengalir di selokan itu tidak juga menenggelamkan semua bayang tentang dirimu?

Mujix
Film 'Freelance' sudah berhasil ditonton sampai kelar. Tapi kenapa endingnya nggantung gitu sih. Paling suka adegan dimana sang tokoh utama sedang menyaksikan sunset di pantai, dan dia mengakui kalau dia pernah berbahagia. Aku juga pernah seperti itu, sumpah.
Kerten, 19 Mei 2016

Rabu, 18 Mei 2016

Uang

Beberapa minggu ini keuangan cukup lancar. Heran, ada aja uang datang entah darimana. Aku sedikit curiga, jangan-jangan rusaknya komputer dan kasus buku kemarin cuman kong kalikong Tuhan agar aku memahami esensi dari benda yang bernama 'uang'.

Uang adalah benda yang harus selalu kau miliki untuk sekedar bisa aman melalui hari ini. Iya, hari ini yang penuh tanda tanya itu sebagian besar bisa diselamatkan dengan uang.

Boleh percaya atau tidak, akhir-akhir ini aku cukup berkepala dingin saat berurusan dengan uang. Ya, levelku hanya sekedar 'cukup' saja, masih ada beberapa momen dimana aku sangat ngilu gara-gara uang.

Misalnya momen kampret tentang uang parkir di Gramedia. Entah ada dendam apa, sang tukang parkir tiba-tiba saja nodong uang Rp.7.500 untuk parkir tiga jam. Alasannya karena aku ke Gramedia bukan untuk berbelanja. Oh sial. Saat itu aku benar-benar kesal sama tukang parkir botak tersebut, dan bisa ditebak, selama tiga jam, aku uring-uringan gak jelas.

Yoks. Hal itu setidaknya memberiku pencerahan. Suatu saat kalau ke Gramedia gak usah lama-lama. Kalau mau lama, mending parkir di luar saja. Toh kalau di luar malah gratis

Sejak saat itu aku kembali memikirkan esensi dari uang. Kalau dipikir-pikir, benda yang terbuat dari kertas itu sebenarnya bersifat sangat fana. Hari aku pegang, besok berpindah entah kemana. Hilang berubah wujud, atau mengendap menjadi rezeki yang bisa aku unduh suatu hari nanti.

Suatu hari yang masih dalam entah itu sebenarnya bisa diprediksi dari bagaimana aku memandang uang.

Jika hari ini uang telah menjadi hidupku, niscaya suatu saat ia akan membunuhku.

Jika hari ini uang hanya menjadi alatku, niscaya suatu saat ia akan membantuku.

Ah. Alhamdulillah untuk semua rezeki dan semua uang yang kumiliki hari ini. Iya, iya, uang walau fana aku tetap suka kok. Santai saja.

Mujix
Horee storyboard komik lepas Si Amed sudah kelar. Horee surat kontraknya sudah datang. Horeee royaltiku 8% dan potongan pajaknya 30%. Hiks hiks.
Simp, 18 Mei 2016

Rabu, 11 Mei 2016

Hati yang Sepi

Ketika kau lelah setelah bertarung sendiri, dan merasa seperti tenggelam

Tutup matamu, tegakkan kepala Dengar dengan seksama

Sepi, hati yang sepi
Angin akan terus berbisik

Sepi, hati yang sepi
Kamu tidak sendirian

Seseorang di sana mencintaimu
Seseorang di sana mempercayaimu
Seseorang di sana memperhatikanmu

Disuatu tempat
Disuatu tempat

Mujix
Aku enggak nyangka kalo arti lagu endingnya kesatria baja hitam RX itu galau abis. Keren.
Kerten, 11 Mei 2016

Paket

"Alaaah, yen mung loro mbok rasah neng Solo wae!!??" damprat Simbah ketika aku bilang mau ke Solo untuk mengantar paket.

Iya. Paket yang diantar cuman dua ekor. Satu ke Bali dan yang satu lagi ke Jakarta.

Bukannya emosi, aku malah berseloroh memanaskan suasana .

"Iyoooh!!!! Yen mung loro mbok rasah neng Solo wae yo Mbaaah!!!"

Hihihihi
Aku yang saat ini sedang 'disorientasi tujuan hidup' (lagi) hanya bisa menanggapi dampratan itu dengan candaan. Mau bagaimana lagi, tiba-tiba saja aku teringat tauziah pak kyai saat nikahannya Antok, nama anak lelaki tetangga sebelah.

Pak kyai bilang begini.
"Kalau ada yang marah salah satu dari kamu harus gembira dan berkepala dingin."

Yah. Walau nasihat itu awalnya ditujukan untuk pengantin, namun nasihat tersebut ternyata relevan diterapkan untuk siapapun.

Aku mencoba tetap menjaga otak agar tetap waras. Entah sejak kapan untuk beberapa hal aku menjadi sangat dewasa.

Namun kampretnya, untuk beberapa hal aku masih seperti bocah yang semua keinginannya harus terpenuhi.

Dan pergi ke kota Solo hanya untuk mengantarkan 'dua paket' bagi simbah adalah tindakan yang kekanak-kanakan.

Pergi ke Solo adalah perjalanan yang memboroskan uang.  Pengeluaran semacam bensin, makan, minum hingga godaan membeli buku adalah lika-liku yang harus aku temui saat pergi ke kota ini.

Mungkin benar kata Simbah, kalo cuman dua biji ya mbok ndak usah ke Solo. Pemborosan duit.

Setelah puas mendampratku dengan sukses, simbah pergi ke teras menyapu lantai. Aku acuh tak acuh sambil terus menyiapkan perbekalan, dan jangan lupa, paket dua biji.

Aku memasukkan banyak barang ke tas rangsel dengan fokus melayang entah kemana.

Ketika seseorang berpikir tentang 'pemborosan duit', sudah bisa dipastikan keadaaan perekonomiannya sedang sulit.

Mungkin Simbah sedang bokek tingkat dewa. Melihat simbah menyapu lantai di teras, aku jadi sedikit trenyuh.

Segera saja kuperiksa isi dompet. Hanya ada dua lembar uang berwarna ungu dan beberapa lembar uang berwarna abu-abu. Bukan hanya sedikit trenyuh, aku jadi pengen nangis gulung-gulung.

Tak perlu waktu lama semua persiapan sudah beres. Aku pergi ke teras untuk duduk sejenak memantapkan diri untuk berpindah wilayah. Sebelum berpamitan aku terdiam cukup lama di bangku teras.

Menatap simbah yang sedang menyapu dengan tatapan nanar. Tanpa pikir panjang aku mengambil lembaran uang warna ungu dan langsung aku ulurkan ke simbah.

"Nyoh Mbah, nggo tuku tempe!"
Simbah menoleh dengan sedikit kaget. Tangannya yang keriput menerima uangku dengan perlahan.
Wajahnya mendadak cerah setelah menerima uangku yang tidak seberapa itu.

Setelah berpamitan aku segera tancap gas ke Solo untuk mengantarkan dua paket itu.

Dua paket itu adalah sumber rezekiku akhir-akhir ini. Isinya berupa komik 'Proposal Untuk Presiden' plus karikatur wajah pemesan.

Bagi orang lain, atau mungkin bagi simbahku, dua paket itu hanya benda remeh yang tidak terlalu penting. Namun bagiku, paket itu adalah segalanya.

Karena aku yakin setiap rezeki sudah ada yang mengatur, maka tugasku adalah mengetahui aturan tersebut dan segera pergi bergegas untuk menjemputnya.

Mujix
Perjalanan pencarian jati diri ini belum juga usai. Semoga saja aku bisa segera menemukannya sebelum tergilas waktu yang makin beringas. Oh iya, aku benar-benar butuh dorongan dari-Mu.
Kerten, 11 Mei 2016

Senin, 09 Mei 2016

Wis sak karep-Mu lah!!



“Aku yo tau ji, nggeblak goro-goro mikir masalah lan beban moral!”  ungkap Mbah Pri malam itu sambil menyenderkan tubuhnya di dinding tembok warung berwarna hijau. Aku sedikit tertegun. Beberapa menit yang lalu aku membicarakan tentang kepayahan fisik saat kerja bakti di kampung. Kerja bakti yang hampir membuatku pingsan itu tuh. 

“Opo iyo pak!? Kapan kui?” tanyaku sedikit kaget. Malam ini aku meluangkan waktu untuk mampir ke warungnya Mbah Pri.  Suasana warung susu segar Mbah Pri malam ini tidak terlalu ramai seperti malam minggu di beberapa bulan yang lalu. Iya. Aku memang menghampiri warung susu tersebut tidak di malam minggu lagi. Malam Senin. Aku datang di malam senin dengan harapan dapat berbincang lebih personal dengan Mbah Pri. Penjual susu segar legendaris kebanggaan mama papanya di kampung.

“Pas jaman lebaran taun wingi, aku wis sadar sih yen ameh semaput” jawabnya terkekeh-kekeh menertawakan dirinya sendiri. Lucu, soalnya aku berpendapat orang yang bisa menceritakan ‘kemalangan diri sendiri dengan riang gembira’ itu pertanda sang empunya cerita sudah sangat dewasa baik secara mental dan moral. Yah, Mbah Pri emang cukup tua sih. Walaupun secara umur belum terlalu tua, kira-kira beliau berumur 40-an tahun. Hanya saja uban yang tumbuh subur di kepala membuat dia tampak terlihat cukup pantas untuk dipanggil ‘Mbah’.

“Lha bar mangan toh ngerti-ngerti kabeh peteng, terus tangi aku wis ono rumah sakit” lanjutnya sembari sesekali pergi ke ‘meja kerja’ untuk membuatkan pesanan para pembeli. 

“Kok iso ngono yo pak!?” aku hanya bisa bertanya dan terus bertanya. Apalagi jika mengingat pandangan mataku yang mulai kabur gara-gara sedikit kelelahan hari ini.

Buat yang belum tahu, warung susu Mbah Pri berlokasi di Pujasari, tempat dimana banyak lukisan di jual di daerah Sriwedari. Beliau buka mulai jam 18.00 WIB sampai hampir tengah malam. Kalau boleh jujur, susu segar yang Mbah Pri jual, sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan  susu-susu segar lain di luar sana. Hal penting yang menjadi kelebihan susu segar Mbah Pri adalah keramahannya dalam melayani pembeli, apalagi jika pembelinya adalah sesosok cowok kribo berhati galau semacam aku.

“Yo iso nu ji! Yen nduwe masalah mbok piker abot terus otak, ati, lan awakmu ora kuat, yo dadine ngundang penyakit. Contone penyakit jantung!”.
 
Mak dheg!
Hatiku berdesir saat Mbah Pri mengatakan hal tersebut. Percaya atau tidak, aku beberapa kali merasa pernah mengalami hal tersebut. Nyaliku sedikit menciut, lalu dengan sedikit ‘alasan kecil’ ingin membalas SMS, aku segera berpindah kursi untuk menenangkan pikiran.

Aku sepertinya benar-benar cukup kelelahan. Bertemu banyak orang di satu hari yang sama itu ternyata menyita banyak energi kehidupan. Adududuh. Segera saja kualihkan pandanganku ke segala arah.
Entah sejak kapan aku sudah terbiasa dengan semua rupa yang ada di warung tersebut. Dinding berwarna biru pucat, sticker lawas bin jadul tertempel di langit-langit, hingga lukisan singa karya salah satu pelanggan yang katanya teman dekat Mbah Pri. Pokoknya tempat ini benar-benar tempat dimana time slip bukan hanya sekedar mitos belaka. Btw, mitos kui panganan opo toh?

Namun prosesiku untuk menenangkan pikiran tidak berlangsung lama. Entah sejak kapan, tiba-tiba saja aku sudah berpindah kursi lagi dan nongkrong tepat di depan Mbah Pri lagi. 

Kampret!! Sepertinya gara-gara godaan buat pamer buku komik tadi tuh yang menyeretku kembali lagi ke posisi yang ini.

Dan tentu saja obrolan itu berlanjut. Aku sudah bersiap untuk mengalihkan fokus ke tempat lain agar kelelahan di tubuh manusiaku ini tidak lagi menjadi-jadi. Ambil napas panjang dan bersiap mendengarkan kelanjutan cerita Mbah Pri tentang ‘penyakit jantung’.

“Tapi saiki aku wis ora mikir abot koyo mbiyen ji! Aku sadar yen kabeh neng awak kui yo nduwe batese dhewe-dhewe.” Aku tercekat. Loh,ternyata  bukan keluhannya tentang penyakit lagi.

“Pokokmen yen ketemu masalah sing aku wis ora nyadak langsung tak culke terus tak pasrahke karo Sing Gawe Urip” Mbah Pri berkata hal yang sangat wise, uaoh. Apa yang dikatakan Mbah Pri kali ini sejalan dengan apa yang aku lakukan beberapa hari ini.

Kalimat  dari Mbah Pri yang berbunyi “aku wis ora nyadak langsung tak culke terus tak pasrahke karo Sing Gawe Urip”, di kamusku berubah menjadi kalimat “Wis sak karep-Mu lah!!”.

Pengen jadi komikus top tapi entah kenapa jalannya kok terjal sekali. “Wis sak karep-Mu lah!!”.
 
Bermimpi mbak mantan hamil dengan perut buncit entah gara-gara siapa. “Wis sak karep-Mu lah!!”.

Tidak punya banyak uang gara-gara harus memperbaiki komputer dan sepeda motor. “Wis sak karep-Mu lah!!”.

Menggambar komik di Instagram yang nge-like dikit terus enggak ada yang follow. “Wis sak karep-Mu lah!!”.

Pengen punya pacar secantik Maudy Ayunda tapi enggak kesampaian  “Wis sak karep-Mu lah!!”.
 “Wis sak karep-Mu lah!!”.
“Wis sak karep-Mu lah!!”.
“Wis sak karep-Mu lah!!”.
“Wis sak karep-Mu lah!!”.
“Wis sak karep-Mu lah!!” adalah kata-kata andalan akhir-akhir ini agar peristiwa jatuhnya Mbah Pri gara-gara beban pikiran tidak terjadi padaku.

Sedikit kasar sih. Namun masih memiliki makna yang sama kok. Berpasrah diri kepada Illahi dan berharap agar diberi kekuatan untuk menjalani hidup ini. Beneran, menjalani saja. Karena hidup bukan ‘musuh’ yang kata orang banyak harus ‘dihadapi’. 

Okey Mbah Pri. Kapan-kapan obrolannya dilanjut lagi ya?
Tiba-tiba Mbah Pri muncul dipikiranku sambil bilang “Wis sak karep-Mu lah!!”.

Mujix
Pemuda yang sedang menjalani profesi sebagai komikus. 
Doain jadi komikus tenar , sukses, dan member manfaat untuk orang banyak ya Gaes.  
“Wis sak karep-Mu lah!!”.
Kerten, 09 Mei 2016.


Kamis, 05 Mei 2016

Bensin

Motor yang kehabisan bahan bakar minyak tidak akan pernah bisa berjalan.

Ya udah, solusinya cuman dua. Ditinggalin dulu atau di dorong dengan satu tujuan, yaitu cari bensin. Bisa beli eceran di warung pinggir jalan. Di SPBU juga tersedia.

Kalau kalian beruntung, mungkin akan ada pengendara baik hati, yang memberikan sedikit bensinnya untukmu agar setidaknya motormu bisa melaju sampai di tempat dimana bensin tersedia.

Jadi keberadaan bensin untuk motor yang mogok kehabisan bahan bakar adalah mutlak dan menjadi skala prioritas.

Bensin tidak bisa diganti dengan kuah soto.

Pakai air mineral juga tidak bisa, Apalagi pakai Es Marimas. Jangan bermimpi.

Bensin. Motor itu butuh bensin. Jika tidak ada bensin, solusinya cuma satu, panggil tukang derek atau teman yang bisa menjemput dan mengangkut motormu.

Motor yang kehabisan bahan bakar minyak tidak akan pernah bisa berjalan.

Mujix
Desain cover buku terbaruku udah jadi. Lucu amat, warna hurufnya emas gituh. Kapan ya aku bisa megang versi hardcopy-nya?
Simo, 4 Mei 2016

Minggu, 01 Mei 2016

Lampu

Cahaya lampu di pusat perbelanjaan adalah pengandaian yang kurasa tepat untuk menggambarkan peran setiap manusia di dunia.

Gimana enggak!? Hampir setiap lampu memiliki fungsinya masing-masing.

Ada banyak lampu taman berbentuk bulat berjejer menyembul diantara rimbunnya daun semak. Satu hal yang pasti, lampu ini ada dan diciptakan bukan untuk memberi 'tanda' kepada pengendara untuk berbelok. Itu tugasnya lampu sein sepeda motor.

Beda lampu taman dan lampu sein, di dalam mall ada lampu berwarna coklat untuk menyinari roti bermerk. Hanya sekedar ada untuk menampilkan rupa sang roti agar bisa menarik pembeli. Peran tersebut sangat tentu saja tidak bisa digantikan lampu taman atau lampu sein.

Manusia juga seperti itu, walau sedikit berbeda. Semuanya memiliki perannya masing.

Bersinar terang benderang atau sekedar seberkas cahaya redup tak usah terlalu dirisaukan. Biarkan saja semua berjalan wajar apa adanya.

Toh semua lampu yang menyala itu nantinya akan mati. Kapan? Kalau tidak ada mati listrik ya saat pagi hari mulai menjelang.

Mujix
Akhirnya tidak jadi pulang ke Boyolali, karena urusan ban yang bocor belum juga tertambal. Namun kabar baiknya, semua komik yang aku bawa hampir sudah sampai di tangan pembaca. Capek.
Kerten, 1 Mei 2016.

Bayangan di Etalase

Pagi ini aku mengalami kejadian sial. Niatku untuk tebar pesona di CFD buat nyari pacar (tenanan po ra ki) harus gagal terlaksana. Kalian tahu apa yang terjadi? Ban sepeda motornya Mas Jack bocor parah.

Iya saudara-saudara, akhirnya aku mengalami peristiwa fenomenal yang berjudul 'kebanan neng ndalan tur ora ono tambal ban' untuk pertama kalinya!!

Kukira adegan 'seorang pengendara dengan muka pucat mendorong motornya untuk mencari tukang tambal ban' itu hanya sekedar mitos dan isapan jempol belaka. Ternyata peristiwa itu nyata!!!

Kejadian kampret itu sepertinya dimulai dari kontrakan. Semacam ada yang tidak beres dengan sepeda motor yang kukendarai. Ah, aku tak begitu perduli. Palingan cuman efek kelelahan gara-gara tidak tidur semalam suntuk.

Sekedar mengingatkan saja, aku tidak bisa tidur gara-gara memikirkan banyak hal besar dan awesome yang ingin aku lakukan di sepanjang usia ini membawa raga.

Bukan gara-gara memikirkan mbak mantan. Bukan. Sekali lagi bukan.

Mendorong sepeda motor dari Stasiun Purwosari menuju ke Kontrakannya Bang Arum rasanya seperti insiden mencangkul di acara kerja bakti beberapa bulan silam.

Cuapeeek!!! Kehabisan napas!!! Mau mati rasanya!!! Apalagi sejak kemarin siang belum ada makanan bernutrisi yang men-charge tubuh rapuhku ini. Hiks.

Beberapa kali aku harus mengumpulkan nyawa yang tercecer satu persatu dari rambutku yang kribo ini.

Kampreeet!!! Mana ada tukang tambal ban membuka gerainya saat jam 05.30 WIB. Aku hanya bisa bersungut-sungut menelan sumpah serapah itu dengan menenangkan diri sendiri.

Di sepanjang jalan saat menuntun motor itu, pikiranku mendadak menjadi sibuk lagi. Memusingkan banyak hal yang sebenarnya itu bukan urusanku.

Memikirkan kenapa aku harus mengalami hal ini lah!?

Memikirkan Tuhan dan para malaikatnya sedang terbahak-bahak melihatku bermuka pucatlah!?

Memikirkan bagaimana membuat Bangsa Indonesia ini menjadi negeri 'gemah ripah loh jinawi' lah !?

Pokoknya terus berpikir biar badan bisa ditipu kalau semua hal di unsur manusiaku sedang kelelahan.

Praktik tipu menipu diri sendiri itu akhirnya mengantarkanku tiba di kontrakan dengan selamat.

Alhamdulillah, insiden 'hampir pingsan' seperti yang terjadi saat kerja bakti itu, akhirnya tidak terulang lagi. Setelah memakirkan motor itu di garasi, aku segera ke warung makan terdekat.

Skala prioritasku saat ini hanya satu, yaitu sarapan yang digabung sama makan malam jatah hari kemarin. Di warung dekat sebuah minimarket itu aku memesan nasi sop dengan porsi nasi kecil. Kulahap dengan niat tulus, agar raga ini segera sehat untuk beraktivitas lagi.

Piring bekasku sudah diambil oleh penjaga warung dan menyisakan secuil ingatan tentang 'seberapa aku kesalnya dengan peristiwa mendorong sepeda motor pagi ini'.

Beneran, saat itu aku benar-benar merasa seperti camilan sisa di semesta yang luas ini.

Aku menyenderkan punggung di jendela warung ini dengan tatapan kosong.

Apakah sudah benar kehidupan yang aku jalani selama ini?

Sebelum sempat aku menjawab pertanyaan rumit tersebut, tiba-tiba saja terlihat bayangan sesosok pemuda kribo dengan wajah yang sedikit kabur di etalase tempat makanan.

'Belum. Hidupku belum selesai. Ada banyak hal yang sangat besar di depan sana sedang menunggu kalau aku tidak menyerah di tempat ini'

Ujar pikiranku tiba-tiba. Suka atau tidak suka, benar atau salah, akan kuselesaikan peranku di dunia yang fana ini hingga akhir acara.

Aku harus segera beranjak dari warung ini. Selain untuk menemukan tujuan hidup, aku harus segera menemukan kamar mandi karena mendadak perut ini bergejolak dahsyat karena kebelet buang air besar. Sebesar apa? Sebesar cintaku yang tak tersampaikan padamu.

Mujix
Ban bocor, dompet bocor, perasaan bocor. Yang tidak bocor hanya satu.
Impianku untuk jadi orang sukses agar bisa membahagiakan orang-orang di sekitarku.
Purwosari, 1 Mei 2016

Nasehat

Belajar bisa dari siapapun dan kapanpun. Semakin ke sini, atau boleh juga dibaca 'semakin bertambahnya usia', aku makin sadar jika kehidupan adalah sekolah super duper besar dengan berbagai mata pelajaran yang tidak ada habisnya.

Kehidupan yang mana? Ya kehidupan yang sedang kalian jalani dengan susah payah itu. Atau yang sedang kalian jalani dengan riang gembira? Terserah kalian mau pilih yang mana sih.

Kalau aku sih pilih memperbaiki Karen daripada menonton Captain America:  Civil War. Emang Karen kenapa? Tunggu sebentar, ada pertanyaan yang lebih penting, KAREN itu siapa!!!?

Komputer, nama komputerku adalah 'Karen', ngikutin nama komputernya Si Plankton di serial Spongebob. Njiplak!? Gak kreatif lu ah Jix.

Bodo.

Intinya Komputer kampret itu akhirnya nginep lagi di servisan. Kali ini yang sekarat adalah Power Supply. Lhah kok 'nginep'? Nginep. Soalnya dompet sedang dahaga menunggu suntikan dana.

Nunggu suntikan dana siapa? Ya dari Tuhan Sang Pemilik Dana Terbesar Sejagat Raya lah!? Masak dana dari lintah darat!?

Dari peristiwa ini, Karen memberi pelajaran mengenai bersabar. Kata Mas Bejita di Kapalan tadi sore sih "Rejeki kui wis eneng sing ngatur'!

Oh, yowis naknu. Aku akan lebih sederhana lagi dalam memikirkan hal tersebut. Yak gitu ajah.

Mujix
Sedang tidak bisa tidur padahal sudah jam 3 pagi. Jangan tanya kenapa, mungkin sedang kangen sama Si Dia, uang merah bergambar Soekarno Hatta. Hihihihihi
Kerten, 30 April 2016.