Selasa, 25 November 2014

November Rain!

Sudah beberapa hari ini, studio tempatku mengerjakan komik sangat berantakan. Berantakan pake banget. Sama berantakannya kayak muka gue.  Sebenarnya yang berantakan cuman meja gambarnya sih, sebenarnya itu juga BUKAN meja gambar yang kayak di studio-studio komik gituh. Lebih tragis lagi, aslinya meja tempatku mengerjakan komik adalah meja makan. Setahun sekali saat lebaran, meja itu biasanya dikeluarkan buat tempat toples Rempeyek, Rengginang, Jenang, dan tentu saja makanan-makanan alien lainnya. Akhir lebaran tahun ini, meja makan itu dengan resmi bertransmigrasi dari ruang tamu menuju studio komik yang keren banget ini. Begitu.

Bulan November 2014 seminggu lagi bakal abis, Dompetku juga mulai menipis, harga BBM yang kemarin naik makin membuatku meringis. Terus aku kudu piye? Aku juga tidak tahu, namun yang pasti, aku harus mengerjakan beberapa halaman komik yang belum kelar. Hal itulah yang membuat studio tempatku mengerjakan komik menjadi sangat berantakan. Kertas HVS bertebaran dimana-mana, sisa jeruk dan buah pir tadi malem, komik-komik impor yang numpuk buat referensi nggambar, pokoknya ngangenin banget. Beberapa hari ini bukan hanya studioku saja yang berantakan, aktivitasku juga berantakan. 

Random banget!! Ada kerjaan ilustrasi yang gajinya belum turun separo, proyek tengyu yang entah berujung kemana, kopi darat sama komikus top, ngerjain Bab 3 komik Proposal yang ogah-ogahan, duet bersama The Mudub yang mempertaruhkan ‘harga diri’ demi sebuah nadzar kelulusan kuliah, sampai yang paling gress, rutinitas meng-lay out Majalah Kreasi yang bakal datang minggu ini. Pokoknya bulan November ini ‘berantakan’ banget. Aku enggak akan menceritakan detail aktivitas di bulan November di postingan ini. Aku cuman pengen curhaaaat! YeesssIt’s Curhat Time!!

Curhat pertama tentang Bab 3 komik Proposal yang ngerjainnya sambil ogah-ogahan. Walaupun ogah-ogahan, tetep dikerjain sih. Proses penintaannya sudah sampai halaman 10. Hal yang membuat Bab  ini terasa sangat panjang adalah proses riset yang cukup ribet, hingga detail-detail di setiap panel yang cukup rumit. Bab ini penuh dengan referensi. Bab ini banyak background yang harus digambar berdasarkan lokasi aslinya di Kota Cirebon. ini dia penampakan salah satu halamannya.
proses pemindahan
dari storyboard ke tinta
foto. Mujix. 2014

Semisal bagaimana riuhnya suasana Pasar Kanoman, asoeynya Alun-alun Kejaksaan, suasana ruang kerja Redaksi Koran, hingga mengkhayalkan pertemuan dramatis sang karakter di tengah konvoy segerombolan komunitas Vespa.  Banyak banget yang mesti aku gambar di Bab ini. Target bab ini untuk selesai di akhir bulan November sepertinya hanya omong kosong. Sorry Coy! Hal kerennya sih, dari Bab ini aku belajar untuk sabar dan bagaimana cara untuk mempertahankan mood. 

Belajar sabar banget men! ngerjain komik Full book dan single fighter itu sangar banget! Aku sering mikir gini ‘perasaan ni komik udah dikerjain, tapi kok enggak kelar-kelar ya’. Bwahahha, setidaknya hari ini udah nyampe bab 3. Ada progres kok. Intinya sih gitu.

Curhat kedua tentang radio. Beneran, udah beberapa bulan ini aku selalu mendengarkan radio saat mengerjakan komik. Radio favoritku adalah JPI FM. Isinya seru dan absurd abis, banyak acara dangdut sama campursari. Beneran jadi komikus yang bahagia di saat-saat seperti ini. Rutinitasku kira-kira seperti ini, aku biasanya sudah di meja gambar dari jam 7 malam, terkadang malah habis maghrib. Jam-jam segitu aku biasanya men-charge radio, suasana disabotase dengan acara Famili 100-nya Om Tukul Arwana hingga D-terong Show. 

Kalo lagi mood biasanya lanjut ke sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Nah pukul jam 9 malam biasanya semua udah pada tidur tuh, gantian deh aku yang nyetel radio. Aku paling ngefans sama acara JPI bergoyang, isinya lagu dangdut (beneran lagu dangdut semua! Kurang sangar apa coba gue!), kirim-kiriman salam, dan penyiar yang ‘kacau abis’ bernama Lek Bimo. Doi keren banget, baca SMS sama cuap-cuap aja bisa bikin aku ketawa ngakak-ngakak. Salut deh pokoknya. Acara ter-keren kedua adalah ‘Wingko Babat’ singkatan dari ‘Wengi Kongko Bareng Sobat’. 

Acara ini mengudara biasanya jam 11 malam, isinya duet maut penyiar mas Yoyon Aliando dan Mbah Sumo Siwon Suju. Mereka dalam acara ini dikisahkan sebagai cucu dan kakek yang ‘akur enggak akur’. Acaranya enggak kalah pecah sama ‘JPI bergoyang’, kacau balau, ada pantun, kirim-kiriman salam, lagu campursari dan kecroh-kecrohan dua penyiar yang sama sarap-nya. Dua acara ini keren banget, kalo luang sempatkan untuk mendengarkan mereka, lokasinya di sini niih 106.3 FM.

Curhat ketiga tentang Mbah Rembyung. Iya ini tentang nenekku yang paling awesome sedunia. Hari ini doi sakit. Katanya sih kena Herpes, bahasa gaulnya Dompo. Semacam penyakit kulit yang nyerinya minta ampun. Pagi tadi doi pergi ke klinik untuk periksa, dan tiba-tiba saja doi pulang membawa banyak obat. Ada obat salep, ada penurun darah tinggi, tablet pereda nyeri, hingga multivitamin penambah nutrisi. 

Aku tuh suka enggak tegaan kalau liat orang tua sakit. Apalagi kalau malam sering terdengar rintihan nenek yang menahan nyeri, itu hatiku udah cekot-cekot gak karuan. Cekot-cekotnya sama kayak ngeliat mantan udah dapat cowok baru, terus mereka selfie bareng dan ‘entah kenapa‘ foto itu kemudian nongol di beranda pesbuk. Sakitnya ituh di sini men!! Sambil nunjuk bulu ketiak, bulu ketiaknya Cita Citata. Aku berharap agar nenek cepet sembuh. Segera sembuh dan bisa ngajak Gantar lagi.

Curhat keempat tentang ponakan aku yang paling ganteng, Si Gantar. Dia sekarang udah bisa merangkak  coy. Kata mamanya sih usia-usia segitu dia paling seneng mempelajari hal-hal yang baru. Selain merangkak dia juga seneng nyethoti manuk, itu lhooh aktivitas ngajakin burung nyanyi pake tangan. 

Gantar dan ritual memanggil burung!
foto. Anna Subekti.2014

Aku enggak tahu bahasa Indonesianya sih. Semakin lama aktivitasnya makin enggak jelas bukan hanya nyethoti manuk, ayam, kucing bahkan kipas anginpun dia cethoti, gokil beuds. 

Beberapa bulan ini bermunculan anak  kecil disekitar rumahku. Ada si Eja, si Kayla, hingga yang paling Up date nongon bayi baru didepan rumah bernama Bilal. Ini kenapa pada punya bayi semua sih!!? Kacau! Sepertinya ini pertanda dari langit untuk diriku agar segera married. Sama siapa? Embuh. Mungkin sama radio. pfft.

Curhat kelima tentang diriku sendiri. Hei, hari ini umurku sudah 26 tahun lebih sekian. Aku sedang menjalani karir impianku sebagai komikus. Keren sih, cita-citaku akhirnya kesampaian juga, cita-cita dari SMP coy! Keren tapi kok pake kata ‘sih’? aku bingung ngomongnya dari mana, namun satu hal yang pasti karir ini sangat menantang. Komikus hampir sama dengan wirausahawan! Bossnya dalah dirimu sendiri. Kamu malas, isi dompet amblas! Kamu rajin, makan enak bisa rutin. Kata ‘sih’ untukku sangat kompleks. Intinya aku enggak ‘semalas’ itu namun juga tidak ‘serajin’ itu.

Terkadang aku bertemu malam-malam menyebalkan, di mana aku enggak yakin dengan apa yang sedang aku kerjakan. Kehilangan alasan untuk terus menggambar. Passion berkomik yang tiba-tiba lenyap entah kemana.  Terkadang aku bertemu malam-malam seperti itu. Jika malam-malam seperti itu datang, yang bisa aku lakukan hanya bertahan, bertahan dan terus bertahan. 

Aku tak pernah menyerah untuk menyemangati diri sendiri dengan mem-visual-kan berbagai keinginan yang kelak akan terkabul. Bagiku membuat ‘komik yang bagus’ itu seperti lelaku Bandung Bondowoso saat membuat Candi Sewu untuk Roro Jonggrang dalam semalam. kalian paham maksudku?
enggak? sudahlah. aku juga sedang males buat ngejelasinnya.

Mujix
Akhir Desember ini komik The Proposal harus kelaaarrr!!
Berubah jadi saiya supeeer!!
Solo, 24 November 2014


Kamis, 06 November 2014

Hujan Es Krim Corneto

Hal paling menyenangkan di awal bulan November ini adalah hujan yang turun tadi malam. Saat itu pukul 19.30 WIB (Waktu Indonesia Barat), aku sedang bengong berada di kamar tidur sambil istirahat sejenak dari rutinitas menggambar komik. Suasana petang itu gerah seperti biasanya, jendela di samping tempat tidur yang terbuka itupun tidak terlalu banyak membantu. Ijek sumuk, di saat seperti itu, biasanya aku merindukan benda semacam Es krim coklat Corneto.

Sayangnya rumahku sangat jauh dari peradaban manusia yang intelektualnya sudah bisa menghasilkan es krim. Atau setidaknya menjual es krim. untuk mendapatkan Es krim coklat Corneto, aku  harus pergi ke Alfamaret yang jauhnya 8 KM. Beneran, harus menempuh jarak  8 KM hanya untuk mendapatkan Es krim coklat Corneto yang akan habis dimakan dalam 8 menit, dan menurutku itu tidak fair. Alhasil di malam yang gerah dan ajigile itu, aku hanya bisa berkipas-kipas sembari guling-guling di kasur dan berharap ada Es krim coklat Corneto jatuh dari langit-langit.

Beberapa menit berlalu dalam kesia-siaan. Dari atas genteng tiba-tiba terdengar suara teng klothak, agak berisik dengan tempo yang tidak beraturan. Aku berpikir sejenak, itu bukan suara tikus yang sedang balapan lari, mustahil pula suara Es krim coklat Corneto jatuh dari langit.

Aku tersenyum kecil, kemudian aku bangkit dari kasur sambil berteriak lantang.
“Hujaaaaan!!!!!”

Aku berlari keluar kamar, menuju halaman rumah dan mendongakkan kepalaku ke langit yang hitam kelam itu. Beneran hujan Men! aku terdiam beberapa detik menikmati butiran air yang menetes di wajahku. Aku memandang toko kelontong milik tetangga yang ternyata masih buka. Segera saja aku menghambur ke ruang kerja, tempatku mengerjakan komik. Tas Consina berwarna biru tua itu tergeletak pasrah di samping lemari, aku segera merogoh kantong kecilnya dan mengambil uang 5000. Yess!! Malam ini aku bisa mengerjakan komik di tengah suasana hujan yang dingin sambil minum susu coklat panas dan ngemil roti rasa abon favoritku.

Hal paling menyenangkan di awal bulan November ini adalah hujan yang turun tadi malam. Berbekal uang 5000 rupiah itu aku berlari, sesekali melompat, dan mengangkat tangan untuk meraih air hujan yang turun perlahan. Sepertinya aku belum pernah segirang itu akhir-akhir ini. Uang sejumlah 5000 rupiah bisa aku tukarkan dengan dua roti wafer Tango rasa coklat, dua Roti Khong Guan Malkist rasa  abon sapi, dan dua sachet susu coklat Frisian Flag. Benda-benda itu mungkin memang tidak sebanding dengan Es krim coklat Corneto, namun benda-benda itu juga sama dahsyatnya sebagai teman lembur saat mengerjakan komik.
Ketika aku kembali dari warung, hujan benar-benar turun. Aku memandangnya dengan takjub.

“Tau gak sih Jan, elo ditungguin banyak orang akhir-akhir ini”  sapaku kepada hujan yang turun perlahan. sok romantis gituh ngobrol sama Si Hujan.

“ Woi Boi! Elu bukannya Sok romatis, Elu mulai gila gara-gara ngerjain komik yang gak kelar-kelar” tukas sang hujan menanggapi sapaanku. Bwahahaha, obrolan absurd nan imajiner itu akhirnya terjadi juga.

Yah karena hujan turun, aku enggak jadi berharap ada Es krim coklat Corneto jatuh dari langit-langit. Es krim coklat Corneto mungkin bisa kudapatkan dengan pergi ke Alfamaret yang jauhnya 8 KM. Nah, untuk mendapatkan hujan? Aku harus nungguin 8 Bulan, kurang lebihlah, belum lagi kalo molor dan delay di jalan. 8 KM sama 8 bulan jauhan mana sih? Jauhan 8 bulan lah! Lagian satu Es krim coklat Corneto di malam yang gerah dan ajigile itu, hanya bisa memuaskan nafsu seorang cowok kribo yang kepanasan, selama 8 menit. Air hujan yang turun perlahan itu bisa mendinginkan sejagat umat manusia yang tengah gerah dan memberikan kehidupan di muka bumi hingga hari ini.

Pastinya, air hujan tidak dijual oleh Alfamaret. Aku juga enggak rela sesuatu hal semenakjubkan ‘Hujan’ dimonopoli sebuah korporasi se-komersial Alfamaret. 
Hal paling menyenangkan di awal bulan November ini adalah hujan yang turun tadi malam. 
Beneran.

Mujix
benar-benar
ingin pergi travelling
ke tempat tang banyak
langitnya >___<
Simo, 06 November 2014