Sabtu, 31 Oktober 2015

Last Writingtober!

Baiklah ini adalah hari terakhir untuk tantangan gueh yang bernama Writingtober. Aku akan me-review aktivitas tersebut secara kilat sajah.

Menulis itu susah. Kurasa itu kata-kata yang tepat untuk menggambarkan Writingtober. Target untuk membuat 31 postingan ternyata tidak semudah move on dari mantan. Ah. Apa? Move on dari mantan juga sulit!? Pokoknya sih gitu. Aku akan menceritakan sedikit proses dalam menulis yang berkaitan dengan Writingtober. Semua postingan di blog ini tercipta biasanya berawal dari kegelisahan. Kegelisahan itu terkadang berwujud perasaan galau, senang, sedih, sukacita, atau bahkan curhatan-curhatan kejam yang tidak mungkin aku ceritakan ke orang lain di dunia nyata.

Kalau kegelisahannya sudah ketemu, baru deh direncana mau diapain. Mau ditulis curhat? bisa. Puisi? bisa banget. Atau malah mungkin cerpen? Bisa dooong.

Akhir-akhir ini aku sedang suka dengan cerpen. Entah kenapa ada tirai-tirai kamuflase misterius yang dimiliki oleh cerpan. Di tirai-tirai itu aku biasanya menyembunyikan permasalahan yang sebenarnya. Enggak usah dicari. Biasanya aku analogikan dengan sangat ekstrim kok.

Kesulitan yang sering terjadi untuk menulis rutin blog ini adalah tidak adanya gagasan untuk dibagikan. Beneran. Terkadang aku tidak menemukan ide atau kegelisahan untuk dibantai menjadi tulisan. Beberapa kali ide itu muncul, namun langsung aku tolak dengan alasan privasi. Sok artis banget ya gueh. Kesulitan lain adalah padatnya aktivitas yang lain. Aku bikin komik. Aku sibuk dengan kegiatan komunitas komik. Aku sok ribet ikutan kompetisi di sana-sini.

Baiklah. Tantangan ini sangat menyenangkan. Setidaknya aku mencoba untuk lebih cerewet menceritakan hal-hal di sekitarku. Dari 31 Postingan aku bisa menyelesaikan 20 Tulisan. Itu udah cukup bagus, Sepertinya ini adalah bulan teraktifku dalam menulis blog. Benar-benar aku lakukan dengan sadar. Ketika aku melihat kembali ke belakang, bulan Oktober ini adalah bulan dimana aku menjadi manusia yang benar-benar hidup. Semua kesibukanku sudah tercover di tantangan Writingtober. Aku akan tetap dan terus menulis. Meninggalkan jejak agar suatu saat kelak aku bisa melihat kemana saja hidupku telah singgah.  Kurasa seperti itu.

Mujix
Habis ini mau cabut
ke solo lagi buat ikutan meet up
sama teman-teman Kaligrafi Belmen.
Simo, 31 Oktober 2015

Jumat, 30 Oktober 2015

Last Writingtober!

On Proggres.

Curhat Lomba Desain Maskot SNI

Aku cuman mau pamer kepada kalian kalau karyaku lolos sebagai finalis di lomba maskot SNI di KDRI (Kementrian Desain Republik Indonesia). Baru nyampe finalis kok pamer? Iya dong. Daripada enggak masuk finalis tapi pamer. Apa yang mau dipamerin!? Mau pamer duit juga, dompet sedang berjibaku dengan maut. Jumat ini keren sekali pokoknya.

Mumpung pemenangnya belum keluar, mending aku luapin deh perasaan menggebu-gebu gara-gara kesenengan bisa jadi finalis. Kalo pemenangnya udah keluar, terus aku kalah, biasanya postingannya mendadak sok bijak. Sok bijak dan memotivasi agar tetap tegar untuk menghadapi hidup. Makanya, mumpung  pemenangnya belum keluar, biarkan aku menyombongkan diri sepuasnya. Sebentar. Biar agak dramatis, Aku mau ketawa dulu ala penjahat di atas meja. HAHAHAHAHAHAHAHA

Hah. Capek ketawanya. Sepertinya aku enggak cocok menjadi karakter antagonis yang masih sok sombong gara-gara gagal menguasai dunia. Lomba Desain Maskot SNI ini dimulai sejak tanggal 29 September sampai 19 Oktober 2015. Aku mengikutinya di saat lomba hampir berakhir. Ini pertama kalinya aku mengikuti kontes membuat maskot. Mungkin juga pertama kalinya aku membuat maskot. Mungkin.Sejak dahulu aku memang sangat suka membuat karakter, namun jarang sekali membuat karakter yang memakai brief atau konsep yang rumit. Biasanya sih asal nggambar, kemudian asal njeplak.

Peraturan dan aturan main dalam lomba maskot ini cukup menarik. Sepertinya menjadi menarik gara-gara aku masuk jadi finalis. Tepatnya 25 finalis dari 346 peserta. Uoh. Keren kan. Maskot yang dibuat di sini harus dibuat berdasarkan KEYWORDS dari BSNI. 

Kata kunci tersebut adalah: Standar Nasional Indonesia, Inovatif, Menjawab Tantangan, Berdaya Saing, Melindungi, dan Karakter yang mudah diterima Oleh Masyarakat Umum.

Para peserta dituntut membuat desain maskot yang membawa semangat nilai-nilai kata kunci tersebut. Selain kata kunci, ada peraturan lain yang harus diperhatikan. Visual maskot harus di dominasi warna dari logo BSN. Ini dia logo BSN: 

Logo BSN.
(Sumber: www.republika.co.id)


selain warna, maskot harus menampilkan logo SNI. Yah. untuk lebih komplitnya silahkan cek web ini: Lomba Desain Maskot SNI

Blog ini cuman tempat curhat aja sih. Bukan Blog tempat ngumpulnya berbagai lomba. Balik lagi ke tema awal. Termasuk salah satu 25 finalis dari 346 peserta itu rasanya sesuatu sekali. Beberapa maskot yang kukira lolos, ternyata malah tidak masuk di meja penjurian. Kalo boleh jujur, aku cukup pede kalau maskotku bisa masuk finalis. Kalau menang!? bah. Minder juga sih. Beberapa maskot terlihat keren dan gahar. Untuk seorang amatir seperti aku, bisa membuat maskot berdasarkan konsep dan bisa kelar itu suatu keajaiban dunia. Untuk liat siapa saja finalisnya, silahkan cekidot ke link ini: Finalis Lomba Maskot SNI

Beberapa hari ini dunia benar-benar berputar sangat ajaib. Belum kelar move on dari permasalahan komik cetak kemarin, langsung saja di hantam berita gembira ini. Semacam dijatuhkan dari tempat yang tinggi kemudian diterbangkan lagi ketempat yang lebih tinggi. Apa!? mirip ketika dimodusin gebetan!? Ya elah. Gebetan yang mana sih!?

Pastinya kontes ini baru memunculkan finalis. Ya. aku belum menang. Senang sih senang. tapi lebih senang lagi kalo jadi pemenang. Harapanku kalau bisa menang sih mau beli Pen Tablet Wacom. Biar semakin gahar dalam berkarya. Yah. Mungkin akan aku sisakan beberapa ratus ribu untuk aku belikan sesuatu ke nenek. Sesuatu itu apa ya? Mungkin batik, VCD Campursari, atau mungkin Buah Anggur kesukaan beliau.  Masak sih udah gede dan jenggotan gini masih belum kelar membahagiakan orang-orang di sekitar. 

Mumpung masih menjadi finalis ayo kita berharap sepuasnya. Nikmati aja perasaan bergelora ini. Karena ketika kamu kalah, berharap dan perasaan bergelora ini hanya menjadi kenangan di masa silam. Seperti diriku yang tiba-tiba memimpikanmu tadi malam. Hey. Kamu apa kabar?

Mujix
Kebahagiaanku
saat ini adalah mengerjakan
komik lemon tea di malam hari
sambil mendengarkan lagu
Bossanova Jawa.
Simo, 30 Oktober 2015

Kamis, 29 Oktober 2015

Tomat dan Ruko yang Terbakar

Ada luka melepuh dibibirku yang imyut ini. Sariawan. Fenomena itu disebut SARIWAWAN. Intinya
kesehatanku sedang sangat payah. Sepertinya aku kurang vitamin C, makanya aku memborong selusin buah tomat dari tukang sayur. Eh, sesampainya di tukang sayur, doi curhat gituh tentang permasalahannya kepada komikus dodol berambut kribo ini. Curhatnya enggak jauh-jauh sama isi dompet. Kalau isi dompet tidak penuh, mengerjakan apapun pasti akan dilakukan dengan mengeluh. Tukang sayur itu bahkan memperlihatkan isi dompetnya padaku. Coba tebak berapa isinya? 

Isinya uang Rp.10.000 ribu Coy! mengerikan! Bahkan isinya lebih banyak daripada kantong milik pengemis yang suka minta-minta dipinggir jalan. Beberapa peristiwa membuat tukang sayur itu terkapar kelelahan menghadapi hidup. Aku enggak tahu apa yang terjadi. Sepertinya doi masih menyimpan beberapa rahasia yang kurang pantas untuk diceritakan ke orang lain. Salah satu cerita yang menarik adalah mengenai investasinya di sebuah ruko di Pasar Simo. Tukang sayur yang memahami ilmu investasi!? Keren sekali.

Kemarin siang dia menerima kabar bahwa ruko yang telah ia sewa hancur dilalap api. Semuanya. Habis tak terkecuali. Hal tersebut katanya diakibatkan oleh keteledoran rekannya yang lupa mematikan lilin saat mati lampu. Entah saat itu terkena percikan minyak tanah atau memang sedang apesnya, api yang menjalar membakar tanpa ampun ke semua tempat yang dilaluinya.

Ruko itu hancur lebur. Tak tersisa apapun. Kecuali kebanggaan bahwa dia, seorang tukang sayur itu telah berhasil mendirikan toko kelontong di tengah pasar Simo yang prestisius. Aku mencoba menjadi pendengar yang baik, tidak coba memotong curhatan ataupun menyanggah apa yang dia katakan. 

Investasi yang dia lakukan benar-benar telah menguras jiwa dan raga. Biaya sewa ruko tersebut cukup mahal. Dia harus berlari kesana kemari untuk mencari uang pinjaman, mempertaruhkan harga diri di depan para pemberi hutang, yah, kau tahu sendirilah bagaimana rasanya hutang ke orang lain. Uang yang terkumpul itu akhirnya cukup untuk membayar sewa selama 5 tahun. Jangkanya emang lama, enggak seperti kost, buat sewa ruko di sebuah pasar.

Sisa uang yang dia bayarkan buat ruko akhirnya dia pakai untuk membeli isinya. Tabung gas, mie instant, beberapa gula dan beras, semuanya, hingga ruko itu pantas di sebut sebuah toko. Dia berhasil membuka ruko itu dua bulan yang lalu. Untuk menjaga kestabilan keuangan, dia menyewa pegawai untuk menjaga ruko tersebut. Ruko dijaga oleh pegawai, dan dia tetap bekerja sebagai tukang sayur keliling. Impiannya untuk segera menikah pasti akan segera terwujud, begitu pikirnya dua bulan yang lalu.

Semuanya berjalan lancar. Kedua usaha itu saling bersinergi membuat kehidupannya lebih baik. Hingga akhirnya datang musibah tersebut. Kebakaran. Doi hampir pingsan beberapa jam setelah mengetahui berita tersebut. Penjual sayur itu hampir tidak bisa berpikir dengan kepala dingin. Pikiran dan hatinya kacau. Dalam hitungan jam, semua hal yang dia bangun dimasa lalu benar-benar hilang ditelan api.

Semua sudah selesai baginya. Dia tidak mungkin menyalahkan rekannya yang teledor menyalakan lilin. Bukankah pegawai tersebut melakukan apa yang seharusnya orang lain lakukan ketika mati lampu!? Dia juga tidak mungkin menyalahkan PLN atas insiden mati lampu mendadak di malam itu. Alternatif terakhir, dia bisa menyalahkan Tuhan. Alternatif yang paling sering dilakukan para manusia yang putus asa.

Namun dia tidak melakukan semua itu.
Dia mengambil jalan tengah.

Dia menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu menanam 'perasaan' di ruko tersebut. Mungkin ketika dia mulai berharap agar rukonya laris, dia mulai menciptakan Tuhan 'kedua' saat itu, mencintainya dan terus berharap  suatu saat ruko tersebut bisa menjadikan dia sebagai lelaki sukses. Di saat seperti itu penjual sayur itu terus menyalahkan dirinya sendiri hingga suatu hari pencerahan datang padanya.

Pencerahan?
Iya. Pencerahan.

Pencerahan itu sebenarnya hanya sebuah ucapan pelan di perasaan yang menuntunmu agar tetap hidup. Beberapa orang yang terjatuh terkadang hanya fokus ke rasa sakit tanpa memperdulikan ada suara yang menyuruhnya untuk berhati-hati. Rasa sakit memang dramatis. Suara yang pelan hanya angin lalu. Pencerahan itu menuntunnya ke sebuah tindakan yang sederhana.

"Lakukan apa yang bisa kau lakukan sekarang.
Tak perduli seberapa sering kau menyalahkan diri sendiri."

Mengutuk diri sendiri sampai mampus-pun ruko itu tetap akan menjadi abu. Menangis sampai dunia jadi lautan-pun airnya tidak akan bisa memadamkan api yang melalap ruko itu di masa lalu.

Ya udah. Hal yang dia bisa lalukan sekarang adalah berjual sayur keliling.
Satu usaha yang masih tersisa dan masih bisa dia perjuangkan. Semoga di masa depan dia bisa membangun ruko itu kembali. Setidaknya dengan dia berjual sayur keliling, aku bisa mengobati sariawanku ini dengan memborong tomatnya. Brengsek. Kenapa sariawan ini enggak sembuh-sembuh sih kabar baiknya, dengan adanya sakit sariawan ini membuatku tidak banyak berbicara sok tahu memberi nasihat kepada tukang sayur yang malang itu.

Mujix
Hati-hati dengan
apa yang kau pikirkan.
Alam semesta ini mengerikan,
dia bisa mengabulkan apa
yang kau pikirkan tanpa
diminta.
Simo, 29 Oktober 2015

Minggu, 25 Oktober 2015

A Slowly Morning with My Brain

Brengsek. Hal yang aku takutkan akhirnya terjadi. Beberapa tahun lalu ketika aku masih mahasiswa, ada spekulasi tolol yang tercetus secara tiba-tiba. 

Perkiraan bodoh itu muncul mungkin diakibatkan lelahnya kondisi jiwa dan raga gara-gara kuliah yang tidak selesai-selesai. Biarkan sejenak aku tertawa untuk mempermalukan masa mudaku. Hahahaha

Balik ke topik spekulasi. Dulu aku pernah berpikir seperti ini, “jangan-jangan suatu hari di masa depan, aku yang sudah menjadi komikus, menjadi sarjana, memiliki waktu luang, dan udah punya komputer, akan kehilangan ambisi lagi untuk melakukan apapun!?”

Benar saja. Beberapa hari ini spekulasi terjadi dan menerorku tanpa ampun. Titik pucak kehilangan hasrat untuk hidup itu berimbas pada situasi di mana aku selalu mengeluh di depan komputer. Aku harus segera membereskan masalah ini.

Aku berjalan dengan mata sayu dan langkah gontai menuju dapur. Terlihat sebuah golok dengan gagang kayu terselip di laci. Tanganku perlahan dengan gemetar mengambil golok tersebut. Golok itu sangat tajam, hal itu diperlihatkan oleh tanda-tanda kilau di ujung bilahnya. Tanpa basa-basi, aku langsung menebaskan golok itu ke kepalaku.

"Kraaaak!!!!" terdengar suara patah dari tengkorak di kepalaku.
"Craaaaaats!!!! Srrrrrrr........" Darahku di pelipis mucrat kemana-mana tanpa ampun. Sisanya mengalir dari batok kepala yang pecah merembes melewati rambut.

"Argggg!!!!!" Aku berteriak kesakitan dan memukul tembok di sampingku untuk mengalihkan rasa sakitku.  

Darah bercecer kemana-mana. Separuh dari tengkorakku  terpental ke depan pintu kamar mandi. Aku berdiri memandang darah yang terus mengucur dari kepalaku. Tidak terjadi apa-apa, hanya pandanganku saja mulai mengabur bersama warna merah darah. Golok yang kupegang jatuh perlahan menghantam lantai. Aku berdiri dengan keadaan paling sakit. Aku harus melakukan ini. Kalau tidak permasalahan tidak akan pernah selesai.

Kepalaku yang telah terbalah separo mulai kembali mendapatkan kesadaran walau samar-samar. Tangan lemah yang berwarna merah ini mulai mengambil otakku yang ternyata berwarna hitam legam. Mistis sekali mengetahui otak yang berwarna hitam pekat itu ternyata sangat eksotis saat berpadu dengan darah merah di tanganku. Perlahan aku berjalan sembari  mencengkeram otak warna hitam itu ke kamar mandi.

Benar, Ke kamar mandi.
kaliat tahu apa yang akan aku lakukan!?
Aku berniat mencuci otak.

Tidak ada siapapun yang menghalangiku. Otak itu aku rendam di ember. Aku mencampurnya dengan deterjen. Warna hitam di otakku yang berlendir perlahan-lahan mulai memudar. Aku memerasnya, aku mencucinya dengan sabun. Inilah yang disebut 'mencuci otak' dalam arti yang sebenarnya.

Ada beberapa noda yang sangat sulit hilang. Noda yang berasal dari alam bawah sadarku itu sepertinya sudah terlalu lama menempel. Rasanya sakit. Noda-noda itu kalau diamati dengan seksama ternyata berasal dari serpihan-serpihan kaca. Kaca-kaca itu menancap cukup dalam. Aku mencabutnya satu persatu. Kaca-kaca itu sesekali memantulkan peristiwa-peristiwa yang membuatku gila di masa lalu.

Kaca-kaca itu menusuk bagai rasa malas karena berharap lebih kepada sesuatu hal di dunia yang fana ini. Kaca-kaca itu simbol kekecewaan karena permainan takdir yang tidak sesuai keinginan. Jangan pernah berharap sama sekali, maka kamu tidak akan pernah dikecewakan, seperti itu kata-kata bijak yang tiba-tiba aku ingat saat mencabut serpihan kaca itu dari otak.

Sepertinya otakku sudah sedikit lebih bersih. Tapi sepertinya belum cukup. Aku menyikatnya dengan sikat cucian. Dengan sangat keras aku menyikatnya. Sesekali aku menambahkan sabun colek agar noda-noda itu segera hilang. Walau sakit aku terus melakukan itu berulang kali. Rasa ngilu menjalar ke seluruh tubuh. Pagi itu ada pemuda tanpa otak sedang mencuci otaknya agar kehidupannya esok hari lebih baik.

Otakku sudah bersih. 
Warna hitam dan lender-lendir menjijikkan itu sudah aku bilas dengan pewangi. Otakku sekarang sudah siap dipakai. Kurang satu tahap lagi agar aku pantas memakainya. Seperti aturan mencuci pada umumnya, suatu barang yang dicuci boleh dikatakan selesai apabila telah kering karena mengalami proses penjemuran.

Aku meninggalkan kamar mandi dan berjalan menuju halaman rumah. Darah masih saja terus menetes dari kepalaku. Melangkah perlahan sambil menimang otakku yang masih basah. Cuaca pagi ini sangat cerah. Waktu yang tepat untuk mengeringkan sesuatu dengan terik matahari. Otak tersebut aku letakkan di atas genteng, aku berdiri seharian di sampingnya. 

Detik demi detik berlalu. Menit menuju menit mengeringkan cairan di otakku secara perlahan.

Beberapa jam sudah aku berdiri tanpa otak sambil menjaga otakku sendiri. Benda itu telah kering dan siap dipakai. Aku memasukkan otak itu kembali ke sarangnya. Semuanya sudah beres. Otakku telah berhasil dicuci. Aku telah menjadi makhluk Tuhan yang (katanya) sempurna, aku telah menjadi manusia. 

Selamat tinggal bad mood!
Selamat tinggal masa lalu yang buruk! 
Aku akan menjalani hari ini dengan penuh percaya diri!


Aku kembali ke meja kerjaku. 
Pikiranku sudah sangat segar. 
Aku siap bertempur dengan dunia dan seisinya. Ayo! Lawan aku! Aku sudah siap!

Tunggu sebentar!?
Sepertinya ada yang aneh!?
Kenapa kepalaku tiba-tiba terasa dingin?

Ya Tuhan!! 
Ternyata separuh tengkorakku masih tertinggal di depan kamar mandi!!? 


Mujix
Curhatan paling 'sakit' di Blog ini.
Beneran. Tapi gak papa sih,
namanya juga hidup.
Simo, 25 Oktober 2015

                      

Kamis, 22 Oktober 2015

Kamis, 15 Oktober 2015

Motivasi (bukan) dari Pak Mario Teguh

Aku adalah lelaki yang jarang curhat dengan orang lain. Seperti pendapat lelaki pada umumnya, curhat tentang permasalahanmu kepada orang lain adalah hal yang tabu. Sebagai seorang lelaki, kau dituntut untuk bisa menyelesaikan masalahmu tanpa bantuan orang lain. Kira-kira seperti itu mitos yang berkembang mengenai lelaki.

Tidak sepenuhnya benar, dan tidak sepenuhnya salah.
Beberapa lelaki yang sudah 'mapan' (baik secara mental, spiritual, dan finasial), sudah pasti menjadi sosok 'lelaki' yang benar-benar 'laki'. Namun sosok 'lelaki yang benar-benar laki' ini hanya segelitir saja populasinya di dunia, atau setidaknya di duniaku.

Mayoritas lelaki yang sering mondar-mandir di jalan depan rumah adalah lelaki yang terus saja berperang dengan dunia dan permasalahannya. Aku juga termasuk di golongan ini. Aku tidak berbohong. Sebagai lelaki yang jarang curhat dengan orang lain, aku sering mencoba untuk mendapatkan solusi secara tiba-tiba dan tidak tertebak. Kecuali jika aku sengaja menyalakan televisi untuk menonton acara Pak Mario Teguh, 'The Golden Ways'.

Setahuku acara 'The Golden Ways' sudah tidak tayang lagi di televisi. Berkurang sudah satu program televisi, yang menurutku cukup ampuh untuk menambah energi positif untuk penikmat televisi. Yah kau tahu sendirilah, gimana rasanya jadi korban 'bully' program televisi yang acak adul demi ratting dan iklan. Aku enggak akan membahas soal itu. Aku akan mengupload gambar-gambar aja.

Heh!? Mengupload gambar? Buat apaan?
Acara 'The Golden Ways'-nya Pak Mario Teguh, udah enggak ada. Sebagai pengobat rindu akan gairah bermotivasi, di postingan ini akan aku lampirkan beberapa screenshot kata-kata bijak dari berbagai tempat. Rata-rata sih dari komik dan anime.









Screenshot dari manga Silver Spoon
karya Hiromu Arakawa.
(Sumber: http://www.komikid.com/)




Screenshot dari anime Kuroko No Basuke
karya Tadatoshi Fujimaki.
(Sumber: http://www.indoakatsuki.net//)


 


Screenshot dari anime Bakuman
karya Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata.
(Sumber: http://www.indoakatsuki.net//)



Screenshot dari anime Diamond No Ace
karya Yuji Terajima.
(Sumber: http://www.indoakatsuki.net//)



Screenshot dari anime Eyeshield 21
karya Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata.
(Sumber: http://www.indoakatsuki.net//)


Screenshot dari manga Prison School
karya Akira Hiramoto.
(Sumber: http://www.indoakatsuki.net//)


Screenshot dari anime Dragon Ball Super
karya Akira Toriyama.
(Sumber: http://www.indoakatsuki.net//)



Screenshot dari manga Bakuman
karya Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata.
(Sumber: http://www.komikid.com/)


Screenshot dari manga Bakuman
karya Eichiro Oda.
(Sumber: http://www.komikid.com/)


Aku tidak tahu apakah kalian termasuk dari kaum 'lelaki yang jarang curhat dengan orang lain'. apapun jawaban kalin, semoga saja dari beberapa gambar yang aku upload ini memberikan kalian manfaat. Atau setidaknya media pengingat, bahwa seorang lelaki yang paling laki-pun tetap tidak bisa lepas dari bantuan orang lain. Selamat melanjutkan motivasi menjadi karya di dunia nyata. Eaa.

Mujix
Sedang ngidam pengen makan
steak hot plate. Dagingnya
yang tebel terus minumnya jus alpukat.
Hmm nyummy.
Simo, 15 Oktober 2015

Rabu, 14 Oktober 2015

Monyet dan Rasa Sakit

"Mari salahkan orang lain ketika semua hal tak berjalan sesuai dengan apa yang kau harapkan. Aku adalah orang yang selalu benar. Apapun yang kau lakukan semuanya adalah kesalahan.Karena aku selalu benar, tolong dengarkan ucapanku. Tolong lakukan apa yang aku perintahkan. Aku ingin hidup makmur namun dengan tidak bekerja. Aku ingin selalu kaya, perut kenyang, apapun yang aku butuhkan harus selalu tersedia. Karena aku selalu benar. Karena kau selalu salah. "

Postingan ini teruntuk kamu yang egois dan selalu merasa paling benar.
Ide di dapat dari komen berita-berita yang sedang viral di jejaring sosial.
Maaf. Dunia nyata memang tidak selalu ramah untuk semua orang.
Beberapa monyet  perlu terjatuh dari pohon agar dia mengerti
bahwa di dunia ini ada yang namanya rasa sakit.

Mujix
Kadang orang butuh capek,
capek yang banget.
Biar bisa tidur nyenyak..
Via. http://reghedaily.tumblr.com/
Simo, 14 Oktober 2015

Selasa, 13 Oktober 2015

Clementine dan Screentone

Sudah pukul 22.44 WIB. Aku menghela nafas panjang. Sepertinya aku harus segera istirahat. Beberapa kali aku menguap dengan sangat lebar, beruntung tidak ada tawon yang nyasar dan masuk ke mulutku. Ketika aku akan mematikan komputer dan berniat mengakhiri hari ini dengan tidur pulas, tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Oh iya, tantangan 'writingtober' hari ini belum aku buat sama sekali. Fokusku hari ini tercurahkan untuk mengedit komik 'Lemon Tea' Chapter 1: Dear God. Beberapa  menit yang lalu, semua halaman sudah selesai dipermak ulang. Aku ingin segera tidur. Namun  tantangan 'writingtober' juga harus aku kerjakan. Aku harus menulis apa?

Brengsek. Tidak ada ide sama sekali. 

Beberapa ide sebenarnya ada, namun untuk saat ini aku tidak kuat untuk mengubahnya menjadi tulisan. Energiku sudah hampir habis. Hal yang paling memungkinkan hanya menulis tentang keadaanku detik ini. Aku akan menuliskannya secara singkat saja. Toh, tantangan 'writingtober' sebenarnya hanya aku gunakan sebagai pemicu agar aktivitas menulis ini terus berjalan. Tidak ada keharusan untuk menulis dengan tema yang berat, atau dengan teknik ini, itu dan sebagainya. Pokoknya menulis dan terus menulis.

Baiklah. Aku mulai menulis apapun sekarang. 

Listku tercoret satu lagi hari ini. Edit ulang komik 'Lemon Tea' Chapter 1 baru aja kelar. Garis besarnya untuk list ini adalah mengganti font dan memberi tone agar lebih nyaman untuk dibaca. Pada tahun 2012 font yang kugunakan di komik ini adalah 'Comic Sans'.

Font Comic Sans.
(Sumber: www.genius.com)

Dulu sih awalnya baik-baik saja, tapi setelah beberapa tahun berselang, aku merasa font ini tidak cocok dengan komik 'Lemon Tea'. Font penggantinya adalah 'Suplexmentary Comic'. Kurasa udah oke banget, aku mengganti ulang font ini tahun 2014. Secara keseluruhan aku cukup menyukai font ini. Namun ada beberapa hal yang mengganjal. huruf  'J' dan 'I' memiliki kemiripan dan apabila keduanya bertemu cukup susah untuk membedakannya.

'Suplexmentary Comic'
(Sumber: www.fontrist.com)

Akhirnya setelah dipikir lagi dengan kepala dingin, beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 11 Oktober 2015, untuk kedua kalinya aku mengganti font.

Perubahan font di komik 'Lemon Tea'.
Kiri: Suplexmentary comic, Kanan: Clementine.
Enakan yang mana Hayoo!?
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Font yang kugunakan kali ini adalah 'Clementine'. Font yang sama dengan buku komik debutku kemarin. Semoga ini terakhir kalinya aku dipusingkan dengan font di komik 'Lemon Tea'.

Font Clementine
(Sumber: www.fonts2you.com)


Tugasku selanjutnya adalah memberi tone yang nyaman untuk dibaca. Tone semula di komik ini sangat gelap. Selain gelap, terdapat bintik-bintik semacam 'screentone' yang membuat komik ini makin rumit. Dulu kukira komik yang bagus adalah komik yang banyak 'screentone'-nya. Namun ternyata perkiraanku salah. Permasalahannya bukan 'banyaknya screentone ' namun 'penggunaan screentone'. Di komik 'Negara 1/2 Gila' aku terlalu banyak menggunakan 'screentone'. Terlalu banyak bahkan membuat 'sakit' ketika membacanya.

Alhasil, mulai saat itu aku kapok menggunakan terlalu banyak 'screentone', kemudian aku memutuskan untuk seminimal mungkin menggunakan 'screentone'. Seperlunya saja.



Perubahan Tone di komik 'Lemon Tea'.
kalian bisa melihat perbedaannya kan?
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Dari tahun 2012 sampai hari ini aku ternyata semakin perfeksionis dalam berkarya, terutama komik. Perbedaan kualitas gambar dan asupan wawasan di kepala membuat aku semakin sensitif. Belajar dari dua komik yang pernah aku terbitkan, setidaknya harus ada perbaikan dari satu karya satu ke karya lainnya. Itulah alasan kenapa aku mengedit ulang komik itu.

Capek sih. Namun apabila membayangkan kalau karya ini udah jadi dengan hasil yang terbaik, kurasa rasa capek itu akan hilang dengan sendirinya ditelan oleh rasa bangga. Kurasa seperti itu. Postingan ini harus segera kuakhiri, sebelum aku muntah darah gara-gara memaksakan diri untuk terus menerus menulis dengan sisa-sisa tenaga. Gituh. Selamat istirahat ya Gaes.

Mujix
Sedang berusaha mewujudkan
impian untuk menjadi komikus
yang kereeen :)
Simo, 13 Oktober 2015 

Senin, 12 Oktober 2015

03.06 WIB

Aku meraih handphone yang berada tak jauh dari tempat tidur. Malam itu aku terjaga tiba-tiba.  Jam menunjukkan pukul 03.06 WIB. Mataku menatap langit-langit kamar berwarna biru kusam tersebut. Suasana malam ini cukup hening, hanya terdengar suara keyboard bergemeletuk dari ruangan sebelah. Sepertinya Pak Iyok masih berkutat dengan pekerjaannya. Aku melirik kearah depan, Bang arum tergeletak sedang menikmati tidurnya yang menyenangkan. Kesadaranku mulai kembali. Ya. Aku sudah sampai di Kota Solo lagi.

Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan. Beberapa aktivitas bertemu di hari yang sama. Ada rapat untuk project komik yang barulah, njagong lah, dan lain sebagainya. Badan kurus kering dan tinggal satu-satunya ini sepertinya mengalami kelelahan yang keterlaluan. Lelah yang berkesinambungan ini membuatku sedikit lebih dekat dengan diri sendiri. Percaya deh. Lelah adalah obat yang paling manjur untuk membuatmu cukup untuk istirahat.

Terjaga di tengah malam kemudian tidak bisa tidur lagi itu rasanya kampret banget. Padahal dua jam lagi aku harus segera balik lagi ke rumah untuk mengembalikan motor. Aku mencoba memejamkan mataku dengan paksa. Tidak berefek sedikitpun. Aku mencoba menghitung dari angka satu sampai seratus. Malah makin segar bugar. Ya sudahlah, aku menyerahkan kesadaranku kepada batin dan pikiran yang sedang ngelayap ke mana-mana.

Malam di ujung fajar yang belum menyingsing itu membuatku mengingat banyak hal. Asmara pertama yang kini entah kemana, perasaan sayang yang datang terlambat, para wanita yang aku cintai diam-diam tanpa pernah aku ungkapkan, hingga penyesalan-penyesalan yang harus segera aku lepas dari genggaman. Semua hal tersebut menggiringku ke sebuah kesimpulan sederhana. Aku telah banyak berubah.

Kuakui atau tidak kuakui, akhir-akhir ini aku mulai bisa berdamai dengan diri sendiri. Seberapa sering aku memaklumi hal-hal yang terjadi di sekitarku, sama seringnya dengan intensitas aku mengambil keputusan. Aku masih ingat seberapa cepat berpindah dari kekalahan kompetisi illustrasi kemarin. Dalam hitungan jam aku sudah baik-baik saja dan segera meluncur ke project selanjutnya. Itu tidak akan terjadi jika aku berada di usia dua atau tiga tahun yang lalu.

Hal-hal yang membuatku mengalami perubahan sedramatis itu adalah komitmen. Jika mundur ke belakang, komitmen untuk menyelesaikan magang, mengerjakan skripsi, menyelesaikan komik-komik tertunda, hingga bertahan di situasi sulit seakan menjadi sparring partner yang setia. Ayo datanglah. Kita bertarung. Siapapun yang menang, aku akan tetap berjalan. Pertarungan untuk mendapatkan gelar sarjana adalah pertarungan yang cukup rumit. Kemenangan atas move onnya aku dari kamu, terkadang aku menang, terkadang aku kalah.


Kalau dipikir-pikir, memiliki kesempatan untuk mewujudkan impian yang rumit itu sangat keren. Bisa menggambar komik, mempunyai teman yang baik, keluarga yang selalu sehat. Bukankah itu sangat menakjubkan. Rasa syukur terpanjatkan secara polos malam itu. Aku ingin segera bisa sampai dirumah agar bisa menulis postingan ini. Alhamdulillah. 

Mujix
aku bersyukur bisa
mempunyai blog ini.
Menyenangkan sekali
bisa menulis tentang apapun
yang aku inginkan.
Simo, 12 Oktober 2015

Minggu, 11 Oktober 2015

Ksatria Saiya Super Dalam Legenda. Part I

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan (nasib) suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan (nasib) yang ada pada diri mereka sendiri” (Q.S.Ar-Ra’du, 11)

***
Kutipan dari Al Quran itu aku temui di sebuah buku motivasi. Aku yang sore itu kehabisan buku baru untuk dibaca, terpaksa mengobrak-abrik rak buku di ruang kerja. Aku menemukan buku itu setelah berjibaku dengan debu dan kotoran lainnya. Buku yang berjudul ‘The 21 Principles To Build and Develop Fighting Spirit’ itu sudah lama terpajang di rak. 

Ini dia buku yang aku baca kemarin.
Bagus kok sebagai pengisi waktu luang.
(Sumber: www.wuryanano.com)


Sepertinya buku ini sumbangan untuk perpustakaan Tumpi, yang entah bagaimana bisa nyasar dan nyelip di ruang kerjaku. Ah. Ya udah deh. Aku sedang senggang. Aku akhirnya mulai membaca halaman demi halaman. Beneran. Momen paling bahlul hari itu aku mencoba sok serius membaca buku motivasi.

Hari-hari kemarin berlalu begitu saja. Ada beberapa lubang di hatiku yang belum bisa ditambal dengan apapun. Beneran apapun. Memutuskan Move On dari masa lalu ternyata memang mengakibatkan beberapa sumber daya di sanubari menghilang. Pemuda harapan bangsa adalah pemuda yang gampang Move On, itu yang selalu aku pikirkan ketika melihat teman-teman FB berfoto dengan pacar-pacar barunya.

Beneran. Mereka sudah bergonta-ganti pacar bahkan ampe mau merid segala, sedangkan aku masih di sini, membenahi hati yang berserakan untuk kuberikan pada calon istriku nanti. Hati-hati yang tinggal serpihan ini harus aku susun lagi. Sialan, Beberapa lubang ini harus segera aku tambal. Sebelum isinya bocor dan luber kemana-mana.

Caranya gimana ya? Sebenarnya aku agak bingung. Ada masa-masa di mana aku menambal hati ini dengan cara yang salah. Ketika masa-masa itu tiba, produktifitas dalam berkarya menurun. Jadi jarang menggambar, malas menulis, Tidak melakukan apapun hanya diam menunggu perubahan itu datang.

Hari-hari seperti itu adalah hari-hari di mana manusia bergerak layaknya sebuah robot yang diprogram. Ketika keinginan untuk berubah itu belum muncul, manusia tersebut hanya akan menjadi mayat hidup tanpa ambisi. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hari-hari tanpa ambisi tersebut.

Niat kecil itu sepertinya di-amini oleh alam semesta.  

Alam semesta memang aneh. Ketika keinginan itu terpancar lewat hati, jawaban entah dari mana itu akan datang tiba-tiba. Siapa sangka solusi itu datang dari prakata buku motivasi yang sudah lama teronggok di rak buku.

Aku enggak akan mereview buku karya Mas Wuryanano, sang mindset motivator tersebut. Baru sampai baca di halaman prakata, langsung dihantam dengan kedahsyatan kutipan Al Quran. Ampuuun deh!  Ini buku Motivasi atau kitab suci sih!? Buku motivasi itu kemudian aku tutup, enggak ada yang perlu dibaca lagi. Semua pertanyaanku beberapa hari ini terjawab sudah oleh kutipan tersebut.

Maaf Mas Wuryanano, aku enggak baca sampai selesai. Mungkin aku rapel lain kali. Namun yang pasti bukumu keren Mas. Soalnya aku belum pernah bikin buku motivasi kayak njenengan. Udah keren terus best seller lagi. Ampun deh.

Kutipan dari ayat Al Quran itu menegaskan tentang substansi dari perubahan.

Perubahan. Perubahan paling epic yang paling aku ingat di sepanjang hidupku adalah transformasi Songoku saat menjadi manusia saiya super. Iya. Obrolan kita melenceng sedikit ke buku komik Dragon Ball karya Akira Toriyama. Setting adegan tersebut berada di planet Namec yang tengah dilanda konflik. Pertempuran final antara tokoh utama dengan tokoh penjahat keji bernama Frieza tengah memasuki tahap akhir. 

Frieza dan perubahannya
(Sumber: www.mangatherapy.com)


Ah. Secara karakter aku sangat menyukai Frieza. Jahat. Kejam. Sadis. Dan tentu saja sombong. Karakter antagonis paling keren di sepanjang komik ini dibuat.

Perubahan wujud Songoku menjadi ‘Ksatria Saiya Super Dalam Legenda’ (begitu yang sering diucapkan oleh Frieza), merupakan manifestasi (artine opo ki?) dari sifat manusia yang ingin melampaui batas kemampuannya. Seorang manusia biasanya bisa berubah dikarenakan dua faktor.

Faktor pertama, keadaan yang akan merubah manusia tersebut. Faktor kedua, manusia yang merubah keadaan tersebut. Pilihannya cuman antara ‘merubah’ atau ‘dirubah’.

Kasus dari perubahan Songoku menjadi Saiya Super, secara umum sebenarnya cenderung dekat dengan faktor pertama, 'keadaan'-lah yang merubahnya menjadi Saiya Super (terlepas dari fakta yang lain bahwa dia berlatih terus menerus untuk menjadi lebih kuat).

Drama demi drama bergulir, Pikkoro tertembak tenaga dalam tepat di jantung, Kuririn tewas diledakkan Frieza tak lama kemudian. Amarah Songoku memuncak dan tak terbendung lagi. Manusia saat terdesak, akan ada kekuatan tersembunyi yang ia keluarkan, dan saat itulah ‘Ksatria Saiya Super Dalam Legenda’ muncul.

Dragonball: Frieza Saga
(Sumber: https://www.tumblr.com/search/frieza-saga)



Bercermin dari babak Frieza saga, aku mendadak menjadi filsuf amatir (yang ganteng). Apakah manusia yang ingin menjadi kuat, harus dirubah dengan drama-drama yang menyedihkan? Bukankah itu sangat mengenaskan, ketika semesta bermain-main dengan hati nurani demi perubahan yang baik untuk masa depan nanti? Aku jadi berpikir ulang mengenai seberapa kuat diriku sendiri saat aku menjalani 'hari-hari di mana manusia bergerak layaknya sebuah robot'.

Hari-hari kemarin berlalu begitu saja. Beberapa lubang di hatiku yang belum bisa ditambal ini harus segera diisi oleh sesuatu. Di saat-saat seperti itu aku terkadang berharap ada drama yang menyedihkan datang dan mengubah hidupku untuk selamanya.

Namun, drama yang aku inginkan itu tidak pernah datang. Sepertinya aku harus berharap pada hal lain. Hal-hal yang aku mimpikan siang dan malam. hal-hal yang selama ini menopangku saat kesusahan. Mungkin impian. Atau cita-cita yang belum terlaksana. Atau cinta yang entah ada dimana. Semua hal yang berkecamuk di pikiran itu mengingatkan aku akan faktor kedua dari suatu perubahan.

Faktor kedua, manusia yang merubah keadaan tersebut. Aku harus merubah keadaan ini. Aku memutuskan untuk mencoba menjadi sosok ‘moto picek, kuping budhek’ terhadap apapun yang ada di hati. Salah satu cara untuk merubah keadaan tersebut adalah merapikan agenda. Di ruang kerjaku sekarang tertempel  Styrofoam warna merah untuk menempel apapun. Baik itu daftar kegiatan, atau hal-hal yang kurasa penting untuk dilakukan.

Perlahan namun pasti perubahan demi perubahan sudah aku lakukan. Total ada 15 list yang harus aku selesaikan. Dan udah tercentang 5 poin. Lumayan. Styrofoam warna merah itu aku jadikan pemicu untuk terus berubah. Media pengingat tentang mimpi-mimpi yang belum selesai. Tokoh antagonisku saat ini adalah diri sendiri. Rasa malas dan enggan terkadang sama kejamnya dengan Frieza. Tenaga dalamnya yang sangar bisa dengan mudahnya menghancurkan impianmu. Hari-hari kemarin berlalu begitu saja. 

Biarlah yang kemarin tetap menjadi hari kemarin. Aku akan menjalani hari-hariku sekarang dengan berusaha menjadi ‘Ksatria Saiya Super Dalam Legenda’. Hahaha. Enggak bisa ngebayangin ada cowok kribo berubah menjadi Saiya Super. Cerita ini akan berlanjut di postingan selanjutnya.

Mujix
Nulis, nulis, nulis
dan terus menulis.
Gokil ternyata nulis itu
sangat susah! Argghh!!
Simo, 11 Oktober 2015.

Sabtu, 10 Oktober 2015

Hadiah Kuis

Raras Pramesthi
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar di atas adalah hadiah buat pemenang kuis iseng-iseng di Facebook. Kuisnya sederhana sih, aku mengunggah salah satu halaman komik 'Lemon Tea', kemudian aku suruh deh mereka untuk menebak kira-kira apa sih makna yang ingin disampaikan oleh halaman tersebut. Komen demi komen bermunculan sebagai jawaban. Lucu sekali melihat mereka mencoba mengartikan gambarku yang absurd. Di kuis ini enggak ada jawaban yang benar atau jawaban yang salah. Aku mengambil pemenang berdasarkan jawaban yang paling sesuai dengan makna halaman tersebut. Pengen tahu halaman mana yang dijadikan kuis iseng-iseng ini? Nih.

Materi Kuis Iseng-Iseng.
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Aku membuat kuis ini didasari oleh beberapa alasan. Alasan pertama, aku ingin berbagai mengenai proyek yang sedang aku kerjakan. Di Buku 'Show Your Work!'-nya Austin Kleon, doi berpendapat keterlibatan pembaca/konsumen dalam proses kreatif pembuatan karya, secara tidak langsung akan menaikkan value karya tersebut. Pendapat itu tentu saja didapatkan dari proses mengamati kinerja para kreator hingga memahami tentang kecenderungan prilaku para konsumen kreasi tersebut. Aku sudah cukup sering mengunggah beberapa materi dari komik 'Lemon Tea', aku berharap dengan mondar-mandirnya komik ini di Timeline setidaknya para pembaca sudah beradaptasi dengan gaya gambar dan materi komik 'Lemon Tea'. Kalau sudah terbiasa kan katanya bakalan mudah jatuh cinta. hehehe 

Hal tersebut berlawanan dengan pengerjaan komik 'Proposal Untuk Presiden' yang tahu-tahu udah kelar dan jarang sekali aku bagi prosesnya di jejaring sosial.

Alasan kedua sebenarnya bersifat pribadi, aku ingin membuat semacam peneguhan bahwa komik ini harus selesai. Beneran, semenjak komik ini dibuat (pada tahun 2010) progress penyelesaian proyek ini cukup lambat. Beberapa kali terhenti karena prioritas yang lain. Beberapa kali revisi gara-gara ketidakpuasan dengan hasil akhir. Aku udah sering curhat di blog ini. Ampe bingung mau curhat apa lagi. kabar yang paling gress dari komik ini adalah, lagi-lagi aku merevisi jenis huruf yang digunakan di komik ini. Nah Gitu sih. Setidaknya, dengan sering dipikirkan, maka akan lebih sering pula di kerjakan. 

Alesan ketiga aku pengen narsis! Pamer! Biar semua dunia tahu kalau aku punya satu proyek komik ambisius namun enggak kelar-kelar. Lhah. kalau enggak kelar-kelar kenapa harus dipamerin sih? Kenapa ya. Mungkin ini tuntutan dari program 'pencitraanku sebagai komikus' di jejaring sosial. Begitu.

Mujix
Persiapan untuk proyek
komik selanjutnya. Selain ngerjain
Lemon Tea, ada komik baru
yang genrenya sedikit trhiller.
Mulainya nunggu konfirmasi dari
Pak Sutradara tenar! hihihihi. 
Simo, 10 Oktober 2015 


Jumat, 09 Oktober 2015

Rise Of The Elephant

“Akhirnya pengumuman. Kompetisi ilustrasi berhadiah total Rp.60.000.000 itu akhirnya pengumuman. Nama gue kok enggak ada? Wah ini pasti konspirasi wahyudi. Harusnya menang dong. Gambarku sangat berkonsep.  Harusnya… Harusnya…”

Hahaha, aku rasa seperti itu teriakan hati para peserta yang tidak menjadi finalis pemenang.  Hanya dugaan saja sih. Semoga saja tidak seperti itu. Kompetisi ‘Rise Of Elephant’ adalah sebuah  lomba yang diselenggarakan oleh Frank.co dan LEBE (Let Elephents Be Elephants) Foundation melalui situs Kreavi.com. 

Para peserta yang ingin mengikuti kompetisi ini, diharuskan membuat ilustrasi gajah. Bener gambar binatang berbelalai, bertelinga lebar dan bergading itu tuh. Gambar-gambar gajah tersebut rencananya akan dijadikan media kampanye mengenai penyelamatkan gajah dari kepunahan. Kalian sudah pernah melihat gajah belum sih? Nih gambar gajah. Silahkan dilihat dengan seksama.
Binatang bernama Gajah.
(Sumber: http://www.erlanggaforkids.com/)

Kepunahan. Ternyata bukan hanya 'cinta terhadap mantan' saja yang mengalami kepunahan. Entah sudah berapa ribu binatang dan tumbuhan tertentu yang punah dikarenakan seleksi alam. Seperti yang aku kutip dalam brief kompetisi ‘Rise Of The Elephant’, konflik yang terjadi antara gajah dan manusia merupakan ancaman terbesar untuk kelangsungan hewan mamalia ini di Indonesia. 

'Godaan keduniawian' dari hewan ini yang membuat para manusia tamak memburunya adalah gading. Harga gading gajah sangat mahal. Kalian bisa mendapatkan uang sekitar Rp.20.000.000 untuk gading sepanjang 30 Cm. Uang sekitar Rp.20.000.000 kalo dipake buat beli bakso bakar dapat berapa tusuk tuh? #NgelirikAmed

Aku juga mengikuti kompetisi ini. Pengen liat karyaku. Nih.
Tommorow in Our Phone
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Kalah? Tentu saja. Karya ini bahkan kalah sebelum pengumuman. kok bisa? Ketika kamu tidak yakin dengan apa yang kamu buat, saat itulah kamu kalah. Jadi. Saat aku membandingkan karya ini dengan karya peserta lain, saat itulah aku mulai menilai, seberapa pantas karya ini untuk muncul sebagai pemenang. Pantas enggak sih? kalau di hatinya mbak gebetan jelas PANTAS dooong.  Begitulah. Balik lagi ke topik semula.

Perdagangan gading gajah (bukan Gading Marten lhooh yah, catet.) baru-baru ini telah ditetapkan sebagai ancaman nasional. Apabila perburuan itu terus berlangsung, bukan tidak mungkin lagi, binatang yang bernama gajah akan hilang dari muka bumi. Kecuali gajah-gajah tersebut diculik alien terus dibudidayakan diplanet Mars. Terus yang jadi gembalanya Matt damon yang saat ini sedang main film The Martian.

Kompetisi ‘Rise Of The Elephant’ diramaikan 1170 gambar, dan disaring lagi untuk mendapatkan 12 pemenang. Buat yang pengen liat pemenangnya bisa meluncur ke link ini: Pemenang Kreavi Challange #14. Gambar-gambar pemenang kompetisi ini sangat mengerikan. Beberapa gambar memiliki konsep dan teknik pembuatan yang ajib. Kompetisi ilustrasi adalah tempat dimana para peserta bisa belajar banyak hal. Belajar untuk membaca brief kemudian membuatnya menjadi karya.

Belajar berimajinasi tentang panggung dimana saat mereka menjadi pemenang, dan yang paling penting, belajar bagaimana caranya memaklumi kekalahan.

Kekalahan. Siapa sih yang mau kalah? Semuanya ingin jadi pemenang. Proses pemahaman brief yang kemudian dilanjutkan proses berkarya adalah tahapan awal. Setelah para peserta memutuskan untuk mengikuti kompetisi dan berusaha menyesuaikan brief, maka bersiap-siaplah untuk memasuki ruang gelap yang bernama 'proses berpikir'. Beberapa peserta yang matang di tahap ini biasanya memiliki konsep yang matang. 

Konsep yang matang itu konsep yang cerdas namun bisa dipahami banyak orang. Pokoknya ketika melihat gambarnya kalian akan langsung bilang ‘ooh… keren’ terlepas bagaimanapun teknisnya. Sesederhana itu.

Ketika konsep sudah didapat, tahap selanjutnya ditentukan oleh teknis yang digunakan untuk mewujudkan konsep tersebut. Disinilah jalan terjal para peserta kompetisi (termasuk yang bikin tulisan ini :P). Konsep yang bagus dengan penyajian yang buruk sudah dipastikan tidak akan lolos menjadi pemenang. Momen seperti ini biasanya ketika melihat gambarnya, kalian akan langsung bilang ‘apa-apan ini’, ‘payah’ atau langsung scroll mouse sambil mendengus ‘hmft’.  

Di tahap ini, kemampuan yang paling hebatlah yang (insyallah) bakal menjadi juaranya. Untuk beberapa kasus, konsep yang payah pun bisa ditutupi dengan skill tingkat dewa. Apakah itu buruk? Tidak. Skill tingkat dewa adalah hadiah untuk orang-orang yang keras terhadap dirinya sendiri dengan latihan terus menerus tanpa berputus asa.

Lhah, terus bagusan yang mana nih? Konsep yang bagus atau skill yang bagus?

Tidak ada yang paling bagus. Yang paling bagus adalah segera saja pahami apa kelemahanmu. Apakah itu di konsep atau di teknis. Kalau elo bego di konsep, solusinya banyakin baca buku, cari referensi gokil, sering keluar rumah, banyak berdiskusi jangan lupa stay cool. Andaikata kebiasaan-kebiasaan tersebut rutin dilakukan, niscaya elo akan pintar berkonsep.

Nah kalo elo bego di teknis, jalan keluarnya cuman satu. Banyakin berkarya dengan seluruh kemampuan! Banyakin! Banyakin! Tambah jam terbang! Fokus!! Niscaya kemampuan teknismu akan meningkat seiring dengan rutinitasmu berlatih dalam membuat karya.

Kompetisi hanyalah kompetisi. Ada pemenang dan ada yang kalah. Ada satu hal yang paling penting dari kompetisi ini. Hal yang paling penting adalah tema dari kompetisi ini sendiri. Gajah. Kalau beneran gajah bakal punah 2020 nanti, kalian perasaannya gimana? coba deh inget-inget lagi, kapan terakhir kali kalian melihat gajah? Semoga engga ada yang nge-jawab 'Tadi, di kamar mandi ane ngeliat gajah'. Bukan GAJAH yang itu woy!!!

Aku terakhir kali melihat gajah saat SMP. saat piknik di Kebun Binatang Wonokromo, Surabaya. Apakah itu pertemuan yang pertama dan terakhir kalinya? Semoga saja tidak.

Postingan ini aku tutup dengan kutipan keren dari buku 'Kaya Itu Dipraktekin' penulis Tim Wesfix, kira-kira bunyinya seperti ini: Menjadi kaya sesungguhnya terkait erat pada peningkatan kualitas diri. Jika Anda bermutu, “harga” Anda semakin tinggi.

Nah. Gitu sih khotbah curhat Jumat kali ini.

Mujix
sedang berusaha merapikan
diri sendiri. baik itu yang
bersifat lahir (beresin ruang kerja)
atau yang bersifat batin (mindset dan pola pikir).
Simo, 9 Oktober 2015


Rabu, 07 Oktober 2015

Curhat dengan Hati

Tantanganku yang bernama ‘writinktober’ sudah memasuki hari ke tujuh. Jadi gimana rasanya dipaksa nulis setiap hari satu postingan? Euuuh. Rasanya campur-campur. Beberapa hal yang pasti aku jadi memiliki kesibukan rutin. Bahkan tantangan menulis ini terkadang lebih berat dari aktivitas menggambar.

Aku cukup percaya diri kalau menggambar sebenarnya lebih dekat dengan kebiasaan tangan dalam menggores. Kebiasaan menggores sudah menjadi kebiasaanku selama ini, itu bukan sesuatu hal yang sulit. Begitulah. Namun aturan tersebut tidak berlaku untuk menulis.

Menulis menurutku adalah kemampuan yang menggabungkan logika berpikir dan kecakapan dalam mengatur huruf. Secara garis besar hampir sama dengan menggambar, ada sesuatu yang diresahkan dan diekspresikan dengan media. Media yang berbeda membutuhkan perlakuan yang berbeda. Media tulis menulis menurutku sangat dinamis. Perubahan kecil ide saat proses menulis bakal membawa banyak perubahan akan hasil jadinya.

Bisa saja awalnya mau menulis ‘buah apel’ ujung-ujungnya bakal curhat mengenai ‘apel’ malam minggu yang tak kunjung datang. Saran temanku sih sepele, bikin kerangkanya dulu. Baru deh nulis. Aku hanya membuat kerangka kasar di pikiran. Makanya jadinya random abis. Abis ini deh. Diatur lebih rapi. Yen gelem. hihihihi.

Kesan-kesanku selama seminggu ini saat mengikuti ‘writinktober’ cukup banyak.  Tantangan ini sangat menyenangkan. Gimana enggak, aku bisa curhat apapun yang aku inginkan tanpa diinterupsi siapapun. Sifat blog yang sangat personal ternyata berhasil memfilter pembaca dengan sendirinya.

Orang-orang yang membaca postingan ini tentu saja orang-orang yang tertarik dengan tema tulisannya atau penulisnya. Aku yakin mereka tertarik dengan penulisnya. Karena penulisnya adalah sosok yang mempesona dan ganteng. Seperti itu.

Semenjak tantangan ini berlangsung, tiba-tiba saja aku menjadi sangat peka terhadap situasi. Setiap situasi dan kondisi memiliki kisahnya masing-masing. Ada saja hal-hal yang menarik untuk ditulis. Hal-hal tersebut sebagian mengendap di otak, dan sebagian hal yang lain bisa kalian baca di blog ini. Beberapa ide yang belum menjadi tulisan biasanya aku catat di otak, kemudian aku simpan di hati. Kalau hanya berhenti di otak biasanya tidak akan menjadi tulisan. Hati adalah saringan terakhir yang menentukan apakah ide tersebut layak atau tidak untuk dipublikasikan ke dunia nyata.

Kalian harap maklum, tidak semua kegelisahanku harus diumbar ke publik. Kondisinya hampir sama dengan ‘seluruh dunia tidak harus tahu apa merk celana dalammu’. Tema-tema yang personal dan terlalu sensitive biasanya aku lampiaskan dengan media yang berbeda.

Misalnya tema cinta, untuk beberapa hal, 'dalamnya perasaan' terkadang hanya bisa diungkapkan dengan gambar atau komik. Nulis bisa sih, tapi terlalu dinamis. Pembaca akan terlalu bebas mengkhayalkan apa yang terjadi. Mending aku gambar deh, sret, sret, sret  kemudian jreng-jreng-jreng… jadilah ‘Lemon tea: Bukan komik cinta’, walaupun belum kelar sih. Tema yang sedikit sensitive, misalnya politik, biasanya aku rebus ulang. Direbus yang lama, mencari celah humornya, dan jreng-jreng-jreng… jadilah komik Si Amed.

Ada juga beberapa hal yang tidak pernah aku tulis atau aku ubah menjadi komik. Hal-hal tersebut biasanya tidak lolos ketika memasuki tahap penyaringan di hati. Kekhawatiranku sebenarnya sederhana, andaikata semua hal aku ungkapkan, maka aku tidak memiliki hal-hal yang bisa aku obrolkan dengan diri sendiri.

Semua postingan di blog ini seperti gunung es di laut Antartika. Kalian hanya bisa melihat dan meneliti yang tampak, masih ada sebongkah batu besar yang tersembunyi di dalam sana. Bongkahan besar yang hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri hingga akhir hayat menanti. Ciee. So sweet.

Mujix
Pagi ini sangat berantakan. Kampret.
Harus segera kembali
ke trek semula nih. 
Boyolali, 7 Oktober 2015.


Selasa, 06 Oktober 2015

Challenger Spirit

Di pertandingan ETU VS CHIBA ini siapa yang menjadi penantang?
Yang kutanyakan, siapa yang lebih cocok menjadi penantang. Pertanyaanku bukan soal jawara dan penantang.

Maksudku hati, mental penantang.
Tim yang benar-benar kuat terdiri dari orang yang selalu keras terhadap diri sendiri, menghormati lawan, dan seolah kedua belah pihak saling menantang satu yang lain.

Tidak ada hubungannya dengan peringkat atau jumlah gelar yang dimiliki. Yang ada hanya keinginan kuat untuk terus maju.

Itulah challenger spirit yang kumaksud.

Sudah kubilang ‘kan? kita penantang. Penantang harus menghadapi berbagai hal. Lawan, diri sendiri, Lingkungan dan situasi. Kalau permainan dikendalikan lawan, kita diuji untuk merebut kendali permainan.

Menundukan kepala dan protes akan penilaian wasit takkan mengubah apa-apa. Kalau kita benar-benar ingin maju, banyak sekali hal yang harus kita tantang.

Ya begitulah. Dan itu, bukanlah hal yang menyebalkan sekalipun susah. Dibalik tantangan yang kita pilih, pasti kita bisa memperoleh sesuatu.

Orang yang tahu itu takkan berpikir  kalau tantangan adalah sesuatu yang berat.  Berharap pada diri sendiri yang bisa berkembang, dan menghadapi hal yang di hadapannya  dengan penuh harapan. Bagiku mereka terlihat menghadapi tantangan dengan perasaan seperti itu.

Jangan pernah gentar, jadilah penantang yang melebihi CHIBA.

Jangan lupa kalau dalam dunia kompetisi, mereka yang pantas jadi pemenanglah yang akan meraih kemenangan.

-Kutipan dialog  Tatsumi dari manga Giant Killing Vol. 26, Karya Tsujitomo dan Masaya Tsunamoto-

Takeshi Tatsumi
(Sumber: filosofiadosanimes.wordpress.com)

Mujix
beberapa nasihat
terkadang datang 
dari arah yang
tidak kau sangka-sangka.
Simo, 6 Oktober 2015


Senin, 05 Oktober 2015

Debu di ruang kerja.

Musim kemarau sudah berjalan beberapa bulan. Hal yang paling menyebalkan dari musim kemarau adalah panasnya. Entah sudah beberapa kali aku mengeluh tentang ‘betapa panasnya’ hari ini. Satu-satunya tempat dimana panasnya musim kemarau tidak terlalu hadir adalah berada di ruang kerja.

Aku cukup bersyukur memiliki ruang kerja yang memiliki jendela dan menghadap langsung ke kebun. Dua jendela dengan korden berwarna hijau itu menjadi penyelamatku akhir-akhir ini. Namun semua itu belum selesai. Keluhanku tentang panas memang sedikit berkurang, hanya saja muncul permasalahan baru yang enggak kalah merepotkannya. Permasalahan tersebut bernama debu.

Sudah menjadi hukum alam ketika kemudahan datang maka akan ada kesulitan lain yang menyertainya.  Butiran-butiran debu itu datang bersama angin yang menelusup jendela. Perlahan namun pasti ruang kerjaku menjadi kotor. Aku berpendapat, ruang kerja yang kotor merupakan lingkungan buruk untuk membuat karya.

Entah sejak kapan aku memiliki etos kerja yang tak lazim seperti itu. Sudah beberapa tahun ini aku selalu mengawali suatu pekerjaan dengan mengadakan bersih-bersih terlebih dahulu. Ruang kerjaku memang berantakan, namun tidak akan kubiarkan ruang kerjaku kotor.

Pagi ini ruang kerjaku sangat kotor. Debu-debu itu mulai menumpuk di meja gambar, buku-buku, keyboard dan di berbagai tempat lainnya. Baiklah. Saatnya bersih-bersih. Dahulu aku suka membawa kemonceng untuk membersihkan debu. Aku gebuk sana,  aku gebuk sini. Aku sentuh hatinya agar dia tidak lari lagi. Ternyata membersihkan debu dengan kemonceng tidak efektif. Debunya hanya berpindah tempat dan sekedar melompat-lompat saja. 

Aku harus memikirkan cara lain yang lebih baik. Berbekal ide dari kebiasaan membersihkan kaca jendela dengan kain serbet, aku akhirnya melakukan dengan cara yang serupa. Mulai beberapa bulan ini aku membersihkan debu dengan kain serbet.

Perlengkapannya sederhana. Air bersih, serbet, dua ember dan setumpuk semangat untuk membuat ruang kerja menjadi lebih bersih. Serbet aku celupkan ke ember air. Aku peras airnya, kemudian langsung aku lapkan ke meja gambar. Nah, para debu itu nempel tuh ke kain serbet, langsung saja peras dan dibersihkan di air yang lain. dua ember yang berbeda fungsi. 

Aku melakukan aktifitas itu berulang kali di tempat-tempat yang berbeda. Sistemnya hampir sama dengan mengepel lantai. Hanya saja kali ini menggunakan kain yang lebih kecil dengan porsi air yang lebih sedikit.

Aku membersihkan ruangan itu dari pagi hingga agak siang. Semua tempat hampir sudah aku bersihkan. Meja gambar, monitor computer, lemari buku, bahkan lantai tempat dimana kakiku ini sering melangkah. Sore ini ruangan kerjaku sudah lebih bersih. 

Aku juga mulai merapikan buku-buku yang numpuk di berbagai sudut.  Ruang kerja yang bersih sudah datang, saatnya dibikin berantakan lagi dengan karya-karya yang fenomenal.

Mujix
apa yang akan kamu lakukan
jika hari ini adalah
hari terakhir didalam hidupmu?

Simo, 5 Oktober 2015 

Minggu, 04 Oktober 2015

Work Hard Dream Big!

Mas Mujix yang sedang bekerja keras
dengan modal mimpi besar yang belum tercapai.
(Sumber: Dokumentasi pribadi)

Bekerja keras itu bekerja yang seperti apa? Saat aku masih kelas 1 SMA, definisi bekerja keras adalah suatu kegiatan dimana seseorang yang bekerja dari pagi sampai sore demi mendapatkan uang dengan bermandi keringat.

Iya harus mandi keringat, basah-basah sedikit mengkilat dengan nafas terengah-engah gitu.  Jadi, jenis-jenis profesi para ‘pekerja keras’ yang dekat dengan pemahamanku saat itu adalah tukang becak.  

Ketika dulu aku hobi bersepeda onthel ke Gladak buat nyari buku bekas, aku sering bertemu dengan bapak-bapak tua yang mengayuh becak dari Pasar Klewer entah menuju kemana. Terkadang aku takjub melihat seberapa mereka perkasa mengantarkan penumpang dengan bawaan yang sangat banyak. Bapak-bapak tua itu berkeringat dan terus menggenjot sambil berlalu melewatiku. Aku hanya tercenung. Bapak itu benar-benar bekerja keras.

Hari ini aku berumur 26 tahun, sebentar lagi menuju ke usia 27 tahun. Sudah satu dekade aku terus hidup dan belajar banyak hal semenjak saat itu. Pemahamanku tentang ‘bekerja keras’ sudah bergeser menjadi lebih rumit. Rumit dengan berbagai perbandingan baru tentang dunia kerja. Secara garis besar semua profesi yang tercipta di dunia ini bisa dibagi menjadi dua kubu.

Kubu pertama adalah profesi yang mengandalkan kekuatan fisik. bapak-bapak tua yang mengayuh becak dari Pasar Klewer insyallah termasuk kubu yang ini. Kecuali kalau ternyata Bapak-bapak tua itu CEO dari perusahaan kondang  yang refreshing sebagai tukang becak.

CEO perusahan kondang itu misalnya Mark Zuckerberg. Pencipta jejaring sosial bernama Facebook ini mempunyai pola kerja yang cukup mengerikan. 45 sampai 50 jam dihabiskannya untuk meningkatkan performa perusahaan. Bahkan durasi tersebut berlangsung hampir bertahun-tahun semenjak situs ini pertama kali berdiri di kampus Harvard.

45 sampai 50 jam dalam seminggu, dan minggu-minggu itu terus berulang hingga bertahun-tahun habis di depan meja komputer. Apakah menurutmu Mark Zuckerberg telah bekerja keras?

Oh. Tentu saja tidak. Bekerja di depan komputer itu bukan bekerja keras.  Berbasah-basah dengan kulit sedikit mengkilat dan nafas terengah-engah gara-gara kelelahan di depan computer, itu sangat jarang terjadi. Kecuali kalian ngerjain skripsi di warnet sempit yang tidak ada AC-nya pada siang hari, atau kecuali pemahaman kalian tentang bekerja keras sama pemahamanku saat SMP. Kalau itu sih aku percaya. CEO perusahan kondang ini ternyata salah satu kubu dari profesi yang mengandalkan kekuatan non fisik.

Bahasa gaul untuk ‘bekerja keras’ bagi kubu ini adalah S.M.A.R.T.
Apa itu S.M.A.R.T.? sebentar-sebentar. Aku buka catatan dulu.

S.M.A.R.T. merupakan singkatan dari lima istilah yang dijadikan pegangan para CEO perusahan kondang.  Orang-orang semacam Mark Zuckerberg, Bill Gates, Steve Jobs, dan semua sosok keren yang kamu tahu pasti memiliki banyak kemiripan dengan istilah ini.

S.M.A.R.T. adalah singkatan dari Specific, Measurable,  Attainable, Relevant, dan Timely.

Specific. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kejelasan dari target yang ingin dicapai. Semakin jelas dan detail suatu target maka akan semakin berpeluang bisa dilaksanakan. Sebagai contoh, target yang terlalu umum itu: ‘Aku ingin jadi orang sukses’, nah target yang cukup spesifik itu misalnya: ‘aku ingin jadi orang sukses dengan menjadi komikus professional dengan penghasilan sebulan 50 juta’.

Udah tau mau ngapain dan gimana.
Walaupun sebenarnya juga masih terlalu umum :p

Measurable atau dalam bahasa Indonesia artinya terukur. Nah, kalau targetnya udah jelas, baru deh kita main hitung-hitungan dengan logika. Jadi orang sukses dengan menjadi komikus professional dengan penghasilan sebulan 50 juta, mungkin gak sih? Untuk beberapa orang jawabannya sangat mungkin. Namun kemungkinan itu harus dibayar dengan harga yang pantas. Harga yang pantas itu berupa kerja keras dengan mencurahkan banyak waktu, tenaga, uang bahkan perasaan. 

Berapa lama dan berapa banyak target itu tercapai tergantung kualitas mental sang kreator untuk mencapai target yang Measurable tersebut.

Attainable. Bisa enggak target itu dicapai? Target memang bisa sebesar apapun. Namun target tersebut setidaknya dibuat dengan serealistis mungkin dengan mempertimbangkan banyak hal. Sebisa mungkin target tersebut bisa dicapai dengan langkah yang jelas.  Langkah yang jelas itu bisa dimulai dengan membuat komik.

Membuat komik aja dulu, yang banyak, sebulan satu buku udah keren banget tuh, syukur-syukur satu buku tersebut bagus dan best seller sampai cetak ulang 25 kali. Kalau sudah seperti itu, penghasilan sebulan 50 juta mah gampang.

Relevant. Target yang dibuat usahakan sesuai dan mampu untuk dilaksanakan. Nah. Ini nih yang biasanya jadi momok para pelaku yang suka ngarep hasil besar tapi dengan usaha kecil. Seorang komikus yang etos kerjanya buruk satu bulan bisa bikin satu chapter aja udah bagus banget. Percuma memiliki target yang bombastis tapi eksekusinya nol abis. Sesuai atau Relevant bisa diakali dengan menurunkan standar target atau menaikkan proses pengerjaan. Kalau memang pengerjaannya susah, jalan satu-satunya  tentu saja menurunkan espektasi. Okelah kalau 50 juta kayaknya mustahil, bisa deh diturunkan jadi 5 juta. 

Membuat komik aja dulu, yang banyak, sebulan dua buku. Enggak perlu best seller. DP royalti udah nyampe kok 5 juta. Sisa satu juta bisa buat traktir teman-teman yang bantuin.

Timely. Waktu yang digunakan harus sesuai dengan target yang dicapai. Sebuah target yang dicapai dengan terlalu lama akan mematikan waktu. Kebayangkan kalau kalian molor dan males-malesan. Semakin banyak molor semakin lama target tersebut akan terlaksana. Semakin males-malesan semakin jauh target yang bombastis itu akan tercapai. 5 poin diatas adalah hal-hal yang harus dijalani dari para kaum kubu profesi kekuatan non fisik.

Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari kedua jenis profesi ini.
Namun dari kedua kubu tersebut sebenarnya ada benang merah yang menghubungkan mereka.

Benar merah itu bernama Mimpi Besar.
Benang merah yang bernama mimpi besar itu akan berujung di sebuah simpul yang bernama kerja keras. Begitulah, kesimpulan postingan kali ini adalah mimpi yang besar hanya akan tercapai dengan kerja keras.

Dimanapun kubu kalian berada.
Selamat bekerja keras untuk mewujudkan mimpi besar kalian ya Gaes.

Mujix
Postingan ini aku kerjakan
dengan penuh kerja keras
sambil menahan kantu
yang sangat berat. Untung
saja mimpi besarku udah ketemu.
Simo, 4 Oktober 2015.