Jumat, 16 Agustus 2013

Antara Aku, Namamu, dan Bang Rhoma Irama

Mungkin malam ini aku kangen kamu. Atau mungkin enggak. Aku juga gak tahu harus gimana mendiskripsikannya. Tapi. Hari ini sudah dua kali aku mendesiskan namamu. Pertama kali, Nama belakangmu aku desiskan saat menguras bak mandi. Saat yang aneh. Aku sendiri juga merasa aneh. Ada hubungan apa coba, antara nama belakangmu dengan menguras bak mandi. Kedua, aku mengucapkan nama belakangmu ketika sedang menggoreng telur ceplok. Ini makin absurd. Oi, seseorang di sana, tolong pake rambut di kepalaku untuk menguras bak mandi.

Sepertinya jatah postingan ini hanya untuk membicarakan hal-hal yang sepele dan gak penting. Se-gak penting apa sih? Se-gak penting adegan ‘seorang cowok berambut kribo rela pergi kehalaman rumah sambil bawa laptop demi mendapatkan sinyal internet buat kirim email’.  Di saat-saat seperti itu aku sangat mahfum dengan prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’. Yah... gak seadil aku me-mahfum-i “kadang dunia gak adil” juga sih. Eh? Mahfum itu apa sih? Intinya, di desa guweh sinyalnya banyak. Tapi gak ada yang nyamber ke modem. Entah sinyalnya yang aneh, atau modemnya yang perlu dibanting. Adegan kerennya adalah aku berhasil mengirimkan email itu sambil kedinginan menggigil di halaman rumah pada jam 12 malam. Yes. Aku gak jadi me-mahfum-i prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’.

prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’ sempat menjadi momok Piscine Molitor Patel saat dia terjebak di tengah Samudra Pasifik di atas kapal sekoci bersama Richard Parker, seekor Harimau Bengala seberat 225 kilogram dan terjebak selama lebih 7 bulan. Kisah yang sangat awesome. Baru kali ini aku membaca novel bisa se-excited ini. Buku novel ini karangan Yann Martel.  Seorang penulis yang berasal dari Kanada. prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’ itu aneh, seperti perjalanan Piscine dalam menemukan Tuhan dan menemukan cara agar ia bisa diselamatkan. Yah, seaneh aku gak mood menyelesaikan postingan gak penting ini gara-gara teringat adegan ‘mendesiskan Nama belakangmu saat menguras bak mandi’. Hey kamu. Iya kamu, kamu tertawa dong, senyum juga gak papa, pasti seneng ya ketika kamu men-kepo blog ini dan tahu aku berbuat setolol itu. Nah gitu dong. Kamu manis kok kalo senyum.

Kalo yang meng-kepo aku seorang cowok atau bapak-bapak, tolong jangan tersenyum.

Jujur. Aku tidak terlalu suka dengan ‘senyuman lelaki’.
Apalagi ‘senyuman lelaki yang sudah bapak-bapak.’

Pokoknya novel itu bagus. Tak usah terlalu banyak diobrolin. Nanti bakal jadi postingan yang ‘penting’ dan gak membahas ‘hal-hal yang sepele’.

Hal sepele selanjutnya, di bibirku bagian bawah ada sariawan membentuk lubang ‘crop circle’ yang sangat lebar. Ada dua, dan semuanya besar. Selain besar, ‘crop circle’ itu membuat lebaran ini kacau. Jadi gak doyan makan. jadi gak doyan makan, padahal di meja makan ada benda-benda semacam Ketupat, Opor Ayam, Bakso Kuah, Es Buah, Kolak, Nastar, Hawug-Hawug, Rempeyek, Roti Monde berkeju yang aduhai, dan berbagai makanan laknat lainnya. Itu gak lucu. Aku sariawan, sementara banyak makanan yang bisa dimakan. Sial. Padu wae!!

Banyak orang bilang, sariawan disebabkan kekurangan vitamin C. Apa benar? Padahal pada saat tanda-tanda ‘crop circle’ yang biadab itu mau muncul, aku sudah ngemil Jeruk, Vitamin C tablet, dan YOU C 1000 tiga botol. Kurang apa coba?! Perlu aku ngemil kulkas sekalian gituh?! Dan kalian apakah tahu, penyebab lain sariawan kecuali kekurangan vitamin C. Penyebab ajib yang aku ketahui setelah googling -pake modem yang lemotnya mirip keong mau berak- adalah Stress.

Iya. Penyebab sariawan adalah stress.
Iya. Sama dengan judul lagunya Bang Rhoma Irama.
Iya, Yang ada liriknya ‘obatnya iman dan taqwa’ itu. Jreeeeng cuiiiiing #suaramelodigitar
Heran. aku gak kaget kalo stress bisa bikin stroke. Tapi ini Aku baru tahu kalo stress bisa menyebabkan sariawan.

Kaget bener. Bayangin coba.

Tiba-tiba ada temenmu datang sambil bawa skripsi yang belum kelar, terus pegang kepala sambil omong “skripsiku belum kelar broh, padahal masih harus ngerjain laporan magang dan ngejar pinsil komik buat komik penerbit, aku stress broh. Nanti kalo aku ‘SARIAWAN’ gimana??”

“Nanti kalo aku ‘SARIAWAN’ gimana??”

Gimana apanya broh? kalo sariawan gara stress ya diobatin broh. refreshing kek (oh iya, Ingatkan aku untuk besok bisa refreshing pake videoklipnya SNSD). Di obatin stressnya biar gak sariawan. Harus dimulai dari ngobatin sariawannya dulu. Takutnya nyebar ke otak menjad stroke seperti tetangga sebelah. 

di kampungku ada tetangga yang sakit stroke gara-gara stress mikirin duit buat pencalonan lurah. Lebih parah dari sekedar sariawan di bibirmu yang berbentuk lubang ‘crop circle’ yang sangat lebar. Semoga cepat sembuh ya om.

Sakitnya saat stroke atau sariawan gara-gara stress mungkin buat sebagian orang adalah sesuatu yang jauh dan tak terpikirkan. Itu adalah hal-hal yang sepele dan gak penting. Tak terpikirkan sampai kita mengalami sendiri.

Ya, apalagi mendesiskan nama seseorang saat menguras bak mandi atau menggoreng telur ceplok. Itu bukan gak penting lagi. Itu bego. Sebego seseorang yang sedang jatuh cinta dan ingin memporakporandakan dunia dengan perasaannya. Tapi bagiku mendesiskan nama dia itu sangat penting. 

Apalagi kalau nama yang kau desiskan itu adalah nama seseorang yang kamu cintai. Sialan. Kenapa malah jadi sok sentimentil gini sih.

Sentimentil adalah cara terdekat menuju tahap galau. Dan tahap galau adalah fase yang paling rentan terhadap stress. Dari pada sok sentimentil dan nanti berkubang di jurang prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’, lebih baik menuruti sarannya Bang Rhoma Irama untuk mencari ‘obat iman dan taqwa’. Agar tidak sariawan, stroke dan tertular penyakit ‘mendesiskan nama seseorang saat menguras bak mandi atau menggoreng telur ceplok’. Uoooh.


Mujix
fanspage udah, pinsil udah,
laporan magang sedang dikerjain,
bab 2 skripsi belum kepikiran, pacar
hilang entah kemana, makan malam baru mau mulai.
errrr apa lagi yah?
Simo, 16 Agustus 2013



Rabu, 07 Agustus 2013

30 %sesumbar sang Tukang Gambar

“Kalian tahu Men, Aku akan menikah diusia 25 tahun dan sukses sebagai tukang gambar!!”. Usia 25 tahun tinggal 2 bulan lagi dan aku hingga hari ini belum menjadi tukang gambar yang sukses.

***

Pagi ini kesadaranku belum pulih benar. masih tertinggal di kamar tidur. Kalian tahu,  menjalani hari dengan mata terkantuk-kantuk itu ternyata sangat menyebalkan. Aku kadangkala berpikiran buruk, sepertinya Tuhan dan alam semesa bersekongkol mengatur segalanya agar aku tertidur dalam kondisi apapun. Kondisi tertolol beberapa hari ini adalah, tertidur dengan posisi duduk sambil menggambar komik. Iya. Menggambar komik. Gak heboh gimana tuh.

Aheeem, Aku sudah lama tidak membuat postingan melalui laptop. Ternyata memang menyenangkan mengurai kata dan menyusunnya menjadi sebuah cerita keren melalui keyboard (setelah beberapa kali menulis pake hape yang fontnya kueeecil banget sampe stress gara-gara gak tahu dimana letak ‘titik’ dan ‘koma’ di Hape model Querti). besok sudah lebaran. Sangat cepat yhaaa. Dan beberapa bulan lagi aku berumur 25 tahun. Sebuah umur yang sakral untuk sesosok cowok kribo bernama Mujix.

10 tahun yang lalu ketika aku bersekolah di SMSR,  aku pernah sesumbar tentang usia 25 tahun. Sesumbar tentang kesuksesan dan pernikahan. sesumbar absurd yang hanya bisa direncanakan di masa lalu. Iya kan, manusia bisa merencanakan, Tuhan berhak menggagalkan. Kalimat  yang lebih halus, manusia bisa merencanakan, namun Tuhan berhak memberi yang lebih baik atau menundanya hingga manusia itu siap. Karirku sebagai tukang gambar bisa dibilang gak terlalu mentok juga sih. Beberapa kali mengerjakan proyek yang prestisius setidaknya membuatku yakin bahwa passion-ku memang berada di area ini. Area menggambar dan berpikir kreatif. Area dimana kamu bisa ngegalau seharian dan kadang harus sendirian. Kurasa hal tersebut hampir dialami teman-teman kreatif seantero jagat raya. Seperti hari ini. Aku tengah mengerjakan komik  yang rencananya di terbitkan oleh agensi cukup keren di Jakarta. 21 pinsil, 6 sketsa dan 3 ide yang belum clear. Aku mentargetkan pinsil dari komik  ini selesai sesudah lebaran. Horeee, semoga terselesaikan yhaa.

And then... apakah hidupku sudah sukses sebagai tukang gambar di usia 25 tahun? Sepertinya belum. Sikap bersantaiku masih saja menjadi momok yang harus aku manage agar bisa ditolerir oleh kesuksesan. Kisah sukses teman-temanku rata-rata mengacuhkan sikap santai dan terus giat bekerja keras. Kutekankan. Benar-benar bekerja keras. Aku berjanji untuk me-reset ulang semua targetku menjadi lebih spesifik. Salah satu upaya untuk men-spesifikan target tersebut adalah dengan memakai jam tangan. Iya. Memakai jam tangan.

Hasil obrolan dengan adikku di Bogor selama antar jamput saat magang adalah wanita atau pria yang memakai jam tangan kecakepannya bertambah 30%. Aku mau dong gantengku bertambah 30%. Jangan cuman galaunya yang nambah terus menerus. Kurasa sih gak masalah Andaikata galau bisa diternakkan, dibudidaya dan menghasilkan uang. 30% yang kumaksud sebenarnya adalah poin Attitude seseorang dalam menghargai waktu sebagai satu kesatuan alam semesta. Orang yang memakai jam tangan lebih bisa memandang waktu sebagai suatu kesadaran untuk terus bergerak dan menjalani hari ini dengan lebih teratur. Kalimat yang lebih kasar. Orang yang memakai jam tangan adalah orang yang diperbudak waktu. Diperbudak waktu agar kehidupan bisa menjadi lebih baik kurasa tidak terlalu buruk. Terlalu buruk itu di perbudak cinta sampai kehidupan yang harusnya lebih baik habis di telan waktu.

Diperbudak cinta? Oh men. Kenapa temanya random dan meloncat gak jelas gini sih? Okelah, karena ada kalimat ” Aku akan menikah diusia 25 tahun” sepertinya memang mau gak mau harus menyinggung masalah tentang cinta. Tentang cinta. kalimat "tentang cinta" akan aku casplock dan aku bold biar dramatis. TENTANG CINTA. Hoek.

Seberapa aku muak dengan cinta. Muak pake banget. Setidaknya sampai aku ngelarin komik cinta laknat bernama ‘Lemon tea’. Kenapa gak kelar-kelar sih?! Heran. kenapa yah? Apa gara-gara gak pernah dikerjain kali gitu?

Komik naudzubillah itu masih mandeg di bab 5. Judulnya sih keren. Across The Universe, pake judul lagunya The Beatles. Aku memang sudah merencanakan semua judul bab di komik lemon tea memakai judul lagu favorit. Bab ini memang paling ‘rewel’ dari semua bab sebelumnya. Selain kemunculan Arumania, adegan absurd di dunia batinnya Bung Kribo itu beberapa kali mengalami revisi. Sialan. Sudah 4 kali adegan itu mengalami perubahan storyboard, dan masih belum fix. Aku yakin bab ini akan jadi sangat keren ketika komik ini selesai. Komik lemontea aku kerjakan dari umur 23 hingga 24, dan kayaknya bakal sampai umur 25. Menyebalkan. Beberapa tahun hilang gak jelas dan hanya bisa terdeteksi oleh benda bernama komik lemon tea. percayalah, bab ini benar-benar akan menjadi sangat super duper keren.

Orang-orang di sekitarku mulai ribut tentang urusan nikah. Misalnya Bang Arum. Lelaki itu lebaran ini berencana menemui calon mertua berbekal sekaleng permen, jam tangan keren, dan sebungkus keripik Mak Icih untuk mempersiapkan rencana melamarnya akhir 2014. Keren. Doi sudah siap menjadi lelaki sejati dengan penuh kelaki-lakiannya. Si Angga Tantama malah sudah tunangan dan akan menikah tahun ini. Si Catur dan Si Amin juga bersiap menuju ke bahtera rumah tangga Agustus ini. Begitulah. Aku nggak akan curhat kenapa aku masih single (baca:jomblo) sampai sekarang. Apalagi cerita kenapa akhir-akhir ini aku menduakan Melody JKT48 dengan Raisa. Demi Tuhaaaan!!! Aku gak akan cerita pada kalian (sambil menggebrak meja ala Arya Wiguna).

Persoalan sesumbarku yang “Kalian tahu Men, Aku akan menikah diusia 25 tahun dan sukses sebagai tukang gambar!!”, kurasa aku hanya perlu mengganti angka “25” menjadi “26”, “28”, atau “30”. Aku akan masih tetap sesumbar. Kadang kala sesumbar diperlukan untuk memompa semangat dan mengingatkan kita akan pentingnya sebuah target. Sesederhana target kecil semacam “Aku mentargetkan pinsil dari komik  ini selesai sesudah lebaran” atau “aku akan mencoba mengajak doi ngedate minggu depan”. Ehem. Ganteng deh, Dan bertambah lebih dari 30%. Apalagi kalo pake jam tangan.


Mujix
terus? beneran mau bekerja keras
buat tahun ini? 
Simo, 07 Agustus 2013

Karawang

Ini cerita tentang seorang bocah di jaman dahulu. Dulu banget waktu dinosaurus masih hidup? Enggak juga sih. Lagian gak bisa ngebayangin ada seorang bocah di jaman dinosaurus. Jadi ceritanya gini, kita kembali ke masa lalu. Masa lalu di mana Pak Harto masih berjaya dengan program Pelita-nya di Indonesia. 

Karawang adalah kota yang tak terlalu jauh dari Jakarta, masih menjadi primadona tempat bermuaranya semua mimpi manusia perantauan di Indonesia. Di tempat itu program Pelita juga bergerak dengan sangat liar. Berbagai proyek bangunan berdiri kokoh menantang langit. Suami istri itu datang dari sebuah dusun kecil di pulau jawa nun jauh ditimur. Mereka nekat tetap bertahan disana dengan sebuah tekad sederhana bernama 'keinginan untuk bertahan hidup'. Sang suami bekerja buruh pabrik bangunan, sementara si istri membuka warung tegal sambil mengasuh seorang bocah berumur 2 tahunan. Hari itu adalah hari yang menyebalkan bagi mereka, sebabnya adalah Pengusiran warung yang sepihak oleh satpam bayaran. Satpam Bayaran dari pemilik warung lain. 

Malam hari di kota itu sangat menakjubkan. Deru mesin besar menggelegar seantero jagad raya. Sebagai tanda kecil tentang sebuah negara yang mencoba untuk stabil agar bisa berdiri pongah dan gagah. Kota menakjubkan untuk semua orang. Kota yang memperkerjakan manusia 24 jam hanya untuk benda bernama Program Pelita. Senja sore itu telah 6 jam berlalu. Sang suami belum pulang. sang istri cemas menunggu di kontrakan bersama seorang bocah dan 3 'anak pinjaman' dari tetangga sebelah untuk menemaninya agar timbul perasaan aman. Malam yang menakjubkan di kota ini juga menggoda orang-orang brengsek untuk mewujudkan impian tengik mereka. Seperti yang akan terjadi malam ini. 

"Brak!! Brak!! Krieeeet...." tedengar suara pintu di dobrak dan terbuka. Suasana mencekam. Sang istri terbangun kaget. akal sehatnya berkata, pria yang masuk itu bukanlah suaminya. rasa kalutnya atas perlakuan pengusiran sepihak beberapa hari yang lalu membuatnya menjadi seseorang yang paranoid. 

" jlek.. Jlek..jlek" langkah kaki terdengar berat menuju kearahnya. Si istri panik. Sesosok pria muncul tiba-tiba dari kegelapan. Wajahnya terlihat sangat merah di telan hitam yang mencekam. 

" Mbak?! aku pacarmu dulu lhoo!!!" pria itu menyeringai memecah malam yang belum selesai. Si istri berlari menghampiri anak-anaknya dengan sangat panik. 

"kenapa lari?!" pria itu berjalan pelan dengan langkah berat. Si istri berteriak histeris. Tangannya secara reflek mencubit lengan para anak-anak agar mereka bangun. 2 anak pinjaman itu sudah terlalu lelap untuk di bangunkan. Suasana semakin menggila. pria brengsek yang masuk dari kegelapan itu berjalan sempoyongan. Bergerak random ke arah si istri itu dengan tatapan nanar. Tak ada pilihan lain. 

Dicubitnya dengan sangat keras anak kandungnya yang masih 2 tahun tersebut. Tangisan si bocah membelah malam, kemudian dengan muka beringus bocah itu melompat ke arah pria brengsek dengan penuh amarah. 

" KAMU TU CAAPA!!! PELGI!!! PELGI!!! MAMAK SAMPAI TAKUT!!!! KAMU PASTI OLANG JAHAAAT.. HUWWAAAA". Pria itu terkejut. Bocah itu masih meracau tak karuan. Sejurus kemudian tetangga-tetangga terbangun dan muncul dengan penuh tanya. 

"DIA OLANG JAHAAAT. PELGII!!!" si bocah kembali berteriak sambil menangis. Pria brengsek itu panik dan segera berlari menghambur keluar sebelum di hakimi massa. begitulah. Malam itu si bocah mendadak jadi superhero melalui tangisannya. Pahlawan kecil di sebuah diorama besar bernama Indonesia yang banyak 'dinosaurus' berkeliaran memangsa rakyatnya melalui proyek negara yang ambisius. Hingga hari ini, kota tersebut masih menjadi 'idola' untuk banyak orang. Suami istri itu masih menjadi perantau di tanah impian. hampir dua dekade mereka berlalu sejak peristiwa itu. Banyak hal yang terjadi. 

Program 'Pembangunan Lima Tahun' dari 'sang predator' hanya tinggal nama, 10 tahun yang lalu era reformasi mencapai puncaknya. Berganti jaman yang lebih parah dari pada sekedar 'predator' dan 'orang brengsek'. Kota yang dulu menakjubkan sekonyong-konyong menjadi kota yang menyebalkan karena menjadi 'tempat sampah' dan 'pundi uang' berbagai negara maju melalui produk ekspor mereka. Sepasang suami istri itu hingga hari ini masih membuka warung di sebuah sudut kecil Kota Hujan. Walau tak ada pengusiran sepihak oleh satpam bayaran, sebagai gantinya Tuhan menciptakan tetangga-tetangga brengsek yang doyan menurunkan harga menunya dan meng-konfrontasi warung melalui persepsi publik. Si bocah beringus cengeng itu juga masih doyan 'berteriak' melalui banyak hal. Lewat tulisan di bloglah, curhat colongan dengan komik cintalah, hingga melalui lagu roman satir yang dia ciptakan di kala senggang. Kurasa kalian sudah bisa menebak siapa bocah itu. 

Mujix 
cerita heroik ini diceritakan 
Mamak dan Bapak saat 
Berbuka puasa kemarin malam 
Bogor, 29 Juli 2013

Foto Dinding

Seberantakan apa sih rumah kontrakan ortuku di Bogor? Jawabnya: berantakan pake 'banget' tapi gak pake 'dong deh'. Ruangan ini berukuran 3 x 5, ah, mungkin 6, atau 6,5. Mungkin lebih. Ah entahlah, Aku sangat payah jika harus berurusan dengan angka. Biru kusam adalah warna dinding yang menghiasi ruangan ini, di beberapa sudut terlihat sudah memutih karena terkelupas oleh waktu. Di sepanjang dinding-dinding biru kusam ini, bertengger banyak barang. benda-benda yang normal semacam kalender hingga benda-benda yang ajaib seperti kandang burung tergantung dengan sangat 'awesome' di ruangan ini. Seakan-akan ingin berbicara kepada semesta, bahwa ruangan ini hanya diciptakan untuk orang-orang sibuk. Selalu ada pergerakan yang dinamis di ruangan ini, Apalagi kalau pagi-pagi seperti ini, ibuku dan adikku menggila dengan semua bahan mentah semacam sawi, kacang panjang, tahu dan sebagainya untuk di masak sebagai menu warung untuk nanti sore. Padahal mereka masih harus menggoreng mendoan, menyiapkan es campur sebagai menu pelengkap warung untuk waktu berbuka nanti. Aku sudah bilang tentang 'menjual sayur mentah' dari pagi buta? Belum? Mereka sangat sibuk ya. Sesibuk itukah? benar, sesibuk itu. 

Mereka tak akan sesibuk itu jika tidak ada alasan yang kuat. setiap tindakan dibutuhkan motif. Motif atau tujuan biasanya disebabkan dari banyak keinginan dan harapan. Yah, tak jauh berbeda dengan alasan Friezza mengumpulkan Dragonball untuk menjadi makhluk paling kuat agar bisa menguasai dunia. Di ruangan ini tak ada Dragonball yang bisa mengabulkan permintaan untuk menjadikan seseorang menjadi makhluk terkuat. Di ruangan ini hanya ada foto dinding berwujud tempelan kolase berpigura biru. Sebuah benda sederhana yang bisa membuat keluargaku menjadi makhluk terkuat di alam semesta dalam menjalani hari ini. 


Foto dinding itu sangat aneh. Bagiku sebenarnya tak layak untuk di pajang. Coba aja bayangkan, ada banyak foto di situ. Ada foto pernikahan keponakan, ada pernikahan tetangga, ada pernikahan keponakannya tetangga, dan yang paling baru ada foto pernikahan kakakku bulan kemarin. Woy! Tunggu sebentar, isinya kok foto nikah semua sih!? Nyindir aku kali ya. Oke, kita bahas tema apapun yang berkaitan dengan foto pernikahan. 


Arti pernikahan Di kampungku bukan hanya ajang pesta dan seremoni peristiwa sahnya seseorang untuk berumah tangga (dan bikin anak. Horeeee). Pernikahan adalah ajang foto gratis dengan semua saudara dan kerabat keluarga secara lengkap ( Tentu saja peraturan 'foto gratis' tidak berlaku untuk yang punya hajatan). Terlebih untuk golongan perantauan seperti keluargaku. Pernikahan bisa dibilang 'adorable moment' untuk sekedar kangen-kangenan dengan anak-anaknya. Mereka berfoto bareng, minta beberapa lembar, kemudia di bawa ke tanah rantau sebagi jimat dan sumber energi. Keren ya. Apalagi kalo fotonya gratis. Jadi super keren gituh. 


Yah, selain foto-foto pernikahan yang bikin galau (time warp itu sudah berusia hampir 25 tahun tetapi belum ada tanda-tanda mau nikah. Gak galau gimana tuh), di foto dinding itu ada foto yang lain juga kok. Di sudut kiri bawah ada foto anak perempuan berkebaya memandang kosong ke arah kamera, dengan slogan meriah bertuliskan ' MEMPERINGATI HARI IBU KITA KARTINI'. Tunggu sebentar. Anak itu siapa!! Kenapa bisa anak bermuka pucat dan bengong bermata kosong itu nyasar ke sini!? Ada foto KTP bapak dan ibuku, mereka kompak berpose 'poker face' dan sama-sama bikin bengong (untung foto KTP-nya gak berpose chibi). Ada foto kakakku yang sok cool gitu, foto adikku yang mulutnya manyun miring 360 derajat, Hingga foto seorang cowok culun bernama'mujix saat semester 2. Byuuuhh yang terakhir menyeramkan yhaa. Itu adalah penanda jaman 'alay'ku, jaman di mana nama di jejaring sosialku masih 'Mujiyono yang selalu gembira'. Nama alay yang Bego! 


Ahh, alay pasti berlalu. Berlalu untuk berpacu melamar melody. Melody JKT48. Pfft. Eniwei suasana ruangan yang sangat sibuk itu berpusat di foto dinding. Sebuah benda yang kurasa menjadi pengingat tentang 'keluarga yang terpisah jauh' di tanah rantau. Pengingat untuk sekedar bekerja keras agar bisa bahagia. foto dinding yang bisa membuatku Sedikit naif dan munafik dalam memandang dunia. Ahh kepalaku sepertinya terbentur sesuatu. 



Mujix 

Ngetik catatan dari hape 
Kuerti itu ribet yhaa, 
Seribet memahami diri sendiri. 
Bogor, 28 Juli 2013