Sabtu, 30 Agustus 2014

Wisuda Yono

Hallo semua, iyees, postingan kali ini berjudul ‘Wisuda Yono’. Hah!! (sambil gedek), Yono siapa?!! (nanya bego), Wisuda!!?? Uooohhh!! (kemudian kayang). Yono itu nama panggilan sayangku (kalo anak alay bilangnya ‘4y444NgQuuuEh’) di lingkungan keluarga. Ehm, terus, apa lagi ya? Pokoknya gini, Jumat kemarin, tanggal 15 Agustus 2014, aku wisuda di kampus ISI Surakarta. 

Iyaah, aku lulus kuliah, lebih tepatnya ‘akhirnya terpaksa harus lulus’ karena sudah berjuta-juta semester bengong, idup dan guling-guling di kampus tersebut dengan liarnya. Kadang sering dikira kuda lumping! Sepertinya rektor, para dosen, senat, dan para pegawai udah ‘eneg’ dengan hawa keberadaanku di kampus tersebut. Menurut kabar burung, mereka semua akhirnya berkonspirasi dengan kejam untuk ‘menendangku’ dengan paksa, agar aku sampai di tahap ini. Tahap wisuda yang super duper keren ini. Sebentar, aku mau nyium ijazah sarjanaku dulu. Muaaaach!!

Postingan ini aku bikin dengan alasan ‘bahwa moment wisuda perlu diabadikan dengan sangat ganteng’, iyaah, aku enggak doyan kalo cara mengabadikan moment adalah dengan meng-upload 50 hingga 100 photo wisuda kayak teman-temenku yang lain. Cara yang kampungan!! Ndesoo cooy!!!
Kayak aku dong, dibikin curhatan gituh, terus di-upload di blog dan jangan lupa, curhatan itu harus di-tag ke 50 teman lainnya di Facebook.

Eh, apah? Perilaku ‘Nge-tag curhatan blog ke 50 teman di Facebook’ Itu juga embahnya kampungan bin ndeso? Ah sudahlah. Yuk kita simak curhatanku di postingan berjudul ‘Wisuda Yono’. Here we go!!

Aku dan nenek
 (Foto By. Wawan.2014)

 Nenekku sudah cukup tua, umurnya hampir 80 tahun. Ini adalah foto sebelum aku berangkat ke Solo untuk wisuda. Tiga hari sebelumnya aku berdebat kusir (enggak sambil naik delman lhoo yaaaa) dengan beliau. Aku ngotot buat ngajakin nenek ikutan wisuda, aku pengen beliau eksist!! Terus beliau bikin akun Twitter biar aku bisa ‘mensien‘ kalo aku punya ‘nenek gaul’.

Tapi apa mau dikata,  beliau menolak dan terus menolak. Sepertinya beliau enggan jadi seleb tweet, atau kalo enggak, beliau kapok kecapekan setelah beberapa kali diajak wisuda oleh keluarga dan kerabat.

Iya juga sih, aku maklum setelah peristiwa gladi bersih wisuda berlangsung. Diwisuda itu lama coy, dua jam lebih. Apabila aku seorang kakek berumur 80 tahun, sepertinya aku juga malas buat diajak wisuda sama cucuku kelak. Apalagi yang namanya nemenin wisuda itu cuman bengong, sambil nungguin dipoto-poto doang. Terus udah. Terus cuman dapet capeknya.

Ahahaha, karena aku cucu yang paling guanteng seantero ISI SOLO pengertian, akhirnya aku benar-benar mengalah. Aku kasihan melihat nenek capek, aku juga enggak rela kalo nenekku jadi seleb tweet duluan daripada cucunya ini.  Sebelum berpamitan buat wisuda ke Solo, aku menarik tangan nenekku kemudian merangkulnya sambil berkata “ Mbah, sini foto dulu, buat dokumentasi. Nanti di edit pake ‘potosop’ juga gak papa!!”. Senyum mbah, doain aku jadi seleb tweet ya!
Foto selfie dengan Nenek setelah 
prosesi wisuda yang melelahkan di Kota Solo.
 (Foto By. Mujix.2014)

Wawan. Ini adik guweh yang semata wayang. Cuman satu, rambutnya sama-sama kribo,terus suka dikira kembaran. Pokoknya random banget. Beberapa minggu ini doi menemaniku wira-wiri buat ngurus wisuda. Pakai motor pinjaman, lampu sein sebelah kanannya mati, kalo mau belok kanan harus melambaikan tangan. Melambaikan tangan ke kamera sambil bilang ‘sudah mas! Menyerah!’, kemudian Harry Panca muncul dari kegelapan sambil bilang ‘Jangan menyerah kawan!! Hidup itu harus diperjuangkan! Semangaaat!!’ #ParagrafGakJelas #Ehhh #ApaSih

Wawan sedang baca komik 'One Piece'.
 (Foto By. Joko Narimo.2014)

Kita berdua berboncengan dari Simo ke Solo. Gitu terus selama beberapa hari. Parahnya tuh kalo udah boncengan pengennya curhaaaaat mulu, kebanyakan sih cerita-cerita soal problematika hidup (tsaaaaah!!!). Karena aku tahu kalo dia sedang ngefans sama komik ‘One Piece’ karya Eichiro Oda, aku pinjamkan komik rental itu sebagai sesajen. Terus kuajak dia jalan-jalan di seantero buat hunting foto dan kuliner.
Foto-foto di Balekambang, Ngarsopuro, sampe di Bandara Adi Sumarmo sambil berharap dikecengin dedek-dedek cabe-cabean yang naik motor Mio, tau kan?

Wawan saat di Bandara Adi Sumarmo
 (Foto By. Mujix.2014)

Terus hunting kulinernya juga keren, kita makan Nasi Kucing, Tempe Goreng, sama minum Es Teh. Eh? Kalo menu yang entu enggak perlu hunting? Di Solo bejibun? Iya Toh? Pokoknya Wawan adalah penyelamat wisuda dan kehidupan perkuliahanku di Kampus ISI Surakarta. Jadi inget rutinitas saat magang di Bogor dulu. Pokoknya Lemah teles yo wan, Gusti Allah sing Mbales!

Mas Jack. Ini adalah kakakku yang paling awesome, nama kompletnya Joko Narimo, udah nikah punya anak satu dan istri satu. Jangan nanya aku soal mau nambah istri atau enggak. Mas Jack adalah asal muasal paling absolut penyebab aku bisa kuliah di ISI Surakarta. 
Mas Jack
 (Foto By. Wawan.2014)

Aku inget banget, dulu waktu lulus SMA, dia yang paling ngotot tentang keharusanku untuk kuliah. Dia bilang aku harus kuliah dan enggak usah mikir kerja dulu. Dia berpikir bahwa kuliah itu bukan persoalan ’segera lulus dan bisa dapat kerja’, tidak sesempit itu. Dia memberikan pemahaman kepada aku, Mamak dan Bapak bahwa lingkungan kampus sangat tepat untuk membuat pemikiran seseorang berkembang. Saat itu aku sangat culun, Disuruh kuliah, ya udah kuliah. Manut ajah. Hari ini jika aku mengingat peristiwa perdebatan itu, aku sangat setuju kalau pendapatnya benar.

Lingkungan perkuliahan itu sangat kejam. Kejam, membuatmu muak, hingga memaksamu untuk mengenal siapa musuhmu, siapa kawanmu, dan siapa dirimu sendiri.

Jika aku enggak kuliah mungkin aku enggak akan mengenal passion, komunitas film, komunitas komik, struktur tiga babak dalam membuat naskah, kerja keras seorang sutradara, komitmen untuk merampungkan kuliah dan tentu saja gregetnya wisuda. Foto diatas adalah  sosok kakakku yang paling awesome!
Beneran, kuliah itu bukan hanya persoalan ’segera lulus dan bisa dapat kerja’.

Mamak dan Bapak saat tersesat 
di Wisuda Fakultas Pertunjukan.
 (Foto By. Wawan.2014)

Tersesat. Ini adalah foto Mamak dan Bapak yang tersesat di upacara pelepasan wisuda di Fakultas Pertunjukan. Beberapa menit setelah upacara wisuda selesai, aku bingung mencari mereka berdua. Ngilang kemana sih!! Berlari-lari pake beskap dengan keris di punggung itu mungkin siksa neraka dunia nomer 5 setelah kehabisan uang makan saat akhir bulan. Beneran absurd. Kampretnya lagi bapak enggak bawa hape, terus hapenya mamak di telfon enggak nyambung (yang ternyata ketinggalan di rumah).

Aku enggak sempat foto-foto, langsung ngacir nyari mereka berdua. Muter-muter bego kayak kipas angin di kerumunan wisudawan. Kecapekan, duduk di trotoar sambil terengah-engah. Beberapa menit kemudian Mamak dan Bapak datang bersama Wawan. Adikku bilang ginih:

“Mas, mamak dan bapak tadi nyasar ke bangunan itu! Untung aja mereka duduknya di pinggir pintu. Jadi kelihatan deh dari luar”

What!! Nyasar ke Teater Besar!! Terus dengan santainya bapak nyeletuk kalau pertunjukan gamelan dan pidatonya sangat enak didengar. Usut punya usut, mamak dan bapak ternyata hanya ikut mengekor para rombongan orang tua. Aku maklum sih, namanya juga baru diwisuda pertama kali, untung aja ketemu. Aku cukup bersyukur mereka hanya tersesat ke Teater Besar, coba tersesat ke cintanya mantan. Kan syusyaaah nemuinnyaa!!! Ahihihihiiiii #CurhatColongan

Bu Citra, aku dan teman-teman Seni Murni.
 (Foto By. Wawan.2014)

Gerombolan Siberat. Ini adalah gerombolan pertama yang aku ajak foto-foto. Mukanya kriminal semua (kecuali yang perempuan pake jilbab biru), apalagi Mas-nya sebelah kanan berambut kribo yang pegang pundak saya, pengertian dong mas!! Rambut kribo itu enggak baik buat kesehatan! Boros shampo!! Kalo enggak pake conditioner suka nyangkut di sisir!! RAMBUT NYANGKUT DI SISIR ITU ENGGAK ENAK MEEEEN!!!! BAKAAAR PARA COWOK BERAMBUT KRIBOO!!! BAKAAAR!!!!

Mereka adalah para mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain jurusan Seni Murni. Sejak semester satu, trackrecord-ku dalam berteman di dalam satu jurusan sangat payah. Tahun-tahun sulit tersebut memaksaku untuk keluar dari zona nyaman, yaitu dengan berteman dengan mahasiswa lintas jurusan hingga lintas kampus. Butuh beberapa tahun untuk memahami bahwa kecenderungan, orientasi, dan fokusku dalam berteman ternyata sangat berbeda dengan para mahasiswa Televisi dan Film. Iyah, banyak hal terjadi apabila ngobrolin soal ‘pertemanan’ saat kuliah di Kampus ISI Surakarta. Kisah rumit namun sangat awesome itu aku gambar di komik ‘Lemon Tea’.
Foto wisuda Aku dan John Lenn... eh A'an Sasmitra.
 (Foto By. Wawan.2014)

Intinya sih, aku menyayangi teman-temanku di Televisi dan Film seperti teman-temanku yang lain. Eniwei walaupun mereka mukanya kriminal, tapi hati mereka murattal kok. Aku bangga memiliki teman-teman kampus seperti mereka. Mari berteman baik!!

Ketika Yayuk dan Mbokde Tutik dikeroyok Makanan.
 (Foto By. Wawan.2014)

Makanan. Termos ukuran besar itu berisi nasi putih, ayam goreng, mie goreng, dan sambel  tomat. Isinya banyak banget, itu masih belum termasuk beberapa plastik berisi camilan berupa kacang telur dan roti-rotian. Mamakku hari itu bangun jam tiga pagi untuk memasak semua makanan di dalam termos biru tersebut. Aku bangun pagi dan  tiba-tiba saja makanan itu sudah tertata rapi di meja dapur.

Sayangnya makanan di termos biru maupun di plastik itu  tidak habis dimakan dalam satu hari. Undangan wisuda yang aku terima bisa ditukarkan dengan enam boks konsumsi. Enam boks men!! Makanan di termos biru itu hanya berkurang  sedikit, enggak nyampe separuh. Ah,, jadi inget ketika Si Mbah rewel nyuruh bawa termos, gula, kopi, sama teh ketika akan berangkat wisuda. saat simbahku ngeyel buat bawa termos aku sempet mikir gini  "ini mau wisuda atau mau bikin Wedangan sih!!??"

Sepatu yang aneh.
 (Foto By. Wawan.2014)

Foto sepatu ini katanya diambil dadakan  oleh Wawan. Aku enggak tahu apa maksudnya, tapi hasilnya keren banget. Sepatu coklat di sebelah kiri adalah sepatu Wawan bermerk Airwalk, saat pertama kali dia tiba di rumah, hal yang dipamerin pertama kali adalah sepatu ini. Sepatu pantovel coklat tua di sebalah kanan atas adalah sepatunya Mas Jack. Bisa dikatakan sepatu ini adalah sepatu resmi pertama dan satu-satunya di keluarga kami. Sepatu hitam ,atau sepatu slop di sebelah kanan bawah adalah alas kakiku saat wisuda. 

Sepatu slop ini adalah pinjaman dari kerabat semalam sebelum acara wisuda berlangsung. Pinjaman dan sangat dadakan. Maaf kedisplinanku di dalam banyak hal benar-benar diuji saat mempersiapkan wisuda ini.
Namanya Yayuk, pemudi gaul yang doyan foto-foto ini adalah kerabat yang aku repoti saat meminjam beskap dan sepatu slop buat wisuda.

Yayuk dan Rektorat ISI Solo. kenapa
fotonya harus di Rektorat sih?
 (Foto By. Wawan.2014)

Janjian buat minjam beskapnya sih udah cukup lama, cuman ngambilnya aja yang super duper mendadak. Baju beskap itu ribet Men! Tanpa yayuk aku enggak bakal bisa memakai baju beskap dengan seganteng itu saat wisuda. Tengyu ya yuk ya yuuuuk...

Aku, Mas Jack, dan teman-teman Televisi angkatan 20**,
tenang aja, aku sensor angkatannya guys!!
 (Foto By. Wawan.2014)

Mereka adalah anak-anak prodi televisi dan film. Beberapa semester dibawahku yang menyempatkan datang untuk sekedar melihat kakak-kakak tingkat, teman-teman, dan adik-adik kelasnya yang diwisuda hari ini. Aku beberapa kali ke wisudanya orang lain, rasanya awesome. Berbahagia melihat orang lain bahagia adalah esensi dari datang ke wisudanya orang lain. Datang ke wisudanya orang lain keren, aku sepakat dengan pendapat tersebut.
Aku dan Regina
 (Foto By. Wawan.2014)

Regina juga berpendapat yang sama soal berbahagia. Ah.. wisuda itu pokoknya bahagia banget deh... sensasinya melebihi rasa bahagia saat melihat komik buatan kita nangkring di rak buku Gramedia, beneraaaan.

Mamak, Bapak, dan Cinta.
 (Foto By. Joko Narimo.2014)

Foto ini termasuk ‘best awesome moment of the day’, Bunga yang diberikan Regina itu akhirnya berpindah ke tangan bapakku. Adegan itu berlangsung sangat cepat. Tidak terkontrol, tak terpredikisi. Bapak yang orangnya super serius itu tiba-tiba meraih bunga tersebut dan menyerahkannya ke mamak dengan cengengesan. Kayaknya sih buat gaya-gayan gituh, tapi tetep aja kejadian itu membuat aku shock dan kaget, tiba-tiba aja suasananya jadi romantis bin absurd gituh. Udah tua aja mereka masih bisa berbuat semanis itu jadi kepikiran semanis apa kisah cinta mereka saat muda? hampir mau nangis gueh liat adegan ini :")

Mas Jack, Mbak Anna, Gantar dan Si Kuda Lumping..
 (Foto By.Wawan.2014)

Gantar Bumi Mayangkara. Nama jawa yang sangat aneh ini aku pakai menjadi nama karakter komik ‘The Proposal’. Iyaah, komik yang rencananya bakal dicetak lagih. Iyees, baru nyampe storyboard bab dua sih. Tertunda beberapa minggu gara-gara ngurusin kelengkapan wisuda. Bab dua sangat random, banyak humor-humor gak jelas yang membuat komik ini makin meriah. Tokoh utama di dalam komik ini adalah Gantar Bumi Mayangkara dan Wira Dimedja. Up date terbaru dari si Gantar, doi sekarang sedang pilek. Kasihan liatnya. Hidungnya meler terus, matanya merah sembab gara-gara kebanyakan nangis. Semoga cepat sembuh ya Dek.

Mbokde Tutik yang sedang makan Mie Goreng. 
Beneran Mie Goreng, bukan Rambutku coy!!!
 (Foto By. Wawan.2014)

Ibu-ibu paruh baya yang sedang makan mie goreng ini namanya Mbokdhe Tutik, iya makan mie goreng. Bukan makan rambutku. Catet. Mbokdhe Tutik menjadi pengingat bahwa hari saat diwisuda adalah hari yang sangat melelahkan. Lelah, capek, dan hilang fokus gara-gara belum sarapan bersatu padu membuatku amnesia beberapa menit. Dalam beberapa menit itu aku lupa siapa nama mbokdhe ku ini. Aku memanggilnya dua kali dengan nama yang salah. Pertama kali aku memanggilnya ‘Mbokdhe Jumirah’ dan yang kedua aku memanggilnya ‘Mbokdhe Uyeg’. kacaaaauuu. Terimakasih sudah mau ikut nemenin keluarga kami buat wisuda, Ngapunten yo dhee...
Sarjana Seni-ne dipikir karo salto ae Lee.
 (Foto By. Wawan.2014)

Sang Sarjana Seni. Kalo udah sarjana seni terus ngapain? Jadi sombong karena udah ada gelar dibelakang namanya gituh? Foto ini diambil hidden oleh Wawan. Aku memandangi emblem bermotif logo ISI Surakarta itu dengan tatapan nanar. Memandang setiap detailnya dan berpikir sangat  dalam. Detik itu aku teringat kutipan di buku Biografi ‘Steve Jobs’ karya Walter Isaacson.

Sarjana Masbuk, Masbuk ra popo
sing penting ngguanteng.
 (Foto By. Wawan.2014)

“Perjalanan Ini adalah hadiahnya”...
‘Perjalanan’-nya Men, bukan ‘tempat dimana tujuan’ perjalanan itu berakhir. Bukan ‘Wisuda’-nya Meen!! Tapi proses bagaimana wisuda itu terjadi. Proses men!!! proses!! Bagi beberapa orang, membicarakan proses itu sangat enggak penting. Sangat enggak penting banget malah. Kalian bisa mengerti apa yang aku maksud? Perjalanan untuk berada di tempat ini sangat terjal. Mengubah banyak hal, meninggalkan jejak disana-sini. Bertemu dengan berbagai banyak orang. Terluka, jatuh cinta, bahagia, bahkan tersenyum kecut karena beberapa kegagalan yang tak terlupakan.

Intine, Dadi sarjana seni kui biasa ae, rosone koyo nglamar bojo terus entuk respon positip soko mertuo. jarene sih ngono. 

Mujix,
buat yang penasaran,
Rambut kribonya aku iket, mau di sembunyiin enggak ada tempat,
alhasil nglewer gituh dibawah blangkon.
Simo, 30 Agustus 2014