Selasa, 31 Desember 2013

Gulai Daging

Suasana stasiun kereta hari ini sangat penuh, padahal waktu telah menunjukkan  jam 9 malam. detail mengenai 'waktu' itu bisa kuketahui secara pasti karena ada jam dinding bundar berwarna putih yang tertempel di tembok tak jauh dari loket penjualan tiket.  Suasana jam 9 malam ini rasanya terlalu aneh, karena langit masih sangat terang benderang. Kurasa hal tersebut  disebabkan oleh terlalu banyaknya lampu kota yang memantul dan akhirnya membiaskan cahaya tersebut di langit. Terserahlah, bukan sesuatu yang menarik untuk dibahas lebih mendetail..

Aku berjalan menyusuri peron stasiun. Sesekali aku melompati garis-garis tajam berwarna orange di samping rel. Menurut mitos para masinis, garis orange itu bisa terlihat dari ketinggian tertentu dan sudah ditampilkan dalam peta rel kereta api seluruh dunia. Keren ya.  Tak jauh dari garis-garis orange itu terdapat kursi berwarna hitam legam. Segera saja aku berjalan kearah kursi itu dan memutuskan untuk istirahat. Aku merasa hari ini adalah hari yang melelahkan.

Beberapa jam sebelumnya aku berada di kota sebelah. Panitia sebuah festival senirupa bergengsi mengundangku sebagai peserta dan sangat diharapkan untuk bisa hadir dalam serangkaian acaranya. Aku masih ingat bagaimana kagetnya wajah teman-temanku saat aku menghadiri acara tersebut. Mereka bahkan sampai berkata dengan ketus tentang aku yang akan sangat merepotkan apabila tidak datang menggunakan kereta. Saat ini aku memang makhluk paling merepotkan sedunia. Aku maklum. Alasanku pergi ke kota sebelah menggunakan keretapun juga untuk menepis pernyataan ‘merepotkan’ tersebut. aku bisa mengurusi hidupku sendiri kali ini, hal itu aku buktikan dengan pergi ke kota sebelah dengan menggunakan kereta. perkataan kalian yang ketus tentang 'aku yang akan sangat merepotkan' itu aku patahkan hari ini.

Dari tempat ini aku bisa memandang datang dan perginya kereta. Di salah satu kereta aku bahkan bisa melihat aktivitas penumpang, dikarenakan pintu dan jendelanya rusak. Di kereta yang lain para penumpang bergerombol di pintu masuk perpindahan antar gerbong. Manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial. Manusia sudah memiliki kodrat untuk selalu berkerumun dan bergerombol. Mereka terus berkerumun dan bergerombol untuk memaksakan hal-hal yang bersifat pribadi agar bisa menjadi manusia idealis. Tentu saja idealis menurut persepsi mereka sendiri. Kacau.

Manusia-manusia yang berkerumun di gerbong kereta itu mengingatkanku dengan hidupku yang juga berkerumun namun belum tertata rapi. Setidaknya tak tarlalu rapi seperti kursi umum di stasiun. Kursi berwarna hitam legam ini kurasa telah menjadi pemberhentian ratusan atau ribuan penumpang. Aku bisa memastikannya dari cat di pegangan tangannya yang mulai hilang dan berubah tekstur menjadi sangat halus. Terlalu halus dan membuatku terlena dan tidak memperhatikan sesosok bapak paruh baya yang telah duduk di sampingku.

Bapak itu menyapaku dengan ramah, mengingatkanku dengan karakter kakak keponakan yang tinggal di desa. Bapak itu mengenakan jaket hitam yang tebal. Dia terus mengendong tas rangsel besar di pangkuannya. Di tangan kirinya dia menggenggam tas plastik hitam dengan sedikit noda-noda kecoklatan seperti kuah gulai ayam.

Kami akhirnya terlibat di sebuah obrolan kecil. Bapak-bapak paruh baya itu bercerita tentang temannya yang tiba-tiba menjadi menghilang setelah menyantap gulai daging yang mereka temukan di sebuah bis.  Aku kaget, bagaimana mungkin dengan menyantap gulai daging seseorang bisa menjadi menghilang.

Cerita tersebut katanya dimulai pada suatu malam di terminal di ibukota. Bapak tersebut dan kawannya memiliki rencana untuk pulang kampung lebih awal. Rencana dadakan itu ternyata tidak berpihak dengan jadwal keberangkatan bis. Malangnya jadwal bis untuk mereka sudah habis. Sudah terlalu larut untuk menunggu bis yang lain beroperasi. Mereka akhirnya memutuskan pergi ke perbatasan kota untuk mencari bis yang lain. Tiga jam mereka menunggu bis dan tak ada yang datang. Mereka terus menunggu beberapa menit hingga mereka melihat dua lampu bersinar di kejauhan. Mereka segera menaiki bis tersebut tanpa memperhatikan keanehannya.

Bapak paruh baya itu menghentikan ceritanya sejenak. Dia menyulut rokok kreteknya dengan gemetar dan memandangku dengan tatapan ketakutan.

“Cerita seramnya baru dimulai sekarang Mas.” ujarnya dengan sedikit bergidik.

Bapak itu mulai berkisah kembali tentang kedatangan bis yang mereka tunggu. Bis itu menurutnya sangat aneh. Bapak itu sebenarnya sudah memiliki firasat buruk namun firasat itu ditepisnya dengan alasan untuk segera pulang ke kampung.

“Kami menemukan sebungkus gulai daging di dalam plastik htam dicantolkan dekat jendela.” Bapak itu berkata dengan lirih.

“Gulai ayam?!” kataku dengan wajah kaget.

“Gulai daging. Gak tahu gulai ayam atau gulai sapi.” bapak itu mendelik sewot. Sepertinya dia tidak suka ceritanya dipotong. Aku hanya tertawa kecil dan kembali mendengarkan kisahnya.

Perut mereka yang kelaparan sepertinya tergoda dengan ditemukannya gulai daging tersebut. Bapak tua itu bimbang. Makanan yang tidak diketahui asal usulnya tidak layak untuk dimakan. Apalagi untuk sebuah gulai daging di tengah malam dalam sebuah perjalanan panjang menuju kampung halaman. Bapak tua itu akhirnya memutuskan untuk menahan lapar sampai esok hari, atau setidaknya menunggu tukang asongan lewat.

Namun tidak dengan kawannya. Gulai daging itu rezeki. Dan rezeki itu tidak boleh ditolak.

Semenjak temannya memakan gulai itu berbagai keanehan terjadi. Dia mulai meracau tidak jelas mengenai banyak hal. Sesekali temannya itu mulai tertawa tanpa alasan.

“Mas, kawanku itu tiba-tiba saja bilang gini, kenapa kita harus beribadah kalau hanya untuk mendapatkan surga atau sekedar ingin memperoleh sesuatu yang kita inginkan?”  Kata bapak itu memeluk tas rangselnya semakin erat.

“Kawanku bilang bahwa gulai yang dia makan sebenarnya daging dari potongan tubuh dari Pangeran Diponegoro, dan dia merasa semua arwah dan leluhur Pangeran Diponegoro merasuk di tubuhnya.” Suasana hening sejenak.

Cerita ini semakin tidak masuk akal.

Bapak itu melanjutkan ceritanya tentang kejadian yang makin buruk dengan ulah temannya yang  tiba-tiba berjalan kesetanan menuju kursi sopir. Plastik hitam dengan sisa gulai itu dimuntahkannya ke muka sang sopir dan mengakibatkan bis berwarna hitam itu oleng ke pinggir jalan dan menubruk pohon besar. Terdengar benturan keras. Semuanya berteriak. Tak terlihat apapun.

“Semuanya berwarna putih mas, aku pingsan. Tersadar di rumah sakit dengan luka-luka ringan”. Bapak itu katanya ditemukan oleh penduduk setempat tergantung disalah satu dahan pohon. Para penduduk setempat dan para dokter di rumah sakit itu kaget tetika dia menanyakan perihal tentang temannya dan bis yang kecelakaan.

“Mas-mas dirumah sakit itu bilang, tak ada kecelakaan bis di tempat aku ditemukan” aku diam dan mendengarkan ceritanya dengan perasaan aneh. Bapak itu berkata bahwa tempat dia ditemukan merupakan pohon beringin yang dikeramatkan oleh penduduk setempat.

“Aku tidak perduli tentang pohon beringin yang dikeramatkan, yang aku pedulikan itu temanku Mas, temanku tiba-tiba hilang dan hanya meninggalkan plastik hitam ini ” ucap bapak itu sambil memperlihatkan tas plastik hitam yang terus dia genggam sejak kemarin malam. Perlahan air mata kesedihan bapak itu mulai mengalir. Aku bergegas memberinya teh hangat dan menenangkannya.

Siapapun akan menjadi sangat paranoid ketika mengalami hal tersebut. Bapak itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Dia sepertinya memilih pulang menggunakan kereta. Kami berpisah setelah kereta yang aku tunggu datang. Di sepanjang perjalanan aku terus memikirkan cerita absurd tersebut. Ternyata ada juga yang orang-orang yang mengalami kejadian misterius. 

Gulai daging itu rezeki, dan rezeki itu tidak boleh ditolak. Rezeki itu berasal dari Tuhan. Kesialan juga berasal dari Tuhan. Karena sama-sama dari Tuhan, rezeki dan kesialan itu tidak boleh ditolak.

Mujix 
tadi malam terlalu banyak mimpi yang aneh,
sepertinya harus segera beli jurnal deh.
Simo, 31 Desember 2013

Senin, 30 Desember 2013

Epic

Selamat pagi. Aku udah terdampar lagi di penghujung tahun yang awesome.  Sekarang tanggal 26 Desember 2013, sehari setelah hari natal dan beberapa hari lagi menuju tahun 2014. Oh iya selamat merayakan hari natal buat semua yang merayakannya. Aku fans beratnya Nabi Isa AS, pokoknya doi awesome banget.  Pagi ini kurasa pagi terkeren selama bulan Desember. Perlu kalian tahu, sejak dua mingguan yang lalu pagi hari isinya cuman mendung semua. Gak ada sunrise, adanya cuman mendung, mendung, mendung, dan mendung. Kalo gak mendung pasti hujan. Manusia-manusia di sekitarku ternyata payah. Kalau hujan dan mendung mengeluhkan dingin, dan aku inget beberapa bulan yang lalu, kalau cuaca panas dan terang benderang mereka mengeluhkan gerah. Rasah urip ae mas. 

Desember ini aku cukup sukses dalam belajar berpikiran positif. Berpikiran positif itu baik untuk tubuh dan mental, kalian coba deh. Kalo udah kecanduan, hidup tuh rasanya senaaaaang terus. Kerennya lagi aku bertemu dengan orang-orang yang membuatku tercerahkan. Kejadian-kejadian yang membukakan wawasanku tentang Tuhan.

Aku saat ini sedang membaca banyak buku. Salah satu buku favoritku bulan ini adalah bukunya Karen Amstrong, bukunya tebel banget. Buat ngelempar maling kayaknya juga bisa bikin pingsan. Kalo dilempar di selangkangan mungkin bisa menyebabkan impoten. Buku itu berjudul Masa Depan Tuhan. Profokativ banget. Pada awal bab buku ini menceritakan tentang tradisi melukis dinding gua dari suku lama, aku lupa nama sukunya. Dalam lukisan dinding itu terdapat ritual perburuan hewan yang bersinggungan dengan dewa-dewa. Satu persatu tradisi manusia dalam menerjemahkan Tuhan dijabarkan dengan sangat epic didalam buku ini. pembaca dituntun untuk berpetualang mengenal para Tuhan manusia dari satu bangsa ke bangsa yang lain dari satu benua ke benua yang lain dengan melintasi berbagai waktu. Kisah tentang Buddha, fenomena euforia disalibnya Nabi Isa, ditentangnya teori Coppernicus oleh pihak gereja, konsep Yudaisme hingga kisah terkumpulnya Al quran menjadi cerita-cerita bak dongeng yang menarik untuk disimak. Iya. Persepsi dan berbagai cara manusia mengenal Tuhan telah berjalan selama itu. Ah... buku yang keren, masih ada 200 halaman lagi yang harus aku baca.


Selain membaca buku aktivitas lainnya yang perlu diperhatikan adalah lemontea bab 5.  Storyboard buat bab ini aku gambar ulang semua. Satu persatu. Setelah teracuhkan gara-gara berbagai kesibukan akhirnya mulai minggu ini aku kerjakan lagi. Perubahannya sangat drastis, setidaknya adegan galaunya sudah aku kurangi dan aku ganti dengan masa lalu bocah tengil. Dark banget. Ada adegan Si Bocah Tengil nyaris tertabrak truk.  Di awal bab aku membuat prekual komik ‘Viva La Vida’, jadi ceritanya Pak Kipli dan Mbak Yani muak menjadi tokoh figuran di komik Lemontea. Mereka ngambek dan bertekad bikin duet maut untuk komik mereka sendiri. Komik duet maut mereka bisa dibaca sebentar lagi, beneran, kayanya sudah dicetak sama penerbitnya. Tapi gak tahu kapan nyampe toko buku. Di akhir bab ini aku memotong beberapa adegan dari Storyboard yang lama. 

Adegan munculnya Super Popok menjadi adegan klimaks akhir chapter ini. Super Popok siapa? Itu tuh karakter fiktif yang muncul di dunianya Bung Kribo. Super Popok muncul pertama kali di Bab 4 awal, cuman sekilas, dan kayaknya gak penting. Tapi jangan salah. Hehehe. Kurasa Popok yang sebenarnya bakal terbahak-bahak kalau membaca adegan Si Super Popok di komik lemon tea bab ini. eniwei Beberapa hari ini aku juga dipusingkan dengan cara untuk mengelola waktu. Kampret banget. Harus lebih tegas dan disiplin. 

Kabar yang lain Angga Tantama mau menikah akhir tahun ini. selamat yah. Soryy, aku sedang malas nulis. Tapi kalau udah komitmen buat nulis emang harus dipaksakan sih. Yah, kurasa segitu dulu. Selamat liburan akhir tahun. Tahun depan harus lebih sukses, bahagia, dan bisa belajar banyak hal lagi. 

Mujix
nulisnya kapan, nguploadnya kapan.
bodo teuing euy.
Simo, 30 Desember 2013

Minggu, 22 Desember 2013

Sepakbola

Halo, apa kabar buat para stalker maupun buat yang iseng-iseng gak sengaja main ke blog ini. ehem, kabarku sedang gawat, Keadaanku sama kritisnya dengan Tim Yamagata di komik Giant Killing Volume 20. Komik Jepang bertema Sport karya penulis Masaya Tsunamoto dan penggambar Tsujitomo ini telah menjadi pemenang Kodansha Manga Award ke 34,  dan telah memenangkan hatiku sebagai komik jepang bertema sepakbola paling favorit (setelah Lost Man). Di volume 20 ini, Masaya Tsunamoto dan Tsujitomo mengangkat cerita pertandingan Tim Yamagata melawan Tim East Tokyo United yang sangat sengit. Pertarungan tim sepak bola di Liga Jepang ini  mempertaruhkan stamina dan pikiran. Permainan adu otot dan otak bertebaran menghiasi banyak panel di berbagai halaman. Komik ini memang benar-benar untuk cowok dan maniak bola.

Ah… Cowok memang identik dengan sepakbola, bukan? Bahkan dulu sempat ada idiom seseorang cowok yang gak suka sepakbola bukanlah anak cowok, Yang terkena imbas dari idiom laknat itu adalah aku. Di jaman SD saat teman-teman bermain playstation Winning Eleven, aku malah sibuk bermain game Dragonball GT. Saat SMP  aku juga hanya ditempatkan sebagai pemain cadangan jika jam olahraga dan materinya sepakbola. Kalo gak cadangan biasanya ikutan bola kasti sama anak-anak cewek. Ah, benar-benar masa yang indah.  Aku memang gak pernah bisa suka bola.  Kecuali bola matanya Melody JKT 48. Eaaa. Keadaanku minggu-minggu ini memang sangat sibuk seperti pertandingan sepakbola di menit-menit terakhir. Beneran. Sibuknya minta ampun. Aku kayak bola yang ditendang kesana kemari sama alam semesta. Sedetik lalu masih di Solo nempel celana jeans di koper buat pameran, kemudian terpelanting sejauh 25 KM di daerah Simo buat ngelarin presentasi ujian Kerja Profesi sedetik kemudian mental sampai Jogja buat display koper untuk Festival Komik Fotocopy-nya Daging Tumbuh Award.

Badanku yang cuman satu dan kurus kering ini dioper kesana-kemari dan ditendang ke gawang. Ada yang Gol dan ada juga yang meleset ke pinggir lapangan. Selain urusan Koper dan Kerja Profesi, masih ada persoalan lay out kompilasi Komisi #5, atur skripsi bab 2, pergi kondangan, bikin komik sampel buat Pak Tofik dan Mas Fachmy, serta bonus hal-hal sepele semacam balikin komik ke Quantum. Huft. Capek banget. Disaat seperti ini nih biasanya aku kepengen bisa ilmunya Naruto.

Yaaah. Itu tuuh Kagebushin No Jutsu. Jurus dimana kita bisa meng-copy-paste tubuh menjadi seribu. Pokoknya agendaku kacau deh, Sama kacaunya dengan perseteruan adu otak antara Sakura dan Takeshi Tatsumi di komik Giant Killing Volume 20.

Pertandingan Tim Yamagata dan Tim East Tokyo United adalah sebuah pertandingan besar yang melibatkan dua pelatih hebat dengan latar belakang kehidupan yang berbeda. Pelatih Tim Yamagata bernama Sakura, seorang pelatih yang mendapatkan posisi tersebut dari kerja sambilan. Perannya diawali dari posisi terendah di suatu klub, serta dengan bekal tidak memiliki pengalaman sebagai pemain. Pelatih Tim Yamagata adalah pemikir sejati, walau payah sebagai pemain namun dia memiliki kekuatan konsentrasi menganalisa pertandingan sepakbola dari berbagai kejuaraan. Berbekal kejeniusannya dalam mengamati, Sakura bersama timnya berusaha untuk mengalahkan lawannya yang juga adalah tokoh utama dalam komik ini. Beberapa minggu ini juga banyak ‘pertandingan besar’ yang harus aku menangkan, atau setidaknya aku selesaikan.

Peristiwa-peristiwa itu terjadi satu persatu dan merongrong buku agendaku dengan sangat brutal. Misalnya peristiwa diundangnya Komisi Solo dalam ajang Festival Komik Fotocopy-nya Daging Tumbuh Award. Hari-hari menjelang festival berlangsung sangat mengerikan. Ada saat dimana aku pusing memikirkan bagaimana caranya agar koper yang menjadi materi pameran itu bisa terdesain dengan keren. Aku tahu iklim berkesenian jogja memang absurd, gak absurd gimana coba, masa mau pameran komik malah dikirimin koper. Anehnya Format materi pameran itu membuatku gak bisa tidur semaleman.  Itu kayak orang haus terus dikasih roti tawar. Keseleg bego!! 

Pertandingan lainnya adalah ujian Kerja Profesi, iya mata kuliah yang naudjubileh minjalik  ituh. Ujian itu terlaksana Setelah mengalami beberapa adegan semacam revisi laporan beberapa kali, nyariin dosen yang kadang hilang entah dimana rimbanya, galau cari buku referensi hingga bingung nyari almamater pinjeman kesana kemari. Semua konflik awesome diatas benar-benar sudah tertata dengan rapi oleh Sang Pembuat Takdir. Aku nyampe heran sendiri. Kok bisa ya serapi itu. Kurasa terselesaikannya Peristiwa-peristiwa besar itu tak lepas dari berkumpulnya orang-orang ‘terpilih’. Terpilih dan memiliki keterikatan dengan takdir yang kuat sama seperti terpilihnya pelatih  Tim East Tokyo United saat hampir bangkrut.

Manajer itu bernama Takeshi Tatsumi adalah mantan pemain muda berbakat yang ‘diculik’ dari luar negeri untuk memperbaiki Tim East Tokyo United. Bekas timnya dulu yang mulai kacau balau dengan prestasi yang terus merosot. Takeshi Tatsumi yang serampangan dan ogah-ogahan ini akhirnya mau mengelola Tim yang payah tersebut dengan syarat ‘ikuti aturanku dan jangan protes’. Ternyata syarat dari Takeshi tersebut sangat aneh dan tidak wajar untuk sebuah tim sepakbola di manapun. syarat ‘ikuti aturanku dan jangan protes’ membuat Tim East Tokyo United kelabakan dan makin berkonflik.  Yah, sepertinya semua orang berpikiran Tim ini bakal tamat dan turun hingga devisi paling rendah. Yah, semua orang. Kecuali Takeshi Tatsumi.

Ahem, ternyata bukan hanya Takeshi saja yang menerapkan aturan syarat ‘ikuti aturanku dan jangan protes’. Tuhanku akhir-akhir ini juga gitu. Suka ngasih ketentuan yang benar-benar gak bisa diprotes dan hanya bisa dijalani. Kalian nanya seperti apa? Misalnya seperti ini nih. Hujan datang tiba-tiba datang Ketika aku sudah prepare semua hal untuk mendisplay pameran di Jogja. Aku masih di Simo. Terpaksa nganggur sampai agak sore. Tentu saja Bis Sudah habis. Masih hujan deras, Aku kemudian nekat pergi ke perbatasan desa hanya untuk mendapatkan tumpangan. Sesegera mungkin  agar aku bisa ke Stasiun Balapan Solo kemudian berpindah kereta dan langsung ke TBY.

Namun hujan terus saja turun, hingga jam 4 sore, dan tak ada satu bis atau mobilpun yang sudi memberikan tumpangan. Aku hampir putus asa. Bayanganku untuk bisa berpameran dalam event Festival Komik Fotocopy-nya Daging Tumbuh Award bakal gagal total. Namun, aku mencoba untuk tidak terlalu sedih. Hanya sedikit mengumpat dalam hati. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Aturan Tuhan tentang ‘ikuti aturanku dan jangan protes’ itu mengantarkanku bertemu dengan kakak ponakan yang tiba-tiba berbaik hati mengantarkan ke Simo, kemudian mendapatkan jadwal bis yang terakhir, kereta kearah jogja yang terakhir, dan jreng-jreng-jreng takdir mengantarkanku ke sebuah cerita yang lain dan keren.

Sepanjang komik Giant Killing terbit dari volume 1 sampai 20 hampir tak ditemukan perubahan tema yang signifikan. Pokoknya hanya bola, pertandingan bola, dan pelatih tim sepak bola. Sangat melelahkan. Beneran, volume 20 ini juga sangat melalahkan. Kurasa pertandingan antara Tim Yamagata dan Tim East Tokyo United sudah berjalan 3 volume. Membaca volume yang melelahkan ini seakan-akan menjadi simbol kehidupanku beberapa minggu ini dalam menghadapi berbagai macam kegiatan yang ‘awesome’ gituh. 

Baiklah mari kita mengabsen beberapa kegiatan yang membuatku berani menganalogikan hidupku dengan kisah komik Giant Killing Volume 20. Hidup guweh juga gituh. Sepanjang aku hidup dari umur 0 sampai 25 tahun hampir tak ditemukan perubahan tema yang signifikan. Aku masih menjadi cowok ganteng berambut keriting. Kayaknya tahun depan perlu rebonding gitu kali ya, biar ada perubahan tema yang signifikan. Eh omong-omong signifikan itu apa sih? Yah walaupun keadaanku minggu-minggu ini memang sangat sibuk seperti pertandingan sepakbola di tahap menit-menit terakhir, tapi aku maklum kok. Walau ditendang kesana-kemari semuanya terbayarkan pada waktunya. Ada yang gol dan ada juga  yang gagal total.

Salah satu list yang gagal adalah Layout kompilasi komik #5, gara-gara kabar ujian magang yang mendadak, acara lounching komik itu terpaksa aku gagalkan. Gak mungkin banget dalam satu hari aku harus wira-wiri dari Simo ke Jogja kemudian nyangkut bentar ke Solo buat Ujian Kerja Profesi dan lounching komik. Pengaturan skripsi bab 2 cukup terselesaikan, aku sudah memberikannya pada pak dosen pembimbing. Enggak tahu bakal dibantai kayak apa. Mungkin bakal dijadikan rendang ala masakan Padang. Hu’um, yang enyak ituh. Pfft. Akhir dari acara pergi kondangan juga sangat absurd. Aku segera ngacir ketika tahu Sanasuke datang di acara itu. Humor banget. Oh iya, rambutnya Sanasuke sekarang panjang lhoooh. Kok malah jadi ngobrolin Sanasuke sih?

Lanjut ke topik selanjutnya. bikin komik sampel buat Pak Tofik berakhir dengan ganteng. Judul komiknya ‘Bobilicious’ gitu, total ada 4 lembaran. Terserah sampel itu mau diapain, sempet keliru ngasih judul dengan nama ‘booblicious’ yang apabila diartikan secara bego adalah ‘buah dada yang enak’ what the frog??!! 

Sampel komik buat Mas Fachmy udah aku pikirin. Tapi belum aku gambar. Itu sama juga bohong yaaa?! Enggak papa deh, tapi nanti yang jadi tokoh utamanya adalah Popok. Iyah, yang jadi gebetannya si Mujix dalam komik Lemon Tea itu tuuuh. Iya. Komik yang gak kelar-kelar dari jaman purba ntuuuuuh.  serta bonus hal-hal sepele semacam balikin komik ke Quantum. Dan ternyata eh ternyata, list ‘balikin komik ke Quantum’ gak berakhir dengan sepele. Komik yang aku pinjam kehujanan dengan sukses. Basah-basah dan hampir hancur. Sempet bingung juga. Setelah dipanasin di atas Magic Jar dan dijemur di atas genteng, akhirnya komik itu kering juga. Kering dengan keadaan yang mengenaskan. Walau terdenda 6.000 Rupiah untungnya pihak rental masih mau menerima komik tersebut. Yeeeey!!!

Yah, setidaknya dari peristiwa itu aku belajar untuk tidak menyepelekan sesuatu. Tuh kan, ilmu dari alam semesta tuh bekerja dengan sangat dinamis dan berkelas. Koper itu terselesaikan juga berkat bantuan Bang Arum dan Mas Feri. Tengyuuu dude. Kalian yo’i banget. Kegalauan selama mengdekorasi koper dan pontang-panting nyari kendaraan umum buat nyampe ke Jogja berakhir dengan kebanggaanku bisa berdiri di acara pembukaan pembukaan pameran Festival Komik Fotocopy-nya Daging Tumbuh Award. Keren banget. Apalagi acara itu adalah bagian Biennal yang kata kakakku ‘bergengsi banget’.


Oh iya ujiannya Kerja Profesinya seru banget. aku belajar banyak. Setidaknya aku jadi tahu jika pengujimu adalah dosen cewek semua maka ujian tersebut akan berlangsung dengan santai dan penuh humor. Halah.. Aku belajar banyak tentang materi dan beberapa format presentasi yang keren. Overall semuanya berlangsung dengan sangat lancar, kecuali balada ruang ujian yang ternyata gak ada fasilitas yang komplet. Terutama computer. Tengyu juga buat dek Joko Kalila yang udah bantuin guweh dalam ujian yang awkward itu. Kalo gak ada kamu mungkin guweh gak akan seganteng ini sekarang. pokoknya ujian Kerja Profesi ini juga berakhir dengan baik, eh, direvisi dengan sadis itu berakhir dengan baik gak sih? Aku sih menganggapnya baik. 

Karena berbaik sangka tentang sesuatu yang baik akan berbuah sesuatu yang juga baik. Cieeeh, sesuatu banget yah kutipanku di akhir paragraph ini. 

Nah, sekarang aku cukup pantaskan untuk sekedar menganalogikan hidupku dengan kisah komik Giant Killing Volume 20. Gak usah heran, hari-hariku terkadang memang serumit dan sedinamis permainan sepakbola. 


Mujix
adzan subuh itu
romantis banget yah
Simo, 22 Desember 2013