Selasa, 30 Juni 2015

Draft SMS di hari Rabu

Malam itu tepat jam 11.11 pm saat aku beranjak dari sofa berwarna coklat di ruang tamu. Di kejauhan terdengar suara tadarus yang terus berkumandang menandakan bahwa aku masih terjebak di bulan Ramadhan. Kalau boleh jujur, aku cukup merindukan atmosfer seperti ini. Alasan berpindah tempat dari sofa di ruang tamu menuju ruang kerja kali ini sebenarnya cukup sepele. Aku sepertinya harus menulis tentang ‘draft sms’ yang hingga hari ini belum terhapus

Draft sms yang kuketik sejak tanggal… 
Tunggu sebentar… Tanggalnya mana nih?
Kok enggak ada?

Kampret. Anggap saja tanggal tersebut tidak terlalu penting untuk dituliskan di postingan ini. Kembali ke topik draft sms. Bukan ke Topik Savalas, maupun Topik Hidayat. Ciyeee buat yang mau nge-lucu tapi enggak lucu.

Draft sms tersebut  kira-kira tertulis seperti ini:
“Dibikin tokoh komik sama seseorang itu kayak dibikinin lagu cinta sama pacar. Gregetnya bakalan nongol kalau sudah selesai :j”

Catatan aneh itu muncul secara tiba-tiba beberapa bulan yang lalu. Catatan aneh itu terketik secara tiba-tiba setelah aku terbangun dari sebuah mimpi yang aneh. Semacam lucid dream. Sejenis mimpi dimana kamu bisa mengingatnya dengan sangat jelas. Aku mohon jangan tanya tanggal ya. Intinya beberapa bulan yang lalu. 

Beberapa bulan yang lalu itu mungkin saat heboh berita ‘Syahrini membelikan rumah untuk Soni Wakwaw’, atau kalau enggak ketika ramai gossip ‘perseteruan Daus Mini dengan mantan istriya yang kini sudah cerai’. 

Tunggu sebentar, perasaan berita-berita itu enggak heboh-heboh amat deh. Ah, pokoknya aku hanya ingin memberi informasi bahwa draft sms ini sudah terketik cukup lama di masa lalu.

Di masa lalu. Masa dimana aku mulai mengerjakan bab 3 dari komik ‘Proposal Untuk Presiden’. Masa dimana aku sedikit kebingungan menjawab pertanyaan dari ‘dia’ tentang alasan ‘kenapa aku mengambil sosok dia inspirasi untuk karakter utama’. 

Yeah, ini cerita tentang dia. 
‘Dia’ yang lain, bukan ‘dia’ yang sering aku curhatkan di blog ini. Ini cerita tentang ‘dia’ yang mengajariku bahwa setiap pertemuan memiliki kisah yang bisa diceritakan kepada orang lain. Baiklah, mari kita kembali ke masa lalu sejenak. Masa lalu dimana aku mulai mengerjakan bab 3 dari komik ‘Proposal Untuk Presiden’.

***  

Ini adalah di masa lalu. 
Masa dimana aku mulai mengerjakan bab 3 dari komik ‘Proposal Untuk Presiden’. Petang itu aku berada di wedangan di daerah Kerten. Aku dan teman-teman kontrakan biasa menyebutnya ‘Wedangan Bu Gendut’.

Wedangan itu seperti wedangan umumnya di Kota Solo. Sebuah gerobak angkringan ditutupi terpal berwarna merah dengan lampu bohlam berwarna coklat kemerah-merahan. 

Lampu bohlam itu memang tidak terlalu terang, namun sudah lebih dari cukup untuk sekedar memperlihatkan apa saja benda-benda atau makanan yang berada di wedangan itu. Kursi kayu agak panjang berwarna coklat itu sepertinya sudah tertempel permanen dengan suasana petang yang beranjak hitam kelam. Duduk di kursi itu dengan setengah sadar, memandang layar handphone yang terang benderang, ditemani secuil perasaan aneh bergelayut didalam hati. 
Ajegile, hidupku petang itu benar-benar hidup.

Petang itu aku hanya memesan teh panas. Aku tidak sedang berselera makan nasi kucing, nasi kucing yang isinya telur dadar. Nah, aneh kan, masa nasi kucing isinya telur dadar.  Nasi kucing umumnya di kota solo, biasanya isinya tuh cuilan bandeng, cuilan teri, atau kalau enggak cuilan perasaan cinta yang tertinggal di hati mbak mantan.

Aku hanya ingin sendirian dan memikirkan pesan balasan apa yang aku harus kirim untuknya. Suasana petang itu tidak terlalu ramai, hanya ada Bu Gendut dan suaminya yang hilir mudik mengantarkan pesanan. Wardrobe resmi Bu Gendut di wedangan itu sepertinya sudah pakem sejak dulu kala. Bu Gendut selalu memakai baju merah bercorak bunga dan rok berwarna coklat. Dipadu dengan make up-nya yang super duper tebal, makin gahar dengan lipstick merah darah dibibirnya yang cukup tebal. Ini mau jualan wedangan atau kondangan nikah sih?

Teh panas pesananku sudah datang. Bu Gendut mengantarkan minuman favoritku sambil memberikan lip service formalitas kepada pembeli.

“Lhooh, Mas koncone kok gak di ajak mangan kene?” 
Bu Gendut bertanya sambil meletakkan teh panas di hadapanku. Dasar, kenapa teman-teman kontrakan malah menjulukinya ‘Bu Gendut’ sih? Padahal bagiku yang paling menonjol dari ibu itu adalah alisnya yang ditato berwarna biru tua dengan bentuk lancip. Harusnya mereka menjulukinya ‘Bu Tato Alis Lancip Warna Biru’. 

Apa? Terlalu panjang dan aneh?  
Kalo dipikir-pikir, iya juga sih.

Koncoku do pulang kampung bu.” Aku menjawab sekenanya.  
Aku tidak mungkin bilang kalau teman-temanku tidak datang ke wedangan itu gara-gara porsi nasinya yang sedikit. Mereka lebih memilih makan di warung di dekat masjid karena porsinya yang lebih banyak dengan harga murah. 
Yes, kebohonganku yang entah keberapa untuk hari itu.

Entah sejak kapan aku benar-benar mulai lihai dalam berbohong. Dan detik itu aku benar-benar tengah pusing memikirkan kebohongan apa untuk membalas pesan singkatnya. 

Bunyi pesan singkat itu sebenarnya simple:
“Mas, kenapa sih kamu menjadikan aku sebagai karakter utama di buku komikmu?”

Jawaban jujurnya sebenarnya juga simple, di otakku ada suara teriakan “Itu karena aku naksir kamu, Bego”. Sudah bisa ditebak, dan seperti kisah-kisah sebelumnya, aku tidak punya nyali untuk mengetik teriakkan itu menjadi sms. 

Sepertinya aku benar-benar menjadi pria dewasa. Pria dewasa yang pengecut. Berbeda sekali dengan saat-saat aku muda dulu, dimana ‘menyatakan perasaan’ semudah membeli kacang kulit di Alfamaret.

Aku menghela nafas panjang, memalingkan pandanganku ke jalan raya yang masih cukup terang benderang. Berharap kilaunya dapat memberikan kebohongan yang sederhana untuk memperjelas keadaanku sekarang.

Apa benar aku naksir dia? Jangan-jangan cuman penasaran doang? atau mungkin sebenarnya aku enggak punya rasa apa-apa sama dia, terus sok-sok-an 'punya rasa' biar aku bisa bersemangat karena memiliki ‘alasan yang sentimentil’ untuk mengerjakan komik itu. 

Rumit.
Awal semua ceritaku dan dia, kalau dipikir-pikir lagi dimulai pada tahun 2010. Satu tahun setelah masa-masa paling rumit dalam hidupku. Berarti saat itu aku berusia 22 tahun. 

Waktu dimana aku berusaha move on dari banyak hal.

***

Hari itu hari rabu di tahun 2010, aku masih mencoba move on dari banyak hal. Aku memutuskan untuk menyerah terhadap Sanasuke, aku memutuskan untuk berhenti berharap terhadap Popok, dan aku memutuskan untuk mengulang mata kuliah Agama Islam.

Agama Islam adalah matakuliah abadi bagiku. Tahun itu aku terpaksa harus mengulang mata kuliah tersebut dikarenakan 2 tahun kemarin tidak lulus gara-gara kecelakaan. Bah, kecelakaan yang membuatku mengerti bahwa mengendarai sepeda motor itu harus berhati-hati. 

Btw aku tidak mengendarai sepeda motor, aku membonceng orang yang bahwa mengendarai sepeda motor. Nah itu kampretnya, supirnya yang meleng, aku yang jadi korban. Kakiku sukses nyungsep dan hampir tergilas ban mobil Avanza berwarna hitam. 

Hingga hari ini hatiku suka miris kalau liat mobil Avanza berwarna hitam. Miris. Semiris datang ke kondangan nikahannya mbak mantan.

Sedangkan tahun kemarin aku tidak lulus mata kuliah Agama Islam gara-gara galau sepeda kesayanganku hilang dicolong maling. Gituh.

Jadi, ini sudah ketiga kalinya aku mengambil mata kuliah Agama Islam. 
Ketiga kalinya sodara-sodara!

Aku memandang kertas berwarna coklat yang para mahasiswa di ISI Surakarta menyebutnya ‘KRS’. Kartu Rencana Studi. Kalau cuman berencana terus kapan studinya? Hari ini adalah jadwal kuliah pertamaku sebagai mahasiswa semester 8, dengan mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang seyogyanya diluluskan di semester 1. 

Jadi, mulai hari itu 'sang mahasiswa semester 8' bakal sering bercengkrama dengan mahasiswa semester 1.  Saat itu aku benar-benar mempertanyakan keadilan hidup.

Langit pagi itu cerah, angin berhembus kencang dan mengakibatkan daun-daun kering itu berguguran. Musim kemarau terkadang menjadi musim favorit. Aku berjalan pelan menuju gedung F dengan muka masam. 

Bah sepanjang tahun sejak aku menjadi mahasiswa tingkat akhir, mukaku memang selalu masam. Apalagi jika melihat sisa SKS yang belum aku tempuh di kartu KRS. Makin asem, tinggal bawa buah-buahan sama garam, tinggal diulek semua sama ni muka. Jadi deh rujak buah rasa muka masam mahasiswa semester lama.

Hampir semua mahasiswa baru sudah masuk di ruangan nan pengap tersebut. Walau pengap, ruangan itu sangat ngangenin. Apalagi jika kamu adalah mahasiswa lama yang jarang kuliah di kampus. 

Ruangan itu cukup lebar dan luas. Ukurannya agak lupa. Hal yang paling aku ingat dari ruangan tersebut adalah jendela-jendela kacanya yang dicat warna abu kekuning-kuningan dengan tanda silang cat putih. Sebuah papan tulis berwarna putih kusam  berdiri dengan gagah di samping meja dosen. 

Seperti biasa, aku selalu mengambil tempat duduk paling belakang. Meletakkan tas Consina-ku di kursi perkuliahan dengan mencatolkannya pada  kayu tempat punggungku bersandar. Aku memandang sekeliling dengan tatapan kosong. 

Gila, Aku tidak mengenal satupun mahasiswa di ruangan itu.

Aku saat itu adalah aku yang malas untuk melakukan apapun. Bahkan perkuliahan mata kuliah Agama Islam itu pun aku enggak yakin bakal bisa lulus atau enggak. Aku bahkan sudah memikirkan suasana perkuliahan mata kuliah Agama Islam pada tahun berikutnya. 

Sialan. Aku harus benar-benar meluruskan pemikiran burukku ini. 

Aku harus menemukan alasan agar aku bisa terus rajin kuliah mata kuliah Agama Islam. Sebuah alasan yang bisa membuatku bersemangat untuk pergi ke kampus.

Baiklah aku akan mencoba jatuh cinta dengan salah satu mahasiswi di ruangan ini.

Yak! Sudah kuputuskan. Aku akan jatuh cinta dengan perempuan berambut pendek itu. Dia manis, kelihatannya cerewet dan bersemangat. Kurasa sosok itu sudah lebih dari cukup untuk kujadikan alasan agar aku bisa terus menerus ke kampus untuk meluluskan mata kuliah Agama Islam yang terus tertunda. 

Sebuah alasan yang konyol.

Begitulah pertemuanku dengan dia terjadi begitu saja. Kukatakan sekali lagi, Aku akan jatuh cinta dengan perempuan berambut pendek itu. Semenjak saat itu aku menamai ‘perempuan berambut pendek’ itu dengan sebutan ‘Rabu’. 

Kenapa? 
Mungkin karena aku selalu jatuh cinta padanya di setiap hari Rabu. 

Jatuh cinta fiktif yang sudah aku control dengan logika tingkat dewa.

***

Namanya ‘Rabu’. Nama yang aneh. Aku tersenyum kecil jika mengingat semua kebodohan mengenai ‘suasana perkuliahan mata kuliah Agama Islam’, Menjuluki seseorang yang bahkan belum aku kenal namanya dengan nama hari. Mencoba jatuh cinta secara fiktif sekedar menemukan alasan agar aku bersemangat ke kampus setiap hari Rabu. Dasar pemuda kribo yang aneh. 

Sepertinya  pesan singkat itu harus segera kubalas.

Wedangan bu Gendut perlahan-lahan mulai ramai. Aku berpindah dari kursi depan menuju kursi kayu samping yang masih kosong. Aku berjalan perlahan, mengambil gelas teh panasku yang sedikit berkurang dan meletakkannya dengan pelan. 

Kusandarkan punggungku di tembok pagar, memejamkan mataku sejenak sambil memilah dan memilih kata-kata yang tepat. Enaknya aku bales apa ya?

Tek..tek..tek…

Aku mengetik pesan itu dengan seksama. Hanya beberapa kalimat. Kupandangi pesan yang kuketik itu dengan penuh pertimbangan. Kuyakinkan diriku, kupencet tombol send dan voila…

Pesan yang berbunyi:
“Rahasia, kalau komiknya udah kelar semua, nanti aku bilangin ke kamu.” Itu akhirnya terkirim.

Pesan itu aku yakin akan melintasi jagad ruang dan waktu meluncur menuju handphone ke gadis perempuan berambut pendek yang dulu pernah kucintai secara fiktif.

***

Aku tiba-tiba berada di lereng bukit nun jauh di sana. Dia berada di sampingku, gadis perempuan berambut pendek yang dulu pernah kucintai secara fiktif. Dia memakai jumper berwarna hitam. Kita hanya berdua saja, menunggu kembang api yang akan dinyalakan di balik perbukitan. langit malam ini cerah. Kita berdua yakin, sisa-sisa api dari festival kembang api dibalik bukit pasti terlihat dari tempat ini. 

Aku masih saja memperhatikan pucuk-pucuk daun pinus yang tengah menyelimuti bukit itu dengan rimbun. Suara pelan dan cukup lirih terdengar, mengejutkanku dan membuatku menoleh ke arahnya. Dia memandangku perlahan.

“Mas, kenapa sih kamu menjadikan aku sebagai karakter utama di buku komikmu?”

Aku diam. Sama diamnya dengan dia saat memandang langit gelap bergradasi biru tua dengan bercak-bercak bersinar putih yang membuatnya makin anggun malam ini.

“ Ctaaar!!! Byarrr!!! Byarrrr!!! Prak!!!!! ”

Kembang api berasal dari belakang bukit itu membuyarkan keheningan kami. Aku bahkan belum sempat menjawab pertanyaannya.

Kilau kembang api yang berpijar di malam hari memang benar-benar keren. Aku tersenyum kecil. Aku rasa aku sudah menemukan jawabannya.

Aku menoleh kearahnya. Dia memandangku dengan wajah berbinar dan penuh perhatian.

“Dibikin tokoh komik sama seseorang itu kayak dibikinin lagu cinta sama pacar.”

Aku berkata kepadanya dengan suara bergetar. Suasana dingin malam itu memaksaku untuk memasukkan tangan ke jaket tebal ini. Matanya yang bulat menyiratkan tanda Tanya besar mengenai pernyataanku. Segera saja kuperjelas dengan satu kalimat spontan.

“ Gregetnya bakalan nongol kalau sudah selesai :j”

Kata-kataku itu melintasi jagad ruang dan waktu meluncur menuju alam bawah sadarku dan membangunkan aku dengan segumpal perasaan hangat di dada.

Mimpi aneh itu membuatku sedikit bimbang mengenai ‘seberapa fiktifkah’  sebenarnya aku mencintai dia?

***

Pagi itu suasana perpustakaan ISI Surakarta sangat lengang. Sepertinya aku terlalu pagi datang ke tempat ini. Sudah satu tahun lebih semenjak aku menjadi sarjana dan keluar dari kampus ini. Perpustakaan ini mendadak menjadi lebih canggih. 

Aku menengok jam dinding di dalam perpustakaan tersebut, baru pukul 09.30 WIB. Masih tersisa setangah jam lagi sebelum aku bertemu dengan gadis perempuan berambut pendek yang dulu pernah kucintai secara fiktif.

Aku mengeluarkan satu buku ‘Proposal Untuk Presiden’ dari tas Consina-ku. Ada sebidang tempat kosong dibawah ucapan terimakasih. Tugasku kali ini adalah mengisi bidang kosong itu dengan tanda tangan. Enaknya aku isi apa ya? Berbagai alternatif ilustrasi dan kata-kata bijak bersliweran di otak sejak kemarin malam, namun semuanya terlalu norak untuk aku tulis di buku ini. 

Apa ya? 
Aku mencoba menginventaris semua ide yang ada.

Gimana kalau Gambar aku dan Rabu menghadap kamera, kami berdua tersenyum. Tangannya mengacungkan huruf ‘v’, sementara aku sok cool. Di atas kami ada kata-kata bijak “ Bagi dunia, mungkin kamu hanya seseorang. Namun bagi seseorang kamu adalah dunia”. 

Norak. Enggak jadi aku gambar. 

Lanjut ke ide selanjutnya.

Atau gini, Gambar sederhana versi lucid dream di atas bukit saat menanti kembang api. Keren sih, tapi kayaknya bakal menjadi gambar yang membingungkan. 

Apalagi jika dipasangkan dengan kata-kata   “Dibikin tokoh komik sama seseorang itu kayak dibikinin lagu cinta sama pacar. Gregetnya bakalan nongol kalau sudah selesai :j”. 

Mengerikaaan!!!! Cari alternative ide yang lain.

Apa ya? 
Aku mencoba untuk kembali ke niat awal aku membuat komik ini. Media pengingat. 
Oh iya, hanya sekedar media pengingat. Tak kurang dan tak lebih. Kedua ide sebelumnya hanya angan-angan kosong dengan balasan penuh harap yang berlebihan.

Sekali lagi aku memikirkan segalanya dengan lebih sederhana.

Kurasa aku sudah menemukan sesuatu yang ingin aku gambar. Segera saja kucorat-coret halaman ucapan terimakasih itu dengan pensil.

Sret… sret… sret..

Setelah kurasa sketsa itu cukup mantap, aku segera menebalinya dengan spidol hitam. Hanya perlu beberapa menit untuk membuat sketsa itu menjadi tampak jelas dan artistik. 

Sekarang aku hanya tinggal menambahkan satu kalimat yang mewakili perasaan fiktifku Selama ini. Tidak terlalu sulit.

Aku tersenyum puas. 

Aku menutup buku tersebut dan menunggu dia datang. Menunggu dia datang dan mengakhiri semua kisah fiktif tersebut.

***

Hari ini Adalah satu tahun semenjak aku galau di wedangannya Bu Gendut dan satu tahun saat lucid dream itu terjadi. Aku enggak nyangka komik debutku dengan dia sebagai karakter utamanya bisa kelar dan bahkan terbit di Toko Buku. Katanya sih bulan Juli bakal mulai menyebar. Aku bercerita banyak hal di Bab 3.
Bab paling melelahkan dari komik ‘Proposal Untuk Presiden’. 

Di bab ini aku melakukan beberapa penelitian. Aku mengirimkan banyak SMS untuk dia mengenai hal-hal yang bersifat personal. Aku melakukan wawancara dengan beberapa teman jurnalis dan bahkan aku men-download banyak data untuk kepentingan logika dunia sang karakter mahasiswi magang. Komik ‘Proposal Untuk Presiden’ sudah selesai.

Hari ini adalah lima tahun semenjak aku mengambil Mata Kuliah Agama Islam. Gadis yang kucintai secara fiktif itu ternyata benar-benar membuatku bersemangat untuk menyelesaikan Mata Kuliah Agama Islam. 

Antara percaya dan tidak percaya, aku akhirnya lulus Mata Kuliah Agama Islam. Entah fiktif atau bukan aku tidak perduli. Berkat dia aku bisa lulus Mata Kuliah Agama Islam. Kalau pengen lebai. Berkat dia aku bisa menjadi Sarjana Seni Men! 

Ah sepertinya memang terlalu lebai.
Doi kurasa bakal mrinding dangdut kalau denger aku berteriak-teriak pakai kalimat tersebut.

Hari ini. Satu hari setelah aku beranjak dari sofa berwarna coklat di ruang tamu. Malam ini suara tadarusan yang kudengar semalam telah hilang entah kemana. Aku masih terus berjuang untuk menyelesaikan postingan ini. Kopi hitam di mug sudah mulai mendingin. sedingin masa lalu yang tidak bisa kau ulangi lagi. 

Kalau boleh jujur, aku kangen masa-masa itu. Masa-masa dimana aku meletakkan tas Consina-ku di kursi perkuliahan dengan mencatolkannya pada kayu tempat punggungku bersandar. 

Aku kangen bau pengap ruangan gedung F, langit cerah pagi itu, angin kering yang berhembus kencang dan mengakibatkan daun-daun kering itu berguguran. Beneran kangen Men...

Namun yang paling aku kangenin adalah perasaan jatuh cinta tiba-tiba. 
Entah fiktif atau dengan siapapun tidak jadi soal.

Hari ini adalah satu minggu setelah pertemuanku dengan Rabu di perpustakaan ISI Surakarta. Tidak ada pertemuan yang dramatis. Percayalah, kami hanya ngobrol seperlunya, menyerahkan komik, kemudian kami berpisah dan melanjutkan hidup masing-masing. 

Kalian ingin tahu gambar apa yang aku coretkan di halaman ucapan terimakasih untuknya? Gambar tersebut adalah ilustrasi aku dan dia yang berjalan saling memunggungi. Dia berjalan tersenyum dengan mata terpejam dan aku hanya menoleh dengan tanda Tanya kecil. Di sampingnya ada tulisan cukup kecil, tulisan yang kurasa paling pas untuk cerita aneh nan fiktif kami. 

Tulisan itu berbunyi “ Setiap pertemuan memiliki kisahnya masing-masing. Enjoy everything”.

Aku mungkin tidak bisa mengulang masa-masa perkuliahanku, namun aku akan mencoba untuk mengulang perasaan jatuh cinta secara tiba-tiba dengan orang lain mulai hari ini.


Psssttt!!!!, kalau kalian juga pernah mendapatkan SMS yang berbunyi:
“Mas, kenapa sih kamu menjadikan aku sebagai karakter utama di buku komikmu?”

segera saja balas dengan pesan: “Itu karena aku naksir kamu, Bego”. 
Niscaya akan ada kisah yang berbeda dengan apa yang kalian baca di postingan ini.

Begitulah kisah ‘draft sms’ yang hingga hari ini belum aku hapus.
Dengan terpostingnya tulisan ini aku akan menghapus ‘draft sms’ tersebut dan semoga juga aku bisa menghapus kisah fiktifku dengan Rabu. 


Mujix 
aku paling suka
ending yang nge-twist
dan tidak tertebak.
apakah kisah aneh ini sudah berakhir?
sepertinya belum
Simo, 30 Juni 2015







Selasa, 23 Juni 2015

Sahur Pagi Ini

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Bulan Ramadhan memasuki hari ke lima, alhamdulilah puasaku lancar dan selalu goal sampai bedug maghrib. Kalau boleh jujur, aku tidak terlalu bisa mengingat bagaimana sahur Ramadhan tahun kemarin. Di otakku hanya ada beberapa keping ingatan tentang suasana sahur di warung samping Alfamart Kerten dan suasana makan sahur ditemani acara televisi saat berada di rumah. Sisanya memori otakku tidak dapat menjangkaunya lagi. Untuk itulah aku mencoba untuk rajin up date nulis blog lagi. Harapanku sederhana, aku ingin suatu saat bisa menceritakan banyak hal kepada banyak orang bagaimana kehidupanku saat sahur Ramadhan  tanpa terkedala permasalahan bernama ‘memori otak yang tidak dapat terjangkau’.

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Aku sudah lulus dari kampus seni terkemuka tersebut. Sudah menjadi sarjana, dan ijazahku hingga hari ini masih tersimpan rapi di dalam lemari. Aku tidak memiliki firasat apapun terhadap surat sakti tersebut. Belum ada keinginan untuk melamar kerja di perusahaan manapun. Beberapa tawaran yang datang hanya kutolak dengan halus. Terkadang aku berpikir, semoga saja apa yang aku lakukan ini merupakan pilihan yang baik untuk semua hal. Yah, aku sudah lulus dan menjadi sarjana seni. Salah satu wishlist-ku sudah tercentang.

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Hingga hari ke lima, suasana sahurku berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan dari benda yang bernama televisi. Beberapa tahun sebelumnya, setiap sahur aku selalu menyalakan televisi. Hal tersebut aku kamuflasekan untuk menutupi rasa malasku saat memasukkan makanan. Aku enggak tahu model program acara televisi tahun sekarang. Kalau beberapa tahun lalu aku ingat ada program acara yang isinya orang sekampung joget-joget dipandu Caesar Yuk Keep Smile. Bujubuset, kalau di sepanjang waktu sahur mereka joget, kapan waktu makannya? Dasar acara tidak bermutu. Acara tidak bermutu itupun terus aku tonton mengkamuflasekan rasa malasku saat memasukkan makanan.

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Cita-citaku sebagai komikus sudah tercapai. Buktinya ada 15 buku komik versi cetak hasil persembahan dari penerbit. Komikku kali ini berjudul ‘Proposal Untuk Presiden’, berjumlah 160 halaman, harganya Rp.35.000, dan insyaallah bakal nongol di toko buku awal bulan Juli. Cita-citaku sebagai komikus sudah tercapai, sekarang saatnya menaikkan level cita-cita menjadi ‘komikus berkecukupan’. Benar, semua orang bisa menjadi komikus, namun untuk menjadi ‘komikus berkecukupan’ selevel Benny & Mice,  Sweta Kartika, Faza Meonk, dan para dewa komik lainnya, dibutuhkan kerja keras dan semangat mempertahankan antusiasme yang tinggi. Tidak ada alasan lagi untuk bermalas-malasan dan tidak belajar. Segera beraksi.

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Aku sudah memiliki komputer sendiri. Hasil kerja kerasku. Buah dari antusiasme yang tinggi dan kedisiplinanku dalam membagi waktu. Komputer ini aku dapat dari hasil pembayaran komik ‘Proposal Untuk Presiden’. Uang jutaan itu hanya lenyap saja dalam hitungan detik, ingatan dramatis saat aku menarik uang di ATM dan memberikannya pada Pak Jenggot penjual komputer itu masih sangat segar dikepalaku. Duh Pak Jenggot, aku benar-benar ingin menarik Jenggotmu. Aku telah berkomitmen untuk tidak meminta komputer kepada orang tua. Kasihan. Apalagi masa-masa itu adalah masa-masa yang sulit buat keluarga kami. Bisa kalian bayangkan perjuangan seorang mahasiswa seni untuk bisa menyelesaikan studinya tanpa memiliki komputer? Bisa kalian bayangkan perjuangan seorang komikus berbakat bisa menyelesaikan karya fenomenalnya yang berjudul ‘Proposal Untuk Presiden’ tanpa memiliki komputer?

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Aku kehilangan beberapa alasan penting di kehidupan yang maha megah ini. Semenjak memutuskan move on pada tahun 2012, aku selalu menciptakan alasan-alasan penting yang memaksaku untuk tetap hidup dan bertahan. Alasan-alasan penting itu berupa target-target pencapaian. Aku mati-matian memenuhi target bernama ‘menjadi sarjana seni’, semua passion, waktu, komitmen dan hidupku aku hibahkan sepenuhnya demi ijazah kelulusan itu. Setelah menjadi sarjana seni, Aku mati-matian memenuhi target bernama ‘Komik Proposal Untuk Presiden’. Setelah ‘Komik Proposal Untuk Presiden’ selesai, aku kehilangan alasan-alasan penting tersebut. Kalau dipikir-pikir lagi ‘alasan-alasan penting’ itu sebenarnya tidak terlalu penting. Kurasa sistem cara kerjanya mirip program acara tidak bermutu yang terus aku tonton untuk mengkamuflasekan rasa malasku saat memasukkan makanan di waktu sahur.

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Saat sahur adalah saat-saat romatis dimana manusia mempertanyakan semua pencapaiannya dengan lebih rendah hati. Aku harus rajin up date nulis blog lagi, dengan menulis blog kurasa aku akan menemukan beberapa ‘alasan-alasan penting’ yang hingga hari ini masih menjadi misteri. Ijazah kelulusan kurasa juga semacam souvenir perjalanan wisata, hanya souvenir, yang paling membuat berkesan souvenir wisata adalah perjalanannya.  souvenir wisata mungkin juga hanya sekedar kamuflase untuk pikiran bahwa kita telah melakukan perjalanan tersebut. Kamuflase kurasa juga tidak masalah, andaikata kamuflase itu bisa menginspirasiku untuk tidak bermalas-malasan dan rajin belajar agar bisa segera beraksi menjadi ‘komikus berkecukupan’.


Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini.

Mujix
postingan ini aku bikin
setelah selesai sahur lhooooh
ganteng ya gueh
Simo, 23 Juni 2015

Sirius Black

Aku menatap keyboard komputerku dengan seksama. Kedua tanganku sebenarnya sudah stand by dengan ganteng (yah anggap saja kedua tanganku memiliki wajah), tapi entah kenapa tidak ada kata-kata yang terketik. Andaikata ada sesuatu yang terketikpun, beberapa detik kemudian aku delete dengan helaan nafas menggerutu. Begitulah, kalimat-kalimat yang sekarang kalian baca adalah kalimat-kalimat yang paling jujur hari ini. Kalimat-kalimat yang tercipta setalah aku menekan rasa malasku untuk nge-blog lagi, setelah entah beberapa minggu aku terjebak di dunia antah berantah bernama kesepian. Ceileeh. Serius amat milih kalimatnya.

Serius. Beberapa jam yang lalu aku terhenti dari aktivitasku menggambar komik. Berhenti sejenak mengambil rehat sambil memandang ke luar jendela. Sepertinya aku terlalu serius hari ini. Ada saja hal-hal yang membuatku pusing. Masalah dompet, masalah grup komikus, dan masalah-masalah sepele lainnya. Aku menganggapnya sepele karena aku dulu pernah mengalami hal-hal yang lebih berat dan menuntut banyak komitmen. Misalnya menyelesaikan studi S1ku.  Aku sadar, Sepertinya aku terlalu serius hari ini. Kurasa bukan hanya hari ini, disepanjang aku hidup di dunia yang fana ini, aku telah menjadi sosok orang yang sangat serius.

Oke. Aku sudah mengetik postingan ini sampai di paragraph kedua. Apakah perlu aku save?

Gak usah di-save dulu deh, andaikata ilang ya udah. Anggap saja postingan ini terlalu serius untuk dilanjutkan.

Apabila dikatagorikan, banyal sekali hal yang kuanggap cukup serius. Enggak punya uang itu serius, enggak punya pacar itu cukup serius, enggak punya pacar sekaligus enggak punya uang itu super-duper serius. Sebenarnya kalau mau jujur, sumber penderitaan manusia yang paling abadi ialah ketika mereka terjebak dalam lubang nista dalam memenuhi kebutuhan. Permasalahan yang abadi nan pelik. Namun untuk postingan kali ini, aku hanya membicarakan hal-hal yang fun semacam membersihkan ruang kerja.

Ruang kerjaku berada di belakang televisi, bahkan berada disatu meja panjang berwarna coklat. Beberapa bulan sebelumnya ruangan kecil itu tidak terpakai. Hanya ruang kosong tempat pemberhentian barang-barang semacam cucian kotor, tumpukan buku tidak terpakai, hingga lukisan gagal dari proyek yang juga gagal. Bukan hal yang aneh jika ada sempak nangkring yang bergumul dengan kuas lukis diatas meja. Bukan hal yang aneh. Baru setelah aku memutuskan untuk serius mengerjakan skripsi, ruangan itu aku benahi menjadi tempat pribadi.

Di meja kerja yang menjadi satu dengan televisi, terdapat banyak komik Indonesia tersusun rapi. Komik-komik itu adalah koleksi berhargaku. Cukup banyak, seakan-akan menjadi benteng kecil untuk mengabadikan waktu dan pencapaian. Gimana enggak, setiap aku membeli komik (baik itu yang lokal maupun interlokal) selalu ada tanggal pembelian dan terkadang ada pengingat bagaimana aku mendapatkan buku tersebut. Kira kira seperti ini formatnya:

“Mujix, tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian. Uang dari pembelian buku ini didapat dari honor juri dikampus anu. ” Terus sret-sret-sret, kasih tanda tangan deh.

Begituh. Bisa dibilang semua gajiku habis hanya untuk makan dan beli buku. Kecuali untuk yang satu ini. KOMPUTER. Kapan-kapan di postingan lain akan aku ceritakan asal muasal komputer ini.

Tempat pribadi yang dulu berdiam banyak barang, sekarang sudah berevolusi menjadi ruang kerja yang sederhana. Tinggal beberapa langkah lagi untuk mewujudkan studio komik impianku. Hari-hari datang dan pergi, meninggalkan banyak sisa-sisa pencapaian. Berlembar-lembar kertas skripsi yang tidak berguna bertumpuk di sembarang tempat. Serpihan-serpihan penghapus hasil proyek komik membuat kotor seluruh lantai. Rumah rayap yang hancur menjadi tanah membuat ruangan tersebut makin berdebu. Baiklah, kurasa ini saatnya untuk membersihkan ruang pribadiku.

Proses membersihkan ruang kerja terkadang aku gunakan sebagai terapi stress. Hal-hal semacam buku yang berantakan aku andaikan sebagai beban pikiran. Tugasku sederhana, aku hanya perlu memindahkan buku itu ditempat yang semestinya, dan mengasosiasikan pemindahan buku itu sebagai pelepasan beban pikiran. Jadi semacam ada perjanjian sakral yang berbunyi:

“bersihkan ruang kerjamu seperti kamu membersihkan pikiranmu”.

Jadi, apabila ruang kerjaku sudah tertata rapi secara otomatis alam bawah sadarku mengatakan bahwa ‘semua hal dipikiranku juga sudah tertata rapi’. Ketika semuanya rapi, bukankah sangat menyenangkan untuk memulai sesuatu yang baru.

Baiklah. Sepertinya postingan ini aku harus save.

Selain menata buku, pekerjaan lain saat aku membereskan ruang kerja adalah meyapu lantai. Di tempat ini sangat rawan rayap. Aku harus sesering mungkin memastikan tidak ada rayap yang membuat sarang di berbagai sudut. Tahun lalu komik-komikku menjadi korban karena aku lalai memperhatikan. Dulu semua komik aku letakkan di kardus besar. Kardus-kardus itu aku tumpuk di samping tembok. Terlupakan beberapa bulan dan tersadarkan oleh bunyi suara tikus.

Terlenakan beberapa bulan karena urusan skripsi dan rasa malasku yang membabi buta, Kardus-kardus itu ternyata menjadi sarang tikus dan dimakan rayap sekaligus. Perasaanku dulu nggondok dan pengen teriak ‘Kampreeeeet!!!”. Sebel banget. 

Nasi sudah menjadi bubur, bubur dipake buat sarapan.
Semua komik sudah hancur, saatnya hal itu menjadi pelajaran. Ciyee pantun

Serius. Buku-buku komik favorit menjadi sarapan tikus dan rayap itu ternyata bagiku adalah peristiwa yang cukup serius. Dari peristiwa itu aku belajar untuk lebih peka terhadap lingkungan, belajar lebih sering melongok sudut-sudut yang tak terlihat. Bukankah manusia  memang tidak bisa terlepas dari hal-hal yang tak terlihat. Seberapa sering aku harus berpura-pura happy dihadapan orang lain. Sepertinya bukan hanya aku yang terlalu serius hari ini? 


Mujix
abis ngasih tanda tangan
di komik debut untuk
beberapa teman yang telah membantu.
berasa jadi artis semalem gaes.
Simo, 23 Juni 2015


Selasa, 09 Juni 2015

Sore Sebelum Kencan Pertama

Di suatu sore yang sebenarnya cukup terik, kami berteduh dibawah pohon rindang di depan Masjid Kalimasada. Bayangan dari pepohonan sepertinya makin gelap pekat gara-gara terkena sinar matahari. Kami, ah sebenarnya hanya aku dan beberapa teman kuliah yang tengah asik mengobrolkan tentang ‘entah apa’. Aku duduk diseberang tak jauh dari mereka, menatap nanar dan mencoba untuk tetap mempertahankan akal sehatku. Akal sehat, sesuatu ‘benda’ paling penting yang harus tetap ’sehat’ agar aku tidak gila.

Beberapa hari ini banyak  hal yang membuatku gila. Misalnya, acara televisi yang penuh ‘drama semu’ gak jelas, yah salahku sendiri sih, ngapain juga harus nonton televisi. Hal yang cukup bikin gila lagi adalah kondisi badan yang bawaannya lemes mulu, sama koneksi internet yang lemotnya minta ampun. Gitu deh, beberapa hal gila lain tidak bisa aku tuliskan di dalam postingan ini. Saat ini bulan Ramadhan hanya menunggu hitungan hari, dan ditandai dengan rutinitas yang cukup akrab. Salah satu rutinitas tersebut adalah pengajian di Masjid Kalimasada.

Dari tempat ini aku bisa menyimak aktivitas pengajian tersebut, aku hanya menyimak saja dari kejauhan, tak ada keinginan sedikitpun untuk ikut bergabung dengan majelis tersebut. Suara pembicara pengajian itu terdengar santun dan membelai sore tersebut menjadi lebih khusuk. Tak ada perlawanan yang berarti dari diriku. Entah sudah berapa kalimat yang pembicara itu lontarkan di pengajian tersebut, aku tidak terlalu ingat, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri. Beberapa patah kata yang menempel diotakku dari pengajian tersebut adalah ‘manusia masih harus banyak belajar untuk bisa berkawan dengan Tuhan’. Ya benar, Berkawan. Bukan menghamba seperti budak seperti yang biasa diceritakan para orang suci.

Sebenarnya ada beberapa alasan lain yang memaksaku untuk tidak meninggalkan tempat itu. Perempuan. Alasan itu bernama 'Perempuan'. Perempuan yang hingga hari ini menjadi ‘penghalang’ rapuhnya hubungan pertemananku dengan Tuhan. Perempuan itu duduk mengenakan baju serba hitam, mendengarkan pengajian dengan khidmat dan sesekali tangannya bergerak membetulkan letak penutup kepalanya yang juga berwarna hitam.Seperti biasanya, perempuan itu tak menoleh sedikitpun ke arahku.

Aku tersenyum kecut. Gara-gara dia, Malam-malam akhir ini tidak seperti malam-malam yang dulu aku lalui. Aku sering terjaga di tengah malam buta, bermimpi banyak hal yang sebenarnya buruk namun aku menyukainya. Aku sudah sering terjebak disituasi seperti ini, hanya menunggu masalah waktu saja agar aku bisa terbiasa. Bukankah kehidupan kita  sehari-hari itu hanya berisi sekumpulan kebiasaan?

Salah satu kebiasaan ‘semesta’ yang paling aku suka adalah takdir yang datang dan tak tertebak. Seperti saat ini, tiba-tiba dua orang perempuan datang. Datang dan akan mengubah banyak takdir dimasa depan? Mungkin saja. Perempuan pertama adalah kawan sekelasku, aku cukup akrab dengannya, benar-benar berkawan. Aku menjabat tangannya perlahan, tangannya yang kecil dan kurus. Tangan kecil yang kurus itu di-kamuflase dengan handband dan jam tangan agar terlihat lebih trendi. Ah..ternyata di dunia ini masih ada tangan yang lebih kecil daripada tanganku.

“Ngapain di sini Jix?” dia bertanya sambil mengambil jarak agar temannya bisa bersalaman denganku.

“Biasa Ta, nongkrong” ujarku. Ya, temanku ini bernama Paramita. Teman seangkatan di kampus. Entah sudah berapa kali aku dan dia terjebak di tugas kampus yang sama. Perempuan yang berada di belakangnya  Paramita, aku lupa namanya. Siapa ya? Ah sudahlah, Perempuan yang  ‘aku lupa namanya’ itu mengenakan topi sinterklas kecil. Wajahnya yang bulat itu semakin diperhalus dengan rambut gaya ekor kuda. Namun yang paling aku ingat adalah poni kecil di dahinya yang terkadang tertiup angin. Aku juga menjabat Perempuan yang  ‘aku lupa namanya’ itu dengan tersenyum.

Paramita dan temannya duduk di sebelah kiriku. Mata Paramita mencari sosok orang diatara kerumunan para peserta pengajian. Sepertinya dia menemukan siapa yang ia cari, Perempuan. Perempuan yang duduk mengenakan baju serba hitam Perempuan yang hingga hari ini menjadi ‘penghalang’ rapuhnya hubungan pertemananku dengan Tuhan. Perempuan yang membuatku sering tersenyum kecut. 

Paramita diam sejenak lalu menoleh kearahku dengan pertanyaan yang tidak bisa aku jawab.

“Kamu masih sering kepikiran soal perempuan yang ‘kaya tapi mirip pengangguran’ itu Jix?”
Pengangguran? Dasar, memang sih dia belum lulus kuliah, tapi juga enggak gitu juga kali. Aku sedikit menelan kata-kataku dan terus diam seribu bahasa. Btw aku dan Paramita sama-sama sudah menjadi sarjana seni. Ciyeee sing sarjana seni.

“Woy, jawab dulu kenapa sih? Baiklah aku ganti pertanyaan” Paramita tertawa, dan perempuan yang ‘aku lupa namanya’ itu hanya tersenyum.

“Jix, Kamu masih suka deg-degan kalau ketemu dia?”
Deg-degan? Dia bertanya kalau kisahku dengan perempuan itu kisah cinta ‘menye-menye’ ABG saat SMA, tentu saja kutampik pertanyaan tersebut dengan jawaban yang diplomatis.

“Biasa aja, Ta”
Matanya mulai menyipit sambil menahan tawa.

“Beneran biasa aja?Bohong Dosa lhooh”
Dosa? Gokil!! Urusan cinta ‘menye-menye’itu tiba-tiba saja menjurus kearah ‘dosa’, tinggal selangkah lagi menuju tema ‘Surga-Neraka’. Ampun Bos!!

“Euhh, gimana ya? Bingung Ta, aku ralat deh, terkadang masih suka salting gitu sih” Sebuah pengakuan yang beberapa detik kemudian akhirnya kusesali.

“Yeeey, aku bilangin ke dia ah!!!” Paramita bersorak kemudian berlari menuju perempuan berbaju hitam tersebut. Kampret!! Harusnya tadi aku diam saja. Paramita meninggalkanku dengan Perempuan yang  ‘aku lupa namanya’.

“Hahaha, tenang aja Mas, Tata enggak mungkin bilang soal itu sama dia kok” perempuan itu membuka obrolan dengan hangat. Aku menoleh kepadanya, sambil bersusah payah mengingat siapa namanya.

“Iya, dia emang suka bercanda sih, Mbak” baiklah aku mengambil jarak aman. Aku memanggilnya ‘Mbak’. Perempuan itu tersenyum, memandangku perlahan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Paramita dan Perempuan berbaju hitam.

“Dunia perempuan itu terkadang  aneh Mas” oke, kali ini bakal ada kisah  ‘mas-mas’ dan ‘mbak-mbak’  yang ingin melalui suatu sore ini dengan tema ‘dunia perempuan yang aneh’.

“Saya tahu dari Paramita kalau mas-nya naksir perempuan itu udah dari dulu lhooh” ARRRGGGGGGHHHH!!!!! Kenapa Paramita harus ‘ember’ juga ke orang lain gitu sih!?Aku mencoba untuk tetap tenang, walau keringat dingin mulai mengucur di pelipis.

“Mas-nya kan pinter, suka bekerja keras dan sepertinya sudah mati-matian mengejar dia. Kok masih bisa ya dia nolak gituh?”ya, benar-benar mati-matian, aku bahkan sadar fakta tersebut.  Kami terdiam cukup lama, dan aku juga tidak menjawab pertanyaan itu, semuanya masih memungkinkan untuk bercengkrama dengan hening.

“Udah Mas, saya cabut dulu ya” Perempuan yang  ‘aku lupa namanya’ itu berdiri kemudian berpamitan.

“Enggak nunggu Paramita?” tanyaku.

“Enggak mas, kayaknya dia bakalan lama disana.  Mari mas…”
dia berjalan didepanku dengan perlahan.Aku memperhatikannya dengan seksama dan tanpa sadar terucap sepatah kata.

“Hei’ teriakku untuk menghentikan langkahnya.

“Iya, ada apa mas?” Perempuan yang  ‘aku lupa namanya’ itu diam sejenak dan menoleh ke arahku.
“Aku enggak percaya kalau aku ini orangnya ‘pinter’ dan ’suka bekerja keras’ seperti kata ‘Paramita’” entah setan mana yang mempengaruhiku untuk berkata seperti itu, atau mungkin hanya sekedar respon kecil atas pertanyaannya yang belum terjawab.

“Terus?” perempuan itu bertanya lagi.

“Hm... PR-ku masih banyak Mbak. Aku enggak sebaik itu, aku masih dalam proses memantaskan diri, aku masih harus banyak belajar, dan aku juga belum cukup berkawan baik dengan Tuhan”

“Hahahaha, kenapa jadi cyrhat serius gitu sih Mas?” Perempuan yang  ‘aku lupa namanya’ itu tertawa kecil.

“Yah, Maksudku euh… yang serius ini nih, ehm..minggu depan kamu luang?” aku memejamkan mataku perlahan dan memandangnya dengan penuh keseriusan.

“Maksudnya?”

“Aku pengen ngajak kamu keluar, kemana gitu”

“Hihihihihi” Perempuan yang  ‘aku lupa namanya’ itu bahkan tidak berbalik atau berjalan ke arahku. Kami terjebak di sebuah perbicangan kecil yang aneh.

“Euuh, atau kalau enggak, temanmu yang manis bo..boleh kok diajak juga, aku habis gajian royalti komik, nanti aku traktir deh” aku mencoba mengeluarkan apa yang berada dipikiranku melalui kata-kata.

“Ciyeee, jadi mulai udah bisa move on nih?”

Aku menoleh ke arah perempuan yang sedang  duduk mengenakan baju serba hitam, Perempuan yang hingga hari ini menjadi ‘penghalang’ rapuhnya hubungan pertemananku dengan Tuhan. Perempuan yang membuatku sering tersenyum kecut. 

“Insyaallah!!” jawabku sambil memasukkan tangan ke saku celana jeansku.

Ya.suatu sore yang sebenarnya cukup terik itu sepertinya mulai perlahan menjadi dingin.

Mujix
sedang menjadi komikus yang
males menggambar. makanya
ditulis aja kali ya?
Boyolali, 9 Juni2015