Jumat, 30 Maret 2012

Begitulah

Judulnya demo kenaikan BBM 2012.
begitulah,


Bagi nenekku yang berada di kampung, demo kenaikan BBM di berbagai kota di seluruh indonesia adalah sesuatu hal yang tidak terpikirkan olehnya sedikitpun. Terlintas sejenakpun kurasa tidak. walau tidak terpikirkan soal demo, nenekku yang berada di kampung aku yakin bakal terkena dampak dari kenaikan BBM yang rencananya dinaikkan pada 1 april 2012 mendatang. Walau tidak terpikirkan soal demo, nenekku yang berada di kampung kurasa akan segera mengeluh karena tersadar bahwa harga minyak goreng, beras, gula, kinang dan lain sebagainya telah naik mendadak mencekik leher nenekku dengan kejam. Begitulah.


Bagi mahasiswa bejat dalam sebuah organisasi mahasiswa, demo kenaikan BBM adalah lahan uang. Yup, kalian benar. Ada sebuah kong-kalikong pelik yang terjadi antara mahasiswa bejat tersebut dengan para dalang yang menaikkan harga BBM. Temanku mengatakan para mahasiswa di jalan tersebut sebagian mendapatkan upah 50.000 per aksi, sebagian lainnya mendapatkan 100.000 untuk memprovokasi kawan-kawannya. mahasiswa sisanya harus mengeluarkan uang 50.000 sampai 100.000 untuk pengobatan kepala yang bocor gara-gara tertimpuk lemparan batu. Begitulah.


Bagi para produser acara berita di televisi, demo kenaikan BBM adalah masalah rating dan slot iklan menggiurkan di berbagai program acara Berita. Kekacauan dan kesedihan adalah senjata utama dari berbagai program acara televisi yang kini sering tayang di televisi. Kurasa tema tersebut tidak akan habis untuk diangkat pasca kenaikan BBM, kalian tidak percaya? Percayalah. Ada tambang uang jutaan dan milyaran uang yang akan dikuras dari benda yang bernama Televisi. Begitulah.


Buat mahasiswa yang berjiwa nasionalis tinggi, demo kenaikan BBM adalah ajang untuk membaktikan kesetiaan mereka terhadap rakyat. Sosok-sosok seperti mereka sangat perduli terhadap harkat dan martabat orang lain, mereka membekali aksi demo tersebut dengan niat baik untuk memulihkan negara INDONESIA yang kini tengah SAKIT. Bagi mereka tanggal 17 agustus 1945 adalah kemerdekaan yang tertunda entah hingga kapan, hingga saat ini mereka tahu, belum ada kemerdekaan yang merata di berbagai strata dan kalangan rakyat di seluruh Indonesia. Begi mereka demo kenaikan BBM adalah perjuangan menuju indonesia yang makmur dan berbahagia. Walaupun kurasa jumlah mereka sedikit, errr sangat sedikit.Begitulah.


Bagi para anggota Dewan di Parlemen nun jauh disana, kenaikan BBM adalah agenda rapat terasyik untuk menikmati hidup. Iya hidup kayak gini niiih, hee kalian gak ngerti? Ya.. yaa.. aku juga gak terlalu paham, intinya, dengan seringnya mengadakan rapat maka semakin sering mereka mendapatkan uang plus tunjangannya. Rata-rata setiap anggota DPR berpenghasilan 40 jutaan perbulan, rata-rata penghasilan tukang tambal ban 40 ribu perbulan. Makanya, gak usah heran ketika mereka sangat bersemangat untuk berdebat, dan mengajukan usulan (ya, kerjaan mereka memang sekedar berdebat dan mengajukan usulan). Begitulah


Bagi seorang cowok kribo bernama ‘Mujix’, demo kenaikan BBM adalah proses pemahaman tingkat intelektual berbagai pihak. Si doi emang gak ikutan demo, alasannya bukan masalah nasionalisme untuk negara, namun lebih ke sebuah proses untuk memahami berbagai pihak dalam memandang arti ‘kenaikan BBM’. Dia tahu, hajatan besar yang bernama ‘kenaikan BBM’ bukan masalah sederhana. Banyak hal yang terhubung dari satu pihak ke pihak lain yang akhirnya membentuk sebuah lingkaran setan bernama INDONESIA HARI INI. Oh iya satu lagi demo kenaikan BBM adalah saat yang tepat buat mengedit majalah Budaya atau mengerjakan pinsil dari Lemon tea: Bukan Komik Cinta, dan mengejar berbagai tanggungan yang belum kelar. Semangatlah kawan :)


"Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan."
~soe hok gie~



Judulnya demo kenaikan BBM 2012.
begitulah, postingan gak lucu, bikin capek.


Mujix
sedang mepersiapkan 'earth hours: jamstrip comic'
bersama komisi solo dan boocan :)
insyaallah bakal gambar bareng di ngarsopuro:)
Solo, 30 Maret 2012

Minggu, 18 Maret 2012

Ichi-go ichi-e

“Ichi-go ichi-e, anggaplah setiap pertemuanmu dengan seseorang adalah pertemuan terakhir”
~A Bad Boy Drinks Tea oleh Nishimori Hiroyuki~


Malam itu pukul 8 lebih 10 menit, dan tentu saja jarum berwarna merah itu bergerak maju, entah kapan akan berhenti aku tak mau ambil pusing. Kalian ingin tahu apa yang aku pusingkan malam itu? Persoalan kuliah? Bukan. Masalah mengapa rambut kriboku makin panjang? Tidak, itu tidak masalah selama aku masih bisa rutin merawatnya, Atau problem mengenai harga BBM yang makin naik? Okey, itu kurasa cukup memusingkan, namun aku tidak akan membicarakan perihal kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak), ataupun mempermasalahkan mengapa hingga hari ini HPku tidak memiliki layanan BBM (BlackBerry Messenger). Kenaikan harga BBM hanya persoalan mengenai politik dan jegal menjegal, HP dengan layanan BBM hanya masalah kebutuhan dan nama baik (sebenernya ngeles siii karena belum mampu untuk beli, udah belipun bingung mau buat apaan, wong sudah terlalu banyak teman di dunia nyata).


Ketika kalian membaca curhatan gak jelasku soal BBM, waktu kalian telah terbuang sia-sia sepersekian detik (yeah I got your Rythem dude). Malam itu pukul 8 lebih 11 menit, kalian tahu apa yang aku pusingkan malam itu? Aku berdiri sejenak untuk menguasai kesadaranku, mencoba membatasi berbagai suara kacau yang bercampur dengan isakkan banyak orang. Berbagai visual tertangkap mataku, dan tanpa ampun menerjang logika serta menghujam telak ke sanubari. Apa yang terjadi malam itu? 2 menit yang lalu, dimalam itu, aku menerima kabar. pasien yang juga paman tersayangku di ruang ICU rumah sakit PKU Solo tersebut akhirnya meninggal dunia, setelah kritis akibat kecelakaan motor ketika dia hendak pergi mengajar di sebuah SMP di Babatan.


Anggaplah setiap pertemuanmu dengan seseorang adalah pertemuan terakhir, aku bertemu kutipan tersebut secara tidak sengaja di sebuah komik jepang berjudul A Bad Boy Drinks Tea. Sebuah komik remaja bergenre komedi romantis dengan tokoh utama mantan Preman berwajah setan yang ingin tobat dan berbuat kebajikan. Yeah, cerita yang cukup umum untuk sebuah manga. Satu hal yang membuatku bertahan untuk membaca manga bertema ‘umum’ tersebut adalah nama komikusnya, yaitu Nishimori Hiroyuki. Dia mangaka lahir di kota Tokyo pada tanggal 23 November 1963. Aku akan bercerita sedikit mengenai A Bad Boy Drinks Tea, yang dalam versi jepang di terbitkan dengan judul ‘Ocha Nigosu’. Perjalanan Masaya Funebashi atau biasa di panggil Ma The Devil, atau Ma-Kun (tokoh utama mantan preman yang berwajah setan) dalam mewujudkan hidup yang dipenuhi kebajikan akhirnya di pertemukan dengan klub minum teh (yak, semacam ekstra kulikuler jaman SMA gitu deh). dia terpesona dengan Anezaki sang ketua klub dan tentu saja cerita proses Ma-kun berjalan seru dan konyol.


Alur cerita didalam manga tersebut berjalan relatif cepat, hingga Ma-Kun bertemu kutipan ‘Ichi-go ichi-e’ ketika menjalani prosesi minum teh di ruang klub. Secara garis besar scene pertemuan Ma-Kun dengan ‘Ichi-go ichi-e’ adalah poin penting yang menentukan jalannya cerita dalam manga ini. anggaplah setiap pertemuanmu dengan seseorang adalah pertemuan terakhir, fokuskan perhatianmu dengan apa yang ada didalam dirinya, berikan yang tebaik, perlakukan seseorang tersebut seakan-akan kalian tidak akan bertemu lagi. Kutipan tersebut mengajarkan kepada Ma-Kun (dan cowok galau berambut kribo bernama mujix) untuk menghargai setiap pertemuan dengan siapapun.


Pertemuan terakhirku dengan paman tersayang tersebut kira-kira satu minggu yang lalu, disebuah acara hajatan nikah anaknya Pakdheku, jadi kakakknya ibuku punya anak perempuan yang nikah, dan pamanku yang ternyata adiknya bapakku datang sebagai Pembawa Acara, jadi anak peremuan pakdheku itu bisa dibilang sepupuku dan keponakan jauhnya pamanku (bingung? Gpp. Aku juga bingung, lanjutin baca ajah). Petang itu aku langsung merangkul pundak pamanku dengan erat. Yak, pamanku itu bernama Gio Carito. Aku sering memanggilnya Om Gio, dia adalah seorang bapak paruh baya berumur 50 tahun. Bekerja sebagai guru tetap di sebuah sekolah menengah tak jauh dari tempatnya berkeluarga. Selain sebagai guru, dia adalah dalang wayang kulit yang handal (pastinya lebih handal daripada cowok galau berambut kribo bernama mujix) serta sebagai MC campursari yang ampuh. Ciri khas fisik dari om gio dan saudara-saudaranya sangat mudah di tebak. Mereka semua (om Gio, bapakku, kakakknya bapakku, dan kakakknya kakak bapakku) mempunyai kumis melintang mirip Bumerang suku Aborigin di Australia. Yak, kadangkala aku sering mengkhayalkan mereka saling melempar kumis keudara melesat jauh ke angkasa ‘wung...wung...‘ kemudian balik lagi ke tempatnya (kumis tempatnya masih di bawah idung kan?) dengan suara ‘clak’.


Aku dan om Gio sangat akrab, dia adalah pamanku yang paling dekat daripada dibandingkan dengan paman-paman yang lain di keluargaku. Malam itu ketika nikahan anaknya Pakdheku (gak perlu dijabarin lagi kan?), dia datang bersama istrinya (untung gak bawa istri tetangganya) tercinta. Setelah berbincang akrab dan hangat, dia segera pergi ke medan perang. Pergi ke tempat para biduan sexy ala dangdut yang siap mengguncang nikahan anaknya pakdheku, menyonsong ramainnya muda-mudi yang sedang repot membawa nampan berisi pisang, jenang, teh anget dan lain-lain. Dia akan menjadi MC campursari yang hebat malam ini, dan MC campursari yang hebat itu adalah pamanku...


Mendengar berita bahwa pamanku telah meninggal, aku segera berlari menerobos kerumunan penjenguk tersebut dengan panik. Aku menyusuri lorong panjang di samping ruang ICU, segera saja aku menengok dari jendela kaca berwarna biru tersebut. kulihat berbagai alat kedokteran yang sejak tadi pagi menempel mulai di copot dan dilepaskan. Badannya mulai berwarna biru, tangannya diikat dengan kain putih, aku tak tega menatap wajahnya dan segera berlari meninggalkan ruang ICU untuk menenangkan diri.


Kematian bagi sebagian orang adalah topik pembahasan yang sangat sensitif. Mas yoni seorang kawan di GKS juga berpendapat demikian, kalian kenal mas yoni? Dia adalah sesosok pria dewasa berbadan tinggi besar dengan hutan belantara yang habis ditebang secara liar di janggutnya (masyarakat umum menyebutnya brewok yang habis di cukur). Dia yang mengantarkanku pagi itu ke PKU, aku mendengar perihal musibah itu malah dari ayahku yang di Bogor. Segera saja aku meminta tolong kepada pria dewasa berbadan tinggi besar dengan hutan belantara yang habis ditebang secara liar di janggutnya untuk mengantarkanku disana.


Alam kematian sangat dekat dengan dunia spiritual, Dalam ajaran islam kita mengenal kematian sebagai awal sebuah hidup yang baru di alam yang lain suatu saat.para manusia yang meninggal akan di tanyai para malaikat penjaga kubur tentang iman mereka sebelum adili secara akbar oleh Allah SWT di Padang Mahsyar di hari Yaumul Hisab nanti, tentang amal perbuatan yang mereka lakukan di dunia. Menurut syariat Islam, kepada mereka yang jahat sudah diperlihatkan kehidupan mereka kelak setelah masa penghakiman selesai di neraka dan selama itu pula mereka akan mendapatkan siksa kubur. Manusia yang telah di adili akan menerima konsekwensi berupa Surga dan Neraka berdasarkan nilai Rapor amal. So, ketika kalian mati maka itu adalah deadline dalam mencari pahala.


Agama Hindu dan Budha adalah agama yang mengenalkan konsep suatu hukum yang disebut dengan Karma Pala, yaitu hukum sebab akibat yang terjadi di setiap manusia. kelahiran manusia adalah suatu proses Reinkarnasi atau Punarbawa (Samsara). Reingkarnasi adalah suatu tahap dimana kalian akan terlahir kembali menjadi ‘sesuatu’. Sesuatu tersebut tidak hanya dalam lingkup manusia, teapi juga hewan dan tumbuhan. Para manusia (atau makhluk dibumi) akan terus mengalami kelahiran dan kematian berdasarkan karma mereka di dunia. Semakin buruk karma mereka, maka akan semakin sering mereka mengalami reingkarnasi, hingga mereka benar-benar menyempurnakan karma baik mereka. Apabila seseorang telah benar-benar sempurna perbuatannya didunia ini, maka dia akan keluar dari perputaran karmapalad dan menyatu dengan Brahmana (Tuhan /Budha/ Niwana) yang disebut dengan Moksa. Jadi kalo karma kalian buruk bisa saja terlahir kembali menjadi rumput, atau kecebong, iya kecebong berambut kribo:p


Tana Toraja
menempatkan upacara kematian sebagai prosesi yang sangat megah dan mewah. Upacara pemakaman disertai dengan musik, tari-tarian dan pesta untuk masyarakat. kematian di sini adalah sebuah kesempatan mewah. Jadi, keluarga almarhum diberikan penangguhan, mereka tidak perlu menguburkan tubuh mayat dengan segera. Mereka hanya dapat membungkusnya dan menyimpannya di dalam rumah mereka, sementara mereka menabung untuk biaya pemakaman. Bahkan menurut ceritanya mbak Anna Subekti, akan ada semacam prosesi pengembalian nyawa ke mayat oleh dukun kematian, agar sang mayat dapat berjalan menuju makam yang biasanya terletak di pepohonan atau tebing yang tinggi. Kebudayaan tana toraja menganggap leluluhur ada di dilangit, semakin tinggi mayat itu diletakkan, maka semakin dekat ia dengan leluhur (woy kok postingannya jadi serius gini? Salto dulu ah) .


Oke deh, buat yang capek baca bisa rehat sebentar, kali ini emang si Mujix lagi napsu nulis, yang punya kacang dari pacar silahkan dimakan, yang punya pacar silahkan di kacangin.

Postingan ini tentu saja tidak akan memperdebatkan mana konsep kematian yang paling benar, aku menuliskan banyak jabaran tentang kematian diatas hanya sekedar untuk menekankan, bahwa kematian adalah tema yang sangat sensitif bukan hanya untuk cowok galau berambut kribo bernama Mujix, atau sesosok pria dewasa berbadan tinggi besar dengan hutan belantara yang habis ditebang secara liar di janggutnya bernama mas Yoni. Kematian, dan kehidupan setelah mati telah menjadi isu yang berkembang dari ribuan tahun yang lalu sejak munculnya kebudayaan di dunia.


Malam itu pukul 9 lebih 11 menit, kalian tahu apa yang aku pusingkan malam itu? Berbagai asumsi mengenai kematian membuatku gila malam itu. Cukuplah untuk membuatmu enggan makan, males mandi, hanya bengong semalaman agar pikiran kalian tetap sadar dan fokus. Satu hal yang pasti apabila kita membicarakan tentang nyawa, kita tidak tahu kapan nyawa kita akan hilang. Kapan kita mendapat deadline untuk mencari pahala dari Allah, kita tidak tau apakah karma buruk kita telah lunas agar kita segera dapat menyatu dengan nirwana, ataukah akan ada tempat yang tinggi untuk perbuatan kita agar pantas bersanding dengan para leluhur yang tentu saja telah berada di langit mendahului kita, seperti yang dipercayai para masyarakat Tana Toraja.


Namun yang pasti, anggaplah setiap pertemuanmu dengan seseorang adalah pertemuan terakhir. nyawa kita ada di ujung leher. Dekta, Sangat dekat dengan kita saat ini. Lakukan yang terbaik dan terus berusaha.


Sekedar catatan ringan, Om gio adalah seseorang yang (katanya kakakku) menganut paham kejawen. Didalam kartu tanda penduduknya tertera agama Kristen, namun sore itu dia dimakamkan dengan tata cara Agama Islam, dan dia juga seorang paman berkumis bumerang paling hangat yang pernah kutemui. Semoga amal, karma baiknya dan ibadahnya diterima oleh Pencipta Semesta.


Mujix
Adududuh
postingan dengan tema paling sensitif
dan sangat personal
mohon maaf apabila ada kesalahan
dan kekurangan yak
trims buat Mas Is,Mas Yoni, Gde Agus, Anna Subekti,
dan Nanang Musha
atas obrolannya:)
Solo, 18 Maret 2012

Kamis, 15 Maret 2012

sok sibuk

Okey dua bulanan ini aku sepertinya benar-benar sok sibuk. Saking sok sibuknya, gak sadar bahwa banyak urusan sepele yang terlupakan. Ya gituu tuuuh, urusan semacam mencuci baju lah, nyapu kamar kost lah, nulis di blog ini lah, dan lain-lain. Karena saat ini udah luang, aku akan menceritakan beberapa hal yang terjadi akhir-akhir ini.


Di tembok berwarna krem didepan meja kerjaku sekarang terpampang secarik kertas putih yang cukup kumal. Yak, tebakan kalian tepat, kertas itu adalah agenda yang harus aku selesaikan bulan ini. Baru aku ganti tadi pagi, kertas agenda yang lama kubuat bulan di November 2011 kemarin. Sudah cukup lama mengingat aku mengganti benda tersebut pada pertengahan bulan Maret 2012. Pagi hari itu aku kebetulan memang tidur di kost, selain untuk menyewa beberapa komik, ada beberapa hal yang ingin aku lakukan di kost. Hari minggu itu aku habiskan di kamar, melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat anti sosial. Menggambarlah, membaca komiklah, bikin storibotlah, cuci baju lah, dan yang paling ngeres menulis curhat galaulah.


Ya pokoknya sih gituuu. Di bulan Maret ini agendaku cukup banyak, dan aku yakin bakal molor lagi. Kegiatan-kegiatan itu memang benar-benar harus diselesaikan dengan meluangkan waktu yang cukup banyak, salah satu agenda yang paling asoey adalah melanjutkan komik cinta. Iya, maaf komik galau itu memang belum aku kelarin, tapi kabar baiknya, hari ini komik tersebut sudah kelar dua bab. Setelah bergonta-ganti format, akhirnya aku menemukan tampilan yang asik. Setiap hari adalah pencarian ide, untuk bab 3 yang berjudul 'The Greatest Man' ini aku mengalami dilemma yang cukup pelik. Intinya sih ada beberapa adegan opening chapter yang harus aku pilih, doain cepet kelar ya.


Oh iya, kalian ingat komik 'The Hole' yang aku buat akhir bulan januari kemarin? Iya, yang galaunya gak ketulungan itu tuuh. Komik 'The Hole' tersebut akhirnya naik cetak juga di Comical Magz edisi #13, dan berada di halaman depan pula, sensasinya mirip-mirip ketika Komik Si Amed termuat di surat kabar Media Indonesia. Rasanya sih, gimana gitu, bangga juga ya kalau karya kita dapat di nikmati oleh banyak orang. Kerennya lagi, AKADEMI SAMALI gak hanya mengirimkan Comical Magz saja, ada 4 kaos hadiah buat temen-temen Komisi atas kontribusinya mengirim beberapa artikel selama ini. Kaosnya berwarna item, bertuliskan “NOT FOR SALE” berwarna emas menyala gituu. Pokoknya asoey deh, cup cup muah buat teman-teman AKADEMI SAMALI pokoknya.


Eniwei, si Popok gak ikutan kasih komentar di komik the hole, tapi waktu aku kabarin bahwa kadonya naik cetak di Comical Magz, dia girang banget. Kurasa dia mikir gini ketika aku kabarin “Ya ampuuun Mujix,kado segalau itu ternyata ada yang suka juga ya” atau gini “Mujix kamu ganteng”(yang ini kayaknya gak mungkin deh). Setelah mengirim beberapa pesan singkat dengan dia sore itu, akhirnya aku memutuskan untuk segera membenahi banyak hal dengan seksama, membenahi agenda, membenahi kamar, membenahi kegiatan, dan tentu saja membenahi perasaaan.


Selain 'The Hole', aku akan menceritakan kepada kalian tentang serunya menjadi juri lomba komik di kampus UNIVET Sukoharjo. Pagi itu aku bersama Feri Yes You meluncur ke sebuah kota kecil di selatan kota solo. setelah ngopi bentar bersama Bang Arumania di padepokan,kami menyiapkan mental untuk bertemu dedek-dedek es em a dan mahasiswi yang mumumu. Kami tiba disana pukul 10 pagi, kemudian segera meluncur di tempat lomba. Si ipink nyusul pake Onthel. tiba duluan di tempat lomba. Peserta saat itu berjumlah 35 orang, berasal dari wakil berbagai SMA dan SMK di karisidenan Surakarta. Kurasa aku udah gak konsen nulis, kita rehat bentar yak.


Okey ini udah pagi hari lagi, 2 paragraf di atas nulisnya tadi malem jam 1an, maklum seharian kemarin mondar-mandir kemana-mana. Kita lanjutin yak, secara teknis lomba komik di UNIVET Sukoharjo sangat sedehana, para peserta di wajibkan membawa alat gambar dan membedah tema besar yang di ajukan pihak panitia. Tema yang diangkat saat itu adalah ‘Kepramukaan’, dan diberi waktu sekitar 2 jam untuk mepresantisakan ide gagasan mengenai tema tersebut dalam satu halaman komik.


Penjurian berlangsung sangat seru, dibagi dalam 4 materi nilai uji. Oh iya, hasil-hasil komiknya sangat gila. Aku, Feri, dan Ipink tertawa bego saat membaca komik mereka. Maklum, cerita yang mereka buat sangan absurd sekali. Dukungan panitia UNIVET seperti Teguh, Tatag, Umi, dan sangat membantu kami dalam melakukan proses penjurian, akhirnya acara tersebut kelar pada pukul 3 sore, cukup melelahkan juga. Sekedar catatan, dan ini sangat gak penting sekali untuk di bahas, salah satu panitia yang bernama Umi, mahasiswi jurusan matimatika mukanya mirip Pikachu, iya, cinta monyetku saat SMP. Wkwkwkwk tuh kan, gak penting banget :D


Beberapa agenda lainnya adalah membuat proposal pengajuan KP, sama pameran Lemon Tea comic. Begitulah, sepertinya semester ini aku aktif kuliah lagi. Gara-gara cerita si feri yang nekat kuliah karena Poster Pinastika, akhirnya aku memantapkan diri untuk mengambil magang semester ini. Sementara ini aku sedang berusaha mencari studio animasi di daerah Bogor, dan masih menunggu jawaban. Andaikata fix, pasti sangat seru bisa magang di deket ortu disana. Pameran komik Lemon Tea rencananya bulan Oktober 2012, dan sampai hari ini aku belum mengajukan proposal. Sepertinya terlalu banyak materi yang harus direvisi ulang. Di tunggu aja kabar selanjutnya dari aku ya teman.


Eniwei awal bulan maret ini ortuku pulang, yup mereka sengaja mudik buat menghadiri pernikahannya anak pakdheku. Aku hampir semingguan di rumah, yup. Aku memang sengaja membuang semua agenda demi ortuku di kampung. Sangat menyenangkan bisa berkumpul dengan keluarga, kalian setuju denganku bukan? Disela-sela ribetnya pesta pernikahan, aku cukup banyak berlajar tentang bermasyarakat disana, segala pernak-pernik dan lika-liku masalah ala warga menjadi pengetahuan non formal yang layak untuk di kaji. Seperti yang kalian ketahui, dunia nyata adalah dunia yang kejam, dan kata Keima di komiknya Shonen Star “Dunia nyata itu sampah” sangat cocok sekali menggambarkan kacaunya permasalahan mereka sore itu.

Yah sepertinya curhatnya cukup sekian, kalo disuruh nyampah aku jagonya, kalo di suruh nyium Nikita Willy Dude Herlino jagonya. Semoga kalian semua selalu bersemangat yaaak,keep writing :)


Mujix
Solo, 15 Maret 2012

Jumat, 02 Maret 2012

Si Marwan

aku memanggil orang itu dengan sebutan Si Marwan. Pemuda yang berasal dari Tanah Belitong tersebut saat ini tengah mengalami masa-masa paling tolol. Dia adalah mahasiswa rantau yang tengah berjuang di kota Surakarta, Berbekal minat akan tata ruang interior dan niat mulia untuk menjaga arsitektur rumah adat daerahnya, dia nekat mengambil jurusan Teknik di sebuah universitas swasta. Aku bertemu dia kemarin siang, seperti biasa dia meledek rambut kriboku yang makin panjang.


“Weeeey Boiiiiii, berantakan kali kau sekarang”
Si Marwan menunjuk rambutku sambil terkekeh-kekeh.

Aku diem, kemudian mengambil sebuah batu dan berkata “bang, kamu pernah di timpuk pake batu sebesar ini?”


“hahahaha… jangan marah gituu lah. Bercanda aku sekarang. Sini kau kita cerita-cerita dulu boi”
Si Marwan yang aneh.

Dia melepas helm berwarna hitam, Penampilannya kali ini dia sangat rapi, kemeja panjang berwarna krem, celana hitam dan tentu saja sepatu pantovel mengkilat . ditangannya dia memegang map berwarna biru muda, rambutnya klimis berkilau sedikit berantakan. Yah sekilas aku menebak, dia pasti sedang berusaha mencari pekerjaan untuk.


“tadi aku udah muter-muter di kota solo sampai mampus boi. Kau tau, jurusanku itu mahalnya minta ampun. Kalau aku tak cari pekerjaan sampingan, bisa celaka aku boi…”
dia berkata sambil meyeruput the jahe kegemarannya.

“hehehe di kostku banyak cucian kotor bang, mau kerja di kostku?” ujarku.

“gilaa. Apa kau kuat membayar aku? Marwan si lelaki sejati dari Belitong jauh-jauh cuman buat cuci baju. Bah, apa kata orang di kampungku nanti!!”
Aku tertawa kecil melihat dia berkacak pinggang di depanku, wajahnya terlihat sangat lucu dengan dialek khas Belitongnya. Dia adalah salah satu orang hebat di sekitarku, sangat hebat mengingat perjuangannya mempertahankan hidup di tanah yang jauh dari keluarga dan sanak saudara.


“aku mau cerita soal hidupku boi. Takutnya aku bisa gila kalau tak kuceritakan pada siapapun”
dia berkata dengan sangat pelan dengan melonggarkan dasi berwarna belang tersebut.

Sesekali aku menganggukan kepala dan mengalihkan pandanganku ke segala arah.

“boi, hidup itu cuman persoalan memilih dan menyikapi pilihan”, ceileh, temanya berat amat bang. Perasaan dari pertama mosting disini isinya cuman masalah hidup dan hidup doang, kapan kita bahas sesuatu yang lebih nyata, membahas Nikita Willy misalnya. Si Marwan akhirnya terdiam, dia memandang kelangit sejenak.


“dan tadi malam boi, Tuhan memberikanku suatu persoalan yang tidak sesederhana memilih dan menyikapi pilihan”
dia berkata lirih dan perlahan.


Dia akhirnya memuntahkan semua keluh kesahnya sore itu, aku terdiam dan membiarkan dia berbicara kemanapun dan tentang apapun. Malam itu adalah malam yang berat bagi seorang pemuda rantau bernama Marwan,gara-gara sepeda motornya sedang ngadat di bengkel, beberapa hari ini dia pergi kemanapun dengan berjalan kaki atau memanfaatkan angkutan umum.

Pukul 6 pagi dia berangkat dari kost, berganti angkutan umum, berjalan dari satu tempat ke tempat lain, kemudian memasuki berbagai kantor dinas mengajukan lamaran kerja, lalu dia berjalan lagi, berganti angkutan umum dan seperti itu terus hingga malam menjelang. Berbekal surat kabar terbaru itu, dia berniat untuk segera mendapatkan pekerjaan tetap agar bisa meneruskan kuliah di kota ini.


“kadang-kadang aku sering bengong di pendopo itu boi” dia menunjuk sebuah bangunan joglo ala rumah adat jawa yang khas, tempat itu memang sering menjadi tempat melepas lelah banyak orang. Suasana yang teduh sepertinya memang menjadi kelebihan pendopo tersebut. Apalagi kalau sore hari, banyak penjual camilan beraneka ragam disana. Makanan sederhana seperti cimol, cakue, hingga makanan berat sebangsa Bakso Malang, tahu kupat, mie ayam tersedia sepanjang hari menjelang petang. Ketika malam beranjak, biasanya semakin ramai dengan wedangan khas Solo di samping joglo sebelah barat.


Si Marwan malam itu sepertinya mengalami malam paling payah sedunia. Problemantika ala mahasiswa rantau mencapai titik paling klimaks, dua minggu lagi dia harus membayar SPP, tunggakan kamar kost, dan kegagalannya mencari pekerjaan menjadi momok beberapa hari yang lalu.

“aku sampai trauma dengan hape ini boi” sambil memperlihatkan hape nokia berwarna hitam kusam.

“setiap kali ada sms masuk, aku ketakutan setengah mati. Pikiranku berasumsi banyak hal boi. Uang kostlah, spp lah, penolakan joblah, pernah sekali hape ini aku banting boi” sambungnya dengan menyeruput teh hangat yang kian mendingin. Aku paham apa yang dia bicarakan, sebuah kisah yang sering kualami, sebuah cerita yang sering di rasakan banyak anak rantau.


“makanya hape ini sering aku non aktifkan boi, setidaknya hari ini aku bias focus terhadap apa yang aku ingin lakukan. Walau mungkin bakal terlihat menyebalkan untuk orang lain”
ujarnya.


Suasana sore itu cukup menyenangkan, bau tanah yang basah, suasana dingin usai hujan yang sering aku nantikan. Hujan tadi malam mengguyur kota solo tanpa ampun, kata temanku waktu SD, hujan adalah air mata dari tangisan Tuhan, dia menangisi para manusia di dunia yang telah kejam merusak alam yang dia ciptakan sedemikian rupa. Namun sekarang mitos tentang tangisan hujan itu telah berubah menjadi sekelumit teoari tentang siklus air yang mengalami penguapan dan mengendap di awan dan berubah menajdi hujan. Yah, ketika kalian beranjak dewasa berbagai mitos dan dongeng itu akan lenyap seiring bertambah ‘pintar’-nya kalian melogika tentang lingkungan sekitar.bahkan andaikata teman SD-ku itu aku ceritakan lagi tentang kisah air mata Tuhan, mungkin dia akan mencibir kemudian menganggapku gila.

“tadi malam boi aku terjebak hujan disana, aku tidur beralaskan Koran dan sambil mendekap tas ini” tangannya menunjuk ke sebuah ruko berwarna coklat dengan etalase mewah dari kaca.

Aku kaget, tempat emperan itu hanya berukuran kira-kira 2 meter dari trotoar, jangankan untuk tidur, sekedar berdiri saja terlalu banyak cipratan air yang akan mengenai kalian.


“serius bang!!? Kau tak masuk angin sekarang!!?” aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku.

“serius lah boi, buat apa aku dusta sama kau… ” hampir tiga jam dia tertidur di emperan , dia tahu bahwa tak mungkin bisa melawan hujan sederas itu. Ketika semuanya sudah mulai reda, Si Marwan segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu dengan mengigil kedinginan, dia memasukkan semua dokumen-dokumen penting itu ke sebuah plastic hitam yang dia temukan di tempat sampah, setidaknya benda-benda semacam HP, Flash disk, dan note book itu tidak ikut terkena air hujan.


“Tuhan sedang berusaha mendinginkan kepalaku boi, dia menurunkan hujan, menyinggahkanku ketempat dimana aku bisa berinteraksi dengan dirinya melalui hujan. Rasanya absurd sekali boi. Malam itu hidup terlihat sangat menyebalkan”


Malam itu dia berusaha untuk tidak mengeluhkan semua hal. Menurutnya Tuhan sedang memberinya mata kuliah abadi yang bernama ‘ilmu hidup’. Dia segera saja berjalan meninggalkan trotoar dan pulang ke tempat kawannya,

Sebelum kami berpisah dia berkata dengan cukup serius “sekali lagi boi, hidup itu cuman persoalan memilih dan menyikapi pilihan Berusahalah agar kau bisa menikmati pilahan tersebut dan jangan sekali-kali menyesalinya ” dia segera berjalan menuju motor bebek yang tak jauh dari tempat kami bercerita, dia melambaikan tangannya dan lenyap di ujung tikungan. “duluan boi, kapan-kapan kita sambung lagi”.



Mujix
masa depan adalah sekarang
Solo, 02 Maret 2012