Selasa, 28 Juli 2015

Demam dan Ruang Kerja

Ruang kerjaku kali ini sudah tertata rapi. Meja gambar yang berukuran cukup panjang itu sudah tampak bersih, tak nampak lagi mangkok bekas makanan, alat-alat gambar berantakan, ataupun celana pendek milik keponakan. Buku-buku itu juga sudah berderet sedap dipandang. Aku membayangkan keadaan ruangan itu tiga hari yang lalu, Beuuuuh ancur abiiiis!! Semua hal penghuni bumi dan seisinya seakan-akan hanya diciptakan hanya untuk mengisi ruang kerja mungil tersebut. Lebaran menjadi momen yang paling tepat untuk membuat ruang kerjaku dialihfungsikan menjadi 'Gudang dadakan'. Semua benda dari berbagai ruangan ber-transmigrasi dengan liar dan membuat ruang kerjaku makin kacau. Sekacau agendaku akhir-akhir ini.

Kakakku pernah bilang, untuk melihat keadaan seseorang, lihatlah ruangan di mana dia tinggal. Nah, andaikata kalian bisa melihat keadaan ruang kerjaku saat itu, pasti kalian bisa menyimpulkan bagaimana keadaan hidupku akhir-akhir ini. Berantakan. Pola hidupku akhir-akhir ini cukup berantakan. Secara jasmani aku beberapa kali nge-drop gara-gara kecapekan. Alasannya sepele, seperti telat makan atau kebanyakan begadang menghalau malam. Beberapa malam memang tidak dapat ditundukkan olehku. Saat-saat itu tiba biasanya ketika pertanyaan-pertanyaan ber-genre filsafat tak terjawab oleh akal sehat. 

Percayalah, terkadang akan ada masa dimana kamu bosan dengan jawaban diplomatis logikamu sendiri dan berharap ada wahyu yang turun dari langit untuk membeberkan semua jawabannya. 

Mens sana in corpore sano, adalah sebuah kalimat dalam bahasa Latin yang artinya adalah "Jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat. Gimana mau sehat kalau jiwa isinya cuman pertanyaan-pertanyaan yang belum ada jawabannya. Makanya jangan kaget kalau banyak pemikir dan filsuf gila dan mati konyol gara-gara terlalu banyak berpikir.

Ketika demam melanda aku biasanya tidak melakukan apa-apa. Gimana mau melakukan apa-apa, badan dipakai untuk berpindah dari kamar tidur ke kamar mandi saja sudah sempoyongan gak karuan. Kalian tahu rasanya kan? Semacam rasa cenat-cenut di hati kayak lagunya SM*SH tapi kali ini letaknya di kepala. kalau enggak ya semacam 'Kaki di kepala, kepala di kaki' seperti lagunya Peterpan. Tidak melakukan apa-apa dan hanya meringkuk di ruang tidur dengan selimut.

Tanda-tanda kemunculan demam itu hadir secara perlahan. Siang itu diawali dengan suhu sekujur badan tiba-tiba menghangat. Andaikata memejamkan mata, semacam ada warna orange menyelimuti tubuhmu. Ketika badan sudah panas kemudian muncullah rasa pusing membungkus kepala. Sudah cukupkan prosesnya? Belum. Harus ada semacam cairan yang nyangkut di tenggorokan yang memaksamu untuk terus terbatuk-batuk sampai kelelahan. 

Di waktu aku mengeluh akan keadaan jasmani yang berantakan itu tiba-tiba muncul ingatan mengenai petuah Ajahn Brahm, petuah mengenai bahwa 'sakit itu tidak apa-apa', 'sakit itu oke', 'kalau bisa belajarlah dari rasa sakit', dan yakinlah semua 'inipun akan berlalu'. 

Huft, disaat-saat berantakan itu juga muncul imajinasi bodoh tentang Raisa Andriana yang tiba-tiba datang membawakanku bubur ayam dan menyuapiku dengan penuh kasih sayang. Jangan diketawain namanya juga sedang sakit. Segalanya tidak ada yang normal ketika sakit. 

Melihat ruang kerjaku yang amburadul itu seperti melihat pola hidupku yang juga sama amburadulnya. Telat makan itu seperti lupa men-charger Handphone, bakal terasa nyeseknya saat ada keperluan mendadak melalui telfon eh tiba-tiba Handphone mati. Salah siapa? Salah pemilik Handphone laah. Buku-buku berserakan itu mengingatkanku akan kegiatanku yang juga 'berserakan' gak jelas waktunya. Bangun tidur dan mau tidur jamnya sangat random, tidur jam berapa bangunnya jam berapa. Terakhir kali aku membersihkan karpet sepertinya sama jarangnya dengan kegiatan olahraga. Hal cukup baik yang belum terlupakan adalah banyak minum air putih.

Ya air putih, cairan ini terus aku minum saat demam itu melanda. di malam puncak ketika demam itu terjadi aku berjanji banyak hal. Setelah sembuh aku akan mencoba untuk merapikan ruang kerjaku lagi. Membersihkan karpet berwarna biru yang telah berdebu itu. Oh iya, aku harus beli charger lagi agar aku bisa merapikan berbagai agenda. Olahraga rutin sepertinya juga menyenangkan, Aku kangen masa-masa di mana bisa main basket bareng teman-teman. Sialan. Semoga hal-hal ini bukan hanya janji-janji palsu seorang komikus yang sedang sekarat gara-gara demam.

Mujix
saat ini demamku sudah sembuh,
ruangan kerja juga sudah rapi jali.
selanjutnya tinggal memikirkan
gimana caranya agar
aku bisa melaksanakan
semua agenda ini dengan
semangat.
Simo, 28 Juli 2015