Senin, 30 November 2015

Kembali ke masa depan

Tumpukan awan berwarna putih itu masih diam ketika aku tiba di sini, di sebuah sekolah menengah kejuruan. Tempat dimana aku belajar seni rupa dan menggambar komik. Iya. Sekarang aku berada di sekolahku yang dulu. Sepuluh tahun telah berlalu sejak saat itu. Tempat ini sudah banyak yang berubah. 

Gerbang yang dulu hanya tralis dari besi berkarat,  sekarang berganti menjadi gerbang besar dengan ukiran patung Dewaruci sedang bertarung dengan Naga. Lebai dan norak banget gerbangnya. Tapi gak papa sih, namanya juga sekolah seni.  Gerbang sekolah ini benar-benar terlihat berbeda apabila dibandingkan dengan gerbang yang sama di sepuluh tahun yang lalu.

Hari ini adalah jam pulang sekolah. Para siswa bergerombol dan membludak untuk segera bergegas ke rumahnya masing-masing. Aku clingak-clinguk mencari seseorang. Cewek? Bukan. Kali ini aku sedang berkepentingan dengan seorang cowok. 

Seorang cowok jurusan seni rupa yang kukenal hanya melalui ingatan. Beberapa menit sudah aku berada di gerbang. Namun cowok yang aku cari tidak segera muncul. Mataku yang jelalatan ke segala arah itu tidak bisa menemukan dia. Aku menghela nafas panjang.

“Brengsek… kemana bocah itu pergi” aku segera berjalan menuju ke dalam sekolah. Sejuta kenangan menyambut dan menikam dada tanpa ampun. Jeruji besi berwarna hitam yang memisahkan area parkiran dan lingkungan sekolah itu masih berdiri di sana. 

Aku memasuki pintu jeruji besi itu seperti tahanan yang keluar dari penjara. Lantai dari perpaduan tegel dan keramik juga masih terasa kasar di ujung kakiku. Mading itu, taman kecil itu, dan papan penanda itu, wah, Semuanya sangat akrab walau terlihat berbeda.

Dari kejauhan terdengar suara riuh rendah. Beberapa siswa sepertinya masih beraktivitas dengan banyak hal. Seingatku dulu, siswa-siswa yang masih berkeliaran setelah pulang sekolah adalah anggota OSIS, Bantara, atau organisasi ekstrakulikuler lain. Mereka yang berada di sekolah di waktu seperti ini adalah mereka yang aktif di kegiatan organisasi sekolah, mereka yang haus akan eksistensi dan mereka  yang kelebihan energi untuk disalurkan.

“Dung… Dung..  Dung…” bunyi bola basket yang di-dribel mengisyaratkan bahwa seseorang yang aku cari ternyata ada di sini. Sesosok anak laki-laki sedang berlari membawa bola basket berwarna kuning. Anak laki-laki itu berambut keriting pendek, mengingatkanku pada tokoh ‘Laskar Pelangi’ yang bernama Ikal. Seragam SMA yang ia pakai terlihat kusut dan sedikit basah karena keringat. Wajahnya terlihat lelah namun bersemangat. Sebuah lompatan pendek dilakukannya ketika dia sampai di samping ring.

“Uoooh!!” dia berteriak sambil mengulurkan bolanya ke arah ring. Sejurus kemudian bola itu menabrak ring dan memantul kena papan.

“Sraaak” bunyi bola tersebut ketika masuk ke ring.

Dia tersenyum kecil dan kembali berlari mengambil bola. Sepertinya bocah itu sudah cukup kelelahan untuk melanjutkan permainan basket tersebut. Aktivitas yang tolol. Hanya orang tolol yang bermain basket sendirian jam 2 siang di lapangan basket.

Aku berjalan menuju ke arah bocah tersebut. Dia menyenderkan tubuhnya dan memandang jauh ke arah para anggota OSIS yang tengah berlatih baris-berbaris. Pandangannya tertuju ke sosok perempuan dengan rambut pendek di barisan paling belakang. Bocah itu tersenyum kecil. Aku kemudian duduk di sampingnya. Dia agak kaget dengan kedatanganku.

“Boleh pinjam bolanya?” aku mengulurkan tangan ke arahnya.

Dia memandangku sesaat.

“Nih!” bocah ini melemparkan bola tersebut dengan perlahan. Kedua tanganku memegang bola itu dengan sangat berhati-hati. Aku segera membawa bola itu ke tengah lapangan. Hanya orang tolol yang bermain basket di jam 2 siang. Aku sepertinya termasuk gerombolan orang tolol tersebut. Hahaha.

Bola itu aku pantulkan ke lantai lapangan.

“Dung… Dung.. Dung” bunyi bola yang terpantul di lantai itu kesannya ‘sesuatu’ banget. Entah sudah berapa tahun aku tidak memegang bola basket. Terakhir kali tahun 2007 saat ikut UKM basket di kampus. Aku mencoba berlari sambil me-dribel bola. Agak canggung. Ketahuan sekali kalau udah jarang berolahraga. Dengan sekali hentakan aku melempar bola itu ke ring.

“Dung!!” bola memantul dan terpental ke luar lapangan. Fail. Gagal total. Itu lay up terburuk semenjak aku kuliah. Bocah itu tertawa terkekeh-kekeh dengan muka tengiknya.

“Bolamu jelek! Apaan! Masak ada bola benjol gituh?!!” aku mencari alasan untuk menutupi kesalahan lay up payah tersebut.

“Bukan salah bolanya mas! Kontrolmu aja yang payah” bocah itu terus aja tertawa sambil menerima bola yang aku ulurkan.

“Cih!! Iya deh! Iya!” kumakan saja semua caci maki gak jelas itu.

Suasana lapangan basket sangat berbeda apabila dibandingkan tempat di mana kami beristirahat. Di tengah lapangan panas bagai berjemur di jalan raya. Di pinggir lapangan ini lebih baik. Pohon-pohon rindang itu membuat semuanya menjadi sejuk. Belum lagi angin sepoi-sepoi yang mengusap wajah basah setelah berkeringat. Kurasa inilah yang disebut surga oleh para pemuka agama.

Kami berdua duduk dengan memandang ke lapangan basket di sekolah. Tidak ada obrolan lagi. Aku sibuk dengan lamunanku, dan bocah itu sibuk dengan komik yang dia baca.

Heh? Dia baca komik? Mataku melirik buku komik tersebut. Sepertinya aku kenal. Slam Dunk! Karya Takehiko Inoue. Jilid 15. Uoooh. Komik legendaris yang menjadi salah satu inspirasiku.

“Dek, kamu suka baca komik?” aku tidak tahan untuk bertanya.

Dia diam sejenak, kemudian melanjutkan aktivitas membacanya.

“Suka.” Aku memperhatikan ekspresinya saat membaca komik itu. Lucu. Terkadang dia tersenyum. Namun terkadang bermuka serius dengan muka terkejut. Ketika sampai di lembar terakhir, dia menghela nafas panjang.

“Kenapa?” aku bertanya lagi.

“Bersambung, Mas! Harus nungguin jilid berikutnya.”
 Hahaha. Bocah itu sepertinya sudah tidak sabar untuk mengetahui kelanjutannya.

“Aku juga suka baca komik! Saat ini aku sedang mengikuti komik One Piece dan One Puch Man.”
Bocah itu menoleh dengan mata berbinar-binar.

“Masnya juga baca komik? Mana-mana pinjam dong!” tiba-tiba saja dia berada di depanku.

“Enggak aku bawa. Aku bacanya manga-scan di internet kok!” aku mencoba memberi penjelasan. Sepertinya dia bingung dengan apa yang aku ucapkan. Bocah itu kecewa.

“Yah! Gimana sih Mas. padahal aku udah seneng lhooh. Kirain aku bisa baca komik baru tanpa pergi ke rental komik!”

“Rental komik?”

“Iya, Rental Komik. Karena uang sakuku terbatas, maklum anak kost. aku cuman bisa baca komik lewat rental komik.”

Iya sih. Harga komik memang mahal. Apalagi untuk siswa seusianya. Harga sewa komik biasanya 10% dari harga yang dijual. Jika suatu komik harganya Rp.20.000, maka harga untuk menyewanya di rental pasti hanya Rp.2.000. Cukup murah jika mengingat pengalaman baca yang ditawarkan. Aku dulu juga seperti itu, menyewa banyak komik untuk bahan pembelajaran. Namun untuk komik yang benar-benar aku sukai, aku pasti akan membelinya.

“Komik yang sedang kamu baca bagus mas? sama Slam Dunk bagus mana?” Bocah itu bertanya lagi mengenai komik yang sedang aku baca.

“Setahuku sih komik One Piece membosankan. Kalo One Puch Man, aku malah baru tahu!” dia menyambung pertanyaan yang belum sempat aku jawab.

Aku berpikir sejenak memilih jawaban yang pas untuk pertanyaan itu.

“One Piece bagus kok. Mungkin kamu baca versi bajakannya. Jadi terjemahannya agak ngawur. Tapi kalau dibandingkan dengan Slam Dunk, aku akan tetap memilih Slam Dunk. Aku ngefans sama Hanamichi Sakuragi soalnya. Itu soal selera genre komik sih. ”

“Aku juga ngefans sama Hanamichi Sakuragi Mas. Keren ya tokohnya. ” bocah itu tersenyum penuh arti kemudian kembali melirik kearah para anggota OSIS yang masih berlatih baris-berbaris. Sejak tadi, mata bocah itu selalu tertuju ke arah perempuan dengan rambut pendek di barisan paling belakang .

“Selain baca komik, aku juga bikin komik dek! Ini komik buatanku!” Saatnya untuk pamer! Aku mengeluarkan beberapa komik buatanku. Kebetulan aku membawa komik yang berjudul ‘Negara ½ Gila’, ‘Proposal Untuk Presiden’, ‘Komisi Empat Penjuru’ dan ‘Si Amed’. Buku-buku komik kebanggaan tersebut langsung aku jejer di depannya. Bocah itu ternganga dan sangat terkejut. Tangannya dengan sedikit gemetar mulai memegang komik buatanku.

“Masnya seorang Komikus?! Kereeeeen!!” Dia dengan sangat bernafsu mulai membuka lembar demi lembar komik yang aku buat.

“Ini cara bikinnya gimana mas?” pertanyaan tentang proses pembuatan adalah pertanyaan yang sering aku temui ketika bertemu pembaca baru.

“Ya gituh dek. Kamu gambar dulu manual, terus dipindah pake scanner, lalu di edit deh pake Adobe Photohoshop!” ujarku sambil tersenyum bangga.

“Kayaknya susah ya mas?!” tukas bocah itu sambil mengambil sesuatu dari tas rangselnya.
Dia mengeluarkan beberapa buku dan berlembar-lembar kertas hvs yang penuh dengan gambar. Ternyata bocah itu juga menggambar komik! Aku kaget.

“Ini komik karya saya mas. Judulnya ‘Panca Semesta’! ” uoooh. Tebel abis komiknya. Aku mengambil komik itu dengan penuh antusias. Gokil. Komiknya unik banget.

Komik berjudul ‘Panca Semesta’ itu berupa lembaran-lembaran komik yang distaples menjadi sebuah buku. Covernya udah diedit pake  Adobe Photohoshop. Coloringnya kasar. Tapi untuk sekelas anak SMA, itu udah keren banget. 

“Gokiiiil!!! Ceritanya tentang apa nih!?” jeritku sambil membuka komik itu lembar demi lembar.

“Ceritanya tentang pendekar tangguh bernama ‘Joko Pangestu’ mas, terus dia terlempar ke masa depan dengan misi mengembalikan pusaka perguruannya yang bernama ‘Panca Semesta’!”

“Terus!!? Terus!!?” aku mendesak dia agar untuk menjelaskannya dengan lebih detail. Obrolan apapun tentang komik sangat menyenangkan.

“Terus? Baca aja sendiri. Tapi maap. Komik itu aku bikin langsung loncat ke jilid 32.”

“Whaaaat!!! Udah jilid 32!!! Gokiiiil” aku tak bisa menahan rasa terkejut melihat kenyataan ini.

Permukaan kasar khas kertas HVS ini benar-benar nyata. Buku ini pasti dihasilkan dengan segenap curahan jiwanya. Goresan yang dia buat sangat ekpresif, terlepas dari proporsi dan anatominya yang salah. Beberapa gambar latar belakang terlihat berantakan. Namun aku tidak berharap lebih. Aku hanya ingin membaca buku ini sampai selesai.

“seru! Terus jild 1 sampai 31 mana Dek?” tanyaku dengan penuh harap.

“Anu… masih didalam otak sih Mas. Aku emang bikinnya langsung loncat ke jilid 32… hahaha” bocah itu tertawa dengan muka agak dipaksakan seakan ketahuan kebohongannya.

“Dasar! Jangan suka melompat-lompat gitu dong. Suatu saat kalau kamu jadi komikus professional sifat itu harus dihilangkan yaa, kasihan sama pembacamu” ujarku memberi nasihat kepadanya.

“Hahahaha siap Mas!!!” teriaknya sambil tersenyum lebar.

Di jilid ini ternyata memiliki cerita yang cukup seru. Tokoh utama yang bernama ‘Joko Pangestu’ bersekolah di SMA, memiliki teman yang baik, dan tentu saja memiliki kisah cinta. Secara garis besar, jilid ini bercerita tentang sepak terjang Joko dalam merebut pusaka yang dimanfaatkan oleh penjahat. Adegan aksi dari panel ke panel cukup absurd. Terkadang ada pertempuran energi ala-ala komik Dragonball.

“Bagus. Komikmu bagus dek. Hanya saja cerita cinta yang terselip di komik ini malah sedikit mengganggu.” Aku memberi saran sotoy kepada bocah itu.

“Oh. Gitu ya mas. Sebenarnya itu curhat sih.” Tukas bocah tersebut sambil tertawa.

“Yaelah, curhat. Yah. Bagus. Teruskan aja dek bikin komiknya.” Aku memberikan kalimat penutup agar obrolan ini segera berakhir.

“Gimana mas? Ada masukan lagi buat aku?” Tanyanya sambil memasukkan buku itu ke dalam tas.

“Hmm… gimana ya?” aku berpikir sebentar sambil memegang janggutku. Biar kelihatan keren gituh.

“Oh. Aku paling suka sama karakter ceweknya. Namanya siapa tadi?”

“Ari! Namanya Ari Irianti mas” ujarnya sambil tersenyum.

“Oh. Ari Irianti. Gambarnya bagus. Entah kenapa aku merasakan kalau karakter ini benar-benar ada di dunia nyata. Gimana ya? Aku seperti melihat ada perasaan yang muncul dari karakter itu.” Aku langsung saja bercuap-cuap memberikan kesanku.

“Hehehehe iya mas. Karakter itu aku gambar dari temen sekelasku kok! Nooh! Itu lhoo mas! Embaknya yang sedang latihan baris di sana” bocah itu berkata sambil menunjuk seorang perempuan berambut pendek yang sedang kepanasan.

“Ciyeeeeee!!! Pacarnya ciyeeeeee!!!” aku menggodanya tampa ampun. Dia langsung tergagap dengan muka memerah dan berkeringat. Aku sudah tahu apa yang terjadi saat ini.

Bocah itu kaget dengan muka merah padam. Sepertinya aku langsung meng-counter-nya dengan pertanyaan yang menohok.

“Euuh!! Engg..Enggak kook!!!” Bocah itu mencoba untuk menutupi rasa panik dengan berbohong. Aku cukup yakin kalau dia berbohong, terlihat sekali kalau pertanyaanku cukup mengagetkan dia.

“Ciyeee… Ciyeee… beneran enggak naksir? Aku bilangin ke dia ya?” aku berdiri seolah ingin menghampiri perempuan tersebut. Bocah itu kemudian menarik jaketku sambil terus meracau tentang apa yang dia rasakan.

“Jangan Mas!! udah!! Aku ngaku deh!! Iya iya!! Aku naksir dia kok” kata bocah tersebut dengan wajah memerah. Hihihi. Lucu deh. Aku kembali ke tempatku semula, menepuk punggungnya sambil berkata penuh canda.

“Terus gimana? Kamu udah jadian sama dia?”

“Jadian apanya mas? aku ditolaknya minggu lalu!” dia berkata lirih sambil memeluk lututnya. Sebersit kesedihan terpancar dari raut wajah bocah tersebut. Aku tidak tahu harus berkata apa. Dia tiba-tiba saja bercerita tentang perempuan itu.

“Aku jatuh cinta sama dia sejak kelas 1 Mas. Dia adalah alasan terbesarku untuk datang ke sekolah. ” Alasan terbesar? Sok dramatis banget tuh bocah.

“Hahahaha… kenapa kamu masih senyam-senyum gitu? Padahal kamu habis patah hati lho dek” Bocah itu menoleh ke arahku, memandang tajam mataku lalu berkata tentang satu hal yang membuatku kaget.

“Masnya malah lebih parah, enggak patah hati tapi enggak bisa senyam-senyum” Eng… Ing… Eng… Terucaplah kata-kata keren yang tiba-tiba membuatku merinding. Suasana di sekitar kami berubah menjadi sendu. Gila, anak kecil sekarang benar-benar cepat dewasa ya.

Bocah itu tiba-tiba berdiri.

“Mau kemana?” tanyaku dengan sedikit bingung.

“Sholat Ashar. Udah mau jam tiga. Mau ikut?”

Aku berjalan mengekor di belakangnya. Benar saja, suara adzan terdengar dari mushola sekolah. Tidak ada obrolan sama sekali. Aku juga enggan untuk bertanya.  Adzan bagiku adalah waktu yang tepat untuk mengistirahatkan apapun. Waktu untuk makan siang, ataupun waktu untuk sekedar membuat teh panas agar makin bersemangat dalam bekerja.

Kami akhirnya sholat berjamaah. untukku saat ini, sholat hanya sekedar formalitas. Maaf.  Formalitas eksklusif seorang manusia, sebuah ritual yang kulakukan untuk menandai waktu. Aku tidak mau membebani hidupku dengan surga dan neraka. Andaikata saat sholat aku bisa khusyuk dan berbincang dengan tuhan, itu adalah sebuah bonus. Namun pendapatku itu sepertinya berbeda dengan bocah tersebut.

Sehabis sholat aku berdoa seperlunya dan langsung nongkrong saja di pelataran masjid. Ketika aku meninggalkannya, bocah itu masih berdoa dengan khidmat. Mulutnya berkomat-kamit membaca sesuatu dengan muka serius. Entah dia meminta apa kepada Tuhan, aku juga tidak terlalu berani untuk menebak.

Pelataran masjid adalah tempat paling damai di sekolah ini. Tidak ada tempat lain sehangat tempat ini. Apalagi suasana sore yang cerah menemaniku untuk bernostalgia dengan apapun. Sudah lama sekali aku tidak duduk-duduk di  tempat pelataran ini.

Aku bisa mengingat banyak hal. Ujian hafalan surat Al Quran saat UAS, kaca tempatku berdandan saat jumatan, hingga perasaan lega saat aku berhasil menyatakan cintaku untuk seseorang. Saat itu aku bahkan mengguyur kepalaku dengan air keran agar kepalaku bisa berpikir dengan normal. Ah. Aku benar-benar ingat muka kucek dan segala kecerobohanku saat itu. 

Hahaha masa muda yang benar-benar menyebalkan.

Bocah keriting itu sepertinya sudah selesai dengan ritual berdoanya. Dia agak terkejut karena masih melihatku di tempat ini.

“Belum pulang mas? Nungguin siapa” tanyanya sambil mengikat tali sepatu.

“Nungguin temen. Tapi kayaknya dia gak jadi ke sini. Terus, kamu mau ke mana?” aku menjawabnya dengan santai dan terus memperhatikan apa yang dia lakukan.

“Pulang dong! Aku mau bikin acara buka bersama mas. Ntar sore.” Ujarnya sembari merapikan baju dan menenteng bola basket.

Kami berdua berjalan bersama keluar area sekolah. Sebentar lagi memang waktu untuk berbuka puasa. Di perempatan bocah keriting itu berjalan kea rah timur. Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk berpisah.

“Mas, aku cabut dulu. Udah ke sorean nih” Dia mencolek tanganku sambil berpamitan.

“Oke! Salam buat teman-temanmu ya” sebuah kata perpisahan yang konyol.

“Oke, Mas!” Bocah itu berjalan pelan dengan tubuh sedikit membungkuk.
Sepertinya dia sedang mengalami hari-hari yang berat. Aku merasakan semua tawa dan keceriaannya tadi hanyalah topeng belaka. Semuanya terbaca saat melihat punggung dan cara berjalannya dari belakang. Seperti terlihat sedih. Aku tidak tahan untuk menegurnya sekali lagi.

“Dek!” aku berteriak cukup keras. Bocah itu menoleh dengan wajah penuh tanda tanya.

“Apa lagi mas?” dia bertanya dengan wajahnya yang seakan dibuat ceria.

Suasana hening sejenak. Kami hanya terpisah beberapa meter di ujung jalan. Dan aku tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membuatnya terhibur.

“Dek, Bertahanlah! Jangan menyerah untuk apa yang kau cita-citakan” dia tersenyum sambil melambaikan tangannya. 

Aku yakin dia akan baik-baik saja. 
Seperti aku yakin akan kehidupanku saat ini yang nyatanya berjalan dengan baik.

Mujix
Ciyeee yang
udah pake smartphone
terus bikin instagram tapi
bingung mau di isi apaa
Simo, 30 November 2015.

Selasa, 24 November 2015

Aku dan Josephira 2

'Aku dan Josephira' adalah postingan kedua yang paling sering dicari oleh para netizen di blog ini. Aku berani berspekulasi, kamu yang membaca tulisan ini juga tersangkut tak sengaja di blog ini gara-gara menggunakan kata kunci 'Josephira' di mesin pencari bernama Google. Enggak papa. Lanjut baca saja. Beberapa kata kunci yang tersimpan di riwayat penjelajahan sangat beragam, mulai dari 'Siapa sebenarnya tokoh bernama Josephira' hingga 'Joane Josephira istri Bimbim Slank'. Baiklah. Aku akan Googling sebentar. Aku sendiri juga kurang siapa sebenarnya tokoh 'Josephira' yang muncul sebagai judul lagu tersebut.

Here we go!

Joane Joshephira adalah Slankers (sebutan untuk para penggemar grup band Slank) yang berasal dari Manado. Bisa dibilang sosok ini merupakan sosok yang pendiam apabila dibandingkan dengan teman-temannya yang katanya datang ke Gang Potlot. Gadis ini sempat menjadi rebutan, atau setidaknya menjadi incaran para anggota Slankers yang lain. Namun dengan kharismanya yang sangat keren, Bimbim Slank-lah yang menjadi pemenangnya. Perempuan blasteran Amerika dan Manado ini akhirnya menjadi istri dari pentolan band rock ini. Mereka melangsukan pernikahan di Sukabumi, 6 Juni 1993. Joane Joshephira diabadikan di beberapa lagu Slank seperti 'Josephira', 'Lagi Sedih' dan 'Seksi Melanie'. 

Aku juga memiliki kisah tentang Josephira. Kisah dimana aku menandai masa muda dengan sebuah keikhlasan untuk melepas seseorang. Seseorang yang saat itu benar-benar aku cintai sampai mati. Tanda tersebut berwujud menjadi sebuah komik. Aku membuatnya untuk submisi pameran generasi biru di GKS pada tahun 2010, detail event lengkapnya bisa dibaca di postingan ini: Aku dan Josephira. Baiklah. demi kalian, aku akan mengunggah komik berjudul Josephira di blog ini. Siap-siap yah. Ceritanya bakal galau abis.





















Komik ini murni komik curhat. Aku menggambarkan apa yang ingin aku gambarkan.  Begitulah. aku memang bercerita tentang proses pencarian cinta sejati. Ini adalah karya paling gelap, paling sakit, dan paling nge-art yang pernah aku bikin. Jika menikah adalah hasil akhir untuk sebuah hubungan percintaan, maka pernikahan antara Bimbim Slank dan Josephira adalah akhir yang membahagiakan.

Aku mempercayai bahwa untuk mendapatkan cinta yang sebenarnya, ada pengorbanan yang benar-benar besar untuk mendapatkannya. Mungkin mirip kisah Bimbim yang berdarah-darah berjuang untuk memiliki hati Josephira. 

Kurasa seperti itu. Jika kalian benar-benar Slankers Sejati, sebarkan kisah ini ke teman-teman kalian. Siapa tahu kelak Bimbim dan Josephira benar-benar bisa membaca kisah ini. Bukankah itu sangat menyenangkan, ketika karya kalian diapresiasi oleh inspiratornya langsung. Gituh Gaes. 

Mujix
Komikus kribo
yang suka curhat melalui
blog. Saat ini doi sedang berjuang
untuk menemukan cinta sejati.
Simo, 24 November 2015.

Rabu, 11 November 2015

Sang Seniman Senior

“Harusnya tuh kamu kalo bikin komik itu dikonsep dulu! Dipertimbangkan dari sisi marketingnya!” Kata lelaki dengan tampang gahar itu saat memberiku saran.

Heh!? Saran!? Saran apaan!?
Baiklah. Akan aku jelaskan kronologisnya dari awal.

***
Siang itu, aku dan seorang teman, namanya Feri Widiyanto, sedang beristirahat di warung di depan kampus. Yah. Kita hanya berniat beristirahat sambil makan camilan yang tersedia di sana. Hanya beristirahat. Catat ya.

Seharian kami menerobos belantara kota Solo untuk merampungkan berbagai hal terkait dengan workshop Simon Hureau. Apapun. Mulai dari membereskan nota-nota hingga mengembalikan uang sisa.

Uang sisa itu sudah tertata rapi di tas rangselku sejak tadi pagi, tepatnya jam 9 pagi. Aku berkendara cukup jauh dari Simo ke Kota Solo dengan niat satu hal, merampungkan urusan soal workshop. Yah, kurasa kalian juga paham tentang prinsip ‘selesaikan satu urusanmu biar kamu bisa segera menyelesaikan urusan yang lain’.

Kabar baiknya ketika aku menulis postingan ini, urusan soal workshop insyaallah sudah kelar. Yeeey! Makasih buat kak Feri yang udah nemenin muter-muter.

Sepertinya memang sudah menjadi jatahnya Kak Feri buat nemenin muter-muter. Apapun yang berkaitan dengan KOMISI SOLO pasti harus sampai dulu di telinganya beliau. Hari ini adegan muter-muter-nya sampai di daerah Mojosongo, lebih tepatnya ke Padepokan Lemah Putih tempatnya Mbah Prapto Suryodharmo bermukim. Siapa Mbah Prapto? Googling dulu sana gih.

Mbah Prapto Suryodharmo.
Seniman tua yang keren. 
beneran keren kok. 
(Sumber: http://berita.suaramerdeka.com/)

Kita di rumahnya Mbah Prapto enggak lama kok. Sekitar setengah jam. Abis itu, kita langsung cabut ke Wisma Seni buat bayar sewa kamarnya om Simon dan rekan. Kita rencananya sih mau nongkrong di warungnya Wisma Seni, namun karena terlalu ramai dengan seniman dan seniwati, akhirnya kita berpindah ke warungnya Mbak Yani. Ada yang inget siapa Mbak Yani? Itu lhoooh, tokoh utama di komikku yang berjudul ‘Negara ½ Gila’. Belum tahu?  Googling dulu sana gih.

Preview komik Negara 1/2 Gila.
Kayaknya sih udah gak ada
di toko buku. coba pesen On Line
Mbak Yani adalah karakter di panel 1.
(Sumber: Dokumentasi Pribadi )

Sampai di tempat Mbak Yani, aku langsung pesen kopi item gelas kecil. Aku sedang pengen sok serius dengan hidupku. Kebiasaan yang sering muncul ketika kita bercenkrama di warung adalah berbincang. Berbincang apapun, mulai dari karya termutakhir hingga ke gebetan termutahir. Karena kita berdua belum punya ‘gebetan termutakhir’, ya udah, tema tersebut diganti dengan tema yang lain. Tema yang lain itu adalah tema ‘ternyata Kak Feri belum punya komik hasil workshop Simon Hureau’.

Duh. Temanya panjang banget gak sih. Efek beruntun dari obrolan tema ‘ternyata Kak Feri belum punya komik hasil workshop Simon Hureau’, ternyata memaksaku untuk mengeluarkan komik hasil workshop. Aku keluarkan dan langsung aku taruh saja di atas kaleng kerupuk.

Sekonyong-konyong teman demi teman datang. Obrolan mengalir kemana-mana. Hingga datanglah sang seniman senior. Beneran seniman senior. Aku mengakui hal tersebut lahir dan batin.

Namanya… Ah untuk menjaga nama baik beliau aku, akan memanggilnya dengan nama ‘seniman senior’. Seniman senior itu sepertinya datang untuk makan siang. Kita bertegur sapa dengan ramah seperti biasanya. Seniman senior itu bertanya tentang kesibukan, hanya sepatah kata dan seperlunya saja aku menjelaskan event kemarin.

Beneran. Seperlunya saja karena aku sangat memahami bahwa beberapa manusia sangat malas untuk mengetahui kesibukan orang lain. Everything is me. Me is Everything.

Dia mengambil komik yang aku letakkan di atas kaleng. Membuka lembar demi lembar. Sang seniman senior itu melihat isi komik tersebut sambil makan siang. Bisa kalian bayangkan, seberapa dia tidak fokus (kata yang lebih halus untuk mengganti kata ‘tidak menghargai’) dalam membaca komik tersebut.

Tanpa ada pertanyaan apapun dan tanpa membaca deskripsi komik di sampul belakang, sang seniman senior itu langsung berkomentar.

“Harusnya tuh kamu kalo bikin komik itu dikonsep dulu! Dipertimbangkan dari sisi marketingnya!” Kata lelaki dengan tampang gahar itu saat memberiku saran.

Aku diam saja dan tersenyum sambil melirik Kak Feri. Tolong JANGAN membayangkan kalau lirikanku ke Kak Feri adalah lirikan mesra antar dua gebetan yang sudah menjadi satu hati. Lirikan biasa aja Gaes.

“Kamu boleh saja bikin komik yang sederhana seperti ini, namun packaging dan kemasannya harus diperbagus” ujarnya sambil mengunyah makan siang.

“Oooh gitu ya mas?” aku berkata sekedarnya, agar seniman senior itu merasa aku hargai. Duh. Kenapa aku jahat banget sih.

“Lhoooh iyaaa! Kalau perlu komik harus ganti konsep dengan halaman berwarna agar bisa menarik perhatian konsumen!” baiklah. Otakku sudah tidak tahan dan mulai memberontak. Sang seniman senior itu masih terus saja berkomentar. Aku berusaha menahan mulutku untuk tidak mendebat atau argumen.

Percayalah, beberapa manusia di luar sana terlahir untuk tidak mau kalah dalam memperbincangkan apapun. Aku menelan semua komentarnya sambil mengingat bagaimana kronologis komik itu tercipta beberapa hari yang lalu.

***

Beberapa hari yang lalu.

Beberapa hari yang lalu. Tepatnya hari sabtu, 7 November 2015. Siang itu puluhan orang berkumpul di depan Museum Radya Pustaka. Mereka semua sedang sangat antusias untuk mengikuti workshop bersama Simon Hureau. Acara yang bertajuk ‘Komisi jamstrip party with Simon Hureau’ itu berlangsung lancar jaya. Iya beneran lancar. Tidak ada halangan yang berarti.

‘Komisi Jamstrip Party with Simon Hureau’ adalah event komik yang dilaksanakan sebagai salah satu rangkaian Festival  Suro 2015. Komisi Solo bekerja sama dengan IFI (Institut Fran├žais Indonesia) Jakarta, LIP (Lembaga Indonesia Perancis ) Yogyakarta, Padepokan Lemah Putih dan Museum Radya Pustaka, menyelenggarakan Workshop Komik bertajuk "Komisi Jamstrip Party with Simon Hureau".

Simon adalah komikus Prancis berkunjung ke Indonesia untuk berjumpa publik dan seniman komik. dalam rangkaian perjalanannya, Simon mampir ke kota Surakarta, 

Tujuan kegiatan ini adalah untuk mempertemukan  insan kreatif  dunia komik dari berbagai kalangan agar tercipta iklim berkesenian yang lebih berwarna. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini adalah diskusi, workshop komik, jamstrip komik, membuat kompilasi dan pertunjukan wayang beber.

Begitulah. Secara umum semua acara berlangsung dengan sukses. Acara diskusi berjalan dengan menyenangkan. Aku terpaksa menjadi translator dadakan gara-gara salah satu pihak yang bertugas menjadi penerjemah sedang bad mood gara-gara PMS. Beuuh.

Nah. Hari kedua adalah jatahnya workshop jamstrip komik. Komik yang akan dikomentarin oleh seniman senior di masa depan itu, berawal dari kegiatan ini. Sesuai tajuknya, workshop komik ini berupa jamstrip.

Jamstrip Komik adalah kegiatan membuat komik secara bersama-sama dengan orang lain di dalam satu cerita. Penjelasan sederhananya seperti itu. Satu peserta diwajibkan membuat satu cerita dalam satu panel yang kemudian akan dilanjutkan oleh peserta lain.

Hal yang menarik dari kegiatan ini adalah spontanitas dan interaksi yang terjalin antar peserta. Beneran. 


Suasana Workshop yang aduhai
dan sangat sesuatu banget. Rame
dan tentu saja ngangenin. woy! Si Kribo itu mau
ngapain malah berdiri di situ!!!
(Sumber: Dody YW)

Peserta workshop ini diikuti 20 orang dari berbagai kalangan.  Bisa dipastikan kalian akan menemukan 20 cerita dengan 20 gaya gambar yang berbeda. Nah. Workshop itu berlangsung sekitar dua jam. Satu jam setelahnya digunakan berdarah-darah oleh divisi cetak dan penggandaan agar hasil workshop bisa terkompilasi menjadi satu buku komik. Sedikit terbantu aku sudah mendesain  dan mencetak covernya di hari sebelumnya.

Perlu kalian pahami, mencetak 30 komik dalam hitungan jam itu susahnya minta ampun. Anggota divisi cetak dan penggandaan hanya Kak Feri Widiyanto dan Mas Rochmat Nur Rosyid.

Beneran cuman dua orang. 
Aku sih cuman stay di lokasi nyuruh-nyuruh orang buat kemana-mana.
Ah. Maaf teman-teman kalau aku memanfaatkan posisiku sebagai koordinator acara dengan sangat keterlaluan. Kapan-kapan aku traktir deh. 

Dan percaya atau tidak, mereka berdua berhasil menggandakan hasil workshop itu beberapa menit, tepat sebelum Simon Hureau berpindah kota menuju Jakarta.

Komik itu memang terlahir dengan sangat tergesa-gesa. Namun bukan berarti sesuatu yang tergesa-gesa itu tidak memiliki nilai untuk disayangi. Bukankah setiap manusia memang terlahir dari sesuatu aktivitas yang  tergesa-gesa? Begitulah kira-kira kronologis komik itu tercipta.

Detik-detik dimana komik itu
akhirnya dilucurkan. Komik itu
diserahkan ke Simon Hureau oleh
peserta termuda, namanya Suci Pinasti.
btw doi masih anak SD :p
(Sumber: Dody YW)

Sang seniman senior itu mempertanyakan soal packaging. Biarkan aku beralasan, packaging atau pengemasan yang sederhana itu disesuaikan dengan rundown dan akumulasi jumlah waktu Simon Hureau di kota Solo. Bisa saja pengemasan komik itu dibuat lebih mewah dan menarik, namun apa gunanya kalau tidak bisa selesai tepat waktu, kemudian Simon tidak bisa membawanya sebagai cinderamata. Percuma.

‘Halaman berwarna agar menarik konsumen’ juga dipermasalahkan sang seniman senior. Baiklah aku akan memberikan penjelasan secara mudah. Halaman berwarna untuk sebuah komik adalah teknis yang paling rumit untuk diterapkan. Beneran. Teknis rumit memerlukan waktu yang lebih banyak. 

Selain waktu, aku dan teman-teman Komisi juga tidak ingin menyeragamkan karakter para peserta workshop. Jika emang pingin seragam, gak perlu bikin acara Jamstrip Komik. Bikin sekolahan saja. Lagi pula konsumen workshop sudah jelas, para  peserta workshop, Simon Hureau, dan orang-orang yang berkaitan dengan acara ini. Emang tidak ada niat untuk diperjualbelikan. Gitu aja sih.

Wahai sang seniman senior. Terimakasih untuk semua hal di hari ini. Dari dirimu aku belajar untuk mendengarkan terlebih dahulu sebelum berbicara. Bertanya lebih banyak agar aku mengetahui apa yang terjadi sebenarnya sebelum berkomentar.

Seperti kata-kata ustad saat selesai menyampaikan khotbah Jum’at. Jika postingan ini ada manfaatnya itu karena kuasa Allah, jika ada salah dan membuat tersinggung, itu karena diri saya sendiri. Mohon maaf lahir dan batin. Ah. untuk seniman senior sehebat anda, aku yakin tidak bakal tersinggung. Tidak ada dendam pribadi, hanya sekedar menyampaikan opini.
Gitu ya!? Toss!!


Mujix
Berkendara sehabis hujan
itu sangat menyenangkan
Simo, 11 November 2015

Minggu, 08 November 2015

Cukil Grafis


Barong Oranye
(Foto oleh Dewi Sekar)


Aku dan karya cukil grafis saat masih di kelas 2 di SMSR Solo. Pelajaran Grafis itu seminggu sekali, setiap hari selasa dan harus berjalan agak jauh menuju bengkel seni rupa. Hal yang paling aku ingat adalah rasa capek saat mencukil hardboard pake woodcut.

Tangan ampe pegel. Pelajaran yang sangat membosankan. Mencukil guratan demi guratan, kemudian dikasih cat (lupa namanya), kemudian ditempel di kertas. Kemudian mencukil lagi, tempel lagi. Layer demi layer, lapis demi lapis. Gitu terus sampai gambar tercetak dengan baik.

Saat itu aku sudah membuat komik, walau acak adul. Hari ini aku tersadar, ternyata untuk membuat komik yang bagus, aku harus mengalami proses yang sama dengan membuat karya cukil grafis. Hanya berbeda media dan berbeda proses.

Tidak ada lagi woodcut dan hardboard. Yang ada hanya kertas HVS, pinsil 2b dan Spidol Snowman. Oke. Semenjak aku membuat komik, hampir tidak ada kasus 'tangan ampe pegel' gara-gara megang spidol. Pegelnya di tempat yang lain.

Kalian pengen tahu Pegelnya dimana? Pegelnya di otak dan di hati. Tidak terhitung malam-malam terlibas oleh kegelisahan saat membuat komik. Pagi hari datang dengan terlambat saat ada halaman komik yang tertunda untuk digambar. Semua hal akan aku lakukan agar bisa membuat komik yang bagus.

Perjuangan yang sama beratnya dengan mengikuti Pelajaran Grafis.

Kemudian waktu tiba-tiba saja berlalu dengan sangat cepat. Sudah hampir 10 tahun semenjak aku menyelesaikan karya cukil grafis itu. Dan karya itu tentu saja sudah aku lupakan.

Seminggu yang lalu aku mengunjungi sekolahku lagi dengan misi mencari peserta workshop komik. Ternyata guru yang bersangkutan ada di bengkel seni rupa. Aku berjalan pelan menyusuri lorong demi lorong sambil bernostalgia tentang apapun.

Ketika aku membuka pintu bengkel, terlihat gambar barong dengan warna dominan oranye dan kuning. Aku tercenung sejenak, sepertinya aku pernah melihat gambar ini. Beberapa detik kemudian aku tersadar, ini karya grafis yang dulu aku kerjakan di masa lalu.

Detik itu aku merasa trenyuh. Karya yang aku kerjakan dengan mengeluh, menggerutu, dan dengan terpaksa itu ternyata di pajang di bengkel seni rupa. Karya ini menyingkirkan hampir semua karya teman-temanku yang lain, ada kali 50 siswa, soalnya murid seni rupa dulu ada dua kelas.
Menit demi menit aku seperti dipertemukan dengan diriku di masa lalu. Masa dimana menjadi 'dewasa dalam berkarya' adalah proses yang menyebalkan.

Saat aku menulis postingan ini aku tersadarkan kembali tentang pentingnya kerja keras.
Enggak apa-apa kok berkarya dengan setengah hati. masih mending 'berkarya dengan setengah hati' dari pada 'tidak berkarya' sama sekali. Gak usah minder kalo gambar kalian masih jelek. Gak usah ngedrop kalau fanbase kalian belum banyak. Terus saja berjalan dengan karyamu. Kalau kata komikus Prancis, Simon Hureau, terus dan teruslah berkarya.

Hukum alam tidak pernah bisa berdusta. Harga yang kamu dapat sesuai dengan apa yang kamu bayarkan. Ambil nafas panjang. Saatnya bekerja kembali.


Mujix
Lelaki yang sedang
kelelahan gara-gara
mengurusi worksop komik.
oh iya, makasih buat Dewi Sekar
atas fotonya.
Simo, 8 November 2015