Minggu, 21 Oktober 2012

Last Day in 23th

aku bangun dengan sangat terburu-buru pagi ini, jam setengah 6 aku dan Fery harus segera  ke Stadion manahan untuk mengikuti pameran di sebuah acara ulang tahun 'konyol' koran terkemuka di kotaku. mengapa konyol? pertama, kalian harus membayar 100 ribu hanya untuk 'bingung' dan mendapatkan 'stan; gak jelas yeng letaknya entah dimana. aku sempat berpikir, acaranya bakal super duper keren. ternyata kenyataan berkata lain. kami harus muter-muter mencari tempat dimana kami bisa meletakkan barang-barang bawaan yang beratnya 'naudzubilah'. aku segera saja pergi ke tenda informasi, salah satu paniatianya mengatakan bahwa kami menempati stan bernomer A24, di sana ada tulisan KOMIK SOLO, dia hanya menujuk saja kemudian pergi begitu saja. gile. aku diem, kemudian muter-muter untuk ke 3 kalinya hanya untuk mencari 'stan bernomer A24 yang bertuliskan KOMIK SOLO', aku tidak menemukan BENDA ITU, yang paling kuingat adalah stan REPTIL dengan banyak ular dan binatang melata dimana-mana. segera saja aku berkata pada Fery, sepertinya kita tidak usah memperdulikan masalah 'stan bernomer A24 yang bertuliskan KOMIK SOLO' ataupun eksistensi. aku akhirnya mengajaknya mencari buku komik di samping manahan daripada meramaikan ulang tahun 'konyol' tersebut. setidakya usahaku untuk u bangun dengan sangat terburu-buru pagi ini, membuahkan buku komik keren seharga 3.000 rupiah. dan tentang stan di acara ulang tahun 'konyol' seharga 100.000, siapa perduli. hari ini aku masih cukup kaya untuk sekedar menyesali hal remeh seperti itu.


sore ini aku pergi ke GKS, setelah tidur siang selama 3 jam gara-gara kelelahan di karenakan aktivitas 'tolol'ku dimanahan. bangun dengan badan yang pecah belah, linglung mendadak, kurasa aku akan jadi gila  andaikata saat itu aku diajukan pertanyaaan semacam 'apa jenis kelaminmu' atau 'siapa presiden pertama indonesia'. GKS adalah gedung bekas bioskop yang dialih fungsikan menjadi Gedung Kesenian, seperti hari ini, ada acara kecil dari komunitas Tugitu Unite. mereka meluncurkan buku kompilasi yang ke 14, di ikuti serangkaian agenda lain seperti pameran, mural, diskusi, dan cari pacar. keadaan GKS tak lebih baik dengan keadaan hidupku sore ini. berantakan, mangkrak, dan tentu saja membutuhkan perbaikan disana-sini. hari ini adalah hari terakhir di usiaku yang 23. tinggal 7 jam lagi menuju angka 24. setahun lagi aku berusia 25 dan semakin mendekati gejala syndrom usia 27. perlu kujelaskan sedikit, aku tidak terlalu perduli dengan berapa umurku sekarang. soalnya berapapun angka dimana kita berada, kita hanya bertemu dengan hari ini. ya, bukankah kemarin ataupun besok hanyalah perulangan-perulangan memori semata?

aku sudah mengatakan kalau aku tidak begitu perduli dengan  umurku? aku memang seperti itu, tetapi tidak dengan orang di sekitarku. tanteku, adik dari mamakku yang dikampung sangat hobi mengatakan 'Kapan Kamu LULUS kuliah?', setelah itu biasanya aku pura-pura AMNESIA. ada juga sudara Ponakan yang doyan banget nanya 'Kapan punya Pacar?'. salah satu dosen (atau bahkan semua dosen dan makhluk di kampus) sepertinya sangat bangga ketika menasihatiku tentang 'kemapanan profesi dosen' dan 'menjadi sarjana secepat mungkin'. oh men, sejak kapan mereka menjadi begitu paranoid dengan urusan orang lain? apakah mereka peduli, sekedar memastikan atau hanya ingin membandingkan bahwa kehidupannya lebih 'oke' daripada hidupku.  okey, aku ralat sedikit, aku sepertinya sedikit 'PERDULI' dengan umurku setelah di cuci otak oleh orang-orang di sekitarku. banyak manusia di sekelilingku hidup terburu-buru, lebih dari sekedar bangun pagi jam setengah 6. kurasa mereka baik-baik saja dengan hidupnya. semoga saja seperti itu. sediki 'KEPEDULIAN'ku akan umur setidaknya telah aku wujudkan dalam buku agenda yang bernama 'BUKU PERCEPATAN MASA DEPAN'. aku mendata banyak hal disana. tulisan-tulisan banci semacam 'SEMANGAT JIX' atau analisis SWOT tentang diri sendiri, hingga gambar-gambar gak normal yang membuatmu terlihat idiot dimata orang normal. namun percayalah, buku itu memberiku semangat agar aku bisa sedikt PEDULI dengan umurku dan hidupku.

ya, ya, ya, umurku hari ini masih 23 tahun.
besok... ah tidak tidak, nanti lewat tengah malam usiaku akan berubah
menjadi 24 tahun, aku akan mencoba untuk tidak terlalu terburu-buru untuk banyak hal yang
memang belum siap dan belum di persiapkan. persoalan semacam cari pacar, Kapan Kamu LULUS kuliah, menjadi sarjana secepat mungkin, atau bahkan komik lemon tea yang teronggok dengan sangat mengenaskan, biarkan saja terjadi diwaktu yang memang telah di persiapkan oleh Tuhan. bukankah kita masih bisa berusaha dan mengorganisirnya di 'BUKU PERCEPATAN MASA DEPAN'?
iya kan teman?


Mujix
Selamat Ulang tahun
bung, keep it simple
and always cheers up
with everything in your wonderfull life
Solo, 21 Oktober 2012








Jumat, 19 Oktober 2012

‘Life and Time Scrooge Mc Duck’




Aku masih ingat, pertama kali melihat buku ‘Life and Time Scrooge Mc Duck’ di rental buku. Masih satuan dan hanya ada 2 seri, menyebalkan, ingin aku runtuhkan saja rental buku itu. Tentu kalian paham kan, perasaan seorang maniak buku komik ketika melihat buku buruannya tidak lengkap dan kalian masih memiliki rasa penasaran akan jalan ceritanya. Beberapa hari kemudian aku ke toko buku paling ramai di kotaku, aku melihat sebuah buku tebal tergeletak pasrah di rak buku komik eropa (biasanya di rak tersebut ada ‘Tintin’ atau ‘Smurf’ atau ‘Justin Bieber’). Dan bisa di tebak, buku itu adalah bundel komplit seri ‘Life and Time Scrooge Mc Duck’, full color, tebal, dan tentu saja MAHAL.

Harganya Rp.160.000, uang sebesar itu bisa di gunakan untuk membeli  Nasi Kucing banyak banget. Gile, nasib uang makanku selama satu bulan di pertaruhkan. Okey, sementara aku harus menahan keinginanku itu selama beberapa bulan. Rasanya gak  jelas, alhasil, setiap ke toko buku tersebut aku hanya bengong, menimang-nimang buku tebal tersebut, kemudian meletakannya lagi dengan pasrah penuh harap.
Minggu selanjutnya aku mengambil langkah dramatis, aku penasaran dengan cerita buku tersebut kemudian memutuskan untuk membaca buku itu disana. Yes, alternative yang cukup mudah kan. Aku ke sana seminggu sekali untuk menuntaskan satu chapter. Sesekali amatku jelalatan ngeliat satpam, petugas disana sangat agresif, makanya aku hanya menarget satu minggu satu chapter. Aku yakin, pemilik toko buku ini sudah sangat kaya raya, kurasa jika hanya ada seorang cowok kribo menumpang baca beberapa buku, tidak akan berpengaruh banyak dengan nilai kekayaan beliau. Sorry ya pak.

Sebulan kemudian, aku sudah jarang numpang baca buku komik ‘Life and Time Scrooge Mc Duck’, kesibukan job disana-sini memaksaku untuk fokus sejenak. Beberapa kerjaan seperti pembuatan Storyboard, komik Layanan masyarakat, dan membuat illustrasi membuatku lupa akan komik paman gober tersebut. Setelah bla-bla-bla dan bal-bla-bla, kerjaan itu akhirnya kelar, dan gajian.

Akhirnya selasa kemarin aku pergi ke toko buku tersebut, kalian mungkin tidak percaya, buku setebal itu ternyata sudah aku selesaikan hampir separuh melalui jalan ‘numpang baca’. Kuambil buku tersebut, novel grafis tentang kisah hidup ‘Paman Gober dan keluarga bebek’ itu akhirnya memaksa dompetku untuk memuntahkan uang Rp.160.000. aku berlari ke kasir, dan membayarnya.  Sesekali muncul perasaan ada rasa haru, takjub, kok bisa ya buku sekeren dan semahal ini terbeli oleh cowok kribo.

Dan tentu saja satu hari di kampung kali ini dihabiskan dengan petualangannya Paman Gober, Donal Duck, Kwik, Kwek,Kwak, Gerombolan Siberat, dan lain-lain. Sangat menakjubkan, Don Rossa (komikus Life and Time Scrooge Mc Duck) membuat kisah para bebek itu menjadi sangat realistis. Selain cara bertuturnya yang keren, penggemar wahid Carl Barks ini menyajikan gambar-gambar yang penuh ciri khas. Setidaknya penghargaan seperti “Will Eisner Award”, “Comic Buyer Fan Award”  tersabet oleh Don Rossa melalui Komik ini. 

Mujix
oh iya, selain ‘Life and Time Scrooge Mc Duck’
aku membeli 'Diary Si Bocah Tengil'-nya Jeff Kinney
dari buku vol 1 sampai 5
Solo, 19 Oktober 2012

Selasa, 09 Oktober 2012

muntah


"banyak hal di dunia ini yang sangat memuakkan yang bisa membuat kalian muntah"

mujix
arrgh!!!!
harus aku apain lagi sih?!
brengsek.
Solo, 09 Oktober 2012


Selasa, 02 Oktober 2012

syndrom usia 27


mas, umurmu saiki piro sih  (mas,  umurmu sekarang berapa sih?)”
tiba-tiba aja celotehan ‘sensitif’ itu terlontar begitu saja. Banyak orang penasaran dengan angka yang menaungiku sekarang. Okey, aku jawab dengan penuh percaya diri. Usiaku sekarang 23 tahun,  Dan  Hari ini 21 hari lagi menuju usia ke 24 tahun. Siapa bilang aku bisa melupakan hari ultahku, pengennya sih lupa, trus mendadak ada pesta ultah kejutan entah dari siapa dan dimana gitu. Namun, yah, seperti itulah. Beberapa hari yang lalu aku dan mas adit (seorang mahasiwa tua yang belum lulus, belum nikah, dan belum merasa sukses^^a) ngobrolin “syndrom usia 27”. Kalian pernah denger ‘penyakit tersebut’?

Aku menemui kata “syndrom usia 27” di sebuah manga jepang berjudul “Undead”. Komik bertema ‘horror comedy’ ini berkisah tentang mayat yang hidup kembali di karenakan masih mempunyai urusan yang belum selesai. Inoue Kazurou merangkai kumpulan  kisah dramatis  (bahasa gaulnya Omnibus manga) dibalut scene-scene humor ini menjadi satu buah manga yang super duper keren.  Okey kembali ke topik  “syndrom usia 27”, ada salah satu chapter dari manga  tersebut yang mengangkat setting rockband di negara  jepang.  Janis  Joplin. Jim Morrison, Jimi Hendrix sampai Kurt Cobain  mereka semua mati dengan sangat dramatis si usia 27. Dan kalian tahu  di manga“undead”, ada vokalis dari rockband  yang  sangat terobsesi untuk mati di usia 27.

“syndrom usia 27” adalah fase yang bisa di alami siapapun, dalam dunia musik angka 27 adalah angka mistik dimana banyak kemungkinan bernaung di situ. Selain kematian para rockstar, angka 27 menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang. Perjuangan dan kerja keras kalian akan terbayar di angka ini. Selain tolak ukur kesuksesan, di kebudayaan melayu (khususnya Indonesia) manusia di usia 27 dituntut untuk bisa dewasa dalam berpikir.bagi para pria, anka tersebut angka yang sangat pas untuk menikah, dan bagi para wanita yang masih lajang, di usia tersebut mereka biasanya akan di cap ‘perawan tua’ (yap, salah satu asumsi publik yang belum berubah bagi sebagian orang di berbagai tempat). Selain angka umur yang penuh mitos,kejelasan status, tolak ukur kesuksesan, ada segudang permasalahan lain yang turut serta di usia 27.

Sekedar kalian tahu, Dalam rentang kehidupan manusia, EliZabeth B Hurlock (1980) membagi usia perkembangan secara kronologis ke dalam tahapan-tahapan sebagai berikut:
1.     Prenatal: konsepsi sampai kelahiran.
2.     Babyhood: kelahiran sampai akhir minggu kedua.
3.     Infancy: akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4.     Early childhood: 2 tahun sampai sekitar 6 tahun.
5.     Late childhood: 6 tahun sampai sekitar 10 tahun.
6.     Puberty/ preadolescence: 10  sampai 13 tahun (untuk perempuan) atau 12 tahun sampai 14 tahun (untuk laki-laki)
7.     Adolescence: 13 tahun atau 14 tahun sampai 18 tahun.
8.     Early Adulthood: 18 tahun sampai 40 tahun.
9.     Middle Adulthood: 40 tahun sampai 60 tahun.
10. Aging: > 60 tahun.

Usia 27 termasuk pada tahap Early adulthood, atau masa awal pendewasaan. Banyak konflik dan pergolakan batin di tahap Early Adulthood.  Pencarian identitas, pengakuan dan pengharapan dari masyarakat, konflik jenjang karir,lika-liku kisah cinta, hingga proses bertemu dengan Tuhan, sering dialami ditahap ini.

“syndrom usia 27, 28, 30, dan seterusnya” bagi masyarakat umum hanyalah pembenaran untuk bisa mengalkulasi semuanya dengan angka. Rincian gaji para pegawai negeri, jam kerja para tukang, jatah makan kaum dhuafa, hingga dana pensiun para birokrat-birokrat di luar sana bisa dijadikan acuan bahwa Mereka tidak terlalu perduli dengan   “syndrom usia 27”. Mereka hidup hanya untuk sekedar hidup. Mereka menikah, punya anak, menyekolahkan anak, kemudian anak mereka akan memasuki fase Early adulthood, terkena  “syndrom usia 27”, terjebak rutinitas, lalu menikah, dan seterusnya, seterusnya,

Hey,  Janis  Joplin. Jim Morrison, Jimi Hendrix sampai Kurt Cobain  mereka semua mati dengan sangat dramatis si usia 27. Namun mereka meninggalkan budaya, faham, ‘agama’, bahkan inspirasi bagi seluruh makhluk di dunia ini. Kita tidak harus mati di usia 27, namun kita sepertinya harus meramaikan penyakit “syndrom usia 27”, setidaknya agar semangat para ‘rock star’ tersebut menular dan membuat kita bersungguh-sungguh untuk mengerjakan apapun( Dan buat kalian yang sudah melewati usia 27, tambahkan saja 4 tahun).


oh iya, tambahan dikit, Jean-Michel Basquiat  yang seorang ‘pop urban Icon’ juga mati di usia 27 karena overdosis heroin di New York. 

Mujix
sedang terkena "syndrom Melody JKT48"
sama "kecanduan makan es krim coklat Walls"
Solo, 02 Oktober 2012