Sabtu, 17 September 2016

Tembok Putih

Nyeri menjalar di dalam kepala
Perih dan bosan terus aku makan
Keadaan mulai berbahaya
Semua tahu itu, semua rasakan juga

Hatiku masih ditempat yang sama
Menatap surga pesakitan pujangga
Tempat segala imajinasi bermula
Yang biasanya berakhir jadi semesta

Mujix
Sedang berbenah
Mungkin ini sebuah fase yang sering disebut 'turning point'
Simo, 17 September 2016

Jumat, 09 September 2016

16.09.2016

Pertemuan dengan Sanasuke kemarin berdampak besar untuk hidupku akhir-akhir ini. Satu hal yang pasti, aku bertekad untuk menyelesaikan komik 'Lemon Tea'.

Aku sadar, aku udah mulai tua. Dua bulan lagi aku akan berusia 28 tahun. Dan sudah tinggal hitungan jari lagi akan datang masa dimana aku harus  naik ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu menikah.

Tentu saja tolong JANGAN tanya soal siapa wanita yang kelak khilaf berhasil aku prospek. Aku sendiri belum tahu. Jangankan soal pasangan hidup, kaos hijau hadiah dari Feri We aja sampai hari ini belum ketemu.

Ya ampun, nyelip di mana sih. Enggak kaos, enggak jodoh, kok sama saja hobinya.

Namun kabar baiknya ( atau buruk!?), Sanasuke sudah menemukan seseorang yang tepat. Sebentar, aku pamit ke belakang buat 'nangis bombay ala sinetron' dulu.

Atau semacam itulah. Soalnya kabar tersebut belum aku tanyakan langsung. Kalian pasti berpikir kalau aku belum sempat bertanya karena alasan topik itu terlalu personal dan menyangkut privasi.

Bukan....
Bukan soal itu....

Aku tidak bertanya karena aku TIDAK BERANI. Sederhana sekali bukan.

Intinya sih, aku ingin komik 'Lemon Tea' selesai sebelum satu diantara kita jadi manten, entah dengan siapa. Hidup itu lucu ya.

Tekadku ini muncul tiba-tiba saat pertemuan kemarin, ketika aku di sana berbincang dan memandang Sanasuke. Memandang dengan sangat lekat, hingga ada secercah cahaya yang bersuara pelan di dalam  dadaku.

"Adalah dia, sumber kebahagiaan yang selama ini kamu pertanyakan!"
Sial. Kenapa jadi melankolis gini, umpatku.

"Dia adalah Sanasuke, bukankah 'Sanasuke' adalah nama karakter di komik 'Lemon Tea'!? " aku terdiam sesaat mencoba mendengar isi hati lebih dalam.

Aku paham. Ada jutaan hal yang dulu ingin aku sampaikan padanya. Kurasa dia hanya mengetahui beberapa patah kata saja, yang tentu saja belum tentu benar. Atau mungkin 'benar' menurutnya dan 'salah' menurutku. Atau mungkin sebaliknya. Ruwet amat sih jadi orang, Jix!!?

Begitulah. Banyak yang ingin aku sampaikan. Semua hal yang aku ingin dia tahu (entah berguna atau tidak untuknya) terkumpul di sebuah benda bernama komik 'Lemon Tea'.

Komik itu masih berserakan di tumpukan kertas-kertas kerjaan. Datanya masih tersimpan random di komputer. Lebih tepatnya di beberapa komputer, karena komputerku suka step mendadak.
Hahaha parah ya.

Kabar terbaru komik ini cukup sedikit, beberapa halaman tambahan tengah aku kerjakan. Ada tokoh baru (terpaksa) nongol. Namanya Vita. Dia harus muncul dan nyelip di bab pertama demi kontinuitas cerita. Judul chapter enam akhirnya aku ganti jadi "A head full of dreams", bakal fokus sama imajinasi dan masa lalu Bung Kribo. Mantep. Deh pokoknya, kalau jadi.

Terlepas dari keriuhan komik Lemon Tea, aku sedang getol mengikuti beberapa kompetisi. Efek 'menang juara harapan' di Lomba Komik Sanitasi itu ternyata mendorongku untuk terus berkarya. Aku sudah mengirim berkas untuk Lomba Komik Gizi dan Pangan. Entah lolos atau enggak. Ceritanya norak banget, aku kerjakan dalam hitungan menit. Aku juga sudah mengirim submisi kompetisi komik dan kartun UNWOMEN 2016. Moga-moga menang. Hihihihi

Yah, pokoknya gituh. Kutipan ngenes minggu ini dipersembahkan oleh 'kebahagiaan yang udah diketahui namun tidak dapat diraih'. Poor Mujix. Aku syeedih. Hiks. Ya udah muter lagu Living in the Moment-nya Jason Mraz deh. Cocok buat kehidupanku saat ini. See you in my next post. Semangat!

Mujix
Nah abis ini nyari ide buat kompetisi Silent Manga. Kalo menang hadiahnya sekitar 60an Juta. Gua bakal bisa kawin cepat Mak!!!!! *lebai
Simo, 16 September 2016

Minggu, 04 September 2016

1% Kemungkinan Yang Mustahil

Aku beberapa kali mencorat-coret sketchbook kumal itu untuk mencari ide. Malam ini aku sendirian saja menunggu Mbak Yuni, seorang teman lama dari persewaan Bharata, dan Deni, kawan dekat satu angkatan saat di SMSR dulu. Karena ‘menunggu’ adalah pekerjaan paling boring sedunia, alhasil beberapa menit ini aku manfaatkan untuk brainstorming projek terbaru. Ceileh projek terbaru. Bukannya semingguan kemarin luntang-lantung gak jelas kayak cucian. Hwakakak

Waktu berjalan begitu saja. Menit demi menit berlalu seperti mimpi tadi malam. Aku paling suka situasi seperti ini. Hanya ada diriku sendiri, dan pencarian ide brilian yang tak kunjung datang. Sesekali saat pikiran buntu, tanganku menyambar roti bakar berlapis coklat Kitkat. Memakannya perlahan, mencoret lagi dan apabila terlalu enek, segera saja aku minum jeruk hangat ala café ‘Roti Bakar Up Size’. Aktivitas itu terus menerus berulang dengan harapan bisa mempersingkat waktu sambil menunggu kedatangan Mbak Yuni dan Deni. Beberapa menit kemudian tiba-tiba dari terdengar suara seseorang menyapaku dari arah pintu masuk.

“Jix! Mbak Yuni udah datang?”
Aku menoleh dan memerlukan waktu sepersekian detik untuk memahami darimana suara itu berasal. 

Dheg!! Dadaku berdetak kencang. Seluruh badanku bergetar hebat. 
Aku menelan ludah dengan sedikit panik untuk menyembunyikan rasa terkejut.

“Sanasuke! Kamu datang?!!” ucapku bergetar menatap wanita yang membuatku gila selama ini. Dia berada di depanku. Sebuah pertemuan yang menurutku pertemuan paling dramatis dari sekian banyak pertemuan yang kutemui akhir-akhir ini. Di otakku berkecamuk banyak hal, namun yang paling mendominasi adalah sebuah kalimat sederhana, kalimat itu berbunyi:
 ‘1% (Satu persen)!!, kemungkinanku untuk bertemu dengan Sanasuke di pertemuan ini hanya  1%!!!’.

***

Beberapa jam sebelumnya. Malam ini cuaca di daerah Kerten tidak terlalu cerah. Aku berjalan di trotoar menuju tempat pertemuan yang belum aku tahu namanya. Beberapa kali perjalananku terhenti untuk sekedar menunggu jalan agak sepi agar bisa menyebrang. Yah, malam itu aku enggak mau ada adegan konyol 'hampir terserempet kendaraan bermotor' seperti tadi pagi. Dasar pengemudi gila, ternyata bukan hanya ‘cinta’ saja yang bisa menghilangkan akal sehat. Entah sejak kapan di daerah ini mulai makin ramai. Mobil, motor dan terkadang becak lampu mewarnai pemandangan. Trotoar yang aku lalui cukup gelap, terkadang malah bukan trotoar, hanya sebidang tanah kosong dengan banyak daun berguguran atau kerikil-kerikil kecil tergeletak tak beraturan.

Aku berjalan pelan. Dan mencoba memperkirakan apa yang akan terjadi di pertemuan nanti. Intinya sih ketemuan, makan-makan, joget poco-poco, curhat dan reunian. Dan yang pasti, pesertanya cuman tiga orang. Aku, Mbak Yuni, dan Deni. Tidak kurang dan tidak lebih. Kami berjanji untuk bertemu di sebuah café di daerah Manahan.

”Yah, pokoknya kita ngobrol, makan terus pulang dan kembali ke dunia nyata!” begitu pikirku. Emang mau berharap apa lagi sih? Bertemu dengan Sanasuke? It’s Mission Immposiblle, dude! Baiklah sebelum semuanya makin rancu, aku akan menceritakan sedikit tentang motif kenapa tiba-tiba muncul pemikiran ‘Bertemu dengan Sanasuke’ di pertemuan ini. Here we go!

Kemarin malam aku nge-chat via Whatsapp dengan Mbak Yuni, berbincang kesana-kemari buat mengatur pertemuan ini. Obrolan ngelantur kemana-mana, hingga sampailah pada sebuah chat dimana Mbak Yani menanyakan kontak HP-nya Sanasuke. Emangnya gua punya!!! Dan kalian tahu apa yang terjadi? Tiba-tiba saja dengan ajaibnya nomer HP Sanasuke masih ada di smarpthone-ku. Tertimbun di tumpukan pesan singkat, jangan tanya alasan kenapa ada nomer itu di sana. Nomer HP itu aku kirim dari handphone ibuku. Sepertinya nomer tersebut ‘nekat’ aku simpan dengan harapan kali aja suatu saat aku pakai untuk keperluan  yang darurat. Keperluan yang darurat!? Keperluan darurat apaan!! Bilang aja masih ngarep. Hihihihi

Gituh, terus aku kasih deh kontak itu ke Mbak Yani. Dan entah kenapa juga harus aku kasih. Terserah elu deh. Sedikit gurauan tantang ‘seberapa aku berharap dia datang’ mewarnai chat kami. Namun aku yakin, melihat karakter Sanasuke, dan melihat seberapa penting acara pertemuan ini bagi dia, aku sangat yakin Sanasuke tidak akan datang. Buat apa!? Ketemuan sama aku, ohh man!! Are you kidding me, God!? seorang loser yang sering kali mengacaukan hari-harinya. Apalagi setelah farewell messages beberapa bulan yang lalu. Ketemuan sama Mujix!? Nonsense!! Seberapa yakin? 100% aku yakin sanasuke tidak bakal datang!

Di sepanjang jalan aku tertawa miris. Antara senang dan sedih. Iya benar seratus persen itu angka yang mutlak. Seratus persen itu angka yang absolute. Begitu pikirku.

Setelah mengambil uang di ATM aku menyebrang jalan. Di seberang jalan itu ada masjid tempat dimana aku dan penghuni ‘Kontrakan Sudi Mampir’ melaksanakan ibadah haji kecil setiap hari Jum’at. Aku memandang sekilas bangunan itu. Masjid itu rumah Tuhan. Oh iya benar masih ada Tuhan. 'Sesuatu ' memberitahu tentang siapa sih aku hingga berani menjamin 100 persen untuk sebuah peristiwa yang belum terjadi. Sepertinya aku terlalu sombong. Sepertinya aku terlalu tinggi hati. Baiklah aku meralat ucapanku.

99% Sanasuke tidak bakal ada di pertemuan ini. 
1% sisanya aku menyebutnya 'kemungkinan yang mustahil, kuasa Tuhan, keajaiban, mukjizat atau apalah kalian semua menyebutnya'. Sepertinya aku masih terlalu sombong dan terlalu tinggi hati.

***

Semua acara brainstorming untuk komik aku hentikan seketika. Mengapa? Karena  dia berdiri di depanku,  Sanasuke yang aku kagumi, hadir dengan penuh keajaiban nan mustahil. Brengsek!!  Alam semesta berhasil mempermainkanku dengan 1 % kemungkinan takdir-Nya. Aku mengambil nafas panjang untuk menenangkan diri dan mencoba berbincang dengan Sanasuke.

“Huaaaah!! Sanasuke Bagaimana kabarmu!! Sini salaman dulu!!” Saking bego-nya, aku tidak mempersilahkan dia duduk terlebih dahulu.

Sanasuke tersenyum dan kami saling bersalaman. Jabat tangan terakhirku dengannya kira-kira dua tahun yang lalu, di kampus saat aku mengurus kelulusan. Sanasuke segera duduk dan terlibat obrolan ringan denganku. It’s Amazing! Kami berdua betemu di sini! Seberapa sering aku berdoa kepada Tuhan untuk mempertemukan kami. 
Segitunya? 
Iya segitunya.

Aku memandang dia dengan seksama dengan satu niat yang jelas. Memuaskan rasa rindu yang menyiksa. Tidak ada yang berubah. Dia masih Sanasuke yang aku kagumi selama ini. Sebenarnya Aku memang ada rencana untuk menemuinya, namun tidak untuk saat ini. Rambutnya jadi sedikit lebih panjang. Dia mengikat dan menjepitnya agar terlihat lebih pendek. Tidak ada sweater berwarna kuning jeruk. Jaket krem dengan kaos adalah pakaian kebesarannya malam ini. Sepatunya masih warrior, namun kali ini berwarna krem hijau muda.

1% yang mustahil itu adalah sebuah pertemuan berdurasi 1 jam dimana aku mengenal Sanasuke lebih dekat. Kurasa ini adalah 1 jam paling berkesan, di mana dia bercerita tentang banyak hal kepadaku. Dan pertemuan ini akhirnya mengajarkanku banyak hal. Namun yang paling penting dan terus berkecamuk di pikiranku adalah, kenapa hanya 1% kemungkinan yang aku percayakan kepada Tuhan. Kenapa bukan 2%, 17%, atau malah mungkin 100%! 

Saat itu aku mulai sadar. Seberapa payah aku karena meremehkan kehidupan yang besar nan kompleks ini.

Sepertinya benar apa yang dikatakan para pemikir di masa lalu. Di dunia ini tidak ada yang mustahil. Baiklah aku akan menata ulang lagi semua pola pikir dan persepsiku tentang hidup. 

Mujix
Beberapa menit kemudian Mbak Yani dan Deni datang.
Terimakasih sudah membantu menciptakan kemungkinan 1 % yang mustahil.
Aku akan mencoba untuk menjadi orang yang lebih baik.
Kerten, 04 September 2016.