Selasa, 29 Oktober 2013

pahlawan

Dia bernama Ralph. Dia seorang penjahat. Bahasa kerennya ‘bad  guy’, tubuh setinggi 2,7 meter dan berat 291 kg. Ralph diprogram memiliki sifat pemarah akut yang hobi menghancurkan barang dengan profesional.  Ya, dia di program untuk mengikuti sistem. Dia hidup di sebuah game bernama Fix-it Felix Junior. Dia berperan sebagai seorang ‘bad  guy’ Di sebuah kehidupan yang statis dan selalu mengikuti aturan program game. Cerita film ini mulai berjalan ketika Ralph mengalami Hal yang paling tidak ingin dialami oleh orang adalah diacuhkan. Acuh tak acuh bisa dibilang perbuatan yang menyebalkan. Alam semesta tiba-tiba saja menghapus eksistensimu sebagai manusia dengan cara sepihak. Diacuhkan dan akhirnya dia dibenci sebagai penjahat. Setelah diacuhkan, dibenci, kemudian apa? Tentu saja dia akan melihat kehidupan sosok lain yang dia rasa lebih baik dari kehidupannya. Seorang bad guy yang di program sebagai penjahat dengan tubuh setinggi 2,7 meter dan berat 291 kg ini akhirnya melihat Felix. Seorang pahlawan, tokoh protagonis yang selalu mendapat penghargaan oleh semua penghuni game Fix-it Felix Junior. Felix adalah sosok yang ingin dicapai oleh Ralph.

Seminggu lagi sebelum aku berusia 25 tahun. Keadaanku sama seperti Ralph di babak awal film Wreck  It Ralph.  Aku juga memiliki sosok-sosok yang ingin aku capai. Sebuah kehidupan yang kurasa sempurna seperti Felix.  Hingga hari ini sosok-sosok tersebut masih cukup jauh untuk aku sentuh. Hingga berakibat ‘sering bisa tidur kalau hari sudah menjelang pagi’. Bahasa kerennya ‘insomnia’. Beberapa hari ini aku mengalami insomnia. Selalu baru bisa tidur diatas jam 12 malam. Apakah Ralph juga mengalami insomnia? Mungkin.  Kurasa berbagai permasalahan yang belum kelar menjadi biang kerok insomnia tersebut. Daripada disebut permasalahan, sebenarnya lebih tepat disebut pencapaian. Pencapaian yang belum selesai. Aku sering mengalami keadaan ‘berpikir berlebihan’ ketika menjelang tidur. Seperti banyak pepatah bilang ‘sesuatu yang berlebihan itu tidak baik’. Hingga tadi malam keadaan ‘berpikir berlebihan’ itu masih menjadi teman pengantar tidurku yang paling keren. Memikirkan apa sih? Banyak. Tapi secara umum memikirkan berbagai masalah yang belum aku selesaikan. Masalah-masalah berwujud tembok besar yang sangat tinggi. Hidup diusia berapapun aku akan menemui masalah-masalah yang serupa. Gak jauh-jauh sama eksistensi dan hakikat manusia. Sebuah pertanyaan itu  juga menjadi pondasi dalam film Wreck It Ralph.  

Wreck It Ralph adalah film animasi 3d dari perusahaan besar Walt Disney yang dirilis tahun 2012. Tokoh utama dalam film ini seorang penjahat di game Fix-it Felix Junior.  Di awal babak film ini ada peryataan unik yang menyangkut eksistensi seorang tokoh utama. Ralph yang seorang penjahat ingin menjadi pahlawan agar dia mendapatkan mendali untuk membuat semua penghuni game Fix-it Felix Junior menghargainya. Atau setidaknya mengakui keberadaannya sebagai elemen yang tidak terpisahkan dari sebuah game yang bernama Fix-it Felix Junior.

Ada benang merah yang terhubung antara aku dan Ralph. Benang merah itu juga dimiliki semua orang di dunia. Aku, mereka dan semua orang didunia menyebutnya ‘keinginan’. Untuk mewujudkan keinginan tersebut Ralph dengan segala kekacauannya menyebrang ke Game lain yang bernama ‘Hero’s Duty’ (Tugas pahlawan),  yang diplesetkan sebagai ‘Hero’s  doodie’ (e’ek pahlawan) oleh Venellope, karakter game Sugar Rush yang diasingkan gara-gara dia cacat. Pertemuan antara Ralph dan Venellope menjadi  awal takdir besar yang merubah hidup semua karakter yang muncul di film ini. Berbagai kejadian dan alur yang cepat membuat film ini menarik untuk disimak. Apalagi dengan penyajian visual yang sangat menyenangkan di berbagai sudut. Scene dengan visual terbaik adalah latar belakang dari video game sugar rush yang semuanya terbuat dari permen, es krim, kue, coklat dan semua hal yang bersifat manis.  

Sebuah takdir yang besar kadangkala harus diawali sebuah pertemuan kecil dengan orang yang tepat. Aku percaya itu. Pertemuan antara Ralph dan Venellope dengan semua kekacauannya membuktikan bahwa takdir itu benar-benar dijalankan dengann baik oleh semesta (atau kalian menyebutnya sutradara dan penulis naskah). Sesekali aku sering memikirkan hal tersebut, berbagai permasalahan yang belum kelar menjadi biang kerok insomnia tersebut kurasa akan teratasi dengan sangat keren apabila aku bertemu dengan orang yang tepat. Walaupun itu hanya sebuah pertemuan kecil dan sederhana. Terkadang ketika aku sedang dalam keadaan ‘waras’ dan ‘sadar’  ada keyakinan kecil bahwa Alam semesta tidak serta merta menghapus eksistensimu sebagai manusia dengan cara sepihak. Itu seperti membuang karakter Ralph dari film Wreck It Ralph. Kurasa kalian bisa membayangkan andaikata semua pemeran penjahat dihilangkan dari dunia film. Film itu akan sangat membosankan. Industri di Hollywood akan miskin mendadak. Para superhero akan berlomba-lomba menciptakan penjahat seperti di film Megamind agar mereka bisa tetap menjadi ‘Hero’ dan menjadi tokoh protagonis yang selalu mendapat penghargaan. Aku berharap (dan berusaha) agar keadaan  ‘sering mengalami keadaan ‘berpikir berlebihan’ ketika menjelang tidur’ segera hilang. Tentu saja agar aku bisa berubah menjadi sosok lain yang  lebih protagonis. Gak keseringan bingung gara-gara gak mau ngapa-ngapain karena pencapaian yang belum selesai. 

Keadaan tersebut seperti memandang di Timeline Twitter. Gak ada abisnya sampai yang punya akun mati dan gak minat buat ngetweet lagi. Kalau boleh berharap aku ingin segera bertemu dengan seseorang yang bisa menggerakkan semestaku ke arah yang lebih baik. Seperti pertemuanku dengan dunia komik, film Wreck It Ralph dan internet. Iya, seperti pertemuan kalian dengan postingan ini.


Mujix
Oh iya, gara-gara sering terkena insomnia, 
aku juga sekarang menjadi pahlawan. 
Pahlawan kesiangan. Kampret.
Simo, 29 Oktober 2012

Minggu, 27 Oktober 2013

Driving Slow to 25 years Old

Di dalam film-film arus utama, adegan kematian biasanya digambarkan dengan sangat dramatis. Kematian-kematian tersebut dikomposisikan sedemikian rupa untuk membuat penonton terhanyut dalam skenario cerita. Adegan kematian terkeren sepertinya masih dipegang Jack Dawson saat mengorbankan dirinya untuk Rose DeWitt di film Titanic. Di film yang katanya romantis tersebut bertebaran adegan orang mati saat kapal itu akan karam gara-gara menabrak gunung es. Kapal mendadak bocor. Air masuk kedalam kabin dengan sangat menggila. Panik. Dan tentu saja adegan kematian para tokoh satu persatu yang ditampilkan sangat epic. para kritikus dan reviewer film ini menyebutnya film epic romantic disaster. 

Scene-scene yang ditampikan  dalam film Titanic  adalah kematian terencana yang dibuat khusus untuk penonton. Adegan kematian dalam film tersebut menjadi titik klimaks dari semua persoalan para karakter.  Sang sutradara, James Cameron menggiring ke dalam satu statement. Kematian bisa datang kapanpun tanpa perduli apapun urusan kalian. Setelah kematian itu datang, kemana para awak dan penumpang Titanic itu pergi? Ke alam kematian. Tentu saja. Namun alam kematian bukanlah wilayah yang menarik untuk dibahas bagi James Cameron di film Titanic.

Adegan kematian yang menarik untuk diperbincangkan lagi adalah adegan kematian Paman Gober dalam buku komik The  Life time of Scrooge Mc Duck karya Don Rossa. Premis masalah dalam chapter 5 yang berjudul The New Laird Of Castle Mc duck ini adalah permasalahan pajak dari kastil keluarga bebek yang sudah jatuh tempo. Apabila pajak itu tidak dibayar maka  istana tua di Dismal Town tersebut terancam dijual ke pemerintah dan akan dikuasai keluarga Whiskervile. Gober Bebek muda yang telah mengantongi uang 10.000 Dollar yang berasal dari penjualan tambang tembaganya itu akhirnya harus kembali ke Dismal Town, Skotlandia untuk menyelesaikan krisis tersebut.

Krisis yang bemula dari pertentangan antar dua keluarga besar.  keinginan keluarga Whiskervile untuk menguasai Dismal Town yang sudah cukup lama ini berujung ke sebuah pertempuran (atau mereka menyebutnya ‘duel mempertahankan harga diri’) . Alam kematian ala keluarga bebek akhirnya dimunculkan setelah Gober Bebek tenggelam dan kepalanya terantuk batu hingga dia mati. Tak ada proses kematian yang dramatis seperti Film Titanicnya James Cameron.  Sebagai penggantinya, Don Rossa menampilkan serentetan adegan dunia lain alam akhirat ala dunia bebek. Sang komikus juga menggiring ke dalam satu statement.  Kematian bisa datang kapanpun tanpa perduli apapun urusan kalian.

5 hari yang lalu aku ulang tahun. tiba-tiba saja tema kematian muncul mendadak dan menjadi kado yang harus aku mengerti. Kematian itu pasti, angka dari sebuah ulang tahun kadang kala hanya menjadi count down kesebuah tempat yang misterius. Tak terkatakan. Dalam postingan yang lalu (baca: ichi-go-ichi-e) aku memaparkan beberapa tradisi prosesi kematian dari berbagai budaya. Beneran, isinya cuman mati, mati, dan mati. nulisnya aja sambil merinding dangdut. Ok, back to main topic...

Kematian itu menjadi sangat menakutkan karena kita tidak mengetahui kapan dan bagaimana kejadian itu akan terjadi. Ada banyak cerita ketika kematian menjemputmu, maka semua hal yang pernah kau lakukan akan ditampilkan secara kilas balik. Aku rasa aku bisa menebak kilas balik apa yang kira-kira akan muncul. Aku sangat yakin peristiwa-peristiwa itu akan muncul dengan sangat jelas. segala ketololanku selama ini, berbagai penyesalan, dan mungkin beberapa kisah bahagia dari kisah cinta, akan muncul silih berganti seperti film. mungkin saja sedramatis film Titanic. tapi aku gak mau kalo ada adegan kapal karamnya. soalnya aku gak bisa berenang. bisa berenangpun aku gak mau kelelep di lautan lepas kayak gitu. yang jadi persoalannya adalah apakah aku siap mengubah hari-hariku yang tersisa ini dengan prinsip untuk hidup sehidup-hidupnya? Untuk apa? Kurasa untuk mengurangi porsi peristiwa-peristiwa bodoh yang telah terjadi selama 25 tahun ini.

Iya kali ini aku berusia 25 tahun. Di dalam film-film arus utama, adegan kematian biasanya digambarkan dengan sangat dramatis. Perjalanan hidup manusia tak jauh berbeda dengan film arus utama. Kematian itu menjadi sangat menakutkan karena kita tidak mengetahui kapan dan bagaimana kejadian itu akan terjadi. bisa saja nasibku seperti Gober Bebek, mati konyol gara-gara kepalaterantuk batu hingga mati.Entahlah. Hidupku juga belum selesai. Aku masih berjuang untuk meruntuhkan tembok besar yang tinggi dan menjulang itu. Tembok yang sangat kokoh. Mengapa harus kuruntuhkan? Kurasa untuk mengurangi porsi peristiwa-peristiwa bodoh yang telah terjadi selama 25 tahun ini. agar suatu saat aku bisa berkata bahwa aku sangat bangga memiliki hidup seperti ini. agar suatu saat aku bisa mati tanpa penyesalan. Pertanyaannya adalah, apakah aku siap mengubah hari-hariku yang tersisa ini dengan prinsip untuk hidup sehidup-hidupnya?

embuh. sepertinya sih masih banyak kejadian tolol dan bodoh di depan sana.
hahahaha :D

Mujix
kado lain di hari ultah itu adalah
keinginan untuk segera nikah, sama siapa?
sama Kulkas kali
Simo,27 Oktober 2013

Kamis, 10 Oktober 2013

Pria Penghancur Tembok


Namanya Shogo Ban. Pertarungan pasta yang mempertaruhkan harga diri mulai memasuki titik puncak. Jilid 9 dari manga Bambino Secondo karya Sekiya Tetsuji merupakan babak dengan alur yang paling menguras energi pembaca, khususnya pembaca introvert berambut kribo sepertiku. Manga Bambino Secondo adalah manga bertema kuliner dengan setting sebuah restoran Italia dengan segmentasi pembaca dewasa. Babak pertarungan antar koki masakan Italia ini dipicu permasalahan mengenai wanita dan harga diri.  Karakter protagonis  yang muncul dalam babak ini adalah Shogo Ban, koki berdarah panas namun paling junior di dalam Restoran Legare. Tsuchiya menjadi tokoh antagonis  dengan sifat licik dan karakter yang akan segera mengingatkanmu dengan ular. Demi mendapatkan cerita yang penuh emosi, sang mangaka membangun prolog permasalahan hingga 10 chapter. Sebuah premis yang cukup panjang untuk menjadikan babak ini panggung pertarungan yang menawan namun penuh dengan konflik. Awalnya pertarungan ini dimulai karena Ban tidak bisa memaafkan Tsuchiya yang sudah membuat gadis dicintainya cedera. Tsuchiya  mendorong gadis itu dari tangga lantai dua dan mengakibatkan Asuka (nama gadis tersebut) harus dirawat dirumah sakit dengan kondisi yang sangat kritis.

Cerita diperburuk lagi dengan permasalahan janin di perut Asuka yang dikhawatirkan gugur. Asuka adalah janda muda yang ditinggal mati suaminya, yang juga senior di Restoran Legare. Sebagai junior yang baik, Shogo Ban bertekad untuk melindungi Asuka. Lambat laun niat ‘melindungi’ itu berubah menjadi perasaan cinta. Hal itu sejalan dengan prinsip orang Jawa ‘tresno ono jalaran soko kulino’. Kurasa kalian bisa menebak alur ceritanya, ketika gadis yang kalian cintai dicelakakan oleh orang licik yang suka menjilat. Konflik-konflik kecil terus berdatangan. Permasalahan semacam menyabotase bumbu pasta, menyewa penonton bayaran, hingga akhirnya diputuskan untuk membuat pertandingan menu antar koki agar Tsuchiya mau mengakui segala kesalahannya. Secara alur cerita, semuanya terlihat sangat kompleks. Premis permasalahan dimunculkan sepotong demi sepotong hingga klimaks pertandingan pasta itu berakhir.

Babak ini dimulai dengan amarah dan cinta, suara dari luar yang berada di sekitar Shogo Ban hanya terdengar bagi ombak yang bergemuruh.Karena saat ini dia tengah menjadi pria yang mau menghancurkan tembok. Tembok yang berwujud kelicikan Tsuchiya dengan segala tipu daya dan kemampuannya dalam memasak pasta.Jika Shogo Ban kalah, maka dia harus menjadi budak Tsuchiya. Jika Shogo Bang menang, Tsuchiya harus mengakui kesalahannya di depan semua orang di restoran Legare. Ceritanya seru kan? Seru dong. Komik Bambino Secondo adalah top ten komik yang paling aku tunggu rilisnya di toko buku. Jika ada yang bilang komik hanya bacaan ringan untuk anak-anak, maka orang itu adalah manusia purba yang hidup di gua dan tidak pernah mengenal apa yang disebut konsep media komunikasi massa. Jika orang itu bukan manusia purba, maka dia adalah alien. Alien yang tinggal di gua.

Oh iya, sekedar mengingatkan. Namaku Mujiyono dan aku calon sarjana (hampir) ganteng yang suka merangkai sabda semesta melalui komik, kadang tulisan, kalo lagi bete suka curcol lewat Twitter. Suka dipanggil ‘Mujix’ sama teman-teman kampus. Suka di panggil ‘Anjasmara’ sama teman-teman kampung. Saat ini sedang senang-senangnya menjadi mahasiwa yang masa aktifnya yang hampir berakhir. Iya baru hampir, dan belum berakhir. Sesekali suka belajar olah vokal  secara rahasia di kamar mandi, sebagai persiapan jika datang suatu masa dimana penyanyi Rock And Roll kembali berjaya. Padahal aku pendengar setia Didi Kempot. Ngapain harus jadi penyanyi Rock And Roll sih?Oke. Perkenalannya segitu dulu. Kembali ke topik utama.

Pria yang mau menghancurkan tembok. Istilah keren itu muncul muncul di jilid 9. Digunakan sebagai kiasan untuk pria yang ingin memperjuangkan keinginannya dengan mempertaruhkan harga diri hingga titik darah penghabisan. Terdengar sangat heroik bukan?

Definisi tembok adalah dinding dari batako, bata, atau adonan semen. Sebuah material yang tidak bisa kau hancurkan semudah membalikkan tangan. Ah, membalikan tangan yang tertindih tembok juga sulit sih. Intinya hal tersebut hanya Sebuah perumpamaan yang tepat untuk menggambarakan sebuah keinginan yang sepertinya terlalu mustahil untuk diwujudkan. Terlalu mustahil namun masih bisa dilakukan. Wujud tembok itu berbeda tergantung dari pemilik keinginan tersebut.

Bagi sebagian orang, tembok itu berwujud ‘susahnya untuk bisa bangun pagi  dan berlari kecil sepanjang gang agar bisa menjaga kesehatan  tubuh’. Terdengar sangat sepele bukan? Hal tersebut terlihat tak terlalu sulit untuk seorang nenek tua di tengah desa yang selalu bangun pagi. Nenek tersebut melihat ‘susahnya untuk bisa bangun pagi’ bukan sebuah tembok yang ingin dihancurkan. Itu hanya permasalahan yang kecil. Sangat kecil. Sekecil semut. Semut yang imut-imut kayak yang nulis postingan ini.

Orang-orang di belahan Planet Bumi yang lain, mungkin melihat tembok itu berupa perasaan traumatis dalam membina hubungan yang baru dengan lawan jenis. Tak sedikit pria-pria yang memilih untuk hidup sendiri dan tak mempercayai sebuah hubungan yang tidak masuk akal dengan wanita. Mereka mungkin menunggu waktu, seseorang yang tepat, takdir yang sedikit diubah, atau apapun itu. Setidaknya mereka masih percaya bahwa mereka terlahir dari wanita. Kalau terlahir dari batu namanya Sun Gokong.

Hal untuk ‘membina hubungan yang baru’tersebut,tentu tidak terlalu sulit untuk ‘orang yangsedang susah untuk bisa bangun pagi’ dari paragraf sebelumnya. Bisa saja Dia susah bangun pagi karena setiap malam ada kencan dengan pacarnya melalui telephone. Ya bagi ‘pria yang susah bangun pagi’ itu, membina hubungan yang baru dengan lawan jenis bukanlah sebuah tembok. Itu hanya permasalahan yang kecil.Sekecil semut. Semut imut-imut kayak yang nulis postingan ini. eh emang semut bisa nulis postingan?

Setiap personal memiliki temboknya masing-masing. Satu buah tembok, dua buah, tiga, empat, sepuluh bahkan ratusan tembok yang harus di hancurkan. Mungkin tidak akan ada yang menyangka, kalau tembok nenek tua di tengah desa yang selalu bangun pagi itu ternyata berwujud ‘tahi anak kecil yang tiba-tiba terijak tidak sengaja di depan rumah’. Tuh kan, terkadang memang seperti itu. Permasalahan yang terlihat sangat sepele bagi kita, kadang kala terlihat sangat besar bagi orang lain. nenek tersebut menganggap‘menginjak tahi’ adalah  penghinaan yang memaksanya untuk mengawali hari ini dengan meluapkan emosi melalui sumpah serapah.

Sumpah serapah yang dipicu tahi anak kecil itu, bagi seorang cowok kribo adalah sebuah hiburan diawal pagi. Beberapa kali Cowok Kribo itu menahan tawa melihat neneknya misuh-misuh sambil mengabsen semua hewan penghuni kebun binatang. Terdengar sangat kejam? Mungkin. Itu hanya persoalan bagaimana memandang suatu konflik dengan sedikit lebih santai.  Yah setali tiga uang dengan anekdot ‘duluan mana ayam sama telur’. yah duluan ayam lah, wong ayamnya udah disebut duluan sebelum telur.

Cowok kribo itu juga memiliki tembok tersendiri yng harus dihancurkan. Ketika dia menertawakan neneknya yang tengah emosi, sesungguhnya secara terselubung dia tengah menertawakan dirinya sendiri yang hingga hari ini belum bisa menghancurkan tembok. Entah tembok yang ketiga, keempat atau entah yang keberapa. Tembok yang harus dihancurkan cowok kribo itu berupa mengatur waktu agar bisa menjadi pribadi yang baik. Tembok yang kedua berwujud laporan magang yang harus direvisi sebelum minggu depan. Di belakang tembok ‘laporan magang’ masih ada tembok bernama ‘bab 2 skripsi berjudul ‘Kabar Bang One:KomikalisasiPolitikDalam Program Televisi(StudiAnalisisSemiotika Roland Barthes )’. Di belakangnya lagi masih ada tembok ‘Lemon tea comic’, tembok ‘menerbitkan komik Viva La Indonesia’, tembok ‘Unyil Other Story’ hingga tembok semacam ‘cari pacar cakep yang bisa masak rendang sapi ala masakan Padang’.  Kampret. Temboknya Banyak Amat. Berbakat Jadi Tukang Bangunan Tuh.

Setiap orang memiliki temboknya masing-masing. Pertama yang harus kalian pastikan tembok kalian bukanlah tembok yang terbuat dari batako, bata, atau adonan semen. Jika terpaksa tembok kalian memang seperti itu, akan kupinjamkan linggis deh. Linggis itu keinginan kalian untuk menghancurkan tembok. Linggis itu semangat. Linggis itu berupa besi keras. Kalo linggis kalian empuk dan lembek itu namanya bukan linggis, itu namanya buah manggis. Kampret suka buah manggis, kalian jangan tanya aku soal gimana kampret itu makan manggis. Aku tidak tahu menahu soal kampret yang suka makan manggis. Aku bukan kampret. Tapi Kalo cara makan linggis aku tahu. Linggis mana Linggis!!

Cara menghancurkan tembok menggunakan linggis harus dimulai dari satu titik dan terus menerus. Sedikit demi sedikit. Menghancurkan masalah tekniknya juga sama dengan menghancurkan masalah. Sedikit demi sedikit dari satu titik dan terus menerus. Jangan menyerah, tembok besar tidak akan bisa kalian hancurkan dengan linggis apabila kalian menyerah di tengah jalan. Ketika kalian menyerah kelak mungkin akan mengalami perasaan yang traumatis seperti para manusia yang enggan membina hubungan lawan jenis dikarenakan rasa percaya diri yang telah mati. Kampret. Paragraf ini kok jadi kayak motivasinya om Mario Teguh sih. Super sekali.

Pria yang mau menghancurkan tembok. Terdengar sangat heroik bukan? Demi mendapatkan cerita yang menguras emosi, sang mangaka komik Bambino membuat prolog permasalahan untuk Shogo Ban sebanyak 10 chapter.  Satu chapter rata-rata berjumlah 20 halaman, dengan membuat perkiraan waktu imajiner satu chapter didalam komik adalah satu minggu, maka memerlukan waktu kurang lebih 3 bulan untuk bisa melihat keseluruhan masalah tersebut dengan lebih jernih. Nah bagaimana dengan tembok kalian? Apakah kalian akan menghancurkannya pake linggis atau buah manggis? Tolong perhatikan langkah kalian, kali aja ada tahi anak kecil yang siap  terijak tidak sengaja di depan tembok. Mungkin saja tahi-tahi di sekitar kalian adalah sosok-sosok yang menyebalkan seperti Tsuchiya. Kalian bisa menghindarinya, menginjaknya kemudian membersihkannya. Jika sudah bersih segera bangkit lagi untuk menghancurkan tembok kalian. Jangan menyerah. Tidak ada yang sia-sia untuk semua hal yang diciptakan Tuhan didunia. Postingan ini aku tutup dengan pantun penyemangat buat kalian.

Makan kripik sama manggis di pasar baru.
Mas Mujix manis siapa yang mau.
Ah sudahlah.



Mujix
Salah satu Pria Penghancur Tembok
yang manis dan berambut kribo
Kartosuro,10 Oktober 2013