Kamis, 20 Februari 2014

Greg Heffley

Salah gak sih, kalo aku seharian cuman bengong dan gak ngapa-ngapain? Seperti beberapa hari ini, aku sepertinya tidak melakukan sesuatu yang penting. Aku menghabiskan hari dengan bangun siang, makan, baca komik, lalu nonton televisi kemudian mandi, cuci baju dan sempak, pokoknya gitu terus hingga Yaumul Akhir. Intinya, beberapa hari ini cita-citaku untuk menjadi seorang pemalas professional, akhirnya tercapai. Uoooooh #langsungmandikembangtengahmalam. Kerennya lagi, aku telah menyelesaikan membaca buku ‘Diary  Of Wimpy Kid: Cabin Fever’ karya Jeff Kinney yang awesome-nya minta ampun (di Indonesia, buku ini diterjemahkan oleh Penerbit Atria dengan judul ‘ Diari Si Bocah Tengil: Demam Kabin). 

Nah ini nih buku 
yang asoey geboy buat dibaca
(sumber gambar: http://www.wimpykid.com/)


Buku serial ini sudah aku baca berulang-ulang kali. Gak pernah bosan dan terus saja aku baca setiap ada waktu longgar. Sensasinya itu kayak ketika kamu berhasil ngegebet gadis pujaan. Gak pernah bosen buat apel ke rumahnya. Gak bosen liat senyumnya yang manis. Gak bosen buat dengerin suaranya yang mendayu-dayu. Apalagi kalo gadis pujaanmu itu semacam ‘Melody JKT 48’:3 #eaaaaaa.



Fotonya Melody saat pesen
gado-gado dua porsi. Duh Dek... :3
(sumber gambar: http://www.kapanlagi.com/)

Pokoknya kayak gituh. Aku mengoleksi lengkap  Serial Diary  Of Wimpy Kid. Beneran komplit, dari seri pertama hingga seri keenamnya. Seri keenamnya terbit akhir tahun 2013. Aku baru kesampaian beli 4 hari yang lalu, pake uang muka royalti buku komik ‘Negara ½ Gila’. Iya pake uang muka Royalti. Uuuh… gak keren gimana sih guweh.  Diary  Of Wimpy Kid merupakan buku fiksi yang menggunakan format catatan harian dalam menyampaikan cerita. Tokoh utamanya bernama Greg Heffley, seorang bocah ABG yang duduk di bangku SMP dengan segala keegoisannya. Alur dari serial ini sebenarnya sangat sederhana, tumpahan perasaan egois Greg Heffley dalam menjalani hari-harinya yang sepertinya tidak beres.

Greg Heffley  benar-benar bersikap sebagai tokoh utama dalam serial ini. Diary  Of Wimpy Kid memberi bacaan yang sangat personal untuk pembaca. Rasanya kayak kita bener-bener nemu buku harian seorang pelajar SMP. Greg Heffley walau sangat egois namun dia rajin dalam membuat buku diari. Buktinya Serial Diary  Of Wimpy Kid sudah sampai di seri keenam dan terus mengalami cetak ulang berkali-kali di berbagai Negara. Catatan hariannya telah diadaptasi menjadi 3 film layar lebar dengan judul yang sama. Kalau Greg memiliki catatan harian berupa diari, aku juga memiliki catatan harian berupa blog. iya, blog ini nih. Blog yang isinya cuman bacotan gak jelas dan racauanku yang nge-galau-in banyak hal. Bedanya simple banget, aku gak serajin  Greg Heffley dalam  membuat catatan. Buktinya blog ini yang bolong-bolong dimakan tikus gara-gara jarang di-update. Sabar ya blog #sambilmelukblog


Greg Heffley.
karakter yang egois dan mau menang sendiri

Padahal sudah tahun 2014, Kenapa bolong-bolong? Kenapa yah, kurasa karena akhir-akhir ini sedang mewabah virus Interest Deficit Disorder atau sering disebut gangguan defisit minat. Istilah ini aku dapat di sebuah buku pengembangan diri berjudul ‘8 To Be Great’. Buku pengembangan diri bahasa gaulnya adalah buku motivasi. Iyeeeh, anggap aja kemaren aku sedang khilap dan butuh motivasi. Interest Deficit Disorder membuatku kepayahan beberapa minggu ini. Aku tiba-tiba males nulis catatan lagi, gak doyan piknik ke Gramedia, ogah-ogahan ngerjain revisi skripsi, dan yang lebih buruk, aku jadi sangat malas untuk membuat komik. Apa jadinya jika seorang pemuda yang ingin menjadi komikus tenar, tiba-tiba gak ada semangat bikin komik? Jadinya gak lucu banget.

Interest Deficit Disorder sepertinya juga dialami oleh Greg Heffley, bukan hanya satu kali atau dua kali, namun hampir setiap hari. Tahu gak sih kalo semua halaman dari Serial Diary  Of Wimpy Kid isinya cuman keluhan, keluhan dan keluhan. Greg memiliki keluarga dan kehidupan yang ajaib. Misalnya ada Mom yang terlalu mengharapkan agar Greg bisa menjadi anak yang baik. Dad yang sepertinya tidak akur dengan Greg dalam segala hal, walau terkadang mereka sepaham dalam urusan yang penting. Manny, adik laki-laki super manja yang berumur 3 tahun. Rodrick seorang kakak yang freak dengan band anehnya yang bernama Loded Diper. Hingga teman baiknya yang masih kekanak-kanakan di usia 14 tahun bernama Rowley. hari yang buruk adalah hari dimana Greg harus berinteraksi dengan mereka.


Keluarga besar Heffley, sayang Rowley gak
ada gambarnya. browsing sendiri ya dab.

Aku akan menceritakan kepada kalian  tentang Greg yang sedang mendapatkan hari buruk. Misalnya adegan Greg saat bermain sepakbola di tim Red Socks. di Koran lokal bernama ‘ The Daily Herald’ memuat berita tentang kekalahan tim Red Socks dari tim Demon Dawgs. Greg Heffley yang tidak terlalu tertarik dengan pertandingan, malah bermain ‘tiup bunga Dandelion’. Padahal posisi Greg saat itu seorang penjaga gawang. Tim Red Socks kecolongan satu angka, saat Greg bermain ‘tiup bunga Dandelion’ di tengah pertandingan. Apakah dia meninggalkan gawang kosong? Tentu saja. Greg malah duduk berleha-leha dipinggir lapangan sambil bermain ‘tiup bunga Dandelion’. Yah, intinya Greg memang tak terlalu minat dengan pertandingan antara tim Red Socks melawan tim Demon Dawgs. Greg Heffley hanya ingin bersantai dan semua hal berjalan baik-baik saja. Seperti keinginanku akhir-akhir ini di bulan Februari.

Keinginanku di bulan Februari ini sepertinya terlalu muluk. Misalnya, minggu lalu aku ngebet banget pengen beli tas rangsel Consina yang harganya berkisar 200-an. Kampretnya lagi, seantero kota Solo gak ada tuh yang jual tas tersebut. Ada sih merk Consina, tapi harganya 300-an ampe 400-an. Ini mau beli tas atau mau kawinan sih?! Harganya kemahalan, ukurannya kegedean. Kalo dipaksa pake, guweh malah mirip Jin Kura-kura yang kegedean cangkang. 


Tas Consina inceran guweh yang mendadak
raib dari berbagai toko tas di Kota Solo
(sumber gambar: http://www.pricearea.com)

Akhirnya malah malas nyari Tas, kemudian berpindah sasaran mencari sepatu. Mencari sepatu Airwalk dambaan di kota Solo itu sama susahnya kayak ngeyakinin ke mertua bahwa kita adalah mantu idaman. Pokoknya susah. Keinginan yang terlalu muluk dan gak kesampaian itu bahaya. Biasanya berimbas pada keinginan untuk ‘bersantai dan semua hal berjalan baik-baik saja’. berasa dapat kesempatan gitu.

Kalian tahu, keinginan untuk ‘bersantai dan semua hal berjalan baik-baik saja’ yang berlebihan bisa menyebabkan kemalasan yang tak tertahankan. Malas itu gak baik. malas itu salah satu gejala dari penyakit Interest Deficit Disorder. Aahh tuh kan… bahkan aku malas untuk sekedar menulis paragraf ini agar lebih menarik. Di buku ‘Diary  Of Wimpy Kid episode Dog Days’, Greg mengakui bahwa dia juga seorang yang sangat pemalas. Bukti bahwa Greg juga anak yang pemalas, bisa dilihat saat dia memikirkan cara untuk ‘mendapatkan uang tanpa perlu bekerja’. Ketika semua orang selalu menyalahkan diri sendiri atas rasa malas itu, Greg malah menyalahkan sistem pendidikan publik. Blog yang bolong-bolong inipun kurasa bisa menjadi bukti, bahwa aku juga pernah terjebak dalam ‘fase berleha-leha dan bermalas-malasan’. Sebenarnya aku juga ingin menyalahkan sistem pendidikan publik, tapi kok rasanya gak realistis banget yah. Sepertinya aku termasuk dalam golongan ‘orang yang selalu menyalahkan diri sendiri atas rasa malas’.

Richard St. John dalam bukunya ‘8 To Be Great’ berpendapat ‘malas’ tidak termasuk dalam delapan sifat yang dimiliki oleh orang sukses. Uuh… kasihan amat sih, agar bisa semangat ajah harus nyari buku kayak gitu. Bang Arum, Buku motivasimu masih aku bawa yah. 

Ini nih jurus orang sukses ala Richard St. John.
bisa dicolong tipsnya lhoooh.
(sumber gambar: http://www.richardstjohn.com)

Jadi gini,  ‘bersantai’ dan ‘berleha-leha’ sangat bertentangan dengan sifat ‘kerja keras’ seorang calon sukses. Beberapa orang bahkan membanting tulang dengan sangat sadis 12-18 jam sehari, selama bertahun-tahun. Aku sangat yakin, buku semacam Diary  Of Wimpy Kid telah banyak mengalami fase terburuk bagi seorang penulis. Kalian tahu apa yang keren? Jeff Kinney berhasil mengalahkan fase terburuk itu untuk terus bekerja, bekerja dan terus bekerja hingga akhirnya tercipta seorang karakter fiksi bernama Greg Heffley, dan tentu saja dengan dunianya yang sangat absurd.


Buah manis dari ‘membanting tulang dengan sangat sadis’ itu berupa buku keren semacam Diary  Of Wimpy Kid. Laris di pasaran global dan terus mengalami cetak ulang berkali-kali di berbagai Negara. Lalu ada produser yang tertarik untuk mengadaptasinya menjadi menjadi 3 film layar lebar. Yah seperti itulah sebuah  takdir yang telah dijalankan oleh seorang pekerja keras. Aku juga pengen dong catatan harianku di blog ini dijadikan pilem layar lebar. Pertanyaan terakhir buat diriku sendiri yang masih terjebak fase terburuk ini adalah, Salah gak sih, kalo aku seharian cuman bengong dan gak ngapa-ngapain?

ketika Mujix ikutan nebeng di dunianya Diary  Of Wimpy Kid,
kalian juga bisa bikin karaktermu sendiri lhoooh
(sumber gambar: http://www.wimpykid.com/)


Mujix
tidak ada yang lebih mengerikan
daripada seorang pemalas
yang bertobat, yuk ngerjain skripsi sama komik :)
Solo, 20 Februari 2014

Jumat, 07 Februari 2014

14.34.07.02.2014


Hidupku akhir-akhir ini sangat buruk. Oke, mari kita list satu persatu. Poin pertama yang membuat aku stress adalah faktor keuangan. Di divisi ini semuanya memburuk semenjak aku fokus ke studiku. Sangat buruk hingga membuat studiku juga ikut memburuk. Berbagai macam tawaran pekerjaan aku tolak hanya untuk menyelesaikan benda bernama skripsi. Beberapa pekerjaan tersebut berupa ilustrasi buku, permintaan membuat komik mingguan di suatu surat kabar, hingga job semacam lay out majalah.  Penolakan job-job tersebut sangat berimbas terhadap faktor keuangan di dompet, walaupun sekarang aku gak punya dompet. Dompet itu hilang ketika aku pulang kampung, meyebalkan memang. Sekarang aku lebih suka menggondol uang di rangsel Consina-ku. Aku cukup bersyukur tidak memiliki banyak pengeluaran yang kurang penting semacam merokok, nge-game, salto di mall, ataupun ngemil es krim berlebihan. Namun percayalah, tanpa pengeluaran kurang penting tersebut, hidupku awal bulan ini sudah cukup berantakan. Job-job tersebut aku tolak dengan pertimbangan deadline yang menggila hingga upah yang kurang manusiawi. Harga untuk ilustrasi dan komik di Kota Solo memang untuk beberapa pihak sangat potensial untuk dibanting. Kurasa ketika ada negosiasi harga, para klien itu mengumpat didalam hati “Mati sana dengan hargamu, hei sang komikus amatir berambut kribo!!!”. Sementara ini aku menunda untuk membeli buku ‘Diary Bocah Tengil: Demam Kabin’ dan rehat menyewa buku komik di Quantum. Arrrrrgggh!!! Kampret!!!

Poin selanjutnya adalah faktor kuliah. Oke, sebenarnya tak terlalu buruk di poin yang ini. Semenjak aku mencoba fokus, beberapa tanggungan seperti Laporan Magang, dan draft proposal bab 1-3 hampir selesai. Kendalanya mungkin hanya masalah transportasi dan susahnya kopi darat dengan para dosen (yang tentu saja di sebabkan faktor tranportasi). Ngomong-ngomong soal transportasi, Pertengahan bulan Januari kemarin ada tawaran untuk kredit motor dari teman. Harganya murah, soalnya motornya sudah setengah pakai. Beberapa kerabat memberi saran untuk mengambil tawaran tersebut. Namun setelah berpikir semalaman, tawaran tersebut aku tolak. Sepertinya sebelum aku lulus kuliah aku tidak akan membeli motor, apalagi secara kredit. Aku sudah kenyang dengan penderitaan para kawan yang setiap bulan di terror tagihan. Mungkin beberapa orang menganggap tindakan  sebagai tindakan ‘tidak berani berspekulasi’, namun aku sangat mempercayai dengan intuisi lelaki sejati. Intuisiku bilang ‘hidupku akan semakin berantakan’ jika aku mengambil tawaran tersebut. Dan intuisiku itu terjawab dengan sangat benar hari ini. Aku masih mengejar mimpiku untuk beli motor Honda CS One secara Cash. Semoga segera terwujud ya Allah.

Hei Men, omong-omong kenapa ya? curhat ginian lebih gampang daripada ngerjain skripsi Bab 3? Beneran. Kalo niatnya curhat, baru 10 menit di depan komputer udah dapat hampir 400 kata. Kalo niatnya ngerjain skripsi, 10 menit pertama habis buat bikin teh hangat sama bingung nyari tombol Caps lock. Setelah tombol Caps Lock ketemu, teh hangatnya udah habis. Terus bikin teh hangat lagi deh, 20  menit tiba-tiba lenyap entah kemana.
Beberapa jam lalu sebelum menulis curhatan ini, teman SD-ku tiba-tiba datang. Kalian inget Trimbel, itu tuh, teman yang aku ceritakan di postingan kemarin. Aku lupa judulnya, nanti aku up date deh. Doi udah nikah, anaknya udah satu, cewek kecil gitu. Katanya sih umurnya udah hampir 3 tahun. Kami ngobrolin banyak hal. Salah satunya ngobrolin bahwa dia sedang ngebet sama buku ‘Chairul Tanjung, Si Anak Singkong’. Eh, beneran gitu ya judulnya? Kayaknya sih beneran. Kalau salah guweh boleh diingetin kok. Bagi temanku ini, om Chairul Tanjung adalah sumber segala inspirasi dan ambisi. Doi terkagum-kagum sama om Chairul yang bisa menjadi pemilik Trans Corp, ritel sebuah merk minimarket yang banyak banget jumlahnya di seantero nusantara, hingga keberaniannya untuk mengikuti bursa capres di salah satu partai. Semua obrolan kami yang gak jelas itu akhirnya mengkerucut ke sebuah quotes yang keren. Quotes keren tersebut adalah:

 “ Di dunia ini tidak ada kesuksesan yang instan. kalaupun ada, kesuksesan instan itu cuma akan berakhir secara instan”. 

Uoooh… quotes semacam ini sangat bejibun di berbagai buku motivasi. Tapi ketika quotes ini sangat keren dan memiliki power ketika diucapkan temenku yang hidupnya masih kembang kempis terhimpit kebutuhan keluarga sehari-hari.

Oh iya, mungkin mulai hari ini aku akan sangat jarang sekali menggondol uang di rangsel Consina. Tas kesayangan itu telah jebol lahir dan batin. Ada lubang lebar menganga di dekat resleting kecil dan dua Black Hole di sisi bawah tas. Saking lebarnya lubang itu kalian bisa bikin kakus di situ. Tas merah itu telah berusia 3 tahun. Lama banget yah. Tas itu udah besar, udah mulai lari-larian gituh. Aku sangat ingat bagaimana bahagianya membesarkan tas itu sendirian. Kayaknya dulu aku beli pake gajian ilustrasi. Atau mungkin animasi? entahlah aku lupa. Pokoknya tas itu sudah saatnya untuk pensiun. 

Semoga uang muka dari penerbit segera turun, kan bisa buat beli tas baru. Tas Consina berwarna biru, biar samaan dengan tas yang di pake Bung Kribo di komik Lemon Tea. Oh iya, jangan lupa sepatu Airwalk-nya :D

Mujix
met ultah buat Popok dan Feri Oye Oyes
makin sukses ya kawan
07 februari 2014