Senin, 30 November 2015

Kembali ke masa depan

Tumpukan awan berwarna putih itu masih diam ketika aku tiba di sini, di sebuah sekolah menengah kejuruan. Tempat dimana aku belajar seni rupa dan menggambar komik. Iya. Sekarang aku berada di sekolahku yang dulu. Sepuluh tahun telah berlalu sejak saat itu. Tempat ini sudah banyak yang berubah. 

Gerbang yang dulu hanya tralis dari besi berkarat,  sekarang berganti menjadi gerbang besar dengan ukiran patung Dewaruci sedang bertarung dengan Naga. Lebai dan norak banget gerbangnya. Tapi gak papa sih, namanya juga sekolah seni.  Gerbang sekolah ini benar-benar terlihat berbeda apabila dibandingkan dengan gerbang yang sama di sepuluh tahun yang lalu.

Hari ini adalah jam pulang sekolah. Para siswa bergerombol dan membludak untuk segera bergegas ke rumahnya masing-masing. Aku clingak-clinguk mencari seseorang. Cewek? Bukan. Kali ini aku sedang berkepentingan dengan seorang cowok. 

Seorang cowok jurusan seni rupa yang kukenal hanya melalui ingatan. Beberapa menit sudah aku berada di gerbang. Namun cowok yang aku cari tidak segera muncul. Mataku yang jelalatan ke segala arah itu tidak bisa menemukan dia. Aku menghela nafas panjang.

“Brengsek… kemana bocah itu pergi” aku segera berjalan menuju ke dalam sekolah. Sejuta kenangan menyambut dan menikam dada tanpa ampun. Jeruji besi berwarna hitam yang memisahkan area parkiran dan lingkungan sekolah itu masih berdiri di sana. 

Aku memasuki pintu jeruji besi itu seperti tahanan yang keluar dari penjara. Lantai dari perpaduan tegel dan keramik juga masih terasa kasar di ujung kakiku. Mading itu, taman kecil itu, dan papan penanda itu, wah, Semuanya sangat akrab walau terlihat berbeda.

Dari kejauhan terdengar suara riuh rendah. Beberapa siswa sepertinya masih beraktivitas dengan banyak hal. Seingatku dulu, siswa-siswa yang masih berkeliaran setelah pulang sekolah adalah anggota OSIS, Bantara, atau organisasi ekstrakulikuler lain. Mereka yang berada di sekolah di waktu seperti ini adalah mereka yang aktif di kegiatan organisasi sekolah, mereka yang haus akan eksistensi dan mereka  yang kelebihan energi untuk disalurkan.

“Dung… Dung..  Dung…” bunyi bola basket yang di-dribel mengisyaratkan bahwa seseorang yang aku cari ternyata ada di sini. Sesosok anak laki-laki sedang berlari membawa bola basket berwarna kuning. Anak laki-laki itu berambut keriting pendek, mengingatkanku pada tokoh ‘Laskar Pelangi’ yang bernama Ikal. Seragam SMA yang ia pakai terlihat kusut dan sedikit basah karena keringat. Wajahnya terlihat lelah namun bersemangat. Sebuah lompatan pendek dilakukannya ketika dia sampai di samping ring.

“Uoooh!!” dia berteriak sambil mengulurkan bolanya ke arah ring. Sejurus kemudian bola itu menabrak ring dan memantul kena papan.

“Sraaak” bunyi bola tersebut ketika masuk ke ring.

Dia tersenyum kecil dan kembali berlari mengambil bola. Sepertinya bocah itu sudah cukup kelelahan untuk melanjutkan permainan basket tersebut. Aktivitas yang tolol. Hanya orang tolol yang bermain basket sendirian jam 2 siang di lapangan basket.

Aku berjalan menuju ke arah bocah tersebut. Dia menyenderkan tubuhnya dan memandang jauh ke arah para anggota OSIS yang tengah berlatih baris-berbaris. Pandangannya tertuju ke sosok perempuan dengan rambut pendek di barisan paling belakang. Bocah itu tersenyum kecil. Aku kemudian duduk di sampingnya. Dia agak kaget dengan kedatanganku.

“Boleh pinjam bolanya?” aku mengulurkan tangan ke arahnya.

Dia memandangku sesaat.

“Nih!” bocah ini melemparkan bola tersebut dengan perlahan. Kedua tanganku memegang bola itu dengan sangat berhati-hati. Aku segera membawa bola itu ke tengah lapangan. Hanya orang tolol yang bermain basket di jam 2 siang. Aku sepertinya termasuk gerombolan orang tolol tersebut. Hahaha.

Bola itu aku pantulkan ke lantai lapangan.

“Dung… Dung.. Dung” bunyi bola yang terpantul di lantai itu kesannya ‘sesuatu’ banget. Entah sudah berapa tahun aku tidak memegang bola basket. Terakhir kali tahun 2007 saat ikut UKM basket di kampus. Aku mencoba berlari sambil me-dribel bola. Agak canggung. Ketahuan sekali kalau udah jarang berolahraga. Dengan sekali hentakan aku melempar bola itu ke ring.

“Dung!!” bola memantul dan terpental ke luar lapangan. Fail. Gagal total. Itu lay up terburuk semenjak aku kuliah. Bocah itu tertawa terkekeh-kekeh dengan muka tengiknya.

“Bolamu jelek! Apaan! Masak ada bola benjol gituh?!!” aku mencari alasan untuk menutupi kesalahan lay up payah tersebut.

“Bukan salah bolanya mas! Kontrolmu aja yang payah” bocah itu terus aja tertawa sambil menerima bola yang aku ulurkan.

“Cih!! Iya deh! Iya!” kumakan saja semua caci maki gak jelas itu.

Suasana lapangan basket sangat berbeda apabila dibandingkan tempat di mana kami beristirahat. Di tengah lapangan panas bagai berjemur di jalan raya. Di pinggir lapangan ini lebih baik. Pohon-pohon rindang itu membuat semuanya menjadi sejuk. Belum lagi angin sepoi-sepoi yang mengusap wajah basah setelah berkeringat. Kurasa inilah yang disebut surga oleh para pemuka agama.

Kami berdua duduk dengan memandang ke lapangan basket di sekolah. Tidak ada obrolan lagi. Aku sibuk dengan lamunanku, dan bocah itu sibuk dengan komik yang dia baca.

Heh? Dia baca komik? Mataku melirik buku komik tersebut. Sepertinya aku kenal. Slam Dunk! Karya Takehiko Inoue. Jilid 15. Uoooh. Komik legendaris yang menjadi salah satu inspirasiku.

“Dek, kamu suka baca komik?” aku tidak tahan untuk bertanya.

Dia diam sejenak, kemudian melanjutkan aktivitas membacanya.

“Suka.” Aku memperhatikan ekspresinya saat membaca komik itu. Lucu. Terkadang dia tersenyum. Namun terkadang bermuka serius dengan muka terkejut. Ketika sampai di lembar terakhir, dia menghela nafas panjang.

“Kenapa?” aku bertanya lagi.

“Bersambung, Mas! Harus nungguin jilid berikutnya.”
 Hahaha. Bocah itu sepertinya sudah tidak sabar untuk mengetahui kelanjutannya.

“Aku juga suka baca komik! Saat ini aku sedang mengikuti komik One Piece dan One Puch Man.”
Bocah itu menoleh dengan mata berbinar-binar.

“Masnya juga baca komik? Mana-mana pinjam dong!” tiba-tiba saja dia berada di depanku.

“Enggak aku bawa. Aku bacanya manga-scan di internet kok!” aku mencoba memberi penjelasan. Sepertinya dia bingung dengan apa yang aku ucapkan. Bocah itu kecewa.

“Yah! Gimana sih Mas. padahal aku udah seneng lhooh. Kirain aku bisa baca komik baru tanpa pergi ke rental komik!”

“Rental komik?”

“Iya, Rental Komik. Karena uang sakuku terbatas, maklum anak kost. aku cuman bisa baca komik lewat rental komik.”

Iya sih. Harga komik memang mahal. Apalagi untuk siswa seusianya. Harga sewa komik biasanya 10% dari harga yang dijual. Jika suatu komik harganya Rp.20.000, maka harga untuk menyewanya di rental pasti hanya Rp.2.000. Cukup murah jika mengingat pengalaman baca yang ditawarkan. Aku dulu juga seperti itu, menyewa banyak komik untuk bahan pembelajaran. Namun untuk komik yang benar-benar aku sukai, aku pasti akan membelinya.

“Komik yang sedang kamu baca bagus mas? sama Slam Dunk bagus mana?” Bocah itu bertanya lagi mengenai komik yang sedang aku baca.

“Setahuku sih komik One Piece membosankan. Kalo One Puch Man, aku malah baru tahu!” dia menyambung pertanyaan yang belum sempat aku jawab.

Aku berpikir sejenak memilih jawaban yang pas untuk pertanyaan itu.

“One Piece bagus kok. Mungkin kamu baca versi bajakannya. Jadi terjemahannya agak ngawur. Tapi kalau dibandingkan dengan Slam Dunk, aku akan tetap memilih Slam Dunk. Aku ngefans sama Hanamichi Sakuragi soalnya. Itu soal selera genre komik sih. ”

“Aku juga ngefans sama Hanamichi Sakuragi Mas. Keren ya tokohnya. ” bocah itu tersenyum penuh arti kemudian kembali melirik kearah para anggota OSIS yang masih berlatih baris-berbaris. Sejak tadi, mata bocah itu selalu tertuju ke arah perempuan dengan rambut pendek di barisan paling belakang .

“Selain baca komik, aku juga bikin komik dek! Ini komik buatanku!” Saatnya untuk pamer! Aku mengeluarkan beberapa komik buatanku. Kebetulan aku membawa komik yang berjudul ‘Negara ½ Gila’, ‘Proposal Untuk Presiden’, ‘Komisi Empat Penjuru’ dan ‘Si Amed’. Buku-buku komik kebanggaan tersebut langsung aku jejer di depannya. Bocah itu ternganga dan sangat terkejut. Tangannya dengan sedikit gemetar mulai memegang komik buatanku.

“Masnya seorang Komikus?! Kereeeeen!!” Dia dengan sangat bernafsu mulai membuka lembar demi lembar komik yang aku buat.

“Ini cara bikinnya gimana mas?” pertanyaan tentang proses pembuatan adalah pertanyaan yang sering aku temui ketika bertemu pembaca baru.

“Ya gituh dek. Kamu gambar dulu manual, terus dipindah pake scanner, lalu di edit deh pake Adobe Photohoshop!” ujarku sambil tersenyum bangga.

“Kayaknya susah ya mas?!” tukas bocah itu sambil mengambil sesuatu dari tas rangselnya.
Dia mengeluarkan beberapa buku dan berlembar-lembar kertas hvs yang penuh dengan gambar. Ternyata bocah itu juga menggambar komik! Aku kaget.

“Ini komik karya saya mas. Judulnya ‘Panca Semesta’! ” uoooh. Tebel abis komiknya. Aku mengambil komik itu dengan penuh antusias. Gokil. Komiknya unik banget.

Komik berjudul ‘Panca Semesta’ itu berupa lembaran-lembaran komik yang distaples menjadi sebuah buku. Covernya udah diedit pake  Adobe Photohoshop. Coloringnya kasar. Tapi untuk sekelas anak SMA, itu udah keren banget. 

“Gokiiiil!!! Ceritanya tentang apa nih!?” jeritku sambil membuka komik itu lembar demi lembar.

“Ceritanya tentang pendekar tangguh bernama ‘Joko Pangestu’ mas, terus dia terlempar ke masa depan dengan misi mengembalikan pusaka perguruannya yang bernama ‘Panca Semesta’!”

“Terus!!? Terus!!?” aku mendesak dia agar untuk menjelaskannya dengan lebih detail. Obrolan apapun tentang komik sangat menyenangkan.

“Terus? Baca aja sendiri. Tapi maap. Komik itu aku bikin langsung loncat ke jilid 32.”

“Whaaaat!!! Udah jilid 32!!! Gokiiiil” aku tak bisa menahan rasa terkejut melihat kenyataan ini.

Permukaan kasar khas kertas HVS ini benar-benar nyata. Buku ini pasti dihasilkan dengan segenap curahan jiwanya. Goresan yang dia buat sangat ekpresif, terlepas dari proporsi dan anatominya yang salah. Beberapa gambar latar belakang terlihat berantakan. Namun aku tidak berharap lebih. Aku hanya ingin membaca buku ini sampai selesai.

“seru! Terus jild 1 sampai 31 mana Dek?” tanyaku dengan penuh harap.

“Anu… masih didalam otak sih Mas. Aku emang bikinnya langsung loncat ke jilid 32… hahaha” bocah itu tertawa dengan muka agak dipaksakan seakan ketahuan kebohongannya.

“Dasar! Jangan suka melompat-lompat gitu dong. Suatu saat kalau kamu jadi komikus professional sifat itu harus dihilangkan yaa, kasihan sama pembacamu” ujarku memberi nasihat kepadanya.

“Hahahaha siap Mas!!!” teriaknya sambil tersenyum lebar.

Di jilid ini ternyata memiliki cerita yang cukup seru. Tokoh utama yang bernama ‘Joko Pangestu’ bersekolah di SMA, memiliki teman yang baik, dan tentu saja memiliki kisah cinta. Secara garis besar, jilid ini bercerita tentang sepak terjang Joko dalam merebut pusaka yang dimanfaatkan oleh penjahat. Adegan aksi dari panel ke panel cukup absurd. Terkadang ada pertempuran energi ala-ala komik Dragonball.

“Bagus. Komikmu bagus dek. Hanya saja cerita cinta yang terselip di komik ini malah sedikit mengganggu.” Aku memberi saran sotoy kepada bocah itu.

“Oh. Gitu ya mas. Sebenarnya itu curhat sih.” Tukas bocah tersebut sambil tertawa.

“Yaelah, curhat. Yah. Bagus. Teruskan aja dek bikin komiknya.” Aku memberikan kalimat penutup agar obrolan ini segera berakhir.

“Gimana mas? Ada masukan lagi buat aku?” Tanyanya sambil memasukkan buku itu ke dalam tas.

“Hmm… gimana ya?” aku berpikir sebentar sambil memegang janggutku. Biar kelihatan keren gituh.

“Oh. Aku paling suka sama karakter ceweknya. Namanya siapa tadi?”

“Ari! Namanya Ari Irianti mas” ujarnya sambil tersenyum.

“Oh. Ari Irianti. Gambarnya bagus. Entah kenapa aku merasakan kalau karakter ini benar-benar ada di dunia nyata. Gimana ya? Aku seperti melihat ada perasaan yang muncul dari karakter itu.” Aku langsung saja bercuap-cuap memberikan kesanku.

“Hehehehe iya mas. Karakter itu aku gambar dari temen sekelasku kok! Nooh! Itu lhoo mas! Embaknya yang sedang latihan baris di sana” bocah itu berkata sambil menunjuk seorang perempuan berambut pendek yang sedang kepanasan.

“Ciyeeeeee!!! Pacarnya ciyeeeeee!!!” aku menggodanya tampa ampun. Dia langsung tergagap dengan muka memerah dan berkeringat. Aku sudah tahu apa yang terjadi saat ini.

Bocah itu kaget dengan muka merah padam. Sepertinya aku langsung meng-counter-nya dengan pertanyaan yang menohok.

“Euuh!! Engg..Enggak kook!!!” Bocah itu mencoba untuk menutupi rasa panik dengan berbohong. Aku cukup yakin kalau dia berbohong, terlihat sekali kalau pertanyaanku cukup mengagetkan dia.

“Ciyeee… Ciyeee… beneran enggak naksir? Aku bilangin ke dia ya?” aku berdiri seolah ingin menghampiri perempuan tersebut. Bocah itu kemudian menarik jaketku sambil terus meracau tentang apa yang dia rasakan.

“Jangan Mas!! udah!! Aku ngaku deh!! Iya iya!! Aku naksir dia kok” kata bocah tersebut dengan wajah memerah. Hihihi. Lucu deh. Aku kembali ke tempatku semula, menepuk punggungnya sambil berkata penuh canda.

“Terus gimana? Kamu udah jadian sama dia?”

“Jadian apanya mas? aku ditolaknya minggu lalu!” dia berkata lirih sambil memeluk lututnya. Sebersit kesedihan terpancar dari raut wajah bocah tersebut. Aku tidak tahu harus berkata apa. Dia tiba-tiba saja bercerita tentang perempuan itu.

“Aku jatuh cinta sama dia sejak kelas 1 Mas. Dia adalah alasan terbesarku untuk datang ke sekolah. ” Alasan terbesar? Sok dramatis banget tuh bocah.

“Hahahaha… kenapa kamu masih senyam-senyum gitu? Padahal kamu habis patah hati lho dek” Bocah itu menoleh ke arahku, memandang tajam mataku lalu berkata tentang satu hal yang membuatku kaget.

“Masnya malah lebih parah, enggak patah hati tapi enggak bisa senyam-senyum” Eng… Ing… Eng… Terucaplah kata-kata keren yang tiba-tiba membuatku merinding. Suasana di sekitar kami berubah menjadi sendu. Gila, anak kecil sekarang benar-benar cepat dewasa ya.

Bocah itu tiba-tiba berdiri.

“Mau kemana?” tanyaku dengan sedikit bingung.

“Sholat Ashar. Udah mau jam tiga. Mau ikut?”

Aku berjalan mengekor di belakangnya. Benar saja, suara adzan terdengar dari mushola sekolah. Tidak ada obrolan sama sekali. Aku juga enggan untuk bertanya.  Adzan bagiku adalah waktu yang tepat untuk mengistirahatkan apapun. Waktu untuk makan siang, ataupun waktu untuk sekedar membuat teh panas agar makin bersemangat dalam bekerja.

Kami akhirnya sholat berjamaah. untukku saat ini, sholat hanya sekedar formalitas. Maaf.  Formalitas eksklusif seorang manusia, sebuah ritual yang kulakukan untuk menandai waktu. Aku tidak mau membebani hidupku dengan surga dan neraka. Andaikata saat sholat aku bisa khusyuk dan berbincang dengan tuhan, itu adalah sebuah bonus. Namun pendapatku itu sepertinya berbeda dengan bocah tersebut.

Sehabis sholat aku berdoa seperlunya dan langsung nongkrong saja di pelataran masjid. Ketika aku meninggalkannya, bocah itu masih berdoa dengan khidmat. Mulutnya berkomat-kamit membaca sesuatu dengan muka serius. Entah dia meminta apa kepada Tuhan, aku juga tidak terlalu berani untuk menebak.

Pelataran masjid adalah tempat paling damai di sekolah ini. Tidak ada tempat lain sehangat tempat ini. Apalagi suasana sore yang cerah menemaniku untuk bernostalgia dengan apapun. Sudah lama sekali aku tidak duduk-duduk di  tempat pelataran ini.

Aku bisa mengingat banyak hal. Ujian hafalan surat Al Quran saat UAS, kaca tempatku berdandan saat jumatan, hingga perasaan lega saat aku berhasil menyatakan cintaku untuk seseorang. Saat itu aku bahkan mengguyur kepalaku dengan air keran agar kepalaku bisa berpikir dengan normal. Ah. Aku benar-benar ingat muka kucek dan segala kecerobohanku saat itu. 

Hahaha masa muda yang benar-benar menyebalkan.

Bocah keriting itu sepertinya sudah selesai dengan ritual berdoanya. Dia agak terkejut karena masih melihatku di tempat ini.

“Belum pulang mas? Nungguin siapa” tanyanya sambil mengikat tali sepatu.

“Nungguin temen. Tapi kayaknya dia gak jadi ke sini. Terus, kamu mau ke mana?” aku menjawabnya dengan santai dan terus memperhatikan apa yang dia lakukan.

“Pulang dong! Aku mau bikin acara buka bersama mas. Ntar sore.” Ujarnya sembari merapikan baju dan menenteng bola basket.

Kami berdua berjalan bersama keluar area sekolah. Sebentar lagi memang waktu untuk berbuka puasa. Di perempatan bocah keriting itu berjalan kea rah timur. Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk berpisah.

“Mas, aku cabut dulu. Udah ke sorean nih” Dia mencolek tanganku sambil berpamitan.

“Oke! Salam buat teman-temanmu ya” sebuah kata perpisahan yang konyol.

“Oke, Mas!” Bocah itu berjalan pelan dengan tubuh sedikit membungkuk.
Sepertinya dia sedang mengalami hari-hari yang berat. Aku merasakan semua tawa dan keceriaannya tadi hanyalah topeng belaka. Semuanya terbaca saat melihat punggung dan cara berjalannya dari belakang. Seperti terlihat sedih. Aku tidak tahan untuk menegurnya sekali lagi.

“Dek!” aku berteriak cukup keras. Bocah itu menoleh dengan wajah penuh tanda tanya.

“Apa lagi mas?” dia bertanya dengan wajahnya yang seakan dibuat ceria.

Suasana hening sejenak. Kami hanya terpisah beberapa meter di ujung jalan. Dan aku tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membuatnya terhibur.

“Dek, Bertahanlah! Jangan menyerah untuk apa yang kau cita-citakan” dia tersenyum sambil melambaikan tangannya. 

Aku yakin dia akan baik-baik saja. 
Seperti aku yakin akan kehidupanku saat ini yang nyatanya berjalan dengan baik.

Mujix
Ciyeee yang
udah pake smartphone
terus bikin instagram tapi
bingung mau di isi apaa
Simo, 30 November 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar