Minggu, 08 November 2015

Cukil Grafis


Barong Oranye
(Foto oleh Dewi Sekar)


Aku dan karya cukil grafis saat masih di kelas 2 di SMSR Solo. Pelajaran Grafis itu seminggu sekali, setiap hari selasa dan harus berjalan agak jauh menuju bengkel seni rupa. Hal yang paling aku ingat adalah rasa capek saat mencukil hardboard pake woodcut.

Tangan ampe pegel. Pelajaran yang sangat membosankan. Mencukil guratan demi guratan, kemudian dikasih cat (lupa namanya), kemudian ditempel di kertas. Kemudian mencukil lagi, tempel lagi. Layer demi layer, lapis demi lapis. Gitu terus sampai gambar tercetak dengan baik.

Saat itu aku sudah membuat komik, walau acak adul. Hari ini aku tersadar, ternyata untuk membuat komik yang bagus, aku harus mengalami proses yang sama dengan membuat karya cukil grafis. Hanya berbeda media dan berbeda proses.

Tidak ada lagi woodcut dan hardboard. Yang ada hanya kertas HVS, pinsil 2b dan Spidol Snowman. Oke. Semenjak aku membuat komik, hampir tidak ada kasus 'tangan ampe pegel' gara-gara megang spidol. Pegelnya di tempat yang lain.

Kalian pengen tahu Pegelnya dimana? Pegelnya di otak dan di hati. Tidak terhitung malam-malam terlibas oleh kegelisahan saat membuat komik. Pagi hari datang dengan terlambat saat ada halaman komik yang tertunda untuk digambar. Semua hal akan aku lakukan agar bisa membuat komik yang bagus.

Perjuangan yang sama beratnya dengan mengikuti Pelajaran Grafis.

Kemudian waktu tiba-tiba saja berlalu dengan sangat cepat. Sudah hampir 10 tahun semenjak aku menyelesaikan karya cukil grafis itu. Dan karya itu tentu saja sudah aku lupakan.

Seminggu yang lalu aku mengunjungi sekolahku lagi dengan misi mencari peserta workshop komik. Ternyata guru yang bersangkutan ada di bengkel seni rupa. Aku berjalan pelan menyusuri lorong demi lorong sambil bernostalgia tentang apapun.

Ketika aku membuka pintu bengkel, terlihat gambar barong dengan warna dominan oranye dan kuning. Aku tercenung sejenak, sepertinya aku pernah melihat gambar ini. Beberapa detik kemudian aku tersadar, ini karya grafis yang dulu aku kerjakan di masa lalu.

Detik itu aku merasa trenyuh. Karya yang aku kerjakan dengan mengeluh, menggerutu, dan dengan terpaksa itu ternyata di pajang di bengkel seni rupa. Karya ini menyingkirkan hampir semua karya teman-temanku yang lain, ada kali 50 siswa, soalnya murid seni rupa dulu ada dua kelas.
Menit demi menit aku seperti dipertemukan dengan diriku di masa lalu. Masa dimana menjadi 'dewasa dalam berkarya' adalah proses yang menyebalkan.

Saat aku menulis postingan ini aku tersadarkan kembali tentang pentingnya kerja keras.
Enggak apa-apa kok berkarya dengan setengah hati. masih mending 'berkarya dengan setengah hati' dari pada 'tidak berkarya' sama sekali. Gak usah minder kalo gambar kalian masih jelek. Gak usah ngedrop kalau fanbase kalian belum banyak. Terus saja berjalan dengan karyamu. Kalau kata komikus Prancis, Simon Hureau, terus dan teruslah berkarya.

Hukum alam tidak pernah bisa berdusta. Harga yang kamu dapat sesuai dengan apa yang kamu bayarkan. Ambil nafas panjang. Saatnya bekerja kembali.


Mujix
Lelaki yang sedang
kelelahan gara-gara
mengurusi worksop komik.
oh iya, makasih buat Dewi Sekar
atas fotonya.
Simo, 8 November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar