Selasa, 23 Juni 2015

Sahur Pagi Ini

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Bulan Ramadhan memasuki hari ke lima, alhamdulilah puasaku lancar dan selalu goal sampai bedug maghrib. Kalau boleh jujur, aku tidak terlalu bisa mengingat bagaimana sahur Ramadhan tahun kemarin. Di otakku hanya ada beberapa keping ingatan tentang suasana sahur di warung samping Alfamart Kerten dan suasana makan sahur ditemani acara televisi saat berada di rumah. Sisanya memori otakku tidak dapat menjangkaunya lagi. Untuk itulah aku mencoba untuk rajin up date nulis blog lagi. Harapanku sederhana, aku ingin suatu saat bisa menceritakan banyak hal kepada banyak orang bagaimana kehidupanku saat sahur Ramadhan  tanpa terkedala permasalahan bernama ‘memori otak yang tidak dapat terjangkau’.

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Aku sudah lulus dari kampus seni terkemuka tersebut. Sudah menjadi sarjana, dan ijazahku hingga hari ini masih tersimpan rapi di dalam lemari. Aku tidak memiliki firasat apapun terhadap surat sakti tersebut. Belum ada keinginan untuk melamar kerja di perusahaan manapun. Beberapa tawaran yang datang hanya kutolak dengan halus. Terkadang aku berpikir, semoga saja apa yang aku lakukan ini merupakan pilihan yang baik untuk semua hal. Yah, aku sudah lulus dan menjadi sarjana seni. Salah satu wishlist-ku sudah tercentang.

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Hingga hari ke lima, suasana sahurku berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan dari benda yang bernama televisi. Beberapa tahun sebelumnya, setiap sahur aku selalu menyalakan televisi. Hal tersebut aku kamuflasekan untuk menutupi rasa malasku saat memasukkan makanan. Aku enggak tahu model program acara televisi tahun sekarang. Kalau beberapa tahun lalu aku ingat ada program acara yang isinya orang sekampung joget-joget dipandu Caesar Yuk Keep Smile. Bujubuset, kalau di sepanjang waktu sahur mereka joget, kapan waktu makannya? Dasar acara tidak bermutu. Acara tidak bermutu itupun terus aku tonton mengkamuflasekan rasa malasku saat memasukkan makanan.

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Cita-citaku sebagai komikus sudah tercapai. Buktinya ada 15 buku komik versi cetak hasil persembahan dari penerbit. Komikku kali ini berjudul ‘Proposal Untuk Presiden’, berjumlah 160 halaman, harganya Rp.35.000, dan insyaallah bakal nongol di toko buku awal bulan Juli. Cita-citaku sebagai komikus sudah tercapai, sekarang saatnya menaikkan level cita-cita menjadi ‘komikus berkecukupan’. Benar, semua orang bisa menjadi komikus, namun untuk menjadi ‘komikus berkecukupan’ selevel Benny & Mice,  Sweta Kartika, Faza Meonk, dan para dewa komik lainnya, dibutuhkan kerja keras dan semangat mempertahankan antusiasme yang tinggi. Tidak ada alasan lagi untuk bermalas-malasan dan tidak belajar. Segera beraksi.

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Aku sudah memiliki komputer sendiri. Hasil kerja kerasku. Buah dari antusiasme yang tinggi dan kedisiplinanku dalam membagi waktu. Komputer ini aku dapat dari hasil pembayaran komik ‘Proposal Untuk Presiden’. Uang jutaan itu hanya lenyap saja dalam hitungan detik, ingatan dramatis saat aku menarik uang di ATM dan memberikannya pada Pak Jenggot penjual komputer itu masih sangat segar dikepalaku. Duh Pak Jenggot, aku benar-benar ingin menarik Jenggotmu. Aku telah berkomitmen untuk tidak meminta komputer kepada orang tua. Kasihan. Apalagi masa-masa itu adalah masa-masa yang sulit buat keluarga kami. Bisa kalian bayangkan perjuangan seorang mahasiswa seni untuk bisa menyelesaikan studinya tanpa memiliki komputer? Bisa kalian bayangkan perjuangan seorang komikus berbakat bisa menyelesaikan karya fenomenalnya yang berjudul ‘Proposal Untuk Presiden’ tanpa memiliki komputer?

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Aku kehilangan beberapa alasan penting di kehidupan yang maha megah ini. Semenjak memutuskan move on pada tahun 2012, aku selalu menciptakan alasan-alasan penting yang memaksaku untuk tetap hidup dan bertahan. Alasan-alasan penting itu berupa target-target pencapaian. Aku mati-matian memenuhi target bernama ‘menjadi sarjana seni’, semua passion, waktu, komitmen dan hidupku aku hibahkan sepenuhnya demi ijazah kelulusan itu. Setelah menjadi sarjana seni, Aku mati-matian memenuhi target bernama ‘Komik Proposal Untuk Presiden’. Setelah ‘Komik Proposal Untuk Presiden’ selesai, aku kehilangan alasan-alasan penting tersebut. Kalau dipikir-pikir lagi ‘alasan-alasan penting’ itu sebenarnya tidak terlalu penting. Kurasa sistem cara kerjanya mirip program acara tidak bermutu yang terus aku tonton untuk mengkamuflasekan rasa malasku saat memasukkan makanan di waktu sahur.

Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini. Saat sahur adalah saat-saat romatis dimana manusia mempertanyakan semua pencapaiannya dengan lebih rendah hati. Aku harus rajin up date nulis blog lagi, dengan menulis blog kurasa aku akan menemukan beberapa ‘alasan-alasan penting’ yang hingga hari ini masih menjadi misteri. Ijazah kelulusan kurasa juga semacam souvenir perjalanan wisata, hanya souvenir, yang paling membuat berkesan souvenir wisata adalah perjalanannya.  souvenir wisata mungkin juga hanya sekedar kamuflase untuk pikiran bahwa kita telah melakukan perjalanan tersebut. Kamuflase kurasa juga tidak masalah, andaikata kamuflase itu bisa menginspirasiku untuk tidak bermalas-malasan dan rajin belajar agar bisa segera beraksi menjadi ‘komikus berkecukupan’.


Banyak hal yang berubah saat aku sahur pagi ini.

Mujix
postingan ini aku bikin
setelah selesai sahur lhooooh
ganteng ya gueh
Simo, 23 Juni 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar