Minggu, 22 Desember 2013

Sepakbola

Halo, apa kabar buat para stalker maupun buat yang iseng-iseng gak sengaja main ke blog ini. ehem, kabarku sedang gawat, Keadaanku sama kritisnya dengan Tim Yamagata di komik Giant Killing Volume 20. Komik Jepang bertema Sport karya penulis Masaya Tsunamoto dan penggambar Tsujitomo ini telah menjadi pemenang Kodansha Manga Award ke 34,  dan telah memenangkan hatiku sebagai komik jepang bertema sepakbola paling favorit (setelah Lost Man). Di volume 20 ini, Masaya Tsunamoto dan Tsujitomo mengangkat cerita pertandingan Tim Yamagata melawan Tim East Tokyo United yang sangat sengit. Pertarungan tim sepak bola di Liga Jepang ini  mempertaruhkan stamina dan pikiran. Permainan adu otot dan otak bertebaran menghiasi banyak panel di berbagai halaman. Komik ini memang benar-benar untuk cowok dan maniak bola.

Ah… Cowok memang identik dengan sepakbola, bukan? Bahkan dulu sempat ada idiom seseorang cowok yang gak suka sepakbola bukanlah anak cowok, Yang terkena imbas dari idiom laknat itu adalah aku. Di jaman SD saat teman-teman bermain playstation Winning Eleven, aku malah sibuk bermain game Dragonball GT. Saat SMP  aku juga hanya ditempatkan sebagai pemain cadangan jika jam olahraga dan materinya sepakbola. Kalo gak cadangan biasanya ikutan bola kasti sama anak-anak cewek. Ah, benar-benar masa yang indah.  Aku memang gak pernah bisa suka bola.  Kecuali bola matanya Melody JKT 48. Eaaa. Keadaanku minggu-minggu ini memang sangat sibuk seperti pertandingan sepakbola di menit-menit terakhir. Beneran. Sibuknya minta ampun. Aku kayak bola yang ditendang kesana kemari sama alam semesta. Sedetik lalu masih di Solo nempel celana jeans di koper buat pameran, kemudian terpelanting sejauh 25 KM di daerah Simo buat ngelarin presentasi ujian Kerja Profesi sedetik kemudian mental sampai Jogja buat display koper untuk Festival Komik Fotocopy-nya Daging Tumbuh Award.

Badanku yang cuman satu dan kurus kering ini dioper kesana-kemari dan ditendang ke gawang. Ada yang Gol dan ada juga yang meleset ke pinggir lapangan. Selain urusan Koper dan Kerja Profesi, masih ada persoalan lay out kompilasi Komisi #5, atur skripsi bab 2, pergi kondangan, bikin komik sampel buat Pak Tofik dan Mas Fachmy, serta bonus hal-hal sepele semacam balikin komik ke Quantum. Huft. Capek banget. Disaat seperti ini nih biasanya aku kepengen bisa ilmunya Naruto.

Yaaah. Itu tuuh Kagebushin No Jutsu. Jurus dimana kita bisa meng-copy-paste tubuh menjadi seribu. Pokoknya agendaku kacau deh, Sama kacaunya dengan perseteruan adu otak antara Sakura dan Takeshi Tatsumi di komik Giant Killing Volume 20.

Pertandingan Tim Yamagata dan Tim East Tokyo United adalah sebuah pertandingan besar yang melibatkan dua pelatih hebat dengan latar belakang kehidupan yang berbeda. Pelatih Tim Yamagata bernama Sakura, seorang pelatih yang mendapatkan posisi tersebut dari kerja sambilan. Perannya diawali dari posisi terendah di suatu klub, serta dengan bekal tidak memiliki pengalaman sebagai pemain. Pelatih Tim Yamagata adalah pemikir sejati, walau payah sebagai pemain namun dia memiliki kekuatan konsentrasi menganalisa pertandingan sepakbola dari berbagai kejuaraan. Berbekal kejeniusannya dalam mengamati, Sakura bersama timnya berusaha untuk mengalahkan lawannya yang juga adalah tokoh utama dalam komik ini. Beberapa minggu ini juga banyak ‘pertandingan besar’ yang harus aku menangkan, atau setidaknya aku selesaikan.

Peristiwa-peristiwa itu terjadi satu persatu dan merongrong buku agendaku dengan sangat brutal. Misalnya peristiwa diundangnya Komisi Solo dalam ajang Festival Komik Fotocopy-nya Daging Tumbuh Award. Hari-hari menjelang festival berlangsung sangat mengerikan. Ada saat dimana aku pusing memikirkan bagaimana caranya agar koper yang menjadi materi pameran itu bisa terdesain dengan keren. Aku tahu iklim berkesenian jogja memang absurd, gak absurd gimana coba, masa mau pameran komik malah dikirimin koper. Anehnya Format materi pameran itu membuatku gak bisa tidur semaleman.  Itu kayak orang haus terus dikasih roti tawar. Keseleg bego!! 

Pertandingan lainnya adalah ujian Kerja Profesi, iya mata kuliah yang naudjubileh minjalik  ituh. Ujian itu terlaksana Setelah mengalami beberapa adegan semacam revisi laporan beberapa kali, nyariin dosen yang kadang hilang entah dimana rimbanya, galau cari buku referensi hingga bingung nyari almamater pinjeman kesana kemari. Semua konflik awesome diatas benar-benar sudah tertata dengan rapi oleh Sang Pembuat Takdir. Aku nyampe heran sendiri. Kok bisa ya serapi itu. Kurasa terselesaikannya Peristiwa-peristiwa besar itu tak lepas dari berkumpulnya orang-orang ‘terpilih’. Terpilih dan memiliki keterikatan dengan takdir yang kuat sama seperti terpilihnya pelatih  Tim East Tokyo United saat hampir bangkrut.

Manajer itu bernama Takeshi Tatsumi adalah mantan pemain muda berbakat yang ‘diculik’ dari luar negeri untuk memperbaiki Tim East Tokyo United. Bekas timnya dulu yang mulai kacau balau dengan prestasi yang terus merosot. Takeshi Tatsumi yang serampangan dan ogah-ogahan ini akhirnya mau mengelola Tim yang payah tersebut dengan syarat ‘ikuti aturanku dan jangan protes’. Ternyata syarat dari Takeshi tersebut sangat aneh dan tidak wajar untuk sebuah tim sepakbola di manapun. syarat ‘ikuti aturanku dan jangan protes’ membuat Tim East Tokyo United kelabakan dan makin berkonflik.  Yah, sepertinya semua orang berpikiran Tim ini bakal tamat dan turun hingga devisi paling rendah. Yah, semua orang. Kecuali Takeshi Tatsumi.

Ahem, ternyata bukan hanya Takeshi saja yang menerapkan aturan syarat ‘ikuti aturanku dan jangan protes’. Tuhanku akhir-akhir ini juga gitu. Suka ngasih ketentuan yang benar-benar gak bisa diprotes dan hanya bisa dijalani. Kalian nanya seperti apa? Misalnya seperti ini nih. Hujan datang tiba-tiba datang Ketika aku sudah prepare semua hal untuk mendisplay pameran di Jogja. Aku masih di Simo. Terpaksa nganggur sampai agak sore. Tentu saja Bis Sudah habis. Masih hujan deras, Aku kemudian nekat pergi ke perbatasan desa hanya untuk mendapatkan tumpangan. Sesegera mungkin  agar aku bisa ke Stasiun Balapan Solo kemudian berpindah kereta dan langsung ke TBY.

Namun hujan terus saja turun, hingga jam 4 sore, dan tak ada satu bis atau mobilpun yang sudi memberikan tumpangan. Aku hampir putus asa. Bayanganku untuk bisa berpameran dalam event Festival Komik Fotocopy-nya Daging Tumbuh Award bakal gagal total. Namun, aku mencoba untuk tidak terlalu sedih. Hanya sedikit mengumpat dalam hati. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Aturan Tuhan tentang ‘ikuti aturanku dan jangan protes’ itu mengantarkanku bertemu dengan kakak ponakan yang tiba-tiba berbaik hati mengantarkan ke Simo, kemudian mendapatkan jadwal bis yang terakhir, kereta kearah jogja yang terakhir, dan jreng-jreng-jreng takdir mengantarkanku ke sebuah cerita yang lain dan keren.

Sepanjang komik Giant Killing terbit dari volume 1 sampai 20 hampir tak ditemukan perubahan tema yang signifikan. Pokoknya hanya bola, pertandingan bola, dan pelatih tim sepak bola. Sangat melelahkan. Beneran, volume 20 ini juga sangat melalahkan. Kurasa pertandingan antara Tim Yamagata dan Tim East Tokyo United sudah berjalan 3 volume. Membaca volume yang melelahkan ini seakan-akan menjadi simbol kehidupanku beberapa minggu ini dalam menghadapi berbagai macam kegiatan yang ‘awesome’ gituh. 

Baiklah mari kita mengabsen beberapa kegiatan yang membuatku berani menganalogikan hidupku dengan kisah komik Giant Killing Volume 20. Hidup guweh juga gituh. Sepanjang aku hidup dari umur 0 sampai 25 tahun hampir tak ditemukan perubahan tema yang signifikan. Aku masih menjadi cowok ganteng berambut keriting. Kayaknya tahun depan perlu rebonding gitu kali ya, biar ada perubahan tema yang signifikan. Eh omong-omong signifikan itu apa sih? Yah walaupun keadaanku minggu-minggu ini memang sangat sibuk seperti pertandingan sepakbola di tahap menit-menit terakhir, tapi aku maklum kok. Walau ditendang kesana-kemari semuanya terbayarkan pada waktunya. Ada yang gol dan ada juga  yang gagal total.

Salah satu list yang gagal adalah Layout kompilasi komik #5, gara-gara kabar ujian magang yang mendadak, acara lounching komik itu terpaksa aku gagalkan. Gak mungkin banget dalam satu hari aku harus wira-wiri dari Simo ke Jogja kemudian nyangkut bentar ke Solo buat Ujian Kerja Profesi dan lounching komik. Pengaturan skripsi bab 2 cukup terselesaikan, aku sudah memberikannya pada pak dosen pembimbing. Enggak tahu bakal dibantai kayak apa. Mungkin bakal dijadikan rendang ala masakan Padang. Hu’um, yang enyak ituh. Pfft. Akhir dari acara pergi kondangan juga sangat absurd. Aku segera ngacir ketika tahu Sanasuke datang di acara itu. Humor banget. Oh iya, rambutnya Sanasuke sekarang panjang lhoooh. Kok malah jadi ngobrolin Sanasuke sih?

Lanjut ke topik selanjutnya. bikin komik sampel buat Pak Tofik berakhir dengan ganteng. Judul komiknya ‘Bobilicious’ gitu, total ada 4 lembaran. Terserah sampel itu mau diapain, sempet keliru ngasih judul dengan nama ‘booblicious’ yang apabila diartikan secara bego adalah ‘buah dada yang enak’ what the frog??!! 

Sampel komik buat Mas Fachmy udah aku pikirin. Tapi belum aku gambar. Itu sama juga bohong yaaa?! Enggak papa deh, tapi nanti yang jadi tokoh utamanya adalah Popok. Iyah, yang jadi gebetannya si Mujix dalam komik Lemon Tea itu tuuuh. Iya. Komik yang gak kelar-kelar dari jaman purba ntuuuuuh.  serta bonus hal-hal sepele semacam balikin komik ke Quantum. Dan ternyata eh ternyata, list ‘balikin komik ke Quantum’ gak berakhir dengan sepele. Komik yang aku pinjam kehujanan dengan sukses. Basah-basah dan hampir hancur. Sempet bingung juga. Setelah dipanasin di atas Magic Jar dan dijemur di atas genteng, akhirnya komik itu kering juga. Kering dengan keadaan yang mengenaskan. Walau terdenda 6.000 Rupiah untungnya pihak rental masih mau menerima komik tersebut. Yeeeey!!!

Yah, setidaknya dari peristiwa itu aku belajar untuk tidak menyepelekan sesuatu. Tuh kan, ilmu dari alam semesta tuh bekerja dengan sangat dinamis dan berkelas. Koper itu terselesaikan juga berkat bantuan Bang Arum dan Mas Feri. Tengyuuu dude. Kalian yo’i banget. Kegalauan selama mengdekorasi koper dan pontang-panting nyari kendaraan umum buat nyampe ke Jogja berakhir dengan kebanggaanku bisa berdiri di acara pembukaan pembukaan pameran Festival Komik Fotocopy-nya Daging Tumbuh Award. Keren banget. Apalagi acara itu adalah bagian Biennal yang kata kakakku ‘bergengsi banget’.


Oh iya ujiannya Kerja Profesinya seru banget. aku belajar banyak. Setidaknya aku jadi tahu jika pengujimu adalah dosen cewek semua maka ujian tersebut akan berlangsung dengan santai dan penuh humor. Halah.. Aku belajar banyak tentang materi dan beberapa format presentasi yang keren. Overall semuanya berlangsung dengan sangat lancar, kecuali balada ruang ujian yang ternyata gak ada fasilitas yang komplet. Terutama computer. Tengyu juga buat dek Joko Kalila yang udah bantuin guweh dalam ujian yang awkward itu. Kalo gak ada kamu mungkin guweh gak akan seganteng ini sekarang. pokoknya ujian Kerja Profesi ini juga berakhir dengan baik, eh, direvisi dengan sadis itu berakhir dengan baik gak sih? Aku sih menganggapnya baik. 

Karena berbaik sangka tentang sesuatu yang baik akan berbuah sesuatu yang juga baik. Cieeeh, sesuatu banget yah kutipanku di akhir paragraph ini. 

Nah, sekarang aku cukup pantaskan untuk sekedar menganalogikan hidupku dengan kisah komik Giant Killing Volume 20. Gak usah heran, hari-hariku terkadang memang serumit dan sedinamis permainan sepakbola. 


Mujix
adzan subuh itu
romantis banget yah
Simo, 22 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar