megamendungkelabu

Sabtu, 11 Januari 2020

Tentang Karya Feri

Di suatu sore yang biasa, aku membersihkan rak buku. Rumahku tidak ada plafonnya. Jadi setiap seminggu sekali, merapikan dan membersihkan studio adalah kegiatan rutin. Sesekali aku memilah barang, sesekali aku menumpuk buku, dan sesekali aku membuang sampah.

Beberapa menit berlalu, perhatianku teralihkan oleh lembaran-lembaran fotokopi berwujud komik. Lalu benda-benda tersebut aku ambil. "Wah, kangen sekali dengan karya ini" aku berguman.

Tumpukan kertas itu aku aku pindahkan ke tempat lain. Tempat yang lebih mudah dijangkau. Dengan harapan, setelah acara bersih-bersih ini selesai, aku bisa membacanya lagi.

Waktu beranjak malam. Sudah ada segelas teh hangat dan camilan ringan hasil 'ngrampok' warung sebelah. Setumpuk kertas HVS bergambar nan penuh coretan yang sudah aku pilah  itu sudah berada di depanku.

Aku menghela nafas panjang. Saatnya membaca  komik karya masa lalu dari kisah kawanku bernama Feri.

Feri dan karyanya adalah salah satu dari sekian banyak misteri di dunia yang tidak bisa dijelaskan dengan logika manusiaku.

Di karyanya pada era 2008, awal dimana perjumpaan kami, aku disuguhkan komik dengan tema-tema yang jujur, frontal, dan terkadang sangat 'mengerikan'.

"Wah Loro koe, Fer! Parah!" Begitu ungkapanku setiap kali membaca komiknya. Kata 'Loro' di kalimat tersebut berarti 'sakit'. Dan memang semua buah tangan Feri kala itu sangat 'sakit' dan 'unik'.

Gimana enggak, di balik sosok yang 'prengas-prenges' nan ramah tersebut, saat itu ia membuat karya berjudul 'Mari Menyakiti Diri Sendiri', yang isinya tentang mutilasi, self harming, hingga kata-kata kasar yang tidak sedap dipergaungkan di khalayak luas.

Terlalu jujur! Terlalu frontal! Dan terlalu terbuka hingga membuatku lambat laun merasa iri terhadap sikapnya sangat 'be his self' dalam bercerita dengan karya.

Aku belum bisa sejujur itu. Di masa itu aku masih mempunyai banyak topeng yang tersemat di karya.

Pada di suatu masa, aku secara terbuka berkata kepada Feri, tentang seberapa aku sirik dan salut dengan kejujurannya dalam membuat karya.

"Mbok aku diajari nggawe karya koyo ngono kui, Coy?" Pintaku.

Dan seperti biasa dia hanya prengas-prenges sambil bilang "Gayamu ji!! Sing penting berkarya, Jii! Sak senengmu!". Aku hanya terkekeh mendengar ucapan tersebut.

Feri dan karyanya adalah salah satu dari sekian banyak misteri di dunia yang tidak bisa dijelaskan dengan logika manusiaku.

Misterinya adalah, ada ya manusia yang  bisa bercerita tentang dirinya secara sangat jujur, terbuka, dan tidak memperdulikan apapun tanggapan pembacanya dengan sangat fiktif nan imajinatif.

Waktu berlalu. Karya Feri makin bertambah. Lalu terlahirlah karakter-karakter semacam Mas Sukiwo, Mas Bendot, dan tokoh imajiner versi dirinya sendiri.

Dari hari ke hari karyanya semakin dewasa. Goresannya makin matang. Kesukaannya terhadap novel grafis Epileptik dan buku non fiksi sejarah Jawa terlihat sangat mempengaruhi perfoma gambarnya akhir-akhir ini.

Karya datang dan pergi. Insiden hilangnya satu kardus karya seni beliau adalah pukulan yang berat. Namun ia terus saja menggambar, (dan terlihat) tanpa mengenal lelah. Bercerita banyak hal, berkisah tentang rupa-rupa dunia hingga membuat semesta yang nyata.

Aku menghela nafas panjang. Teh hangatku sudah habis, camilan dari warung sebelah telah raib. Namun kebahagiaanku saat membaca komik Feri masih tersisa hingga kini. Salam saparatos!

Mujix
Abis wawancara dengan suatu pengembang aplikasi. Ia mengambil dataku melalui FGD. Dapat uang saku 40.000. Tiba-tiba aku merasa sangat sedih. Baki, 11 Januari 2020