Kamis, 01 Oktober 2015

Toples Gula

Kebiasaanku yang tidak pernah lekang oleh jaman adalah memulai hari dengan segelas teh. Segelas teh panas, sedikit cemilan, beberapa harapan yang belum terlaksana, semuanya membaur menjadi satu di sebuah pagi yang cerah. Toples gula berwarna hijau itu selalu ada di meja di depan kompor, hampir tidak pernah berpindah tempat. Benda tersebut adalah benda yang selalu aku temui setiap pagi. Setelah bangun tidur, sholat shubuh terus langsung deh bikin teh panas.

Nenekku setiap pagi selalu menyediakan teh tawar di sebuah gelas besar. Gelas besar itu bagaikan asupan semangat yang boleh diminum siapapun. Beneran, siapapun, makanya enggak sampai sore gituh isi gelas besar itu biasanya sudah kosong. Aku adalah salah satu pelaku paling militan yang sering menghabiskan isi gelas tersebut.

Aku akan menceritakan bagaimana prosesku dalam membuat teh panas yang aduhai. Sehabis sholat shubuh biasanya aku selalu mencari-cari mug kesayangan. Mug kesayanganku kali ini adalah mug gelas bening hadiah dari susu merk Prenagen. 

Setelah aku Googling, Prenagen adalah merk susu untuk para ibu hamil. Tagline-nya sih, ahlinya nutrisi dan menyusui. Di wallpapernya juga ada tulisan ‘Hamil yang menyenangkan di trisemester pertama. Karena kondisi badan wanita hamil sangat rentan dan mudah letih, perencanaan yang matang sangat penting.’

Kenapa aku malah jadi bahas tentang kehamilan sih!? Alam bawah sadar itu sangat mengerikan gaes. Akhir-akhir ini alam bawah sadar dan alam semesta selalu bekerja sama untuk menggiring persepsiku untuk segera menikah.

Nah, setelah mug kesayangan udah ketemu, biasanya aku segera berguling-guling menuju dapur, meloncat dan berdiri di depan kompor dengan ganteng. di meja di depan kompor ada tiga termos penyedia air panas. Biasanya sih setiap pagi sudah terisi. Kadang penuh, kadang kosong dan kadang setengah-setengah. Seperti perasaan cinta yang dimiliki manusia. Kenapa gaya menulisnya mendadak bikin geli gitu sih? Fokus jix, fokus!

Selain termos, di meja itu juga ada toples gula berwarna hijau. Yang berwarna hijau itu toplesnya, bukan gulanya, catet.  Nah, setelah mug kesayangan udah ketemu, terus aku harus masukin deh gula dari toples hijau itu. Toples ini bisa dibuka dengan cara diputar tutupnya kearah kanan. Dibuka, ambil gula kemudian tutup.  Dibuka, ambil gula kemudian tutup.  Dibuka, ambil gula kemudian tutup. Seduh air panas aduk kemudian campur teh. Diminum dikit, eh kurang manis. Dibuka, ambil gula kemudian tutup. Seperti itu terus setiap pagi. 
Sebuah rutinitas sederhana yang tidak penting.

Tidak penting.

itulah yang aku pikirkan setiap kali memikirkan Toples gula berwarna hijau tersebut. Ah sebenarnya baru kali ini sih aku mikirin toples gula tersebut. Karena tidak penting, tidak mungkin aku menulis tentang toples gula itu ke dalam blog ini.

Apa benar tidak penting?  kalau tidak penting seharusnya peradaban manusia tidak menciptakan penemuan yang bernama ‘toples gula’. Pasti ada misteri penting yang menyelimuti terciptanya benda bernama ‘toples gula berwarna hijau’ ini.

Dan misteri itu terjawab pagi ini.

Pagi ini aku kembali dengan rutinitasku membuat teh panas. Berdiri mematung memandang kosong  dengan pikiran entah kemana. Itulah hebatnya kebiasaan, disaat pikiranmu sedang kosongpun tubuh terus bergerak melaksanakan rutinitas yang diperintahkan oleh pikiran. Aku mengambil Mug tanpa berpikir, tanganku bergerak meraih toples gula berdasarkan insting. aku melakukan semua hal tersebut dengan refleks. Andai saja ada Raisa Andriana lewat buat minta ijin minjem kamar mandi-pun mungkin aku enggak bakalan sadar.

Kesadaran balik lagi ketika aku agak kesulitan membuka toples gula tersebut. Lhoh tumben susah!? Biasanya diputer ke kanan, terus kebuka deh. Namun pagi ini toples gula tersebut tidak mau terbuka.

“Arrrgggh!” aku berteriak dengan penuh emosi sambil membuka toples. Tutup tersebut tidak bergeming sedikitpun.

Aku mencoba sekali lagi. Kali ini aku menyempatkan diri untuk berubah menjadi Seiya Super. Seluruh energi tenaga dalam aku pusatkan ke tangan.

“Arrgghhhh!!”  tidak terbuka sama sekali.

Brengsek. 
Rutinitasku yang awesome ini dikacaukan oleh sebuah toples gula yang tidak mau terbuka. Aku terdiam sesaat. Tanganku menimang-nimang dan mencoba bersinergi dengan otak sambil  mencari apa yang tidak beres di tutup toples tersebut. Mataku menatap sebuah keanehan kecil. Hari ini aku dihadapkan sebuah kenyataan yang sangat pahit, Tanganku yang kurus dan lemah gemulai ini ternyata kalah telak melawan sebuah tutup toples gula. 

Tutup tersebut macet sambil menindih lintasannya. Aku sudah memahami apa yang terjadi. Diputar beberapa kalipun sepertinya percuma. Percuma, sepercuma kamu menanti mantan terindah yang saat ini pergi entah kemana. Eaa.

Beberapa detik kemudian masalah itu kurasa terpecahkan. Lintasan tersebut harus dikembalikan di tempatnya. Cara mengembalikan tutup toples macet itu sangat sederhana. Aku meletakkan kedua tangan di atas toples. Ya benar, kali ini aku tidak akan memutarnya. Aku akan menekan dengan paksa untuk membenarkan lintasan tersebut.

Seluruh tenaga dari tubuh dipindahkan ke tangan. Iya, tangan yang kurus dan lemah gemulai itu tuh. Dengan satu sentakan ku tekan tutup tersebut dengan sangat bernafsu.

“Arrrgggh!” aku berteriak lagi agar postingan ini terdengar lebih dramatis.

“Kraak!!!” Suara keras itu terdengar dari tutup toples. 
Rencanaku berhasil. Yeeey!

lintasan tersebut sudah kembali di jalurnya. Dibuka, diputer ke kanan, ambil gula kemudian tutup. Guampang Coy! Seduh air panas aduk kemudian campur teh. Hey, teh hangatku pagi ini sudah terseduh lagi. Kesulitanku saat membuka tutup toples itu seperti mimpi. Iyeeeeey peluk diri sendiri dulu.

Akhirnya misteri penting yang menyelimuti terciptanya benda bernama ‘toples gula berwarna hijau’ ini terkuak. Peradaban manusia ternyata menciptakan penemuan yang bernama ‘toples gula berwarna hijau’ untuk mengajariku beberapa hal penting.

Hal penting pertama adalah Jangan terjebak rutinitas, karena rutinitas menumpulkan otak dan perasaan. Sudah tak terhitung banyaknya nyawa manusia yang hilang gara-gara dia lengah.

Hal penting kedua adalah berpikirlah di luar nalar saat ada permasalahan yang enggak kelar-kelar. Kalau memang tidak bisa jalan lurus, coba pilih jalan memutar. Saat jalan memutar bertemu tembok cobalah untuk memanjatnya.

Hal penting ketiga adalah tidak selamanya hal yang buruk itu tidak baik. Bukankah menggencet tutup toples itu sikap yang buruk!? Namun apabila tidak menggencet, tutup tersebut tidak akan terbuka. Apabila suatu hari kamu menemui beberapa hal yang buruk dan tidak sesuai skenario, anggap saja Tuhan itu sedang mencoba ‘menggencet’ agar kamu balik lagi ke lintasan yang benar.

Tuh kan. Toples gula berwarna hijau itu tiba-tiba menjadi sangat penting dan layak masuk menjadi postingan di blog-ku yang cethar membahana ini. 
Ehem. Minum  the panas yuk. 
Srupuuut.

Mujix
katanya mau potong rambut?
kok enggak jadi sih!?
Simo, 1 Oktober 2015






Tidak ada komentar:

Posting Komentar