Selasa, 01 Desember 2015

A Slowly Morning with My Heart

Baiklah. Permasalahanku dengan otak yang tumpul sudah berakhir. Tidak ada lagi yang namanya kebuntuan mencari ide ataupun brainstorming tentang gagasan brilian.  Pikiranku sudah sangat segar. Aku sudah siap bertempur dengan dunia dan seisinya, lagi pula separuh tengkorakku yang tadi berada di depan kamar mandi sudah aku pasang kembali. Semuanya sudah beres. Aku sudah kembali lagi ke meja kerjaku. (Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini: A Slowly Morning with My Brain.)

Semuanya berjalan lancar. 
Hingga aku menyadari satu hal bahwa beberapa menit yang terlewati ini berlalu dengan sangat lambat. Ada apa lagi ini!? Tiba-tiba seluruh badanku terasa berat. Pandangan mataku mendadak kabur. Seluruh tubuh mendadak tenggelan seakan-akan ditimbun lumpur berwarna hitam pekat. Sial. Aku terjebak lagi di situasi ini. Situasi dimana aku benar-benar bosan dengan semua hal. Aku menoleh ke arah sumber dimana semua itu berawal. Kurasakan energi gelap dari bagian dadaku. Benar saja. Lubang itu masih menganga dengan ganasnya menyebarkan energi negatif ke seluruh kehidupanku.

Lubang itu adalah tempat dimana setiap manusia mengisi bahan bakar untuk menjalani hidupnya masing-masing, dan harus kau isi dengan sesuatu agar kau tetap hidup. Tanda-tanda memburuknya lubang itu sebenarnya sudah aku rasakan sejak lama. Saat ini lubang itu aku isi dengan hati yang telah patah dengan berbagai tambalan di sana-sini.

Namun pagi ini, hati dengan penuh tambalan itu telah hilang entah kemana. Aku beranjak pergi ke kamar mandi, menengok ke pispot atau saluran pembuangan. Berharap hati penuh tambalan itu ada disana. Namun tidak ada apapun. Menjalani kehidupan tanpa hati itu sangat menyebalkan. Aku bergegas keluar rumah dan terus berdoa agar benda itu segera bisa aku temukan. 

Aku berjalan dengan langkah tertatih-tatIh menuju pusat kota. Berbagai manusia aku temukan di sana. Orang tua, anak kecil, perempuan, laki-laki paruh baya, bahkan sepasang kekasih yang sepertinya sangat bahagia. Setiap kali aku bertemu mereka, tidak ada lubang yang masih kosong. Lubang di dada mereka telah terisi oleh sesuatu. 

Para orang tua mengisi lubang di dadanya dengan harapan akan kebahagiaan anak-anak mereka. Harapan tersebut membuat mereka tetap hidup. Sekejam apapun kehidupan, tidak akan bisa melumpuhkan hati para orang tua ini. Aku melihat sosok orang tuaku di raut wajah mereka. Raut wajah yang akan kau sering temukan saat memandang ayah dan ibumu. 

Lain orang lain pula isi lubang di dadanya. Anak-anak kecil mengisi lubang di dada mereka dengan kegembiraan dalam mempelajari kehidupan. Selalu ada alasan untuk menyikapi segala sesuatu dengan hati senang, mereka bisa menangis ketika beberapa hal tidak sesuai harapan. Sesederhana itu. Terkadang aku suka iri melihat mereka. Mereka adalah masa lalu yang terlewati dalam satu kedipan mata saja. 

Apalagi yang ingin kau ketahui? Isi dada sepasang sejoli itu? Tak usah aku jelaskanpun kalian sudah tahu. Lubang di dada mereka sudah pasti tertutup kebahagiaan dan harapan agar mereka bisa terus bersama dan berbagi cinta. 

Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa aku terlalu bersikukuh untuk mendapatkan hati lecek penuh tambalan itu. Perlu kalian tahu, hati itu adalah hati paling berharga yang pernah kumiliki. Bentuknya mungkin memang tidak karuan, namun percayalah hati itu adalah benda yang pas untuk mengisi lubang yang menganga di dadaku. 

Dulu bentuk hati itu tidak separah sekarang. Ada masa dimana hati itu terlihat mulus bersih dan sedap dipandang. Beberapa kejadian memaksa hati itu untuk patah. Kisah cinta yang gagal, pekerjaan yang payah, dan hubungan dengan banyak manusia yang rumit membuat hati itu remuk untuk kesekian kalinya.

Pilihannya hanya ada dua macam. Kau membuangnya ke tempat sampah atau mencoba menambalnya dengan banyak hal. Aku pernah membuang benda itu ke tempat sampah. Ya. Efeknya sangat kuat, tidak ada lagi rasa sakit akibat penolakan. saat itu rasa sedih hanya menjadi mitos bagiku. Tidak ada yang bisa membuatku menderita. dan tidak ada pula yang bisa membuatku bahagia. Saat aku membuang hatiku ke tempat sampah, adalah saat dimana aku menjadi manusia yang tidak ada bedanya dengan batu kerikil di tengah jalan.  Apa lagi yang bisa diharapkan dari manusia yang tidak memiliki hati!?

Akhirnya suatu hari kupungut lagi hati itu dari tempat sampah. Tentu saja masih pecah dan bahkan berdebu. Permukaannya aku gosok dengan perhatian. Aku mencoba menyayangi hati itu dengan susah payah. Beberapa tempat yang pecah aku tambal dengan lem. 

Lem sederhana semacam keinginan untuk menyelesaikan kuliah ataupun berpergian untuk bertemu dengan banyak orang yang baru. Komik adalah benda yang paling berjasa dalam proses pemulihan hati yang rusak tersebut. Entah sudah berapa kali hati itu merasa sangat hidup saat bersentuhan dunia komik. Walau masih sakit, hati yang remuk redam itu terkadang merasa cukup bahagia. 

Gerombolan manusia itu aku lewati saja dengan acuh tak acuh. Hatiku sepertinya tidak dicuri oleh mereka. Aku berjalan lagi menembus keramaian. Semoga hati itu segera ketemu, agar aku tidak terendam di lumpur hitam pekat ini terlalu lama. Entah dibawa oleh siapa, Aku yakin hati yang rusak dan penuh tambalan itu menungguku di suatu tempat.


Mujix
Udah bulan
Desember lagi nih.
Masih enggak percaya
kalau 'waktu itu cepat berlalu'!?
Simo, 1 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar